
“Jogja menyambutku dengan aroma tanah basah dan suara becak di subuh hari.”
Aku masih sangat muda ketika datang ke Jogja tahun 1985—terlalu muda, mungkin, untuk membawa satu koper besar berisi baju, buku, dan harapan-harapan yang belum sempat ku pikirkan matang-matang. Kami tinggal di kontrakan sederhana di belakang pasar Demangan. Dindingnya tipis, suara ayam tetangga menembus masuk setiap pagi, dan bocor kecil di atap membuatku hafal betul suara air menetes. Tapi justru di rumah kecil itu, hidup mulai terasa seperti ujian yang datang terlalu cepat.
Bagas sudah bekerja, meski bukan pekerjaan tetap. Aku baru mau mulai kuliah. Rasanya seperti kami berdua berdiri di depan pintu besar yang sama-sama kami buka, tapi menuju ruang yang sama sekali berbeda. Jogja tiba-tiba jadi panggung tempat aku harus memainkan begitu banyak peran sekaligus—mahasiswa baru yang gugup, istri muda yang masih belajar memasak sayur bayam, anak perempuan yang berusaha terlihat kuat di hadapan Ibu di Kendal, dan perempuan kecil yang diam-diam berharap Bagas bisa jadi rumahnya.
Jogja saat itu seperti lukisan yang belum selesai. Kabut menggantung rendah setiap pagi, menyingkap siluet Merapi perlahan-lahan. Sawah-sawah hijau di sekitar Demangan seperti selimut tenang, sementara Kali Code mengalir membawa suara anak-anak yang mandi dan ibu-ibu yang saling menyapa. Malioboro menjadi ruang di mana aku melarikan diri sebentar—membolak-balik buku bekas, membeli bakpia murah, atau sekadar menyusuri trotoar sambil mengobati rasa cemas yang tak pernah benar-benar pergi.
Di kota yang penuh mahasiswa itu, aku justru merasa paling kanak-kanak. Mereka bicara tentang mimpi, organisasi, demonstrasi, ide-ide besar. Sementara aku memikirkan biaya hidup minggu depan, daftar belanja yang harus dipangkas, jadwal kuliah yang bentrok dengan waktu mencuci pakaian, dan kadang… memikirkan Bagas yang pulang lebih malam dari biasanya.
Kontrakan kami kecil. Catnya mengelupas, tapi ada jendela mungil yang menjadi tempat favoritku. Di situlah aku menjemur cucian, menatap senja, dan menulis surat untuk ibu. Surat-surat yang isinya campuran antara “Aku baik-baik saja, Bu” dan “Bu, aku capek,” yang tak pernah kukirimkan. Entah kenapa, setiap kali malam datang, Jogja terasa lebih sunyi—dan di kesunyian itu, aku sering merasa seperti anak kecil yang meminjam tubuh orang dewasa.
Hidup kami sederhana. Kadang hanya ada nasi, sambal bawang, dan tempe sepotong. Tapi di tengah rasa pas-pasan itu, aku belajar tentang cinta yang bentuknya tidak manis seperti cerita-cerita remaja. Cinta, malam itu, muncul dari pertanyaan canggungku.
“Mas… nggak apa-apa kalau lauknya cuma sambal?”
Bagas tersenyum, wajahnya lembut diterangi lampu lima watt yang menggantung rendah. “Selama ada kamu, rasanya cukup,” katanya pelan.
Kalimat itu sederhana. Mungkin terlalu sederhana. Tapi malam itu, kata-katanya seperti selimut tipis yang melindungiku dari dinginnya ketakutan masa depan.
Hari-hariku dipenuhi jadwal yang tumpang tindih. Kuliah pagi, memasak untuk Bagas siang hari, mencuci baju sore, menyalin catatan kuliah malam hari. Kadang tubuhku seperti berjalan sendiri, sementara pikiranku tertinggal di belakang, duduk memeluk lutut dan bertanya: “Apa aku kuat?”
Ada hari-hari ketika aku ingin menyerah, tapi ada juga hari-hari ketika aku merasa bangga karena berhasil melewati semuanya. Jogja, entah bagaimana, mengajariku berdamai dengan ritme yang lambat tapi pasti.
Di sudut kecil meja kontrakan, aku menulis catatan harian. Isinya adalah kegalauan khas mahasiswa baru—campuran antara takut, bingung, bahagia, cemburu, rindu rumah, dan harapan yang menggantung-gantung seperti lampu minyak di teras rumah simbah.
Aku menulis:
“Aku ingin jadi mahasiswa seperti yang lain… tapi aku juga harus jadi istri. Aku takut tertinggal. Aku takut gagal. Tapi aku juga ingin berhasil… demi diriku sendiri.”
Kadang aku iri melihat teman sebayaku yang masih bisa memilih: kuliah dulu, pacaran dulu, atau bekerja nanti. Sementara aku harus menjalani semuanya sekaligus. Multitasking yang bukan soal manajemen waktu—tapi manajemen hati.
Jogja, bagiku, bukan sekadar kota. Ia adalah guru yang sabar dan sedikit keras kepala, mengajariku arti “tabah”, “cukup”, dan “bertahan”. Di gang-gang sempitnya yang dipenuhi bau gorengan pagi, aku sering menemukan pantulan diriku sendiri: seseorang yang belum selesai, seseorang yang sedang tumbuh terlalu cepat, dan seseorang yang diam-diam berharap Bagas bisa jadi lelaki yang menunjukkan arah saat aku bimbang.
Diam-diam, aku memandangnya seperti seseorang yang bisa menggantikan peran ayah dan ibu dalam hidupku. Padahal, aku sendiri masih belajar menjadi diriku. Cinta, rupanya, tak selalu memberi kepastian—tapi memberiku kekuatan kecil untuk terus melangkah.
Di kota inilah aku belajar bahwa bertahan hidup juga adalah bentuk cinta. Dan kadang… bentuk cinta yang paling sunyi adalah ketika kita tetap tinggal meski banyak hal belum kita pahami.
Tahun pertamaku di Jogja berjalan seperti gerbong kereta yang tak bisa berhenti. Setiap pagi, aku terbangun sebelum subuh, membuka jendela kecil yang langsung menghadap langit muram. Bau pasar Demangan yang lembab, bercampur dengan aroma kubis, ikan asin, dan tanah basah, menjadi alarm alami yang membangunkanku. Ada hari-hari ketika aku bangun dengan semangat baru—seperti gunung Merapi yang diselimuti cahaya keemasan ketika mentari pertama menyingkap kabut. Tapi sering pula aku bangun dengan dada yang sesak, seolah dunia bergerak lebih cepat daripada napasku.
Aku masih berusia sembilan belas ketika beban hidup menuntutku menjadi tiga puluh. Kuliah, mengurus rumah, menjadi istri muda, mengatur uang yang tak pernah cukup, menghadapi ego dan diam Bagas, dan mencoba tetap menjadi anak bagi Ibu di Kendal yang tak ingin tahu berapa kali aku menangis di dapur sempit kontrakan kami.
Di kampus, aku mahasiswa. Di rumah, aku istri. Di jalanan, aku perempuan muda yang berusaha terlihat dewasa. Dan, di dalam diriku sendiri, aku sering merasa seperti anak kecil yang tersesat.
Perubahan itu terasa bertahap. Awalnya, aku mengira semuanya hanya soal menyesuaikan diri. Aku mencoba menjalani hari dengan rutinitas yang rapi: kuliah pagi, belanja di pasar siang hari, memasak sore, belajar malam. Tapi hidup jarang berjalan seindah tabel jadwal dalam buku catatan. Kadang gas habis di tengah memasak. Kadang uang belanja tinggal seribu rupiah sementara aku butuh beli beras. Kadang aku ingin mengadu pada Bagas, tapi Bagas pulang dengan wajah letih, baju kerja berbau oli, dan mata yang hanya ingin tidur.
“Mas, capek ya?” tanyaku suatu malam, setelah menyiapkan teh hangat.
Bagas hanya mengangguk, melepas sepatunya pelan lalu rebah di tikar. “Kerjaan tadi banyak,” jawabnya pendek.
Aku ingin bercerita tentang tugas kuliah yang menumpuk, tentang dosen yang memarahiku karena datang terlambat, tentang perasaan takut ketika aku tidak paham materi. Tapi melihat tubuh Bagas yang terkulai, bibirku mengatup. Aku memilih diam. Malam itu, keheningan menjadi bahasa yang paling sering kami gunakan.
Di satu sisi, aku memaklumi. Hidup tak mudah bagi Bagas. Ia berjuang sendirian tanpa gelar, tanpa dukungan dari keluarganya yang jauh di Lampung. Tapi di sisi lain, ada bagian diriku yang mulai merasakan dingin—dingin yang datang dari jarak tak terlihat di antara kami.
Konflik kecil mulai muncul, seperti percikan api kecil di tungku dapur.
“Kenapa berasnya cepat habis? Kamu masak kebanyakan, ya?” tanya Bagas suatu sore, nadanya tidak kasar tapi menusuk.
Aku menelan ludah. “Tadi aku bikin nasi goreng buat makan siang sama teman kampus.”
“Lain kali hemat. Kita harus bisa tahan sampai tanggal 28,” katanya sambil mengelap wajah.
Aku mengangguk, tapi setelah itu aku masuk ke kamar dan duduk lama di tepi kasur, menatap lantai. Ada rasa malu, ada rasa dituding tak becus, ada rasa tak dianggap. Tapi aku tak bicara. Di rumah sekecil itu, diam sering terasa lebih aman daripada kata-kata.
Hari-hari di kampus menjadi pelarian. Ruang kelas dengan papan tulis hijau dan bangku kayu itu terasa seperti dunia lain. Teman-teman sebayaku sering mengajakku mampir ke perpustakaan atau makan bakso di pinggir jalan. Mereka bicara tentang masa depan dengan riang: tentang ingin jadi wartawan, ingin melanjutkan S2, ingin merantau. Sementara aku hanya tersenyum sambil menunduk, menyembunyikan kenyataan bahwa uangku hanyalah sisa kembalian dari beli sayur.
“Ayo ikut nonton teater di TBY,” ajak seorang teman.
Aku ingin sekali. Aku butuh hiburan. Aku butuh ruang bernapas. Tapi, aku hanya menggeleng.
“Maaf, aku harus pulang masak.”
Padahal kadang tak ada yang menunggu dimasakkan.
Kegalauan kecil itu menumpuk, dari hari ke hari, menjadi sesuatu yang tak bisa kusentuh tapi terasa menekan.
Ada satu masa ketika aku benar-benar merasa kehilangan diri.
Suatu sore di musim hujan, aku pulang dari kampus dalam keadaan basah kuyup. Payungku robek diterpa angin. Tas kuliah basah, buku-buku lecak. Ketika memasuki kontrakan, aku melihat Bagas duduk di sudut tikar, wajahnya masam.
“Kok kamu lama?”
Aku tercekat. “Hujan besar. Aku jalan…”
Dia berdiri. “Aku nungguin kunci rumah. Harusnya kamu kabari.”
Waktu itu belum ada ponsel, kabar hanya bisa lewat pesan titip teman satu jurusan yang kadang tak sampai. Aku ingin membela diri, ingin menjelaskan betapa dinginnya udara, betapa habis tenagaku berjalan dari kampus. Tapi mulutku kelu.
“Maaf,” hanya itu yang keluar.
Bagas menghela napas panjang. “Lain kali jangan bikin aku nunggu. Aku capek.”
Kalimat itu bagai cambuk. Aku ingin menangis, tapi aku menahan. Aku hanya masuk kamar mandi dan membiarkan air membasahi wajahku, entah mana air hujan, mana air mata.
Malam itu, aku menulis di buku harian:
“Apakah aku istri yang buruk? Atau hidup ini terlalu besar untukku?”
Konflik lain muncul ketika keinginanku untuk aktif di kampus bertabrakan dengan ekspektasi Bagas padaku.
“Aku mau ikut kegiatan diskusi bulanan di kampus, Mas,” kataku hati-hati suatu malam.
Bagas mengangkat alis. “Buat apa?”
“Ya… buat belajar. Buat menambah wawasan.”
“Wawasan nggak bikin kita makan,” jawabnya datar. “Mending kamu di rumah.”
Aku terdiam. Hati kecilku memberontak, tapi bibirku tak berani melawan. Dalam budaya kami, terutama era itu, perempuan sering dianggap lebih mulia ketika taat. Tapi ada bagian dalam diriku yang menjerit ingin tumbuh. Ingin berbicara. Ingin menjadi seseorang, bukan sekadar bayangan di rumah sempit.
Namun, aku tak berani mengucapkannya. Aku terlalu takut melukai. Terlalu takut kehilangan satu-satunya orang yang kuanggap rumah.
Di titik itu, aku mulai hidup dengan dua wajah:
Di kampus aku tampak kuat, ceria, tertawa bersama teman-teman.
Di rumah aku kerap diam, menahan, mengalah.
Dan perlahan, aku merasa jiwaku terbelah dua.
Namun Jogja, dengan cara yang misterius, selalu menemukan celah untuk menguatkanku. Ada sore-sore ketika aku duduk di tepian Kali Code, melihat anak-anak kecil bermain air sambil tertawa lepas. Ada pagi-pagi di mana aku berangkat kuliah sambil melihat Merapi yang gagah berdiri, membuatku sadar bahwa manusia hanya makhluk kecil yang terus harus melangkah meski takut.
Kadang aku mampir ke toko buku bekas di Malioboro. Dengan uang dua ratus rupiah, aku membeli buku lusuh yang sampulnya nyaris sobek. Membaca membuatku merasa hidup kembali. Membuatku ingat bahwa dunia luas—lebih luas dari kontrakan Demangan yang gelap setiap malam.
Di tempat-tempat seperti itu, aku berbisik pada diriku sendiri:
“Aku harus bertahan. Aku harus kuat.”
Tapi kekuatan tak datang begitu saja. Ia harus dicari, dijaga, dan kadang dicuri dari tempat-tempat paling sunyi di hati.
Konflik paling besar antara aku dan Bagas datang pada suatu malam yang basah oleh hujan.
Kami jarang bertengkar. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat mata Bagas yang begitu letih sampai tampak asing.
“Kamu pulang telat lagi,” katanya. Suaranya rendah tapi tajam.
“Aku rapat kelompok tugas,” jelasku.
“Pake alasan kuliah terus.”
“Aku nggak bohong, Mas.”
Bagas menatapku lama. “Aku cuma nggak mau kamu lupa kalau kamu istri.”
Kalimat itu menusuk.
“Aku nggak lupa,” suaraku mulai bergetar, “tapi aku juga masih mahasiswa.”
Ia mendekat, suaranya meninggi sedikit, sesuatu yang jarang terjadi.
“Ya, tapi prioritasmu harus jelas!”
Dan saat itu, sesuatu dalam diriku pecah. “Kenapa aku yang harus memilih? Kenapa harus aku yang selalu mengalah?”
Kalimat itu keluar sebelum sempat kupikirkan. Suaraku bergetar, dada sesak. Tapi, untuk pertama kalinya, aku mengatakan yang selama ini kutahan.
Bagas terdiam. Tatapannya melemah sejenak. Tapi, ia segera memalingkan wajah.
“Sudahlah,” katanya akhirnya, “aku capek.”
Ia masuk kamar, meninggalkanku sendiri di ruang tamu yang hanya diterangi lampu redup. Aku duduk di tikar, memeluk lutut, membiarkan keheningan menyelubungi. Hujan di luar seperti suara air mata langit.
Aku sadar malam itu, bahwa cinta bukan hanya tentang tinggal bersama, tapi juga tentang saling tumbuh. Tapi kami berdua tumbuh ke arah yang berbeda—dan aku takut suatu hari tak bisa lagi saling melihat.
Meski begitu, hidup tak berhenti. Keesokan paginya, aku tetap bangun, tetap mencuci, tetap berangkat kuliah. Luka-luka kecil itu kubawa, tapi aku juga membawa harapan bahwa semua ini akan membentukku menjadi seseorang yang lebih kuat.
Jogja mengajariku bahwa hidup tak harus indah untuk menjadi bermakna. Dan bahwa bertahan bukanlah tanda kelemahan—tapi justru bentuk cinta yang paling diam, paling sabar, dan paling tulus.
Bagas, dengan segala kekurangannya, tetap menjadi bagian dari perjalanan itu. Meski hubungan kami tak selalu mulus, ia tetap menjadi tempat aku pulang. Meski kadang sakit, aku tahu ia pun sedang belajar—belajar menjadi suami, belajar menjadi dewasa, belajar menghadapi beban hidup yang berat.
Dan, aku?
Aku belajar bahwa menjadi perempuan muda di Jogja tahun 1980-an berarti harus kuat dua kali lipat. Bahwa galau adalah bagian dari perjalanan, tapi optimisme adalah bahan bakar yang membuatku tetap berjalan.
Aku menutup bab ini dengan satu kesadaran yang baru tumbuh:
Bahwa cinta bukan sekadar bertahan bersama. Cinta adalah bertahan pada diri sendiri, agar suatu hari bisa benar-benar mencintai dengan utuh.
Kreator : Shavitri Nurmala Dewi
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bagian III Lagu Ketiga: Jogja, Kota Perjuangan Nada-Nada Bertahan
Sorry, comment are closed for this post.