KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Bagian IV – Bab 14 — Ban Sawai: Senyum, Doa, dan Bayang-Bayang Hening

    Bagian IV – Bab 14 — Ban Sawai: Senyum, Doa, dan Bayang-Bayang Hening

    BY 02 Jan 2026 Dilihat: 27 kali
    Malang, Salatiga, Kendal, dan Tegal (1966–1979)_alineaku

    Bab 14 — Ban Sawai: Senyum, Doa, dan Bayang-Bayang Hening

     

    Senyum kadang lebih fasih daripada seluruh kosakata di dunia.

    Aku menyadarinya ketika aku tiba di Ban Sawai, sebuah desa kecil di timur laut Thailand, tempat sungai mengalir lirih seperti doa, dan angin membawa aroma kapur barus dari masjid kecil di tengah kampung. Kesempatan kedua dari Professor Sato terasa seperti pintu yang kubuka dengan hati setengah gentar — karena setiap perjalanan kini selalu menghadirkan bayangan masa laluku yang belum utuh sembuh.

    Aku datang ke Thailand untuk mengikuti tim penelitian yang tengah membuat riset pada komunitas Muslim minoritas, dan sekaligus mengunjungi pusat pelayanan HIV/AIDS — topik yang membuat hatiku selalu diliputi rasa kehilangan yang tak pernah selesai. Teman satu kelompok yang menjadi penterjemahku, Suwanee,  adalah gadis Thailand yang fasih berbahasa Inggris dan tengah menempuh program master di fakultas Sosial. Rambutnya pendek dan matanya berbinar binar saat bicara. 

    Ada senyum-senyum yang kupelajari untuk tidak percaya, termasuk senyumku sendiri. Ada luka yang tak sepenuhnya menutup, terutama ketika nama Bagas kembali menggema di hati, sekeras adzan subuh dari surau yang jauh.

    Namun Ban Sawai menyambutku bukan dengan kata-kata — melainkan senyum, tangan yang mengulur, dan kehidupan yang berjalan perlahan seperti tarian tradisional yang sudah ratusan tahun tak berubah iramanya.

    Tempat tinggal kami selama dua minggu adalah rumah bambu yang berdiri di atas panggung rendah, dengan papan-papan tipis yang menimbulkan bunyi kresek setiap kali aku melangkah. Pemiliknya, Warin, adalah perempuan tua dengan rambut seputih bulan purnama yang baru naik. Kulitnya mengkerut seperti peta sungai, memperlihatkan aliran hidup yang panjang dan tak pernah benar-benar patah.

    Ia menatapku pertama kali seperti menatap cucu yang akhirnya pulang dari perjalanan jauh. Suwanee menggenggam tangan Warin seperti menggenggam tangan ibunya dan menerjemahkan ucapan Warin yang seperti bernyanyi;

    “Silahkan makan jangan malu malu. Ini ketan dan mangga,” katanya pada pagi pertamaku — Suara Warin lembut seperti embun yang jatuh ke daun pisang.

    Aku mengangguk dan menjawab dengan lidah yang masih kaku, “Terima kasih Warin.”
    Aku mendengarkan penjelasan Suwanee bahwa dalam bahasa Thai — kesopanan adalah luasnya dunia itu sendiri.

    Warin tidak banyak bicara.
    Namun, setiap pagi ada piring nasi hangat dan mangga kuning, manis seperti memori yang tak mau dilepas.
    Ia menyentuh lenganku pelan, seolah memastikan aku nyata —
    dan di balik matanya, aku melihat kesepian yang belajar berdamai.

    Di pusat desa, berdiri sebuah masjid kecil yang kubahnya hijau seperti daun pandan.
    Lima kali sehari, muadzin melantunkan azan yang suaranya tertelan ladang-ladang padi.
    Aku melihat para lelaki datang dengan sarung lusuh, kepala menunduk, sujud mereka memeluk tanah yang sama yang memberi nasi untuk keluarga mereka.

    Mereka kelihatan asing bagi dunia luas —
    tapi mereka tidak asing bagi Tuhan.

    Setiap sore, kelompok kami mengajar anak-anak desa bahasa Inggris. Mereka duduk melingkar di teras masjid, kaki berlumpur, mata berbinar seperti air yang memantulkan matahari. Sebaliknya, mereka mengajariku aksara Thai — yang garis dan lengkungannya seperti nada lagu cinta yang enggan selesai.

    Seorang bocah laki-laki, kulitnya kecoklatan seperti batang padi kering, tiba-tiba  menuliskan sesuatu, menunjukkan pada Suwanee dan menatapku:

    “C̄hạn rạk khuṇ,” 

    “Apa artinya?”

    Anak-anak lain tergelak, menutup mulut seperti menyimpan rahasia besar.

    Ia menunjuk dadanya, lalu padaku.

    “Itu… aku cinta kamu.”

    Aku tertawa, tapi di dadaku ada sesuatu yang bergetar — kerinduan pada cinta yang pernah kujaga dengan nyawa dan kini kutakuti seperti badai.

    Nama Bagas terlintas, rupanya masih ada di dalam nadiku, meski aku mencoba menenggelamkannya dalam pekerjaan dan perjalanan.

    Di pusat pelayanan HIV/AIDS, dunia menjadi lebih sunyi.

    Ruangan putih yang dingin dipenuhi pasien yang sebagian besar datang dengan doa, bukan harapan. Perawat menyapa mereka dengan lembut, seolah sedang mengusap luka yang tak terlihat.

    Aku bertemu Piya, seorang perempuan muda berkerudung tipis.
    Ia tertawa kecil setiap kali mengoreksi bahasa Thai-ku yang berantakan.
    Namun saat kami duduk berdua di bangku besi di luar klinik, ia berkata:

    “Orang-orang takut pada penderita HIV. Padahal penyakit ini bukan dosa. Dosa itu… membiarkan kami menghadapi semuanya sendirian.”

    Kata-katanya seperti tombak yang menembus hatiku.

    Aku pernah menjadi bagian dari seseorang yang menyimpan penyakit ini seperti rahasia yang akhirnya menjadi jurang antara kami.

    Dan aku tidak tahu, apakah kesedihan itu lebih karena aku tak mampu merengkuhnya atau karena aku terlalu takut kehilangan diriku dalam upaya menyelamatkan dia.

    Geografi Ban Sawai seperti oasis yang tak mau cepat dikenali: pohon-pohon kelapa berdiri seperti penjaga masa lalu, sungai mengalir pelan di antara batu-batu yang memantulkan langit petang, dan suara serangga mengisi malam seperti lantunan mantra.

    Kami makan malam bersama di teras rumah Warin: lampu minyak bergetar diterpa angin, aroma sup jahe naik ke udara seperti kenangan masa kecil yang hangat,
    orang-orang berbicara pelan — seolah takut memecahkan keheningan yang menjadi sahabat mereka sendiri.

    Aku sering merasa lebih diterima oleh orang-orang asing daripada oleh seseorang yang pernah tidur di sebelahku selama bertahun-tahun.

    Rasa hangat itu menyiksa dan menghibur dalam waktu bersamaan.

    Aku menulis surat untuk Bagas malam itu, tanpa tahu apakah akan kukirim:

    “Di sini, hidup bergerak perlahan, seperti air yang memilih mengalir dekat tanah.

    Aku belajar makan dengan hati,
    berjalan dengan hening,
    dan tersenyum tanpa syarat.

    Aku jadi bertanya pada diriku sendiri, sejak kapan kita berhenti saling memeluk?
    Atau sejak kapan aku berhenti percaya bahwa memelukmu tidak akan melukai diriku sendiri?”

    Huruf-huruf itu bergetar di atas kertas, seperti aku yang masih belajar berhenti gemetar ketika mengingatnya.

    Ban Sawai adalah harmoni yang lembut.

    Di pagi hari, anak-anak berlarian tanpa alas kaki di jalan tanah. Di sore hari, biksu muda berjalan dengan jubah oranye menyala, menerima persembahan dari warga.
    Yang menarik perhatianku adalah anak-anak laki-laki yang gemulai — gerak mereka lentur, suara mereka lembut. Awalnya aku kaget, lalu kagum: di sini, maskulinitas tidak diukur dari kerasnya nada, tapi dari keindahan perilaku.

    Suatu sore aku duduk di teras bersama Niran, seorang pemuda yang sering membantu Suwanee. Ia senang menari Ram Thai. Tari Ram Thai adalah tarian tradisional Thailand yang anggun dan elegan, mengadaptasi kisah Ramayana versi Thailand (Ramakien). Gerakan: Lembut, mengalir, anggun, dan detail, terutama pada gerakan jari tangan dan postur tubuh yang menekankan kehalusan.
    Aku bertanya, “Niran, don’t people judge you for dancing?” (Niran, apakah kamu tidak takut dicemooh karena dianggap terlalu gemulai dalam menari?)
    Ia tersenyum. “In dance, my heart is free. Why should I be afraid of freedom?” (Dengan menari itu adalah kebebasanku, mengapa harus takut?)

    Kalimat itu seperti cahaya tropis yang menembus kabut pikiranku.

    Di Indonesia, aku sering melihat laki-laki diajarkan untuk kuat, tapi tidak selalu untuk lembut. Di Ban Sawai, aku belajar bahwa kelembutan juga bentuk kekuatan — dan bahwa kebahagiaan sering lahir dari penerimaan.

    Malam terakhirku di Ban Sawai, Warin memanggilku dengan suara yang seperti seruling bambu pecah pelan. Ia memelukku lama sekali, seolah waktu sedang memungut menit-menit terakhir kami seperti butir beras yang sayang jika terbuang.

    You, daughter, my heart,” Kamu anak perempuanku, ucapnya dengan bahasa Inggris yang patah tetapi tulus. 

    Aku menahan napas. Air mataku jatuh tanpa izin, membasahi bahu kurusnya.

    “Kamu… rumahku di Thailand,” kataku dalam bahasa yang kami berdua sama-sama mengerti tanpa perlu kamus.

    Warin menepuk dadaku pelan — seolah berkata: di sini tempatmu berteduh ketika dunia terlalu ribut.

    Aku meninggalkan Ban Sawai saat pagi masih biru pucat. Anak-anak berlari mengikuti mobil yang menjauh perlahan. Mereka melambai-lambaikan buku latihan yang kami tulis bersama. Aku hanya bisa tersenyum, walau hatiku seperti kain sutra yang digores pena terlalu tajam — indah, namun menyisakan robekan halus yang tak kasat mata.

    Di balik jendela mobil, masjid kecil itu perlahan mengecil, tapi gema doa subuhnya masih tinggal di telingaku — seperti pesan yang belum tuntas terdengar.

    Thailand mengajariku bahwa kebaikan tidak selalu memiliki aksen. Dan cinta, dalam bentuk apa pun, tak perlu diterjemahkan.

    Di antara ladang padi yang kembali menjauh, aku menyadari satu hal yang menusuk pelan:

    Perjalanan ini bukan sekadar tentang meneliti budaya — tetapi menemukan diriku yang pernah hilang, walau serpihan luka Bagas tetap kubawa seperti bayangan yang tak bisa dipisahkan dari tubuhku.

    Dan mungkin, dalam setiap senyum yang menyapaku tanpa syarat, Setiap tempat asing yang menerimaku justru semakin memperjelas betapa aku telah kehilangan rumahku sendiri. Aku belajar bahwa aku masih bisa sembuh, pelan-pelan, walau tidak sepenuhnya.

     

     

    Kreator : Shavitri Nurmala Dewi

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bagian IV – Bab 14 — Ban Sawai: Senyum, Doa, dan Bayang-Bayang Hening

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021