
“Tidak semua yang kita inginkan adalah nikmat, dan tidak semua yang kita tangisi adalah musibah. Sebab terkadang, Allah menyembunyikan karunia di balik sesuatu yang belum mampu kita pahami.”
Ada masa dalam hidup ketika aku merasa Allah tidak sedang berpihak kepadaku.
Bukan karena aku berhenti percaya kepada-Nya. Bukan pula karena aku tidak tahu bahwa Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Hanya saja, saat itu hatiku terlalu penuh oleh kecewa. Aku terlalu sibuk menghitung apa yang hilang sampai lupa menghitung begitu banyak hal yang masih Allah titipkan.
Aku pernah bertanya dalam diam, mengapa harus aku?
Mengapa jalan yang kupilih tidak semulus jalan orang lain?
Mengapa doa yang kupanjatkan berkali-kali belum juga menemukan jawaban?
Mengapa sesuatu yang begitu kuharapkan justru pergi?
Dan, mengapa setelah berusaha sekuat tenaga, yang kudapatkan justru kegagalan?
Pertanyaan-pertanyaan itu pernah memenuhi kepalaku pada malam-malam yang panjang.
Aku menangis, lalu berdoa.
Berdoa, lalu menangis lagi.
Ada doa yang kupanjatkan dengan penuh keyakinan. Ada pula doa yang akhirnya hanya mampu kuucapkan dengan suara lirih karena aku sendiri sudah tidak tahu harus meminta apa.
“Ya Allah, kalau ini baik untukku, dekatkanlah. Kalau tidak, tolong kuatkan hatiku untuk menerimanya.”
Saat mengucapkan doa itu, aku merasa sudah siap menerima apa pun keputusan Allah.
Ternyata aku salah.
Menerima ketetapan Allah bukan hanya perkara mengucapkannya dengan lisan. Ada perjalanan panjang yang harus ditempuh hati untuk benar-benar ridha.
Aku pernah memiliki rencana tentang bagaimana hidup seharusnya berjalan.
Aku membayangkan masa depan dengan begitu jelas. Ada target-target yang ingin kucapai, orang-orang yang ingin selalu berada di sisiku, pekerjaan yang ingin kujalani, tempat-tempat yang ingin kukunjungi, dan berbagai impian yang ingin kuwujudkan.
Aku menyusun semuanya seperti seseorang yang sedang membuat peta perjalanan.
Aku lupa bahwa aku hanyalah manusia yang sedang merencanakan, sementara Allah adalah pemilik seluruh jalan.
Satu demi satu, rencana itu berubah.
Ada yang tertunda.
Ada yang gagal.
Ada yang harus kulepaskan.
Bahkan ada sesuatu yang sangat kuinginkan, tetapi justru Allah mengambilnya dari genggamanku.
Awalnya aku menganggap semua itu sebagai luka.
Aku merasa kehilangan arah.
Aku melihat orang lain melangkah maju, sementara aku seakan masih berdiri di tempat yang sama.
Aku mulai membandingkan hidupku dengan kehidupan orang lain.
Mengapa mereka terlihat begitu mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan?
Mengapa aku harus melewati jalan yang berliku?
Mengapa aku harus menunggu begitu lama?
Aku tahu membandingkan hidup hanya akan melelahkan hati. Tetapi manusia memang sering lupa bersyukur ketika matanya terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain.
Aku lupa bahwa setiap orang sedang berjalan di jalan yang berbeda.
Aku lupa bahwa apa yang terlihat indah dari kejauhan belum tentu bebas dari air mata.
Aku lupa bahwa setiap manusia memiliki ujian yang tidak selalu terlihat.
Dan yang paling sering kulupakan adalah ini:
“Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa ujian. Tetapi Allah menjanjikan bahwa Dia bersama orang-orang yang sabar.”
Satu hari demi satu hari.
Aku mulai belajar menerima bahwa tidak semua doa harus dijawab dengan, “iya.”
Ada doa yang Allah jawab dengan, “tunggu.”
Ada yang dijawab dengan, “bukan itu.”
Ada yang jawabannya baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.
Dan ada doa yang jawabannya mungkin tidak pernah kita mengerti sepenuhnya di dunia.
Tetapi bukankah Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan daripada diri kita sendiri?
Bukankah Dia mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui?
Bukankah terkadang kita meminta sesuatu karena hanya melihat keindahan di permukaannya, sementara Allah mengetahui apa yang tersembunyi di baliknya?
Aku mulai belajar percaya.
Bukan percaya bahwa semua akan berjalan sesuai keinginanku.
Melainkan percaya bahwa apa pun yang Allah pilihkan, pasti memiliki alasan yang lebih baik daripada alasan yang mampu kupahami.
Waktu terus berjalan.
Tanpa kusadari, sesuatu mulai berubah dalam diriku.
Aku tidak lagi terlalu sibuk bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?”
Aku mulai belajar bertanya, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui semua ini?”
Pertanyaan sederhana itu mengubah banyak hal.
Ketika aku gagal, aku belajar bahwa nilai diriku tidak ditentukan oleh satu kegagalan.
Ketika aku kehilangan, aku belajar bahwa tidak semua yang pergi harus dikejar untuk kembali.
Ketika aku harus menunggu, aku belajar bahwa waktu Allah tidak pernah terlambat.
Ketika rencanaku berantakan, aku belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa sempurna kita menyusun rencana, tetapi seberapa kuat kita percaya kepada Pemilik rencana.
Dan ketika aku menangis, aku belajar bahwa air mata tidak selalu berarti kelemahan.
Kadang-kadang air mata adalah cara hati membersihkan dirinya.
Ada satu hal yang paling sulit ku pelajari: kehilangan.
Kehilangan mengajarkan sesuatu yang tidak pernah bisa diajarkan oleh buku mana pun.
Kita bisa membaca tentang sabar.
Kita bisa mendengar nasihat tentang ikhlas.
Kita bisa mengatakan kepada orang lain bahwa semua yang Allah titipkan akan kembali kepada-Nya.
Namun, ketika kehilangan itu benar-benar datang ke dalam hidup kita, teori-teori itu diuji oleh air mata sendiri.
Aku pernah merindukan sesuatu yang tidak mungkin kembali seperti semula.
Aku pernah berharap waktu bisa diputar.
Aku pernah ingin kembali ke satu hari tertentu dan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.
Namun hidup tidak memiliki tombol kembali.
Apa yang telah berlalu hanya bisa dikenang.
Apa yang telah hilang hanya bisa didoakan.
Dan apa yang masih ada harus disyukuri.
Dari situlah aku mulai memahami bahwa terkadang Allah mengajarkan rasa syukur melalui kehilangan.
Ketika sesuatu masih berada di tangan kita, kita sering lupa nilainya.
Ketika ia pergi, barulah kita menyadari betapa berharganya ia selama ini.
Mungkin itulah sebabnya beberapa kehilangan terasa begitu menyakitkan.
Bukan karena Allah ingin menyakiti kita.
Melainkan karena melalui kehilangan itu, Allah sedang menunjukkan kepada kita nilai sebuah nikmat yang selama ini kita anggap biasa.
Aku mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda.
Dulu aku mengira nikmat hanya berupa kebahagiaan.
Mendapat pekerjaan adalah nikmat.
Mendapat rezeki adalah nikmat.
Mendapat kabar baik adalah nikmat.
Memiliki keluarga yang sehat adalah nikmat.
Memiliki impian yang tercapai adalah nikmat.
Aku tidak salah.
Namun, ternyata nikmat Allah jauh lebih luas.
Terkadang nikmat hadir dalam bentuk ujian.
Sakit membuat kita belajar menghargai kesehatan.
Kegagalan membuat kita belajar memperbaiki diri.
Penolakan membuat kita belajar bahwa tidak semua tempat adalah tempat kita.
Penantian membuat kita belajar sabar.
Kehilangan membuat kita belajar menghargai.
Kesendirian membuat kita belajar mengenal diri.
Bahkan sebuah luka bisa menjadi jalan yang membawa kita lebih dekat kepada Allah.
Bukankah ada masa ketika kita baru rajin berdoa setelah hati kita hancur?
Ada masa ketika kita lebih lama bersujud setelah hidup tidak berjalan sesuai keinginan?
Ada masa ketika kita lebih sering membaca Al-Qur’an karena tidak menemukan ketenangan di mana pun selain di hadapan Allah?
Jika demikian, mungkinkah sesuatu yang kita sebut luka ternyata menjadi jalan pulang?
Mungkin.
Dan, semakin lama aku merenungkannya, semakin aku sadar bahwa banyak hal yang dahulu kukira sebagai keburukan ternyata menjadi pintu menuju kebaikan.
Aku teringat pada sebuah masa ketika aku begitu kecewa terhadap sesuatu yang tidak berhasil kumiliki.
Saat itu aku merasa gagal.
Aku merasa tertinggal.
Aku merasa doaku tidak didengar.
Namun bertahun-tahun kemudian, ketika melihat perjalanan hidupku dari kejauhan, aku justru bersyukur bahwa saat itu Allah tidak mengabulkan keinginanku.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika saat itu keinginanku terwujud.
Mungkin hidupku akan berbeda.
Mungkin aku akan berada di tempat yang tidak seharusnya.
Mungkin aku akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Mungkin aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang.
Aku tidak tahu.
Dan aku tidak perlu tahu.
Sebab tugas manusia bukan mengetahui seluruh rahasia takdir.
Tugas kita adalah menjalani bagian kita dengan ikhtiar, doa, sabar, dan tawakal.
Selebihnya, biarkan Allah yang mengatur.
Hari ini, ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat begitu banyak jejak.
Ada jejak kebahagiaan.
Ada jejak kesedihan.
Ada langkah yang ringan.
Ada langkah yang terasa begitu berat.
Ada pintu yang terbuka.
Ada pintu yang tertutup rapat.
Ada orang-orang yang datang.
Ada orang-orang yang pergi.
Ada impian yang menjadi kenyataan.
Ada pula impian yang akhirnya harus kulepaskan.
Dulu aku mengira semua itu adalah bagian-bagian yang terpisah.
Kini aku melihatnya sebagai satu perjalanan utuh.
Satu demi satu kejadian ternyata saling terhubung.
Kegagalan membawaku pada kesempatan lain.
Kehilangan mengajarkanku menghargai yang masih ada.
Penantian mengajarkanku sabar.
Kesulitan mengajarkanku kuat.
Kekecewaan mengajarkanku berserah.
Dan doa-doa yang belum terjawab mengajarkanku percaya bahwa Allah memiliki waktu yang lebih baik.
Aku tersenyum ketika menyadarinya.
Ternyata tidak ada satu langkah pun yang sia-sia.
Bahkan langkah yang pernah membuatku jatuh.
Bahkan jalan yang pernah membuatku menangis.
Bahkan hari-hari yang pernah ingin kulupakan.
Semuanya telah menjadi bagian dari proses yang membentuk diriku.
Kini, jika ada seseorang yang datang kepadaku dan berkata, “Aku sedang berada dalam masa yang sulit,” aku tidak akan terburu-buru mengatakan, “Jangan sedih.”
Aku tahu, kesedihan membutuhkan ruang.
Aku tahu, luka tidak sembuh hanya karena seseorang mengatakan, “Kamu harus kuat.”
Aku mungkin hanya akan berkata,
“Menangislah jika memang perlu. Istirahatlah jika lelah. Tetapi jangan berhenti percaya kepada Allah.”
Sebab aku pernah berada di sana.
Aku pernah merasa bahwa hidupku sedang berantakan.
Aku pernah merasa doa-doaku tidak didengar.
Aku pernah mengira Allah sedang mengambil kebahagiaanku.
Namun sekarang, setelah melewati sebagian perjalanan itu, aku justru ingin mengatakan kepada diriku yang dulu:
“Bersabarlah. Suatu hari nanti kamu akan mengerti.”
Kamu akan mengerti mengapa pintu itu ditutup.
Kamu akan mengerti mengapa seseorang harus pergi.
Kamu akan mengerti mengapa sebuah impian harus tertunda.
Kamu akan mengerti mengapa jalanmu harus berliku.
Dan mungkin, suatu hari nanti kamu akan menoleh ke belakang sambil berkata,
“Ya Allah, ternyata Engkau sedang menjagaku.”
Aku tidak lagi ingin menjalani hidup dengan memaksa semua hal sesuai keinginanku.
Aku ingin belajar menjadi hamba yang mampu bersyukur ketika mendapatkan dan mampu bersabar ketika kehilangan.
Aku ingin belajar menerima bahwa tidak semua hari akan cerah.
Sebab hujan pun memiliki perannya.
Tidak semua jalan akan mudah.
Sebab jalan yang menanjak membuat kita belajar menguatkan kaki.
Tidak semua doa akan segera terkabul.
Sebab penantian mengajarkan kita mengenal arti percaya.
Tidak semua kehilangan harus dianggap sebagai akhir.
Sebab terkadang Allah mengosongkan tangan kita agar kita siap menerima sesuatu yang lebih baik.
Dan tidak semua luka harus kita benci.
Sebab bisa jadi, melalui luka itulah Allah sedang membawa kita lebih dekat kepada-Nya.
Aku akhirnya memahami satu hal yang dahulu sulit kuterima:
Allah tidak pernah meninggalkan satu langkah pun dalam hidup kita.
Ketika kita berjalan dengan bahagia, Dia ada.
Ketika kita berjalan sambil menangis, Dia ada.
Ketika kita merasa sendirian, Dia ada.
Ketika kita tidak memahami jalan yang sedang kita lalui, Dia tetap ada.
Hanya saja, sering kali kita baru menyadari kehadiran-Nya setelah semuanya berlalu.
Kita menoleh ke belakang dan melihat bahwa ada begitu banyak pertolongan yang dulu tidak kita sadari.
Ada doa yang ternyata dijawab dengan cara berbeda.
Ada kehilangan yang ternyata menyelamatkan.
Ada penundaan yang ternyata mempersiapkan.
Ada kegagalan yang ternyata mengarahkan.
Ada pintu yang tertutup karena Allah sedang menghindarkan kita dari sesuatu yang tidak baik.
Dan ada jalan panjang yang ternyata membawa kita ke tempat yang jauh lebih tepat.
Mungkin hari ini aku belum memahami seluruh perjalanan hidupku.
Mungkin masih ada doa yang belum menemukan jawabannya.
Mungkin masih ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Mungkin masih ada kehilangan yang sesekali membuat hati kembali sesak.
Tidak apa-apa.
Aku tidak harus memahami semuanya hari ini.
Aku hanya perlu terus melangkah.
Dengan doa.
Dengan ikhtiar.
Dengan sabar.
Dengan syukur.
Dan dengan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah menulis takdir.
Sebab ketika aku menoleh ke belakang, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya.
Ternyata aku tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Di setiap air mata, ada pertolongan-Nya.
Di setiap penantian, ada waktu-Nya.
Di setiap kehilangan, ada hikmah-Nya.
Di setiap kegagalan, ada pelajaran-Nya.
Di setiap kebahagiaan, ada kasih sayang-Nya.
Dan di setiap langkah, ada Allah yang tidak pernah meninggalkanku.
Kini aku tidak lagi ingin menyebut semua yang pernah membuatku menangis sebagai luka.
Sebab beberapa luka telah membawaku menjadi lebih kuat.
Beberapa kehilangan telah membuatku lebih menghargai kehidupan.
Beberapa kegagalan telah membuatku menemukan jalan yang lebih baik.
Dan beberapa penantian telah mengajariku bahwa apa yang Allah pilihkan selalu memiliki alasan, meskipun alasan itu baru bisa kupahami setelah bertahun-tahun berlalu.
Maka jika suatu hari nanti aku kembali dihadapkan pada sesuatu yang tidak kuinginkan, aku ingin mengingat kalimat ini:
“Barangkali aku belum mengerti. Barangkali aku sedang menangis karena belum mampu melihat hikmahnya. Namun aku percaya, Allah sedang menulis sesuatu yang baik di balik semua ini.”
Karena hidup bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan.
Hidup adalah tentang belajar menerima apa yang Allah titipkan, menjalani apa yang Allah tetapkan, dan menemukan nikmat di sepanjang perjalanan.
Sebab pada akhirnya, ketika kita menoleh ke belakang, mungkin kita akan tersenyum melihat begitu banyak hal yang dahulu membuat kita menangis.
Kita akan menyadari bahwa ternyata Allah tidak sedang menghukum kita.
Dia sedang mendidik kita.
Dia tidak sedang meninggalkan kita.
Dia sedang mendekatkan kita.
Dia tidak sedang mengambil seluruh kebahagiaan kita.
Dia sedang mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada hati yang mampu menerima bahwa Allah selalu tahu apa yang terbaik.
Dan mungkin, ketika seluruh perjalanan itu selesai, kita akan sampai pada satu kesimpulan sederhana:
Yang kupikir luka, ternyata karunia.
Yang kupikir kehilangan, ternyata perlindungan.
Yang kupikir penolakan, ternyata pengalihan.
Yang kupikir penantian, ternyata persiapan.
Yang kupikir akhir, ternyata awal dari perjalanan baru.
Maka hari ini aku ingin belajar bersyukur.
Bukan hanya ketika mendapatkan apa yang kuinginkan.
Tetapi juga ketika Allah mengajarkanku menerima apa yang tidak kuinginkan.
Sebab mungkin, di balik setiap langkah yang terasa berat, ada tangan Allah yang sedang menuntunku.
Dan mungkin, di balik setiap air mata yang jatuh, ada rahmat yang suatu hari akan kupahami.
Aku hanya perlu terus berjalan.
Sambil percaya.
Sambil berdoa.
Sambil bersyukur.
Karena aku yakin, setiap langkah yang ditempuh bersama Allah tidak pernah benar-benar sia-sia.
Dan kelak, ketika aku menoleh ke belakang, aku ingin mampu berkata dengan hati yang tenang:
“Ya Allah, terima kasih untuk semua jalan yang pernah Engkau pilihkan. Kini aku mengerti. Bahkan yang dahulu kupikir luka, ternyata adalah karunia.”
Kreator : Hadijah (sahajah)
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab I: YANG KUPIKIR LUKA, TERNYATA KARUNIA
Sorry, comment are closed for this post.