KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB III: Mencari Jawaban di Tengah Ujian

    BAB III: Mencari Jawaban di Tengah Ujian

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 6 kali
    Ketika Hidup Tidak Berjalan Seperti yang Kubayangkan_alineaku

    Air mata mulai membuat pedih sudut mataku; perih rasanya karena tidak bisa keluar sesegera itu. Aku lalu memalingkan wajah ke arah jendela angkot, tepat di belakang punggung orang di samping kiriku. Sepertinya yang kulihat di luar hanya benda-benda bumi yang Tuhan taruh: pohon, bangunan, jalan, dan lampu-lampu yang terang di sepanjang jalan.

    Aku yang akan berlalu, semuanya hanya sementara, kataku dalam hati.

    Aku serasa berada di lapisan tubuhku yang lain, berdiri sendiri melihat jiwa yang sedang sakit dan rasanya ingin menangisi tubuh itu.

    Aku tiba di rumah bersamaan dengan hujan rintik-rintik. Teras rumah basah. Dengan hati-hati aku masuk ke dalam rumah, bukan hanya takut jatuh, melainkan juga tidak ingin kedua adikku mengetahui kedatanganku.

    “Kak, apa kata dokter?” tanya Asty setelah aku terpaksa masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka berdua.

    “Kak, hasil periksanya bagaimana, Kak? Kakak tidak apa-apa, kan?” sambung si bungsu, Andin.

    Aku masih diam di dalam kamar mandi, sengaja mengguyurkan air berulang-ulang ke lantai supaya mereka yakin aku sedang buang air kecil.

    Dug! Bunyi pintu kamar mandi terbuka kencang. Aku ingin bereaksi lebih kuat dari biasanya.

    “Kak, apa kata dokter?” Asty mengulang lagi ucapannya sambil mencatok rambut.

    Aku meneruskan langkah ke kamar, kembali membawa beberapa lembar hasil diagnosis dokter dan potret hasil USG kandunganku.

    “Nih, kalian mulai sekarang cari kerja,” kataku sambil tersenyum tenang, meskipun berdiri dengan sedikit gemetar karena panik.

    “Oh… tapi masih stadium awal, Kak. Bisa operasi, kok. Aman, Kak,” Asty menyela suasana yang hampir kaku. Dia berusaha tidak menunjukkan kesedihannya, padahal matanya sedang berkaca-kaca.

    Si Andin hanya menatapku.

    “Benar, Kak. Nanti kita yang menjaga Kakak di rumah sakit. Jadi kapan nih Kakak diperbolehkan operasi?” tanya si paling kalem itu.

    Seketika aku terdiam, mataku langsung melirik ke arah sudut lemari.

    “Segera, tapi nanti setelah Kakak mengikuti beberapa tahapan pemeriksaan ini,” jelasku sambil menunjukkan salah satu lembar instruksi dokter.

    “Besok Kakak mau ke rumah Nenek dulu, ingin menginap beberapa hari saja,” ucapku lagi tanpa menatap mereka berdua.

    “Iya, Kak. Mau kami antar?” tanya Asty terlihat panik.

    “Ah, tidak apa-apa, kok. Nanti malah merepotkan Nenek,” jelasku.

    Aku menutup pintu kamar, menguncinya, lalu mematikan lampu. Aku menyalakan ponsel dan sebuah notifikasi terbaca di layar:

    Kakak yang kuat, ya, pesan dari Asty.

    Sontak air mata yang kutahan sejak tadi runtuh membasahi pipiku.

    Malam itu hawanya dingin sekali ketika aku tiba di rumah Nenek. Wajahnya yang datar terlihat dari dalam mobil. Seketika tatapannya menembus kaca mobil; sepertinya terkejut dengan kehadiranku.

    Plak! Bunyi pintu mobil yang baru saja kututup.

    “Selamat malam semuanya!” sapaku.

    Ternyata Nenek tidak sendiri, melainkan bersama beberapa perempuan: anaknya, Tante Bela, serta sahabat Nenek, Ibu Lin.

    “Eh, tumben nih datang malam-malam!” ucap Tante Bela.

    Sepertinya mereka semua kurang nyaman dengan kehadiranku saat itu.

    Nenek masuk menemuiku di kamar dan bertanya, “Kamu sakit apa?”

    Wajahnya berubah muram, padahal aku belum menceritakan semuanya secara detail.

    “Penyakitku sama seperti penyakit almarhumah Mama,” kataku singkat lalu menundukkan kepala. Namun sebelum Nenek membalas, aku menambahkan, “Tapi kata dokter aku bisa sembuh, Nek, dengan operasi.”

    “Ya, jangan lupa berdoa,” cukup segitu ucapnya, lalu menutup tubuhnya dengan selimut tipis kemudian tertidur.

    Selama dua minggu aku tinggal bersama Nenek sembari mencari pertolongan dari beberapa orang terdekat: teman guru, paman, bibi, dan kerabat dekat. Namun sepertinya aku hanya terlalu optimistis dengan prasangka baikku saja. Ternyata mereka semua bukan orang-orang yang kuanggap menyayangiku sebagai bagian dari keluarga. Namun, aku terus berusaha dari pagi hingga petang menyongsong malam.

    Tiba-tiba aku berhenti berdoa dan bergumam, “Ma, Pa… kenapa kalian pergi dan aku harus seperti ini? Tak satu pun keluarga kalian yang peduli, mereka tidak mau membantuku.”

    Air mataku bukan hanya menetes, melainkan mengalir deras membasahi leher hingga dada. Aku benci kenyataan hidupku. Aku marah kenapa orang lain bisa hidup utuh bersama orang tua, bahagia, dan beruntung, sedangkan aku dan adik-adikku hanya bahagia seminggu tetapi sedih bertahun-tahun.

    “Aku bingung Ma, Pa… mau ke mana?” tanyaku lagi, seakan-akan mereka sedang mendengarku.

    Malam membawaku tidur lagi hingga terbangun pada pukul lima subuh. Seperti ada suara yang berbisik di sampingku: Berdoalah, bicaralah pada Tuhan, mintalah petunjuk-Nya.

    Aku memang sering meluangkan waktu dalam sehari untuk berdoa, tetapi tidak seperti subuh itu. Kutangisi keadaanku di hadapan-Nya. Dipeluk-Nya aku hingga hatiku terasa damai dan kuat. Bahu yang tadinya terasa berat mulai ringan; mata yang membengkak kembali berbinar searah dengan senyuman yang berani kuberikan menyambut pagi.

    Aku menuliskan ungkapan kedamaian hati pada jurnal harianku:

    God, thanks for today.

    I feel blessed. I can stay by faith and love.

    I can hear You, my body and soul.

    Thanks for always being my best partner.

    I know that I am saved only by Your grace.

    You have already made me win every challenge in my life.

    Thanks for this way and its ups and downs.

    Beberapa hari kelanjutannya, aku mulai memutuskan untuk tidak melakukan rutinitas harianku: belajar, hobi, dan impianku. Aku benar-benar hanya berdoa dan belajar mencintai diri sendiri (self-love). Sampai akhirnya aku kecewa sendiri setelah mendengar pengalaman kesembuhan kanker seorang artis terkenal. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi salah satu energi kuat dalam diriku, yaitu obsesi terhadap validasi diri.

    What?! Aku tidak bisa seperti itu, Tuhan. Aku kan sering berdoa, masa sampai segitunya? Itu bukan jalan Tuhan, kan? ucapku dalam hati, mulai merasa kecewa.

    Semua jalan kujalani: afirmasi pagi dan malam, belajar mengelola emosi, serta berdoa pagi, siang, dan malam. Di samping itu, aku tak lengah mencari bantuan orang-orang untuk biaya berobat, tetapi belum ada titik terang.

    Hingga suatu malam, aku berdoa dan meluapkan kemarahan dalam doaku sampai merobek baju yang kupakai. Aku menangis hingga tertidur di lantai kamar. Rasanya takut dan tidak tahu arah; hanya bisa berpasrah dan berharap tidak ada hari esok. Namun keesokan harinya, aku ingin berpuasa dan berdoa sepanjang hari, memohon Tuhan mengasihi dan menolongku.

    Paling tidak, setelah bergulat dengan batin seharian, aku diberi pikiran-pikiran positif dan petunjuk untuk melakukan beberapa langkah baik.

    “Nek, aku ke rumah Tante Merry dulu, ya. Siapa tahu beliau bisa membantuku,” ucapku sembari memakai gelang besi putih di pergelangan tangan.

    “Oh iya, hati-hati di jalan,” balas Nenek.

    Aku pergi menyusuri hujan yang turun deras. Air hujan menusuk punggung hingga membasahi wajah karena helm yang kupakai tidak berpenutup. Aku diantar oleh sepupu lakilakiku. Ternyata Tante Merry tidak bisa membantuku karena beliau juga sedang sakit. Malam itu aku pulang dengan sedikit kebingungan, masih memikirkan langkah untuk esok hari.

    Pagi-pagi sekali aku terbangun. Mataku masih letih, tetapi jari-jariku cepat sekali menekan tombol ponsel. Kuhubungi paman dan bibi yang sedang berada di luar kota—kebetulan mereka saudara sepupu Mama. Namun, respon yang kudapat kurang menggembirakan. Mereka tidak bisa membantu karena sedang membutuhkan uang juga.

    Sruuup! Aku meminum kopi hangat yang menghangatkan perut pagi itu, pandanganku tertuju ke arah jalan. Seseorang datang lagi menuju rumah Nenek. Itu Tante Yul, seorang pemilik koperasi.

    Hatiku berkata, Oh iya benar, nanti malam aku ke rumah Tante Yul saja.

    Malam itu aku menjumpainya. Tante Yul menanyakan keadaanku, namun sama halnya dengan yang lain, beliau tidak bisa meminjamkan uang. Beliau hanya menyuruhku mengikuti beberapa pengobatan tradisional.

    Besoknya, aku langsung menuruti petunjuk itu: pergi ke hutan dan mencari daun sirih yang menjalar di pohon, memetik tujuh lembar, dan lembaran terakhir harus dipetik sambil mengutuki penyakitku. Hari itu hujan turun deras; aku basah dan kotor. Namun, kata hatiku yakin bahwa ini bagian dari petunjuk Tuhan. Setelah itu, kuambil benalu yang melingkari pohon jeruk, kemudian kurebus bersama daun sirih, lalu didiamkan dan diminum airnya.

    Sehari menjalani pengobatan tradisional itu, aku tetap berdoa dengan harapan terus dituntun oleh Yang Mahakuasa. Aku juga menghubungi kakak sepupu lakilakiku. Namun bukannya dibantu, aku malah digoda olehnya. Sakit hati sekali aku setelah menjumpainya. Sepertinya orang-orang malah meremehkanku dan menganggap aku sedang menjual kesedihan. Lagi-lagi aku sedih.

    Suatu siang, saat aku sedang membaca buku di kamar, ponsel membunyikan notifikasi pesan masuk. Ternyata dari Asty.

    Kak, Kakak lagi apa? Kapan pulang ke rumah? tanya Asty.

    Kemudian Andin juga tiba-tiba bertanya, Kakak lagi marah, ya, sama kami berdua?

    Aku terdiam, hanya membalas seadanya. Namun, mereka berdua terus mendesak lewat pesan singkat yang bertubi-tubi hingga bertumpuk sebelum sempat kubaca.

    Sudahlah, Kakak lagi ingin sendiri dulu di sini. Banyak yang harus dipikirkan, balasku pada pesan Asty.

    Ya sudah Kak, nanti kami ke sana, ya, menjenguk Kakak, balasnya lagi.

    Tidak usah. Kakak lagi malas banget, balasku setengah jengkel.

    Kakak pikir kami berdua tidak sayang dan tidak memikirkan Kakak? Asty mulai emosi.

    Lagi tidak ingin dikendalikan siapa pun. Terserah kalian saja mau datang atau tidak, jangan marah kalau Kakak tidak akan banyak bicara, ucapku mempertegas maksud hati.

    Beberapa jam kemudian, sewaktu aku baru keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar, kulihat dari jendela mereka berdua sedang berjalan menuju rumah Nenek.

    “Huft…” desahku jengkel sambil mengernyitkan dahi. Aku masuk dan menutup pintu kamar.

    “Sore! Nenek! Nenek!” sapa mereka bergantian, tidak memanggil namaku karena mungkin takut padaku.

    Namun karena Nenek sedang keluar, terpaksa aku bangun dan membukakan pintu. Tanpa bersuara, aku langsung kembali ke kamar dan menutup pintu. Rasanya mereka berdua hanya menambah bebanku.

    Tanpa menghiraukanku, mereka bercerita seperti biasa di teras depan. Dalam hati aku berpikir, mungkin mereka berusaha tidak membiarkanku sendiri dan ingin memastikan alasan aku tidak mau pulang ke rumah.

    Keesokan harinya, mereka berdua kembali ke rumah. Aku masih tetap tinggal di rumah Nenek. Namun setelah dua hari kemudian tidak ada jalan keluar lagi, aku jadi rindu kamarku sendiri. Selain itu, ada tugas sekolah yang harus kukerjakan—menyusun soal ujian sekolah—sehingga terpaksa aku kembali ke rumah agar lebih fokus bekerja.

    Pintu kamar kubuka. Udara kamar terasa dingin, lalu kaca meja rias memantulkan bayanganku. Mataku terlihat cekung dengan kelopak mata yang menghitam.

    Segera kubuka laptop, hendak membuat rencana kerja dan langkah-langkah untuk menghadapi sakit kankerkuku. Namun tiba-tiba aku ingin berdoa terlebih dahulu. Setelah berdoa, hatiku menjadi tenang dan rasanya ada semangat baru.

    Pagi itu pukul 06.00, aku berpikir untuk menemui dokter dan bilang bahwa aku menyerah saja—terserah dokter mau memberikan penanganan seperti apa karena aku tidak punya uang.

    Sewaktu berhadapan dengan dokter di dalam ruangan, aku hanya menunjukkan surat hasil biopsi dari laboratorium. Dokter lupa bahwa beliau pernah memintaku pergi ke klinik terlebih dahulu dengan biaya yang tidak sanggup kucapai waktu itu. Beliau memintaku untuk segera menyiapkan semuanya sebelum operasi. Aku tidak tahan lagi dan berterus terang tentang kendalaku selama sebulan ini.

    “Oh ya sudah, Bu. Kalau begitu saya pilih tahapan yang penting-penting saja, ya,” ucap dokter lembut sambil mencoret sebagian daftar pemeriksaan yang tidak terlalu dibutuhkan.

    Seketika itu, aku merasa seperti disiram hujan es di tengah padang gurun.

    Malamnya, aku mengabari saudara sepupuku bahwa besok aku akan ke klinik, dengan harapan dia masih bisa membantu.

    Keesokannya, setelah tiba di klinik, aku langsung meminta rincian biaya sesuai permintaan dokter. Ternyata biayanya sangat murah!

    “Huft… Terima kasih, ya, Tuhan,” kataku tiba-tiba. Mbak kasir pun ikut tersenyum.

    Kak, ini totalnya, kirimku lewat pesan singkat kepada kakak sepupu.

    Saat itu juga, lelaki yang tadinya kuduga ingin memperdayaku justru membantuku. Setelah membayar tagihan dan diperiksa, aku pulang dengan hati gembira. Tangan, kaki, dan dadaku bergetar.

    Kok rasanya enteng sekali, ya? Padahal sebulan lho aku berjuang, ucapku dalam hati.

    Asty dan Andin ikut senang karena akhirnya aku bisa dioperasi. Malam itu, sewaktu mengerjakan soal ujian sekolah dengan mata yang masih benderang, tiba-tiba jariku berhenti menari di papan ketik. Aku seperti tersentak, ingin menangis, dan memang akhirnya menangis saat itu juga.

    “Oh Tuhan, aku yang jahat. Aku tidak percaya sama Tuhan, padahal Tuhan sayang padaku,” ucapku sembari menundukkan kepala di depan layar laptop. Air mataku jatuh menetes ke paha.

    Sebenarnya hati kecilku tahu dan yakin bahwa aku salah, serta tahu jalan mana yang harus kulalui. Namun aku sengaja meninggalkan adik-adikku. Aku tidak ingin mengurusi mereka lagi karena bosan dengan orang-orang yang kuanggap sebagai beban. Aku pikir aku bisa berjuang tanpa mereka, tanpa lingkungan dan keadaan yang menjadi tanggung jawabku. Aku benar-benar bodoh.

    Hari Senin kuawali dengan mengambil hasil pemeriksaan di klinik, kemudian pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter dan menjalani beberapa tahapan persiapan operasi: CT scan, perekaman jantung, dan lain-lain. Beberapa hari kemudian, dokter menentukan tanggal operasi.

    “Ibu, jangan takut, ya. Nanti saya minta bantuan dokter spesialis penyakit dalam untuk menemani saya saat operasi. Jadi saya pastikan operasi ini akan berjalan lancar.”

    “Baik, Dok. Terima kasih,” balasku sambil menahan senyum lebar.

    Langit-langit kamar tidak lagi terasa menekan ke bawah, dinding kamar pun enggan menghimpitku. Aku membaringkan tubuh dengan kaki lurus, lalu memasang penyuara telinga (headphone) yang memutar instrumen suara alam. Aku menyendiri di kamar, merasa seperti sedang berkencan dengan diriku sendiri.

    Beberapa saat sebelum tertidur, wajah dan hatiku bersukacita. Lagu yang kudengar meresap hingga ke ujung jari kaki dan tangan, menggerakkan mulutku untuk turut menyanyikan kegirangan. Akhirnya, perjuanganku selama sebulan lebih tidak sia-sia. Semua ini membuatku yakin bahwa aku tidak perlu takut atau cemas lagi saat menghadapi meja operasi nanti. Tuhan sedang berproses.

    “Terima kasih Tuhan, ternyata aku tidak yatim piatu,” ucapku dengan mata berkaca-kaca.

    Beberapa hari sebelum naik ke meja operasi, aku tetap saja merasa cemas. Bahkan pikiran buruk (overthinking) terus berputar: bagaimana jika nanti ada hambatan lagi? Namun, di tengah pikiran yang berputar seperti bola bumi tanpa henti itu, aku membuat rencana aktivitas sebelum berangkat ke rumah sakit. Beberapa agenda kerja kutuliskan di buku jurnal harian: mendekorasi kamar, menggambar, membereskan rumah dan halaman, serta aktivitas kesadaran penuh (mindfulness) untuk menjaga suasana hatiku.

    Kebetulan kamarku memang sudah lama sekali tidak ditempati. Aku berpikir ingin menjadikannya surga kecil agar aku selalu merasa betah dan rindu saat meninggalkannya. Dindingnya kugambari pohon dan ranting-ranting, lalu kugantungi foto-foto yang menggambarkan diriku sendiri—seorang yang sangat acak (random), kata murid-muridku. Di dinding lainnya ada gantungan daun menjalar, gambar bunga tulip merah muda, dan dua lukisan pemandangan yang kubuat sendiri.

    “Kak, sini biar kubantu dari dalam,” kata Andin sambil menjulurkan tangannya dari jendela kamar, mengambil kain lap dari tanganku. Ia lalu membersihkan sisa kaca jendela.

    “Terima kasih ya, Sister,” ucapku lega.

    Kami berdua menyelesaikan pekerjaan rumah bersama-sama hari itu.

    Malamnya, aku menyisir rambut di depan cermin, lalu terdiam sejenak. Pikiranku belum berhenti cemas.

    “Oh Tuhan, aku penasaran sekali, besok-besok ada kejadian pahit-manis apa lagi, ya?” bibirku berucap manja, seolah-olah cermin di depanku adalah Sang Pencipta.

    Tibalah hari di mana seluruh perasaanku membuncah: bahagia, takut, cemas, dan gugup mengalir bersama darah, memompa jantungku makin kuat. Kedua adikku membereskan perlengkapan yang harus dibawa ke rumah sakit. Bahagianya, saat itu aku punya uang untuk kebutuhan selama di rumah sakit, tetapi rasa takut menguasai kaki dan tanganku hingga bergetar.

    “Sist, boleh tidak kalau Kakak dibius separuh saja?” tanyaku pelan sambil melirik ke arah Asty dan menggigit ujung selimut.

    “Ya boleh, Kak, tetapi tergantung dokternya mau bagaimana. Memangnya kenapa, Kak?” Asty membalas sambil memainkan jempol kanannya di layar ponsel.

    “Kakak takut saja, jangan-jangan nanti tidak bangun-bangun,” jelasku.

    Sontak Asty dan Andin tertawa.

    “Hus! Berisik! Ada orang di sebelah,” bisikku menyela mereka.

    “Hihihi…” Mereka melanjutkan tawa cekikikan seperti hantu kejepit.

    Pukul 03.00 subuh, aku berdoa. Setelah perawat memberikan suntikan obat ke dalam botol infus, aku mulai memejamkan mata dan mengangkat hati. Seluruh pikiran dan harapanku menyatu; hanya Tuhan satu-satunya sandaranku.

    Pagi-pagi sekali, perawat membawakan pakaian operasi. Kedua adikku membantu menyiapkan semuanya, merapikan tempat tidur dan barang-barang di dalam ruangan. Sementara itu, aku sedang berpuasa dan menunggu giliran berbaring di meja operasi dokter.

    Saat brankar didorong keluar, kulihat beberapa orang keluargaku datang menjenguk. Ternyata mereka sudah menunggu di depan ruang operasi. Seketika aku merasa makin kuat, meskipun sebenarnya aku tidak segugup kemarin.

    Ruangan itu begitu dingin, tetapi semua tenaga medis tampak ceria.

    Mereka hanya ingin membangun suasana hati pasien yang akan dioperasi, gumamku dalam hati.

    Aku didorong masuk ke ruangan berikutnya, naik ke meja yang dingin itu. Lampu-lampu menyala terang, lalu satu suntikan masuk. Obat itu membuatku langsung tertidur, bermimpi tenggelam terbawa arus air entah ke mana. Beberapa saat kemudian aku terbangun ketika mereka sedang menekan perutku, lalu tertidur kembali.

    Sampai pada suatu saat, mataku mulai terbuka perlahan. Ada seorang wanita cantik memandangku—Vina, sepupuku yang sedang menungguku siuman. Kedua adikku dan dua orang lagi dari keluarga almarhumah Mama juga ada di sana.

    Sambil memaksakan mata agar seimbang dengan kepala yang terasa sangat pusing, aku membuka ponsel berharap ada notifikasi. Ternyata tidak ada. Setidaknya aku berharap Done menghubungiku atau sekadar menanyakan kondisiku. Namun, justru ada dua pesan yang mengancamku secara halus dengan membawa-bawa nama anakku.

    “Huft… Terlalu niat membunuhku secara perlahan,” kataku sambil menunjukkan isi pesan itu kepada Andin.

    “Tidak usah diladeni, Kak,” balasnya singkat lalu mengulas senyum terpaksa.

    Sudah hari kelima dan aku belum juga diperbolehkan pulang. Rasanya tulang belakangku mulai bosan berbaring sepanjang waktu. Aku yang tadinya tidak suka bermain gim online malah memainkannya. Sementara itu, orang-orang datang menjenguk satu per satu, bahkan berkelompok. Meskipun perutku terasa berat seperti memikul keranjang beban, kaki dan tangan selalu kuperintahkan untuk bergerak, berpindah, makan, dan minum.

    Aku tidak mau goyah dari rasa percaya akan kesembuhan total, sekalipun jeritan dan desahan rasa sakit dari balik tirai serta tembok ruangan lain terdengar meruntuhkan pikiran.

    Tiba harinya aku bersiap-siap pulang. Semua barang dibereskan, resep obat diambil, dan kami pun pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung berbaring karena kamar sudah rapi disiapkan sebelumnya.

    “Terima kasih Tuhan, aku sudah kembali ke rumah,” ucapku pelan setelah mengangkat kedua kaki ke atas tempat tidur dan bersandar pada dinding.

    Entah kenapa aku tiba-tiba merasa sedih lagi. Kupandangi kaki, tangan, dan perut yang terpasang selang darah serta selang kateter yang melingkari kaki.

    Ternyata menjadi seorang mama itu tidak mudah. Aku yang memiliki pekerjaan saja tidak kuat, apalagi Mama yang hanya seorang ibu rumah tangga. Beliau hanya menanti bantuan orang-orang yang ikhlas, hingga akhirnya hanya kami bertiga yang selalu ada.

    “Mama, maaf… Aku tidak punya cukup waktu bersama Mama. Ternyata aku seperti Mama sekarang: butuh waktu, butuh telinga, dan setidaknya seseorang yang percaya kepada kita,” bisikku sambil memandang ujung jari kaki yang membentang.

    Aku makin gundah. Telingaku seolah membisikkan satu lagi kenyataan pahit: aku kehilangan rahim dan tidak akan memiliki keturunan lagi. Semuanya berakhir sampai di hari itu. Pikiranku terbiasa memojokkanku hingga tubuh terasa lemas.

    “Tuhan, aku masih percaya ada penyertaan-Mu setelah semua ini terjadi,” tangisku menderas, namun tanpa suara.

    Malam itu sekaligus mengantarkanku ke dunia yang baru, ke rumah yang belum pernah kujumpai dengan ruang-ruang kosong—sebuah ketakutan ekstrem pada orang-orang yang memandangku lemah. Namun, aku yakin itu hanya permainan melodi jiwa yang mencoba menghancurkan harapanku.

     

     

    Kreator : Estyn Penaonde (Zie_est)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB III: Mencari Jawaban di Tengah Ujian

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021