Setelah kejadian terakhir itu—Mama pergi setelah lama menderita dalam sakitnya—aku pun kembali ke daerah tempatku mengais rezeki.
“Jaga dirimu, Kak. Hati-hati di sana,” kata Andin, si bungsu, dengan lembut.
Aku berlalu dari pandangan mereka, lalu berbaring hingga tertidur setelah beberapa saat di atas kapal.
Aku memulai kembali hari-hariku setelah setahun kutinggalkan karena mengurus Mama. Buku-buku yang berdesakan di dalam tas kuatur satu per satu di atas meja. Rasanya seperti hari baru bagiku: di tempat yang sama, tetapi ruang yang berbeda.
Tiba-tiba aku mendengar suara-suara di balik dinding kamarku.
“Mama, main yuk,” kata anakku.
Plasssh! Hempasan tangan di kepalaku oleh ayah dari anakku.
Cerita-cerita itu sebenarnya sudah berlalu di belakangku, tetapi selalu muncul lagi di malam-malam sebelum aku menutup mata. Namun, besok dan hari-hari selanjutnya harus kulalui dengan semangat.
“Kamu harus kuat, Nak,” kata Ibu Kepala Sekolah yang sekaligus sudah seperti orang tua bagiku.
“Iya, Bu. Aku memang tidak berniat melakukan kesalahan seperti hari-hari kemarin. Izinkan saya memperbaiki semuanya,” tukasku.
Beliau menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan seraya melepaskan kacamata. Lalu, beliau tersenyum setelah menatap wajahku.
Aku menyusun rencana kerja harian, berdiskusi dengan teman-teman guru, mengajar dengan semangat di dalam kelas, dan memikirkan cara-cara tepat untuk meramaikan sekolah jika ada acara-acara penting. Aku memang seperti itu sebelumnya—sangat terobsesi dengan pekerjaanku sebagai guru. Di samping itu, anak-anak murid sering merindukanku masuk ke kelas mereka. Padahal, pelajaran bahasa Inggris menurutku kadang sulit diterima di lingkungan mereka. Hanya saja, mereka nyaman dengan cara dan gayaku menghadapi mereka.
“Minggu depan kita mau belajar di mana? Di kelas atau di luar kelas?” kataku sebelum mengakhiri proses pembelajaran, sambil tersenyum dengan mata berbinar-binar.
“Terserah Ibu saja, kami yakin akan selalu menyenangkan!” balas seorang murid dari tempat duduk paling belakang.
Aku tersenyum membalas ucapan tersebut. Rasanya mereka sedikit merayuku.
Hari-hari terasa tidak cukup hanya 24 jam bagiku. Selain mengajar di kelas, aku tetap menjalankan jadwal harianku: mengajar les privat, belajar pengembangan diri (self-development), berolahraga, menulis, membaca buku, dan beberapa aktivitas lain.
“Mungkin dia rajin hanya untuk pelarian atas stres yang dialaminya, Bu,” kata seorang guru.
“Tidak, Bu Rose memang seperti itu. Beliau suka sekali membuat anak-anak betah dengannya,” bela guru yang satunya, seorang guru yang lebih senior.
Aku hanya tersenyum jika mendengarnya, walau dalam hati ada rasa kesal.
Suatu malam, ketika hendak tertidur, ada pesan masuk dari Asty.
Kak, bulan ini sudah tidak dapat pensiun Papa. Terus, kami berdua sama Andin makan apa?
Demikian isi pesannya. Mataku berkedip berulang-ulang. Aku bangun lalu duduk.
Ya sudah, besok Kakak usahakan dan akan kirim kalian uang makan, balasku cepat tanpa berpikir panjang.
Keesokan harinya, sewaktu menunggu angkot yang akan berangkat ke luar kota, seseorang menghentakkan kakinya di depan rumah, tepat di hadapanku.
“Ibu! Kamu mau bayar utang kapan?!” suaranya keras membentak.
Wajahku terasa terangkat terpaksa, dadaku bergetar hebat.
“Iya, Bu. Duduk dulu, maaf… Saya salah. Saya akan menggantikan uang Ibu. Sekarang saya mau pergi ke bank untuk mengurus kredit,” jawabku pelan sambil menahan air mata.
Dia adalah sosok yang pernah membantuku beberapa bulan lalu, meminjamkan uang demi biaya kuliah profesiku. Parahnya, uang itu belum sempat kuganti karena kesulitan ekonomi.
Sementara menunggu proses pencairan dana, ponselku bergetar lagi oleh pesan dari Asty.
Kak, hari ini kita harus bayar tagihan listrik. Kalau tidak, aliran listriknya akan diputus.
Iya, tunggu sebentar, jawabku seraya menepis rasa panik.
“Tuhan, terima kasih atas pertolongan-Mu,” kataku dalam hati saat melewati pepohonan di balik jendela angkot yang mengantarkanku pulang. Aku mulai merasa tersanjung; Tuhan menolongku tepat pada waktunya. Yah, mungkin bagi sebagian orang itu hanya kebetulan.
Tiba saatnya sekolah akan mengadakan perlombaan menjelang 17 Agustus. Aku dan temanku—kami tinggal serumah di dinas—bersatu melancarkan agenda itu. Kami sering dibilang berambisi atau kadang dibilang menyabotase pekerjaan orang lain. Namun sebenarnya mereka hanya salah paham; tujuan kami hanya ingin yang terbaik bagi sekolah. Kami tidak ambil pusing, tetap mendengarkan lalu terus melangkah dengan visi-misi untuk meramaikan sekolah itu.
Hari itu kami memainkan beberapa permainan lucu; anak-anak bersuka ria di halaman sekolah. Suara lagu dari pengeras suara yang membangkitkan suasana membuat hari makin hangat, mengalahkan terik matahari siang itu. Apalagi ketika aku menampilkan tarian modern sebagai kejutan di penutup acara, mereka makin heboh.
“Wah! Hoooo! Minimal punya wali kelas seperti ini dong!” teriak salah seorang murid.
Malam harinya aku tertidur pulas. Namun keesokan harinya, aku terbangun dengan serentetan pesan makian di ponsel. Mataku terbelalak. Aku segera mandi dan berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sana, temanku sudah menantiku dengan tergesa-gesa. Ia langsung menyambutku.
“Rose, kamu harus lihat ini! Keterlaluan!”
Aku langsung menangis saat itu juga. Rasanya malu dan hancur.
Keesokan harinya, aku berangkat ke kota menuju tempat yang tidak pernah ingin kujumpai: kantor Pengadilan Negeri.
Sejak hari itu hingga beberapa bulan berjalan, aku bolak-balik mengurusinya bersama pengacaraku. Aku semakin terdorong memproses itu semua karena terus dituntut oleh ancaman-ancaman dari luar dan dalam. Aku hanya ingin melindungi adik-adikku, juga tubuh kecilku yang sudah yatim piatu ini.
Sampai suatu saat, aku berpikir untuk pergi ke kota tempat adik-adikku tinggal sekalian memeriksa kesehatanku. Malam itu aku terjaga dan berbicara dalam hati.
Aku sakit apa? kataku.
Google pun menjadi tempat rahasia yang sedikit memberi petunjuk, tetapi aku tidak mau berpikir terlalu jauh (overthinking).
Di tengah hiruk-pikuk pikiranku, ada seseorang yang selalu setia menemani. Namanya Done—pria baik yang sedikit mengisi hari-hariku yang mulai kaku.
“Semangat, ya. Tidak akan sakit parah, kok,” katanya usai kuceritakan ketakutanku melalui telepon malam itu, setelah aku tiba di kamar rumah orang tuaku.
Waktu itu, aku tiba di sebuah apotek besar di kota dan bertemu dengan dokter spesialis kandungan. Setelah menunggu empat jam, rasanya aku cukup diberi waktu untuk menyiapkan mental.
“Wah, ini ada tumor, Bu… Astaga, ini ada kanker, Bu. Sekalian biopsi saja, ya, Bu,” kata dokter sambil memasukkan sebuah alat untuk mendeteksi penyakit di rahimku.
Kreator : Estyn Penaonde (Zie_est)
Comment Closed: BAB II: Saat Aku Harus Berjuang dengan Diriku Sendiri
Sorry, comment are closed for this post.