PART 2
Waktu terus berjalan, anak kecil yang dulu sering diejek dan dikucilkan kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang tangguh. Ia tak pernah melupakan masa kecilnya bukan untuk menyimpan dendam, tapi untuk mengingat betapa kuatnya ia bisa bertahan. Setelah lulus sekolah menengah, ia bekerja sambil kuliah. Siang bekerja di toko buku kecil, malam belajar hingga larut. Hidupnya sederhana, tapi semangatnya luar biasa. Ia menolak menyerah, meski banyak orang berkata,
“Perempuan sepertimu tak akan ke mana-mana.”
Namun kata-kata itu justru menjadi bahan bakarnya. Sedikit demi sedikit, perjuangannya membuahkan hasil. Ia menjadi guru pekerjaan yang sejak kecil ia impikan. Guru yang bukan hanya mengajar membaca dan menulis, tapi juga mengajarkan anak-anak untuk percaya pada diri sendiri, meski dunia tidak percaya pada mereka.
Beberapa tahun kemudian, ia sudah dikenal di kotanya, bukan karena harta, tapi karena ketulusan dan keberhasilannya membangun taman baca untuk anak-anak kurang mampu. Ia menamai tempat itu “Rumah Senyum” karena baginya, senyum adalah hal pertama yang ia pelajari untuk menutupi luka. Kini ia ingin membuat anak-anak belajar tersenyum tanpa harus menahan sakit.
Suatu sore, saat ia sedang membereskan buku-buku di taman baca itu, datanglah seorang pria paruh baya. Wajahnya tirus, langkahnya gontai. Ia sempat ragu untuk masuk, tapi akhirnya duduk di kursi panjang dekat jendela. Wanita itu menoleh, jantungnya berdebar. Ia mengenali wajah itu, paman yang dulu meludah dan menginjak fotonya.
Paman itu menunduk dalam. Suara parau keluar pelan dari bibirnya,
“Nak… aku dengar kau yang mengelola tempat ini. Aku… butuh pertolongan. Anak laki-lakiku sakit, tak ada yang mau menolongku. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi.”
Sunyi sejenak, wanita itu hanya menatapnya dalam diam, bayangan masa kecilnya berkelebat: tawa ejekan, rasa sakit, air mata yang dulu ia sembunyikan. Tapi kali ini, ia hanya tersenyum, senyum lembut, tanpa amarah, tanpa kebencian. Ia berkata pelan,
“Paman, tak apa. Mari duduk dulu. Di sini semua orang bisa mendapat bantuan, siapa pun mereka.”
Paman itu tertegun, matanya berkaca-kaca.
“Kau… tidak marah padaku?”
Wanita itu menggeleng.
“Kalau dulu Paman membuatku menangis, itu berarti Allah sedang mengajarkanku arti sabar. Kalau sekarang Paman datang padaku, mungkin Allah sedang mengajarkan arti memaafkan.”
Air mata mengalir di pipi sang paman. Ia terisak,
“Aku malu, Nak… aku benar-benar malu.”
Wanita itu menepuk bahunya pelan,
“Tak perlu malu. Kadang, kita diuji untuk tahu seberapa dalam hati kita bisa mengampuni.”
Mereka berdua terdiam, matahari sore menyusup lewat jendela, menyinari foto-foto anak-anak yang tertempel di dinding wajah-wajah kecil yang penuh harapan.
Beberapa bulan kemudian, anak paman itu sembuh setelah mendapat bantuan medis dan dukungan dari komunitas “Rumah Senyum”. Paman itu kini sering datang ke taman baca, membantu memperbaiki rak buku, menyapu halaman, atau sekadar menyapa anak-anak yang datang belajar. Suatu hari, ia menatap ke arah wanita itu yang sedang membacakan cerita untuk sekelompok anak kecil. Air matanya jatuh lagi kali ini bukan karena penyesalan, tapi karena rasa syukur.
“Ternyata, anak kecil yang dulu aku injak harga dirinya… kini justru jadi orang yang paling luhur hatinya.”
Wanita itu tersenyum, menutup buku cerita, dan berkata kepada anak-anak,
“Ingat ya, Nak. Kebaikan tidak pernah rugi. Memaafkan tidak membuat kita kecil justru di sanalah letak kekuatan yang sesungguhnya.”
Dan sejak hari itu, “Rumah Senyum” bukan hanya menjadi tempat belajar, tapi juga tempat banyak hati menemukan kembali cahaya yang pernah padam.
Kreator : Ferayanti, S. HI.
Comment Closed: BALASAN TANPA DENDAM
Sorry, comment are closed for this post.