KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Baju yang Dibuang di Halaman Mimpi

    Baju yang Dibuang di Halaman Mimpi

    BY 15 Nov 2025 Dilihat: 66 kali
    Baju yang Dibuang di Halaman Mimpi_alineaku

    Malam itu datang seperti seorang kurir tanpa alamat pasti—mengetuk, masuk, dan tiba-tiba duduk di ruang tamu. Mimpi membuka pintu lain: semi-terang, setengah nyata. Thalia berdiri di antara dua dunia: satu berbau kapur rumah lama, satu lagi beraroma hujan yang belum jadi. Ia baru saja mengganti baju. Kain yang ia lepas masih menyimpan hangat tubuhnya, menyimpan sebaris gurat asin dari air mata yang bertahun-tahun pandai berkamuflase.

    Lalu Hilman muncul—“ayah” dalam mimpinya, mantan suaminya hadir, lelaki yang telaten mengumpulkan uang namun pelit mengumpulkan peluk. Wajahnya datar, seperti dinding yang catnya tak mau mengelupas. Ia meraih baju lama itu, menentengnya seperti barang bekas, lalu meletakkannya di luar. Pintu menutup tanpa suara, tetapi gema keputusan itu bergerak-derak seperti lantai kayu yang tua.

    “Sudah. Ini tak pantas dipakai,” katanya—suara yang tak terdengar namun menyesaki seluruh ruangan.

    Anak-anaknya yang di mimpi hanya berfungsi sebagai latar—seperti figuran yang dilatih untuk berbisik—mengantar kabar: baju itu telah dibuang!

    Dan saat itulah suara Thalia pecah: “Bangsaattt… bangsaaaat!” Teriaknya meletus dari dasar waktu, dari ruang bawah tanah yang selama ini ditutup rapat oleh “aku baik-baik saja.” Ia menangis, bukan semata karena sehelai kain, melainkan tafsirnya: tahun-tahun ketahanan, musim yang dikunyah diam-diam, bekas luka yang ditutup bedak agar tidak memerah di foto keluarga.

    Thalia terjaga. Malam menekuk sendinya. Noel—kucing kesayangan, pendengar yang tak pernah berkhianat—mengendus pipinya. Ia mengeong pendek, seolah berkata: “Aku di sini. Tarik napas.” Thalia memeluk Noel seperti memeluk ayat yang baru dihafal, lalu membisikkan sebuah kalimat yang selalu kalah oleh hening, “Kenapa aku masih marah, padahal aku sudah pergi?”

    Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pakaian basah di jemuran: menetes pelan, tapi tak kunjung kering.

    Pagi merangkak masuk lewat kisi jendela. Thalia menyeduh kopinya.  Uapnya naik, berirama. Ia membuka lemari—ruang arsip paling jujur di rumah mana pun. Di sana ada kaos yang pernah ia pakai ketika lari dari pertengkaran, jaket yang menampung bau sepeda motor hujan, kebaya yang ia pilih sendiri pada hari memutuskan bercerai. Kain-kain itu semacam kotak hitam pesawat: menyimpan data jatuh dan bangun.

    Ia duduk di lantai, memegang satu-per-satu. “Kau saksi,” katanya pada sebuah blus biru yang pernah dicakar kata-kata. “Kau pertolongan,” pada sweater abu-abu yang memeluknya saat tubuhnya gemetar karena ingatan. “Kau kawan,” pada rok hitam yang pernah dipakainya saat menandatangani dokumen akhir.

    Thalia tersenyum tipis. “Mungkin mimpi itu benar,” batinnya. “Bukan untuk menghapus, tapi untuk meletakkan di luar.” Ada perbedaan halus antara membuang dan meletakkan. Membuang seolah meniadakan. Meletakkan berarti mengakui hadirnya, lalu memberi ruang untuk yang baru.

    Ia mengambil buku catatan, menuliskan tiga baris:

    Aku pernah patah, tapi tidak punah.
    Aku pernah kalah, namun masih bernapas.
    Aku belajar melepaskan, agar tubuhku muat menampung cahaya.

    Pagi itu di pasar, ia bertemu Yati, penjahit tua yang konon telinganya masih lebih tajam dari jarumnya. Yati mendengar potongan cerita—tentang baju di mimpi, tentang tangan Hilman yang dingin, tentang altar kecil di dada yang masih mengundang marah. “Kau tahu,” kata Yati sambil menyelipkan jarum ke pelipis kain, “kain itu dibuat dari benang yang saling menahan. Kalau salah satu benang putus, keseluruhan tak langsung robek. Ada cadangan. Tubuhmu juga begitu.”

    “Lalu apa yang harus kulakukan pada baju-baju ini?”

    “Kalau mau, jadikan selimut tambal sulam. Quilt. Kumpulkan potongan paling jujur, jahit dengan pola yang kau pilih sendiri. Biar yang dulu jadi hangat untuk esok. Biar luka tak lagi bernama, hanya motif.”

    Saran itu menyalakan sesuatu. Selimut—sebuah metafora yang berkawan baik dengan malam. Thalia membeli beberapa gulung benang, jarum yang ujungnya berkilau, dan kain alas. 

    Malam berikutnya, Thalia mulai memotong kain. Ada potongan kecil dari blus biru—bekas hujan kata; ada bidang dari kebaya—bekas tanda tangan yang melepaskan; ada secuplik sweater—bekas gemetar yang ditenangkan. Ia menyusunnya di lantai, mencoba pola: segi empat, segi tiga, lingkaran—ketika satu motif menolak tetangga sebelahnya, ia cari tetangga lain. Ia sedang mengelola sejarah: bukan untuk dipoles, tetapi diatur ulang agar tidak lagi menakuti.

    Setiap tusuk ia iringi doa pendek:

    tusuk tikam—aku berani;
    tusuk jelujur—aku jujur;
    tusuk feston—aku siap menutup tepi-tepi yang bergerigi.

    Anak bungsunya, Aurelia bertanya perlahan, “Ma, kau marah karena baju atau karena perasaan yang ikut dikeluarkan?” Thalia mengangguk. Anak bungsunya menyodorkan cangkir teh, “Kalau baju jadi selimut, boleh kami ikut memegangnya saat malam?” Thalia tertawa. Rasa bersalah tergeser oleh rasa hangat: ternyata mereka tak perlu diproteksi dari kebenaran; mereka membutuhkan peta untuk pulang.

    Mereka bertiga—dua anak dan satu ibu—menjahit seperti tiga nada dalam satu akor. Noel, seperti biasa, berbaring di tengah pola, memastikan semua kain mendapatkan persetujuan disambung ulang.

    Pada malam ketika selimut hampir rampung, mimpi datang lagi. Kali ini Hilman tidak berbicara. Ia berdiri di ambang pintu, memandangi selimut yang akan terbentuk. Di belakangnya, halaman luas yang selalu kosong, dengan angin yang tak punya tujuan.

    Debora memegang baju yang tersisa—selembar kaus putih kusam yang suatu malam pernah ia pakai ketika memutuskan mengunci diri di kamar, menutup telinga dari debat yang memerah. “Ini yang terakhir,” katanya pada tokoh yang pernah ia cintai. “Bukan karena tidak berarti, tapi karena aku memilih memberi nama baru pada maknanya.”

    Hilman maju selangkah. “Kau yakin?” tanyanya—suara yang ternyata rapuh seperti kaca yang kedinginan.

    “Aku yakin,” jawabnya. “Kau tak lagi menjadi “ayah” dalam mimpiku. Kau hanya seseorang yang pernah ikut menulis babak kehidupanku.”

    Di halaman mimpi, Thalia kali ini sendiri yang meletakkan kaus itu, dengan rapi, seperti meletakkan bunga di batu nisan: mengakui kehilangan, mengucap terima kasih pada pelajaran yang pahit. Angin lewat, membawa sedikit bau besi dari pagar, segaris aroma tanah yang baru disiram. Dari jendela mobil, anak-anaknya menatap—bukan lagi saksi bisu, melainkan penafsir yang paham: Mamanya sedang mengakhiri ritual.

    Ketika ia berbalik, Noel—entah bagaimana—ikut hadir di mimpi, mengeong dua kali. Dua adalah angka yang pas untuk kata “cukup”.

    Thalia terbangun dengan dada yang lebih longgar. Di sampingnya, selimut yang semalam belum selesai, kini juga seolah-olah bernafas. Ia melanjutkan tusuk terakhir. Saat benang diikat, ada sesuatu di dirinya yang juga mengikat: simpul yang dulu longgar, sekarang mantap.

    Selimut pertama itu jadi. Polanya tidak simetris, warnanya tidak setema, tapi indah dengan caranya sendiri—seperti peta kota yang tumbuh organik, tak pernah benar-benar selesai. Thalia menjemurnya. Matahari menyentuh permukaan kain, menyelundup ke serat, mengeringkan sisa masa lalu yang masih basah. Di hembusan siang, selimut itu berkibar sebentar—seolah mengucap salam kepada halaman mimpi yang semalam, untuk terakhir kali, digunakan.

    Thalia mencatat itu, bukan di buku, melainkan di gestur hari-harinya. Ia mulai menata rumah: menggeser lemari agar cahaya pagi menyentuh lantai yang dulu jarang dibersihkan, menurunkan foto lama ke rak yang lebih rendah—bukan untuk disembunyikan, namun agar tidak menguasai dinding.

    Tak semua yang hilang mesti didapati; tak semua ada mesti dimiliki. Selimutkan luka, biar makna yang hangat berdiri.

    Thalia memejamkan matanya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian musim, ia meminta mimpi yang berbeda. Bukan mimpi tentang halaman, bukan mimpi tentang baju. Mungkin mimpi tentang kebun kecil di belakang rumah, di mana ia menanam dua pohon: satu diberi nama Sabar, satu lagi diberi nama Syukur. Kelak, buahnya bisa dipetik anak-anaknya ketika mereka lupa arah. Kelak, rantingnya bisa dipakai membuat bingkai untuk foto yang baru.

    Esoknya, Thalia berjalan ke luar, menatap halaman nyata—yang tak lagi menakutkan karena tidak lagi meminjam rupa dari halaman mimpi. Ia membawa satu kardus berisi baju yang masih bagus namun tak lagi ia pakai. “Sedekahkan?” Tanya seorang tetangga. “Ya,” jawab Thalia. “Biar yang membutuhkan mengubahnya menjadi hari-hari.”

    Di ujung gang, langit terbelah sedikit, memperlihatkan biru yang gigih meski matahari malas. Thalia sadar: selama ini ia menuntut penutupan yang dramatis—padahal pemulihan lebih sering datang seperti ini, bergerak berdesibel rendah. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada musik ilustrasi. Hanya langkah yang terus disusun rapi: selangkah, se-hela nafas, se-tusuk benang. Ia ingat, seseorang pernah berkata: “Hidup bukan memamerkan piala, melainkan belajar memperbaiki engsel pintu.”

    Di teras, sebelum masuk lagi, Thalia melepas sandal, menepuknya agar debu turun. Ia menatap telapak kakinya sendiri—ada garis, ada kapalan, ada kisah. Ia tersenyum. “Terima kasih,” katanya pada tubuhnya. “Kau menemaniku menjahit cerita hidupku.”

    Thalia menutup tirai, membiarkan cahaya menyusup lewat sela. Ia meraih selimut, menaruhnya di pangkuan, meraba tekstur yang tidak rata, merasakan rima lembut pada jahitan:

    tusuk jelujur—jujur;
    tusuk tikam—berani;
    tusuk hias—ikhlas.

    Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri—tiba-tiba saja ia mengerti: seluruh hidupnya ternyata adalah pekerjaan tangan. Kadang meleset, kadang ulang, kadang melelahkan, tetapi selalu mungkin menjadi indah bila diberi waktu. Di luar, angin menggoyang daun pohon jambu. Di dalam, sesuatu yang lama duduk di lantai kini berdiri. Bukan kekecewaan. Bukan kemarahan. Melainkan cara baru memanggil diri sendiri: “Thalia, pulang.”

    Dan malam—yang dulu datang tanpa alamat—kali ini menyebutkan alamatnya sendiri: rumah yang memberi ruang pada yang baru tumbuh. Di sana, baju lama tidak lagi dibuang dengan amarah, melainkan diletakkan di luar rumah hati dengan doa: semoga kau menemukan tubuh lain, makna lain, cuaca lain. Di sana, mimpi tidak lagi menyabotase tidur, melainkan mengantar pagi.

    Thalia menatap Noel. Noel mengeong sekali. Mungkin Noel ingin menyampaikan pesan: “…karena kesedihan sudah pergi, dan kini yang harus dijaga adalah semangatmu agar selalu mencari cara mengisi kehidupan terbaikmu.”

    Thalia membatin: “Waktu tidak menyembuhkan semua luka yang kurasakan; hanya jarak yang bisa mengurangi sengatannya. Aku akan meresapi semua makna di balik kenangan pahit itu dan akan kujadikan pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik.”

     

    Jakarta saat hujan badai, Rabu 29 Oktober 2025

     

    Kreator : Mariza

    Bagikan ke

    Comment Closed: Baju yang Dibuang di Halaman Mimpi

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021