KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab II : TIDAK SEPERTI YANG KUMINTA

    Bab II : TIDAK SEPERTI YANG KUMINTA

    BY 08 Okt 2026 Dilihat: 9 kali
    YANG KUPIKIR LUKA, TERNYATA KARUNIA_alineaku

    Nara selalu percaya bahwa doa memiliki cara sendiri untuk menemukan jalan pulang.

    Sejak kecil, ia terbiasa menyelipkan keinginannya di antara sujud-sujud panjang. Tidak banyak. Ia tidak pernah meminta rumah besar, mobil mewah, atau kehidupan yang membuat orang lain iri.

    Ia hanya ingin hidup yang sederhana.

    Rumah kecil dengan halaman yang cukup untuk menanam bunga. Seseorang yang pulang pada sore hari dan bertanya, “Hari ini bagaimana?” Seseorang yang bisa diajak berbagi cerita tentang hal-hal kecil. Tentang harga cabai yang naik, hujan yang turun terlalu lama, atau secangkir kopi yang terlalu pahit.

    Sesederhana itu.

    Dan ketika Raka datang dalam hidupnya, Nara merasa mungkin doanya telah menemukan jawaban.

    Mereka bertemu bukan di tempat yang istimewa.

    Hanya sebuah kedai kecil di ujung jalan, tempat Nara biasa membeli kopi sebelum berangkat bekerja.

    Raka selalu datang lebih dulu.

    Duduk di meja dekat jendela, membaca sesuatu di ponselnya sambil sesekali menyeruput kopi hitam.

    Pertemuan mereka pertama kali bahkan nyaris tidak berarti.

    “Boleh duduk di sini?”

    Nara menunjuk kursi kosong di depannya.

    Raka mengangguk.

    Hari itu mereka tidak banyak bicara.

    Tetapi pertemuan-pertemuan berikutnya membuat percakapan kecil tumbuh menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi kedekatan. Dan tanpa pernah benar-benar menyadarinya, Nara mulai menunggu seseorang.

    Menunggu pesan.

    Menunggu pertemuan.

    Menunggu suara.

    Menunggu sesuatu yang tidak pernah mereka beri nama.

    Raka bukan laki-laki yang pandai mengumbar kata-kata.

    Ia lebih banyak menunjukkan daripada mengatakan.

    Ketika Nara sakit, ia datang membawa makanan.

    Ketika Nara pulang terlalu malam, ia memastikan Nara sudah sampai rumah.

    Ketika Nara bercerita tentang masalah keluarganya, ia tidak buru-buru memberikan nasihat.

    Ia hanya mendengarkan.

    Mungkin itulah yang membuat Nara jatuh cinta.

    Ia merasa aman.

    Dan rasa aman, bagi Nara, jauh lebih mahal daripada kata-kata indah.

    Suatu malam, Nara duduk di tepi tempat tidurnya.

    Lampu kamar sengaja ia matikan. Hanya cahaya dari luar jendela yang masuk melalui celah tirai.

    Tangannya terlipat di atas dada.

    Ia tersenyum kecil.

    “Kalau memang dia orangnya, dekatkanlah,” bisiknya.

    Doa itu sederhana.

    Namun sejak malam itu, Nara mulai percaya bahwa hidupnya akan berjalan ke arah yang ia inginkan.

    Ia mulai membayangkan banyak hal.

    Rumah kecil.

    Pagi yang sibuk.

    Akhir pekan.

    Perjalanan berdua.

    Mungkin anak-anak yang berlari di halaman.

    Mungkin…

    Nara tersenyum sendiri.

    Ia tahu, mungkin ia terlalu jauh membayangkan sesuatu yang belum pernah dibicarakan.

    Tetapi bukankah manusia memang sering begitu?

    Ketika sesuatu terasa nyaman, kita mulai membuat masa depan dari potongan-potongan kecil yang bahkan belum tentu milik kita.

    Hari ketika semuanya berubah datang tanpa tanda.

    Raka mengajaknya bertemu di kedai yang sama.

    Tempat semuanya bermula.

    Nara datang dengan perasaan biasa.

    Ia bahkan sempat berpikir Raka mungkin akan membicarakan sesuatu yang selama ini ia tunggu.

    Mungkin malam itu adalah malam ketika semua menjadi jelas.

    Raka duduk di hadapannya.

    Wajahnya tampak berbeda.

    “Nara.”

    “Hm?”

    “Aku mau cerita sesuatu.”

    Nara tersenyum.

    “Serius sekali.”

    Raka menarik napas.

    “Aku akan menikah.”

    Senyum Nara berhenti.

    Tidak langsung hilang.

    Hanya seperti tertahan di wajahnya.

    Dengan cepat ia mencoba memahami kalimat itu.

    Menikah.

    Siapa?

    Kapan?

    Dengan siapa?

    Pertanyaan-pertanyaan itu berlarian di kepalanya.

    “Oh.”

    Hanya itu yang keluar.

    Raka menunduk sebentar.

    “Maaf kalau kamu baru tahu sekarang.”

    Nara menggeleng.

    “Tidak apa-apa.”

    “Namanya Dita.”

    Nara tersenyum lagi.

    Kali ini lebih sulit.

    “Selamat.”

    Satu kata.

    Satu kata yang rasanya seperti harus ia keluarkan dari tempat paling dalam di tubuhnya.

    Raka tersenyum lega.

    “Terima kasih.”

    Percakapan mereka berlanjut.

    Tentang persiapan pernikahan.

    Tentang keluarga.

    Tentang rencana setelah menikah.

    Nara mendengarkan semuanya.

    Ia bahkan beberapa kali tertawa.

    Ia berhasil memainkan perannya dengan baik.

    Seolah-olah tidak ada sesuatu yang patah di dalam dirinya.

    Sampai ia pulang.

    Sampai pintu kamar tertutup.

    Sampai ia sendirian.

    Barulah air matanya jatuh.

    Tidak deras.

    Hanya satu.

    Kemudian satu lagi.

    Lalu semakin banyak.

    Nara duduk di lantai.

    Memeluk lututnya.

    Ia menangis tanpa suara.

    Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa doanya seperti tidak sampai.

    Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

    Matahari tetap terbit.

    Orang-orang tetap berangkat bekerja.

    Toko-toko tetap buka.

    Kendaraan tetap memenuhi jalan.

    Dunia tidak berubah hanya karena hati seseorang sedang hancur.

    Itulah yang paling menyakitkan.

    Dunia tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

    Nara juga tetap menjalani hidup.

    Tetapi ada sesuatu yang hilang.

    Ia berhenti datang ke kedai.

    Berhenti membuka percakapan lama.

    Berhenti mencari tahu tentang Raka.

    Ia mencoba melupakan.

    Tetapi melupakan ternyata tidak semudah memutuskan untuk tidak mengingat.

    Suatu malam, ia membuka kembali buku catatan yang biasa digunakannya untuk menulis doa.

    Tangannya berhenti pada satu halaman.

    Di sana tertulis:

    Ya Tuhan, kalau memang dia baik untukku, dekatkanlah.

    Nara menatap tulisan itu lama.

    Kemudian tertawa kecil.

    Pahit.

    “Bukankah aku sudah meminta?”

    Matanya berkaca-kaca.

    “Bukankah aku sudah percaya?”

    Ia menutup buku itu.

    Malam itu Nara marah.

    Bukan kepada Raka.

    Bukan kepada Dita.

    Tetapi kepada keadaan.

    Kepada dirinya sendiri.

    Bahkan kepada Tuhan.

    Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak ingin berdoa.

    Beberapa bulan berlalu.

    Undangan pernikahan Raka tiba.

    Nara menerimanya dari seorang teman.

    Ia tidak datang.

    Bukan karena membenci.

    Ia hanya belum cukup kuat.

    Hari itu ia memilih tinggal di rumah.

    Membuat teh.

    Membersihkan kamar.

    Mencuci pakaian.

    Melakukan hal-hal kecil yang tidak membutuhkan banyak pikiran.

    Tetapi menjelang malam, kesunyian kembali datang.

    Nara berdiri di depan cermin.

    “Sudah berapa lama?” tanyanya kepada bayangan sendiri.

    Ia tidak tahu.

    Yang ia tahu, hidupnya seperti berhenti pada sebuah percakapan di kedai.

    Sebuah percakapan yang berlangsung tidak lebih dari satu jam.

    Aneh.

    Betapa satu jam bisa mengubah cara seseorang melihat hidup selama berbulan-bulan.

    Suatu sore, ibunya datang membawa dua gelas teh.

    “Nara.”

    “Ya, Bu?”

    “Duduk.”

    Nara menurut.

    Ibunya duduk di sebelahnya.

    Tidak bertanya banyak.

    Tidak mengatakan bahwa Nara harus segera move on.

    Tidak mengatakan bahwa masih banyak laki-laki lain.

    Ibunya hanya memegang tangannya.

    “Masih sakit?”

    Nara terdiam.

    Kemudian mengangguk.

    “Sedikit.”

    Ibunya tersenyum.

    “Tidak apa-apa.”

    Hanya dua kata.

    Tetapi entah mengapa Nara ingin menangis.

    “Bu…”

    “Hm?”

    “Kenapa sesuatu yang kita inginkan kadang tidak kita dapatkan?”

    Ibunya menatap halaman.

    “Karena mungkin hidup bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan.”

    Nara diam.

    “Lalu tentang apa?”

    Ibunya mengusap punggung tangannya.

    “Belajar menerima.”

    Nara menunduk.

    “Aku sudah berdoa, Bu.”

    “Ibu tahu.”

    “Aku sudah berusaha.”

    “Ibu tahu.”

    “Lalu kenapa?”

    Ibunya tidak langsung menjawab.

    Beberapa detik berlalu.

    “Kadang-kadang,” katanya perlahan, “kita menangis karena Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta. Padahal bisa jadi, kita sedang diselamatkan dari sesuatu yang belum kita tahu.”

    Nara menatap ibunya.

    “Diselamatkan?”

    “Iya.”

    “Dari apa?”

    Ibunya tersenyum.

    “Itulah yang kita tidak pernah tahu.”

    Kalimat itu tinggal lama di kepala Nara.

    Diselamatkan dari sesuatu yang belum kita tahu.

    Awalnya ia tidak percaya.

    Tetapi hari-hari terus berjalan.

    Dan semakin lama, ia mulai melihat hidup dari tempat yang berbeda.

    Ia mulai memperhatikan hal-hal yang selama ini tidak ia lihat.

    Pagi yang datang setiap hari.

    Ibunya yang masih bisa ia peluk.

    Teman-teman yang masih bersedia mendengar ceritanya.

    Pekerjaan yang membuatnya tetap memiliki penghasilan.

    Rumah yang menjadi tempat pulang.

    Tubuh yang masih sehat.

    Kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru.

    Ternyata hidupnya tidak kosong.

    Hanya saja selama ini ia terlalu sibuk melihat satu hal yang hilang sampai lupa menghitung apa saja yang masih tinggal.

    Suatu pagi, ia duduk di teras.

    Secangkir teh hangat berada di tangannya.

    Angin bergerak pelan.

    Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara merasa tenang.

    Tidak bahagia.

    Belum.

    Tetapi tenang.

    Dan mungkin, untuk saat itu, tenang sudah cukup.

    Beberapa bulan kemudian, Nara bertemu Raka secara tidak sengaja.

    Di sebuah toko buku.

    Raka tampak lebih kurus.

    Mereka saling memandang.

    “Nara?”

    “Hai.”

    “Bagaimana kabarmu?”

    “Baik.”

    Jawaban sederhana.

    Tetapi kali ini Nara tidak berbohong.

    Ia benar-benar baik.

    Raka bercerita sedikit tentang hidupnya.

    Tentang pekerjaannya.

    Tentang rumah tangganya.

    Ada beberapa hal yang tidak berjalan seperti yang ia harapkan.

    Nara mendengarkan.

    Dulu mungkin ia akan merasa senang.

    Mungkin diam-diam ia akan berpikir, ternyata aku lebih baik tidak bersamanya.

    Tetapi hari itu tidak.

    Ia hanya merasa kasihan.

    Bukan karena Raka gagal.

    Tetapi karena ia akhirnya menyadari sesuatu.

    Selama ini ia hanya mengenal bagian hidup Raka yang terlihat olehnya.

    Ia tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik pintu yang tidak pernah dibukakan kepadanya.

    Ia tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang akan ia jalani seandainya dulu Raka memilihnya.

    Mungkin bahagia.

    Mungkin tidak.

    Mungkin ia akan bersyukur.

    Mungkin ia justru akan menyesal.

    Tidak ada yang tahu.

    Dan untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak lagi membuatnya takut.

    Mereka berpisah dengan senyum.

    Tidak ada janji.

    Tidak ada penyesalan.

    Hanya dua orang yang pernah saling dekat dan kini berjalan menuju kehidupan masing-masing.

    Malam itu Nara membuka kembali buku catatannya.

    Halaman lama masih ada.

    Tulisan yang dulu membuatnya marah masih terlihat jelas.

    Ia membalik halaman itu.

    Kemudian mengambil pena.

    Di bawah tulisan lama, ia menulis sesuatu yang baru.

    Dulu aku meminta satu hal dan marah ketika Engkau tidak memberikannya.

    Ia berhenti.

    Menghapus satu kata.

    Kemudian melanjutkan.

    Hari ini aku mulai mengerti.

    Tangannya bergerak perlahan.

    Mungkin bukan Engkau yang tidak mendengar doaku.

    Mungkin aku yang terlalu sibuk menentukan seperti apa jawaban-Mu.

    Nara menarik napas.

    Ada air mata di sudut matanya.

    Tetapi kali ini bukan karena patah hati.

    Ia menulis lagi.

    Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

    Aku juga tidak tahu apakah semua yang kuinginkan akan menjadi milikku.

    Tetapi hari ini aku ingin belajar percaya.

    Jika memang bukan milikku, ajari aku melepaskan.

    Jika memang milikku, ajari aku menunggu.

    Dan jika jalan ini memang harus kulewati sendiri, beri aku kekuatan untuk tetap melangkah.

    Nara menutup buku itu.

    Ia memandang jendela.

    Langit malam gelap.

    Tetapi dari kejauhan, satu dua cahaya rumah terlihat.

    Kecil.

    Tidak terang.

    Namun cukup untuk membuatnya tahu bahwa malam tidak pernah benar-benar tanpa cahaya.

    Ia tersenyum.

    Mungkin selama ini ia terlalu sibuk meminta satu cahaya besar sampai lupa bahwa Tuhan telah memberinya begitu banyak cahaya kecil.

    Ibunya.

    Rumahnya.

    Kesehatannya.

    Kesempatan.

    Waktu.

    Dan dirinya sendiri.

    Masih ada dirinya sendiri.

    Masih ada kesempatan untuk mencintai kehidupan.

    Masih ada hari esok.

    Nara berdiri.

    Mematikan lampu kamar.

    Kemudian berbaring.

    Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak memikirkan apa yang telah pergi.

    Ia hanya bersyukur atas apa yang masih tinggal.

    Dan malam itu, sebelum memejamkan mata, Nara berbisik:

    “Terima kasih.”

    Tidak ada permintaan.

    Tidak ada tuntutan.

    Hanya terima kasih.

    Barangkali, tidak semua doa harus berakhir dengan “mendapatkan”.

    Sebagian doa mungkin memang ditakdirkan berakhir dengan “memahami.”

     

     

    Kreator : Hadijah (sahajah)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab II : TIDAK SEPERTI YANG KUMINTA

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021