
“Beberapa kota tidak sekadar tempat, tapi melodi yang tak pernah padam dalam ingatan.”
Aku lahir di sebuah pagi yang lembab di Malang, tahun 1966, ketika udara kota masih beraroma tembakau dan tanah basah. Ibu sering bercerita, hujan turun pelan saat aku membuka mata untuk pertama kalinya. “Kau menangis kecil sekali,” katanya suatu malam, saat kami duduk di beranda rumah. “Seperti takut mengganggu langit.”
Aku tak punya banyak kenangan tentang Malang. Tapi setiap kali hujan turun — hujan yang lembut, bukan yang deras — hatiku bergetar aneh, seolah tubuhku mengenali sesuatu yang dulu pernah jadi bagian darinya. Mungkin itu nada pertama dari lagu hidupku. Titik air hujan yang membasahi tanah menguarkan bau khas yang menenangkan dan menghangatkan
Kata ayah, rumah kami waktu itu sederhana: dinding papan dengan atap seng yang berisik setiap kali hujan mengetuk. “Ayah masih pendidikan waktu itu. Hiburannya ya duduk di depan radio, mendengarkan berita sambil merokok dan minum kopi”. Lalu lanjut Ayah, aku suka duduk di lantai, menatap asap yang melingkar di udara, berharap bisa menangkapnya. Tapi setiap kali aku mencoba, asap itu lenyap — seperti kenangan yang tak sempat tumbuh. Ayah suka menyanyi dan bermain gitar, kata Ibuku.
Ibu, sebaliknya adalah atlet tenis lapangan suka bermain volley tapi tidak pandai bermusik. Seingatku Ibu sering bersenandung pelan seperti menggumam. Kata Ayah, Ibu tak pernah menyelesaikan satu lagu pun, seolah tiap nada sengaja dibiarkan mengambang di udara. Kadang aku berpikir: mungkin begitulah hidup — lagu yang tak pernah selesai.
Satu-satunya kenangan jelas dari Malang adalah suara hujan di malam hari. Gemericiknya seperti bisikan lembut yang datang dari jauh. Dan di sela suara itu, Ibu selalu berkata, “Dengar baik-baik, Nak. Hujan menyimpan banyak cerita. Ia bernyanyi untuk yang mau diam.”
Aku belajar diam sejak saat itu — dan mendengarkan.
Salatiga bagai selimut tipis di sore hari: dingin, tapi menenangkan. Kami pindah ke sana saat aku berumur empat tahun. Ayah mendapat tugas baru, dan Ibu bilang, kota itu kecil tapi indah. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan indah waktu itu, tapi begitu kami tiba, aku mengerti — udara di sana lain. Lebih lembut. Lebih pelan. Penuh dengan suara lonceng gereja di pagi dan sore hari.
Semua cucu memanggil Eyang putri sebagai Mbah Buk dan Eyang kakung sebagai Mbah Bapak. Rumah Mbah Buk dan mbah Bapak terletak di tengah kota tapi masuk di jalan yang tidak terlalu ramai. Banyak pohon di halaman rumah. Ada pohon kopi, alpukat, mangga, rambutan, cerme dan jambu. Rumah bergaya Indische dengan dindingnya dari kayu jati, berbau getah dan masa lalu. Berjarak melewati satu rumah adalah rumah Eyang Buyutku atau kami menyebut Uti dan Ukung (orangtua mbah Buk). Di ruang tengah 2 rumah itu, tergantung foto-foto hitam putih: wajah-wajah yang tak kukenal tapi seperti memandangku.
“Itu leluhurmu,” kata Uti, sambil menepuk bahuku. “Mereka semua pernah bernyanyi di kota ini.”
“Setiap kota punya jiwa,” kata Eyang suatu sore. “Kalau kau mau mengenalnya, jangan cuma berjalan — dengarkan napasnya.”
Aku mengangguk, meski tak sepenuhnya paham.
Tapi sejak hari itu, aku suka menempelkan telinga ke tanah setelah hujan reda, mendengar bunyi air yang meresap ke bumi. Dalam pikiranku yang kecil, aku merasa sedang mendengar Salatiga bernapas.
Kadang, Eyang mengajakku ke pasar pagi. Membelikanku es putar dan kerupuk karak. Kami berjalan menyusuri jalan berbatu, melewati tukang sayur, penjual jamu gendong, dan aroma kopi dari warung yang baru dibuka. Aku menggenggam tangannya erat, takut terpisah dari lautan orang. Tapi Eyang selalu menoleh sambil tersenyum, “Tenang saja, Salatiga nggak akan membiarkanmu hilang.”
Suatu sore hujan turun deras. Aku duduk di jendela, memandangi halaman rumah yang mulai tergenang. Mbah Buk mendekatiku dengan membawa teh panas.
“Nak, ayahmu harus tugas keluar kota. Kamu akan pindah, ya?” tanyanya lembut.
Aku menatapnya.
Rambutnya yang digelung rapi berbau wangi kelapa. Kain dan kebayanya serasi dalam ingatanku.
“Jangan sedih,” katanya. “Kota ini akan tetap menyanyikan namamu, meski kau tak lagi di sini.”
Aku ingin percaya. Tapi, malam itu aku seperti ingin menangis diam-diam. Salatiga menjadi kota pertama yang membuatku mengerti arti kehilangan.
Aku mengenal dunia lewat bangku kecil di TK, dengan seragam yang kebesaran dan pita rambut yang miring. Kendal menyambutku dengan angin laut yang asin dan suara camar di pagi hari. Rumah kami berada tak jauh dari rel kereta — setiap kali lokomotif melintas, kaca jendela bergetar halus seperti irama detak jantung.
Kendal adalah kota yang sederhana. Ayahku menempati rumah yang disediakan di kawasan perkantoran. Ramai di pagi sampai siang hari tapi sunyi, gelap dan cenderung membuatku takut di sore dan malam hari. Sepi yang mencekam membuatku lupa akan indahnya kelembutan hujan. Ayah dan ibuku bekerja di perkantoran itu, jadi sebetulnya pergerakan orang tuaku dan anak anaknya, aku dan ke 4 adikku berkutat di kawasan perkantoran dan memudahkan aku dikenali teman teman Ayah dan Ibuku. Sekolahku kecil, dengan dinding yang dicat biru muda dan halaman yang selalu berlumpur setelah hujan. Di sana aku belajar menulis huruf-huruf pertama namaku — R, A, R, A, S.
Guru bilang, namaku indah, seperti aliran sungai. Aku suka mendengarnya.
Kami sering pergi ke Salatiga mengunjungi Eyang. Perjalanan itu butuh dua jam melewati jalan berliku dan tanjakan yang panjang. Aku duduk di kursi belakang, menempelkan kepala ke kaca jendela, menatap pepohonan yang mundur perlahan. Suara roda mobil di jalan tanjakan menjadi lagu pengantar tidurku.
“Lihat, Nak,” kata Ayah suatu kali sambil menunjuk ke arah gunung.
“Itu Merbabu. Kalau awannya tipis begini, berarti besok cerah.”
“Gunungnya kayak tidur ya, Yah?”
Ayah tertawa kecil. “Gunung itu nggak pernah tidur. Dia cuma diam, tapi selalu mendengarkan.”
Aku tidak tahu kenapa kalimat itu tertinggal di benakku sampai hari ini. Mungkin karena diam memang cara alam mengingat.
Di Kendal, aku punya teman-teman baru. Melewati masa di taman kanak kanak dan sekolah dasar dengan sebagian besar teman teman yang sama ada beberapa teman yang tanpa kuduga nantinya akan menjadi teman teman di masa datang. Masa kecil di Kendal adalah masa bermain disaat banjir, bermain di pematang sawah, membuat kapal dari batang pohon pisang, bertemu ular ular sawah yang tidak enggan merambah ke halaman rumah dan berlari hingga matahari hampir tenggelam. Aku dan adik adikku sering pulang dengan kaki penuh lumpur, dan Ibu selalu pura-pura marah. Tapi di wajahnya selalu terselip senyum.
Malam-malam di Kendal adalah malam yang panjang dan penuh suara. Ada serangga yang bernyanyi, angin yang menyusup dari celah jendela, dan suara laut yang samar dari kejauhan. Kadang aku merasa semua itu seperti orkestra kecil yang hanya aku yang bisa dengar. Untuk mengatasi kesunyian malam di perkantoran itu, ibu dan ayahku memelihara beberapa ekor angsa dan seekor anjing. “Jaga jaga kalau Ayah pulangnya sampai malam, jadi kita aman”, kata ibuku. Aku mengernyitkan kening. Ibu mengelus tanganku, “Kalau ada orang tidak dikenal di sekitar rumah kita, mereka akan ramai bersuara. Jadi kita tahu siapa tamu kita”. Aku mengangguk.
Tapi di antara semua kenangan, yang paling kuingat adalah hari hari sebelum kami pindah lagi. Saat itu aku baru saja naik kelas IV dan adik bungsuku masih bayi. Ibu menata koper kecil di ruang tamu, sementara Ayah memeriksa surat jalan. Aku duduk di teras, memandangi langit yang terang — tak ada tanda hujan. “Kendal nggak menangis saat kita pergi,” gumamku pelan. Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang mengalir pelan, seperti hujan yang tak jadi turun.
Tegal bagai lagu keroncong yang tak pernah selesai dinyanyikan: sedikit riuh, sedikit getir. Aku tiba di kota itu saat kelas empat SD. Udara disana terasa lain — panas, tapi penuh kehidupan. Setiap sudutnya berisi suara: pedagang, becak, radio yang memutar lagu-lagu lawas dari warung kopi. Pasar yang menjual pia, makanan dengan ringan berbentuk segi empat kecil dengan kulit krispi dan isi vanilla atau kacang hijau.
Sekolah baruku terletak di pinggir jalan besar. Satu kawasan sekolah dengan 4 bangunan besar yang saling berhadapan. SD 1, SD 27, SD 37 dan SD 43. Aku bersekolah di SD 43. Hari pertama, aku duduk di bangku depan, canggung dan diam. Berusaha memahami bahasa Jawa yang terdengar asing dan lucu bagiku. Beberapa teman menyapa dan mengajakku bicara. Mereka pasti juga merasa aneh dengan logatku. Di SD itu aku masuk kelas 4 dan Adi adikku kelas 3. 2 adikku yang lain masuk TK dan adik bungsuku, si bayi, mulai tumbuh besar
Sungguh ajaib, menurutku, pindah dari satu kota ke kota lain, selalu merindukan saat saat hujan turun. Tidak perlu jeda dan penjelasan yang rumit, aku menikmati nyanyiannya..
Tetangga rumahku adalah anak laki laki sebayaku yang sekolah di SD 27. Namanya Arif. Ia punya rambut yang selalu berantakan dan mata yang jernih seperti air sumur. Ia sering tersenyum tanpa alasan, dan setiap kali ia tertawa, aku ikut tersenyum, meski tak tahu apa yang lucu.
Kami sering bermain sepulang sekolah — ke sungai kecil di belakang pasar, atau ke lapangan tempat anak-anak bermain layang-layang. Arif pandai membuat layangan dan dia juga menjadi teman bermain adikku, Adi, yang lebih muda setahun dariku. Ia pernah membuat satu untukku, dari kertas bekas dan benang jahit ibu. Di tubuh layangan itu, ia menulis namaku kecil sekali di ujung kanan bawah.
“Kalau nanti dia terbang tinggi,” katanya sambil mengikat benangnya, “kau harus percaya, dia nggak akan putus. Karena aku yang jagain.” Adi di sebelahku menyipitkan mata mendengar kata kata Arif tapi pandangannya kembali ke kumparan benang yang tengah sibuk dia gulung
Aku tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu membuat dadaku hangat. Kami tertawa saat layangan itu menukik lalu naik lagi, menembus langit sore yang berwarna jingga.
Hari-hari di Tegal berjalan seperti lagu yang lembut. Kami berbagi buku cerita, saling menulis di halaman belakang buku tulis, menggambar pohon dan awan, seolah waktu akan berhenti di situ saja. Tapi waktu tidak pernah mau berhenti.
Menjelang kelulusan SD, suasana menjadi aneh. Ayah bilang, setelah liburan kami akan pindah lagi. “Tugasku selesai di sini,” katanya dengan nada datar. Tapi di balik suaranya, aku bisa mendengar perpisahan yang berat.
Hari terakhir sekolah, Arif memberiku selembar foto kecil. Di belakangnya ia menulis:
“Kalau suatu hari kau lupa wajahku, lihatlah langit sore. Aku akan ada di sana — seperti layangan”
Aku tidak menangis waktu itu. Tapi malamnya, ketika hujan turun, aku duduk di dekat jendela dan memandangi foto itu lama sekali. Suara hujan di atap seperti memainkan lagu yang aneh tentang sesuatu yang tetap hidup dalam diam.
Beberapa waktu kemudian kami meninggalkan Tegal, ke kota berikutnya, aku menatap jalanan yang perlahan menjauh. Ibu bersenandung pelan, sementara Ayah fokus pada kemudi.
Aku menutup mata dan berbisik dalam hati:
“Selamat tinggal, Arif. Selamat tinggal, Tegal.”
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti — setiap kota menyimpan sebagian suaraku yang tak akan pernah kembali utuh.
Kreator : Shavitri Nurmala Dewi
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bagian I Lagu Pertama: Malang, Salatiga, Kendal, dan Tegal (1966–1979)
Sorry, comment are closed for this post.