
“Remaja adalah lagu yang indah tapi rapuh, yang nadanya bisa patah hanya karena satu kata yang tak pernah sempat diucapkan.”
Ayah dipindahkan lagi ke kantor Kendal, dan kami menempati rumah dinas kecil dengan jendela besar menghadap sawah. Ibu bilang, rumah itu seperti napas baru. Tapi bagiku, ia justru seperti gema dari masa lalu — sebuah ulangan dari lagu yang dulu belum selesai.
Ada yang berubah di Kendal —makin banyak lampu di jalan, aku tumbuh, dan langit yang seolah makin rendah.
Aku kembali ke kota itu tahun 1979, ketika rambutku mulai panjang dan suara dalam diriku belum tahu ke mana harus mengalun. Jalan di depan rumah masih sama: banjir kalau hujan, berdebu kalau kemarau. Di ujung gang, warung Bu Tatik masih berdiri dengan aroma gorengan yang hangus sebagian. Hanya saja, aku kini memandangnya dari ketinggian yang berbeda — bukan lagi anak kecil yang berlari-lari tanpa alas kaki, melainkan gadis belasan tahun yang mulai mengenali arti diam.
Hari pertama masuk SMP, aku berjalan melewati halaman sekolah dengan seragam putih-biru yang masih terlalu kaku. Bau kapur, suara bel lama, dan papan nama sekolah yang pudar seperti menyambutku dengan tangan tua.
Di antara wajah-wajah baru itu, beberapa ada yang kukenal — teman-teman lama yang dulu bermain bersamaku di pematang sawah.
“Raras?” seorang di antara mereka menatapku lama.
Aku mengangguk pelan. “Iya. Kamu Titik, ya?”
Ia tertawa kecil, menepuk pundakku. “Kau berubah. Lebih tinggi… dan lebih pendiam.”
Aku hanya tersenyum. Tak tahu harus menjawab apa. Karena di dalam diriku, memang ada sesuatu yang berbeda. Ada sebagian diriku yang tertinggal di Tegal — bersama seorang anak laki-laki yang dulu membuatkan layangan dari kertas bekas.
Kadang saat pulang sekolah, aku duduk di pinggir jalan dan memperhatikan anak-anak kecil bermain. Tawa mereka seperti gema masa kecilku yang kini hanya tersisa bayangannya. Di malam hari, beberapa kali aku membuka kembali foto lama — foto perpisahan SD yang mulai menguning di pinggirnya. Ada wajah Arif di sana, setengah tersenyum, setengah asing.
Ibu sering menatapku dari pintu, lalu bertanya, tanpa menyinggung siapapun
“Kamu kangen Tegal, ya?”
“Sedikit,” jawabku.
“Pada, yong tahu di kolam renang ya.”
Ibu mengejarku. Aku menggangguk setuju. Yong Tahu adalah tahu putih yang diisi daging berempah, dikukus dan disajikan dengan sambal kacang. Menurutku adalah makanan kudapan dengan kasta tertinggi. Aku mengangguk setuju.
Kendal mungkin kota yang sama, tapi aku sudah bukan anak kecil yang sama.
Dan mungkin, itulah yang membuat langitnya terasa lebih rendah dari dulu.
Surat-surat itu datang dengan tulisan tangan miring dan bekas lipatan yang rapi. Setiap amplop membawa sepotong masa lalu, seperti sayap kecil yang melayang dari kota pesisir yang dulu kutinggalkan.
Aku ingat surat pertama datang di suatu sore bulan Mei, tak lama setelah aku naik kelas dua SMP. Ibu memberikannya padaku sambil berkata, “Dari siapa, ya? Tulisannya rapi sekali.” Aku tahu bahkan sebelum membaca nama di pojok amplop: Arif — Tegal.
Tangan kiriku bergetar saat membukanya. Di dalamnya ada empat lembar kertas bergaris, dengan tulisan yang tidak seberapa bagus tapi penuh kejujuran. Ia bercerita tentang sekolah barunya, tentang teman-teman, tentang layangan yang masih suka ia buat di sore hari.
“Aku masih ingat layangan yang kita terbangkan dulu,” tulisnya.
“Kau bilang, kalau benangnya putus, berarti dia ingin bebas. Tapi aku pikir sekarang, kadang benang tak putus pun, layangan bisa hilang juga — tertiup angin, atau tersangkut di pohon.”
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang.
Entah kenapa, di dadaku ada sesuatu yang bergerak pelan — seperti riak kecil di permukaan air.
Sejak itu, surat-surat darinya datang tiap dua atau tiga minggu. Aku menunggu tiap sore, menatap jalan dari jendela kamar, berharap melihat tukang pos datang dengan selembar amplop coklat. Kadang aku menulis balasan di malam hari, dengan tulisan hati-hati dan tinta biru yang sering meleber.
“Aku juga masih ingat layangan itu,” tulisku suatu hari.
“Mungkin dia tidak tersangkut, mungkin dia cuma terbang terlalu tinggi untuk kita lihat.”
Aku tak pernah menulis kata rindu di sana, tapi aku tahu Arif bisa membacanya di antara baris-baris yang diam.
Surat-surat itu menjadi lagu dalam hidupku — melodi sunyi yang hanya bisa kudengar sendirian.
Kadang aku membaca ulang surat-suratnya saat hujan turun. Aroma kertas yang lembab bercampur dengan bau tanah basah membuat semuanya terasa seperti masa lalu yang menolak pergi.
Suatu malam, saat aku membaca surat kesepuluhnya, adikku mengetuk pintu kamar.
“Kak, kamu senyum-senyum sendiri. Surat dari siapa?”
Aku buru-buru menyembunyikannya di bawah bantal. “Nggak dari siapa-siapa,” jawabku cepat.
Adikku tertawa. “Ah, pasti dari yang kamu suka, ya?”
Aku tidak menjawab. Karena bagaimana aku bisa menjelaskan sesuatu yang bahkan belum punya nama?
Yang aku tahu, setiap kali membaca tulisannya, dunia jadi terasa lebih lembut. Dan setiap kali suratnya terlambat datang, hari-hariku seolah kehilangan musiknya.
Tahun-tahun itu adalah tahun-tahun yang sunyi tapi hangat.
Dan di setiap kesunyiannya, aku mendengar bisikan halus dari arah Tegal — suara seorang anak laki-laki yang masih menyebut namaku di antara kalimat sederhana yang penuh makna.
Aku datang ke Tegal dengan hati berbunga, tapi pulang dengan dada kosong.
Itu liburan sekolah kelas satu SMA. Aku dan adikku ikut Ibu ke Tegal menengok teman lamanya yang tinggal tak jauh dari rumah lama kami dulu. Di sepanjang jalan, dadaku berdebar seperti anak kecil yang menunggu ulang tahun. Aku membayangkan bertemu Arif lagi — mungkin di jalan yang sama, atau di lapangan tempat kami dulu bermain layangan. Aku bahkan membawa foto lama kami, kuselipkan di antara halaman buku harian.
Tapi hidup, seperti biasa, selalu punya caranya sendiri untuk mengajari arti kehilangan.
Hari itu panas. Angin laut membawa bau asin dan debu. Aku berdiri di depan pagar rumah lamaku yang kini tampak lebih kecil. Tiba-tiba dari kejauhan, aku melihat sosok yang kukenal — Arif. Tapi ia tak sendirian. Di sebelahnya, berjalan seorang gadis berambut panjang, mengenakan seragam putih abu-abu. Mereka tertawa.
Tertawa dengan cara yang dulu hanya aku tahu.
Aku terpaku di tempat. Dunia seperti berhenti sebentar, lalu berjalan lagi dengan tempo yang lebih lambat. Aku tidak berani menyapanya.
Dan saat akhirnya ia menoleh ke arahku, matanya melewati wajahku seperti angin yang tidak mengenal pohon yang pernah menaunginya.
Malamnya, aku menulis di buku harian. Kalimat yang sederhana, tapi getir:
“Mungkin aku memang bukan gadis yang mudah dicintai.”
Ibu memanggil dari ruang depan, menyuruhku tidur. Tapi aku hanya menatap jendela. Di luar, bulan separuh tergantung di langit. Aku berpikir tentang bagaimana sesuatu yang dulu terasa abadi bisa lenyap hanya karena satu tatapan yang tidak lagi sama.
Keesokan harinya, kami pulang. Mobil melaju pelan meninggalkan kota itu. Aku tidak menoleh ke belakang. Tak ada gunanya.
Yang hilang bukan hanya seseorang — tapi juga lagu yang dulu membuatku percaya bahwa dunia punya warna lembut.
Beberapa minggu kemudian, satu surat datang lagi dari Arif. Isinya singkat, hambar.
“Maaf kalau waktu itu aku tidak sempat menyapa. Aku sedang bersama teman sekolah.”
Dan di bawahnya, hanya satu kalimat kecil:
“Semoga kamu baik-baik saja, Ras.”
Setelah itu, tak ada lagi surat datang.
Dan aku berhenti menulis.
Kadang cinta datang bukan dari mereka yang sebaya, melainkan dari seseorang yang melihat luka kita dan ingin menenangkannya.
Aku duduk di beranda sore itu, memandangi langit yang seolah enggan turun hujan. Aku sudah kelas tiga SMA, dan hidupku terasa datar — tak ada lagi surat, tak ada lagi lagu.
Lalu datanglah dia: Bagas, kakak dari teman sekolahku, Wati. Sebetulnya Wati sudah sering menyampaikan salam dari Bagas, sejak aku kelas 2 SMP seingatku. Tapi aku tidak peduli dan tidak memikirkannya.
Ia sepuluh tahun lebih tua, berwajah teduh, dan punya cara bicara yang lambat — seperti seseorang yang tak ingin merusak keheningan dunia. Ia sering mengantar adiknya ke sekolah, dan kadang mengajakku berbincang di bawah pohon mangga.
“Kamu suka menulis?” tanyanya suatu sore.
“Sedikit. Dulu sering menulis surat.”
“Untuk siapa?”
Aku tersenyum samar. “Untuk masa lalu.”
Ia ikut tersenyum. “Berarti kamu orang yang setia.”
Kalimatnya sederhana, tapi hangatnya bertahan lama di dadaku.
Bagas bukan tipe laki-laki yang pandai berkata manis. Tapi ia tahu bagaimana membuat seseorang merasa aman. Ia mendengarkan — benar-benar mendengarkan — tanpa tergesa memberi nasihat.
Di antara obrolan sederhana itu, tumbuhlah sesuatu yang pelan tapi pasti: perasaan ingin tetap berada di dekatnya.
Malam-malam panjang di Kendal mulai terasa berbeda. Ada surat-surat baru, tapi kali ini bukan tulisan miring anak muda, melainkan kalimat-kalimat tenang dari seorang pria dewasa. Ia menulis tentang pekerjaannya, tentang hujan yang turun di kota lain, dan tentang bagaimana ia selalu ingat padaku setiap kali mendengar lagu “Sepasang Mata Bola”.
Suatu malam, ia berkata, “Kalau nanti kamu kuliah, aku ingin tetap menulis untukmu. Tapi kalau kau lelah, aku tak akan menahan.”
“Aku tidak lelah,” jawabku pelan. “Aku cuma belum tahu ke mana semua ini akan berjalan.”
Ia menatapku lama, lalu tersenyum.
“Ke mana pun berjalan, yang penting jangan berhenti percaya pada cinta.”
Beberapa bulan kemudian, setelah aku lulus SMA dan diterima di perguruan tinggi di Yogyakarta, di awal kuliah, kami menikah. Aku baru sembilan belas.
Aku mengenakan kebaya sederhana berwarna gading. Di cermin, wajahku tampak asing — seperti gadis lain yang mencoba tersenyum agar tak terlihat gugup. Di pelaminan, Bagas menggenggam tanganku erat, dan untuk sesaat, aku merasa seluruh luka masa laluku luluh di genggamannya.
Tapi jauh di dalam hati, aku tahu
Aku meninggalkan masa mudaku tanpa tahu bahwa hidup akan meminta lebih dari itu.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, aku menatap kembali masa itu dengan perasaan campur aduk: haru, getir, dan syukur.
Arif hanyalah lagu pertama, Bagas mungkin lagu yang lebih tenang, tapi aku tahu — keduanya membentuk nada-nada yang membuatku menjadi diriku hari ini.
“Kota-kota itu masih bernyanyi,” tulisku di catatan tua.
“Tapi kini aku tak lagi menunggu surat. Aku hanya mendengarkan gema yang pernah mereka tinggalkan.”
Kreator : Shavitri Nurmala Dewi
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bagian II Lagu Kedua: Surat-Surat dan Keheningan Hati (1979–1985)
Sorry, comment are closed for this post.