Ada masa dalam hidup ketika aku merasa semua orang sedang berjalan lebih cepat dariku.
Satu per satu orang yang kukenal mulai menemukan jalannya. Ada yang mendapatkan pekerjaan, menikah, memiliki rumah, memiliki anak, atau sekadar tampak bahagia dengan kehidupan yang mereka pilih.
Sementara aku masih berdiri di tempat yang rasanya sama.
Aku berjalan, tetapi seolah tidak pernah sampai.
Pernah suatu sore, aku duduk sendirian di teras rumah. Angin bergerak pelan, membawa suara anak-anak yang bermain dari kejauhan. Di tanganku ada secangkir kopi yang perlahan kehilangan hangatnya.
Aku membuka telepon genggam.
Satu kabar pernikahan.
Kemudian foto keluarga kecil.
Lalu kabar seseorang yang baru mendapatkan pekerjaan.
Ada pula teman lama yang sedang merayakan sesuatu yang dulu pernah kami impikan bersama.
Aku tersenyum melihat semuanya.
Tentu saja aku bahagia untuk mereka.
Tetapi setelah layar telepon kumatikan, ada sesuatu yang tiba-tiba terasa berat di dada.
Aku bertanya kepada diriku sendiri,
“Kapan giliranku?”
Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama tinggal di kepalaku.
Kadang muncul ketika melihat orang lain.
Kadang muncul ketika sedang sendirian.
Kadang muncul tanpa alasan, bahkan ketika hidup sedang baik-baik saja.
Aku pernah berpikir mungkin aku terlambat.
Terlambat mendapatkan pekerjaan.
Terlambat menikah.
Terlambat merasakan kebahagiaan yang menurut banyak orang seharusnya sudah datang.
Aku mulai membandingkan hidupku dengan hidup orang lain.
Tanpa sadar, aku menjadikan kehidupan mereka sebagai ukuran untuk menilai kehidupanku sendiri.
Padahal aku lupa satu hal.
Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik kehidupan mereka.
Aku hanya melihat bagian yang mereka tunjukkan.
Aku melihat foto bahagia, tetapi tidak melihat malam-malam ketika mereka menangis.
Aku melihat keberhasilan, tetapi tidak melihat berapa kali mereka gagal.
Aku melihat rumah yang indah, tetapi tidak tahu berapa banyak doa yang pernah mereka panjatkan untuk sampai ke sana.
Dan mungkin mereka pun melakukan hal yang sama kepadaku.
Melihat hidupku dari kejauhan.
Mengira aku baik-baik saja.
Mengira aku selalu kuat.
Padahal aku juga pernah bingung.
Pernah lelah.
Pernah kecewa.
Pernah bertanya-tanya mengapa hidupku harus melalui jalan yang begitu panjang.
Kalau mengingat masa lalu, aku sadar bahwa sejak kecil aku memang tidak pernah benar-benar berjalan di jalan yang mudah.
Ibu mengajariku banyak hal tanpa banyak kata.
Sebelum berangkat sekolah, ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Sepulang sekolah, masih ada yang harus dikerjakan.
Aku belajar membantu berjualan, belajar mengurus rumah, belajar melakukan banyak hal sendiri.
Dulu aku sering menganggap semua itu sebagai beban.
Aku pernah merasa iri kepada anak-anak lain yang bisa bermain lebih lama.
Ada yang pulang sekolah tinggal makan, tidur, lalu bermain lagi.
Sementara aku harus membantu ibu.
Namun bertahun-tahun kemudian, aku baru mengerti.
Ibu sebenarnya sedang mengajariku berjalan.
Bukan berjalan dengan kaki.
Tetapi berjalan menghadapi kehidupan.
Ia ingin anak-anaknya tahu bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan.
Ia ingin kami mengenal susah agar suatu hari nanti tidak menjadi manusia yang mudah mengeluh ketika hidup terasa berat.
Aku baru memahami maksudnya setelah aku sendiri menghadapi banyak hal.
Ketika remaja, aku harus tinggal jauh dari orang tua.
Aku tinggal bersama keluarga di kota.
Katanya, agar aku mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih baik.
Tetapi tidak ada yang mengatakan bahwa hidup jauh dari rumah akan terasa sesepi itu.
Aku merindukan ibu.
Merindukan saudara-saudaraku.
Merindukan rumah.
Ada hari-hari ketika aku ingin pulang.
Tetapi hidup mengajariku satu hal: tidak semua keinginan bisa segera dituruti.
Aku harus belajar menyesuaikan diri.
Belajar mengerti keadaan.
Belajar tidak menjadi anak yang selalu meminta.
Aku pernah kecewa.
Pernah merasa tidak cukup baik.
Pernah melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang sudah lama kuusahakan.
Tetapi entah dari mana datangnya kekuatan itu, setiap kali hampir menyerah, aku selalu kembali mencoba.
Mungkin karena sejak kecil aku sudah terbiasa mendengar pesan ibu:
“Kalau hidup susah, jangan langsung menyerah.”
Dulu kalimat itu terdengar sederhana.
Kini aku tahu, kalimat sederhana itu adalah bekal.
Perlahan aku mulai memahami sesuatu.
Selama ini aku terlalu sering melihat jalan orang lain.
Aku melihat siapa yang sudah sampai.
Siapa yang lebih dulu mendapatkan apa yang kuinginkan.
Siapa yang tampaknya lebih bahagia.
Lalu aku merasa tertinggal.
Padahal Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa hidup kami harus memiliki urutan yang sama.
Ada yang menikah muda.
Ada yang menikah lebih lambat.
Ada yang memiliki anak segera.
Ada yang harus menunggu.
Ada yang berhasil setelah mencoba sekali.
Ada yang harus gagal berkali-kali.
Ada yang kehilangan lebih dulu.
Ada yang baru belajar menghargai sesuatu setelah kehilangannya.
Setiap orang membawa ceritanya masing-masing.
Dan mungkin, setiap jalan memang sengaja dibuat berbeda.
Aku teringat ibu.
Dulu ia mengajariku tentang kesulitan.
Sekarang aku mengerti mengapa.
Ternyata pengalaman-pengalaman itu tidak hilang begitu saja.
Semua menjadi bagian dari diriku.
Kesulitan membuatku belajar bertahan.
Kegagalan membuatku belajar mencoba lagi.
Penantian membuatku belajar sabar.
Kehilangan membuatku belajar menghargai apa yang masih ada.
Dan kesendirian membuatku belajar mengenal diriku sendiri.
Mungkin selama ini aku mengira sedang berjalan menjauh dari kebahagiaan.
Padahal bisa jadi aku sedang berjalan menuju sesuatu yang belum bisa kulihat.
Hari ini aku masih memiliki banyak hal yang belum selesai.
Masih ada harapan.
Masih ada keinginan.
Masih ada doa yang belum mendapatkan jawaban.
Tetapi aku tidak lagi terburu-buru.
Aku tidak lagi terlalu sibuk menghitung kapan orang lain sampai.
Aku mulai belajar menikmati langkahku sendiri.
Jika hari ini aku hanya mampu berjalan sedikit, tidak apa-apa.
Jika hari ini aku harus berhenti sebentar karena lelah, juga tidak apa-apa.
Sebab aku mulai mengerti bahwa hidup bukan perlombaan.
Tidak ada garis akhir yang harus dicapai bersamaan.
Tidak ada waktu yang sama untuk setiap manusia.
Jalanku memang tidak sama dengan jalan mereka.
Dan mungkin memang seharusnya begitu.
Aku tidak tahu apa yang menunggu di ujung jalan ini.
Aku juga tidak tahu berapa banyak tikungan yang masih harus kulewati.
Tetapi kali ini aku tidak terlalu takut.
Aku percaya, selama aku terus melangkah, selalu ada sesuatu yang bisa kupelajari.
Jika jalan itu mudah, aku akan bersyukur.
Jika jalan itu sulit, aku akan mencoba bersabar.
Jika aku mendapatkan apa yang kuinginkan, aku akan berterima kasih.
Jika tidak, aku akan mencoba percaya bahwa mungkin ada sesuatu yang belum kupahami.
Sebab sekarang aku tahu—
jalan yang berbeda tidak selalu berarti jalan yang salah.
Mungkin hanya berbeda arah.
Berbeda waktu.
Berbeda cerita.
Dan mungkin, berbeda pula cara Tuhan mengantarkan kita kepada tempat yang seharusnya.
Aku tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, ketika melihat kehidupan orang lain, aku tidak lagi bertanya,
“Kapan giliranku?”
Aku hanya berkata dalam hati,
“Semoga mereka bahagia dengan jalannya.”
Lalu aku kembali berjalan.
Di jalan milikku sendiri.
Pelan-pelan.
Dengan segala luka yang pernah ada.
Dengan segala harapan yang masih tersisa.
Dan dengan keyakinan sederhana bahwa selama Tuhan masih memberiku hari esok, berarti masih ada alasan untuk melanjutkan perjalanan.
Sebab jalan kita memang tidak sama.
Tetapi setiap jalan tetap memiliki maknanya sendiri.
Kreator : Hadijah (sahajah)
Comment Closed: Bab III : Jalan yang Tidak Sama
Sorry, comment are closed for this post.