Kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan kami, sangatlah luar biasa. Terpilih sebagai pendamping seorang ustaz muda, menantu seorang guru karismatik, yang memiliki status sosial bagus, meskipun secara, sederhana. Kami hidup dengan saling memahami satu sama lain, karena kami berdua sama-sama seorang guru.
Hari-hari berlalu dengan cepat, kami tenggelam dengan kesibukan yang padat, mengajar, berdakwah dan berorganisasi. Kami memiliki misi dan visi yang sama, hingga terbentuk chemistry jiwa antara aku, suami dan Ibu mertua. Hubungan kami layaknya seperti Ibu dan anak, bukan mertua dan menantu. Tak terasa waktu berlalu, kebahagiaan kami tak sempurna, karena kami diuji dengan belum hadirnya buah hati dari pernikahan kami.
Ketika di luar rumah, kami tampil santai dan berusaha menyembunyikan kegelisahan hati ini. Kami berusaha menerima takdir yang tengah Allah pilihkan untuk kami. Bahkan setiap tamu bulananku datang, air mata ini tak bisa aku tahan.
Aku beruntung, suamiku selalu mendukungku dan menghiburku. Namun aku tahu, betapa dirinya menginginkan kehadiran seorang anak, sebagai pelipur lelah letihnya. Seorang anak yang dapat menjadi penyejuk mata dan muara kerinduannya. Anak-anak yang akan meramaikan rumah sunyi kami dengan celoteh dan tangisannya.
Lima tahun telah berlalu, berbagai upaya telah kami tempuh, hingga melakukan operasi, karena di indung telurku, terdapat mioma dan kista. Dan setelah kami melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan buah hati, selebihnya kami pasrah/tawakal kepada Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Ibu kandungku dan Ibu mertuaku, adalah sosok bijaksana, yang senantiasa menghibur kami. Mereka tak putus-putusnya mendoakan kami, merapalkan selaksa harapan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala, melengkapi kebahagiaan kami dengan hadirnya anak-anak, dalam kehidupan kami.
Sebagai guru TK, aku adalah sosok yang sangat menyukai anak-anak. Begitu pula suamiku, beliau senang sekali bercanda dengan keponakan-keponakan kecilnya. Ketiga adik beliau yang menikah setelah kami, bahkan masing-masing telah memiliki dua anak, dari pernikahan mereka.
Pada bulan Ramadhan tahun keenam pernikahan kami, Ibu mertuaku meniatkan i’tikaf beliau kali ini, khusus mendoakan kami berdua, diberi anugerah, berupa momongan yang telah lama kami dambakan. Sejak suami beliau meninggal dunia, beliau selalu menghabiskan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, untuk beri’tikaf di masjid.
Begitu pula Ibuku, beliau berdoa sembari berwasilah dengan amalan paling berat, yang telah beliau lakukan selama enam bulan ini. Ibuku telah mengorbankan mata pencahariannya sebagai penjual kue, untuk menjaga bibiku, yakni adik bungsunya, yang tengah menderita sakit parah.
Bibiku tidak memiliki satu pun anak, oleh karena itu, Ibuku tidak tega meninggalkannya di Rumah Sakit. Ibuku mendampingi adik bungsunya melewati enam bulan terakhir dalam hidupnya. Keluar masuk rumah sakit, menggalang dana, dan menjaganya dengan kasih sayang.
Beliau tak peduli kehilangan pekerjaan yang telah ditekuni berpuluh tahun. Aku dan adikku berusaha sesering mungkin menjenguk bibi ke rumah sakit, sambil menghibur dan menemani Ibu kami. Padahal secara usia, Ibuku jauh lebih tua dari bibi. Kami sebenarnya keberatan, khawatir dengan kondisi kesehatan Ibu, namun Ibu tetap bersikeras untuk mendampingi adik bungsunya, melewati masa-masa sulitnya.
Di puncak keletihannya, beliau berdoa: “Ya Allah, aku ikhlas berkorban demi adikku, aku hanya berharap engkau memberi balasan berupa cucu yang Engkau karuniakan kepada putriku.”
Doa yang beliau panjatkan dengan berwasilah amal terbaiknya, rupanya diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan di bulan Syawal, aku hamil. Tak dapat digambarkan betapa bahagia kami semua, dengan kabar gembira tersebut. Enam tahun penantian akhirnya berujung bahagia.
Berkat doa kedua Ibuku, Allah berkenan memberikan amanah dalam rahimku, seorang anak yang akan membuat hidup kami menjadi sempurna. Dan sejak aku hamil, maka Ibuku, Ibu mertua dan suamiku, seakan kompak membuat berbagai aturan ketat, menjagaku untuk tidak beraktivitas berat. Mereka mengawasiku, memastikan semua akan baik-baik saja.
Sebenarnya aku tidak terbiasa berdiam diri di rumah saja, tanpa aktivitas. Namun aku berusaha menikmati semuanya, agar mereka menjadi tenang hatinya. Aku menghabiskan waktu dengan membayangkan betapa bahagia bila anak kami telah lahir. Aku membaca banyak buku tentang parenting, agar aku tak gagap menjalani tugasku sebagai Ibu.
Alhamdulillah putri cantik kami lahir sempurna, kehadirannya membawa kebahagiaan untuk kami semua. Kami menikmati hari-hari baru penuh warna, tangis bayi bagai lantunan musik indah bagi kami. Putriku tumbuh sebagai cucu kesayangan kedua neneknya, cucu yang kehadirannya ditunggu sekian lama.
Kini putriku tumbuh dewasa, dengan kenangan indah bersama kedua neneknya yang telah tiada. Semoga kedua Ibuku berada di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Amiin ya Robbal alamiin…
Comment Closed: Berkat Doa Ibunda
Sorry, comment are closed for this post.