KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • Berita Alineaku
  • Bisnis
  • Branding
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Moralitas
  • Motivasi
  • Novel
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Politik
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Berkat Doa Ibunda

    Berkat Doa Ibunda

    BY 30 Des 2022 Dilihat: 166 kali

    Oleh: Syukriyah Nabhan

    Kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan kami, sangatlah luar biasa. Terpilih sebagai pendamping seorang ustaz muda, menantu seorang guru karismatik, yang memiliki status sosial bagus, meskipun secara, sederhana. Kami hidup dengan saling memahami satu sama lain, karena kami berdua sama-sama seorang guru.

    Hari-hari berlalu dengan cepat, kami tenggelam dengan kesibukan yang padat, mengajar, berdakwah dan berorganisasi. Kami memiliki misi dan visi yang sama, hingga terbentuk chemistry jiwa antara aku, suami dan Ibu mertua. Hubungan kami layaknya seperti Ibu dan anak, bukan mertua dan menantu. Tak terasa waktu berlalu, kebahagiaan kami tak sempurna, karena kami diuji dengan belum hadirnya buah hati dari pernikahan kami.

    Ketika di luar rumah, kami tampil santai dan berusaha menyembunyikan kegelisahan hati ini. Kami berusaha menerima takdir yang tengah Allah pilihkan untuk kami. Bahkan setiap tamu bulananku datang, air mata ini tak bisa aku tahan.

    Aku beruntung, suamiku selalu mendukungku dan menghiburku. Namun aku tahu, betapa dirinya menginginkan kehadiran seorang anak, sebagai pelipur lelah letihnya. Seorang anak yang dapat menjadi penyejuk mata dan muara kerinduannya. Anak-anak yang akan meramaikan rumah sunyi kami dengan celoteh dan tangisannya.

    Lima tahun telah berlalu, berbagai upaya telah kami tempuh, hingga melakukan operasi, karena di indung telurku, terdapat mioma dan kista. Dan setelah kami melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan buah hati, selebihnya kami pasrah/tawakal kepada Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

    Ibu kandungku dan Ibu mertuaku, adalah sosok bijaksana, yang senantiasa menghibur kami. Mereka tak putus-putusnya mendoakan kami, merapalkan selaksa harapan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala, melengkapi kebahagiaan kami dengan hadirnya anak-anak, dalam kehidupan kami.

    Sebagai guru TK, aku adalah sosok yang sangat menyukai anak-anak. Begitu pula suamiku, beliau senang sekali bercanda dengan keponakan-keponakan kecilnya. Ketiga adik beliau yang menikah setelah kami, bahkan masing-masing telah memiliki dua anak, dari pernikahan mereka.

    Pada bulan Ramadhan tahun keenam pernikahan kami, Ibu mertuaku meniatkan i’tikaf beliau kali ini, khusus mendoakan kami berdua, diberi anugerah, berupa momongan yang telah lama kami dambakan. Sejak suami beliau meninggal dunia, beliau selalu menghabiskan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, untuk beri’tikaf di masjid.

    Begitu pula Ibuku, beliau berdoa sembari berwasilah dengan amalan paling berat, yang telah beliau lakukan selama enam bulan ini. Ibuku telah mengorbankan mata pencahariannya sebagai penjual kue, untuk menjaga bibiku, yakni adik bungsunya, yang tengah menderita sakit parah.

    Bibiku tidak memiliki satu pun anak, oleh karena itu, Ibuku tidak tega meninggalkannya di Rumah Sakit. Ibuku mendampingi adik bungsunya melewati enam bulan terakhir dalam hidupnya. Keluar masuk rumah sakit, menggalang dana, dan menjaganya dengan kasih sayang.

    Beliau tak peduli kehilangan pekerjaan yang telah ditekuni berpuluh tahun. Aku dan adikku berusaha sesering mungkin menjenguk bibi ke rumah sakit, sambil menghibur dan menemani Ibu kami. Padahal secara usia, Ibuku jauh lebih tua dari bibi. Kami sebenarnya keberatan, khawatir dengan kondisi kesehatan Ibu, namun Ibu tetap bersikeras untuk mendampingi adik bungsunya, melewati masa-masa sulitnya.

    Di puncak keletihannya, beliau berdoa: “Ya Allah, aku ikhlas berkorban demi adikku, aku hanya berharap engkau memberi balasan berupa cucu yang Engkau karuniakan kepada putriku.”

    Doa yang beliau panjatkan dengan berwasilah amal terbaiknya, rupanya diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan di bulan Syawal, aku hamil. Tak dapat digambarkan betapa bahagia kami semua, dengan kabar gembira tersebut. Enam tahun penantian akhirnya berujung bahagia.

    Berkat doa kedua Ibuku, Allah berkenan memberikan amanah dalam rahimku, seorang anak yang akan membuat hidup kami menjadi sempurna. Dan sejak aku hamil, maka Ibuku, Ibu mertua dan suamiku, seakan kompak membuat berbagai aturan ketat, menjagaku untuk tidak beraktivitas berat. Mereka mengawasiku, memastikan semua akan baik-baik saja.

    Sebenarnya aku tidak terbiasa berdiam diri di rumah saja, tanpa aktivitas. Namun aku berusaha menikmati semuanya, agar mereka menjadi tenang hatinya. Aku menghabiskan waktu dengan membayangkan betapa bahagia bila anak kami telah lahir. Aku membaca banyak buku tentang parenting, agar aku tak gagap menjalani tugasku sebagai Ibu.

    Alhamdulillah putri cantik kami lahir sempurna, kehadirannya membawa kebahagiaan untuk kami semua. Kami menikmati hari-hari baru penuh warna, tangis bayi bagai lantunan musik indah bagi kami. Putriku tumbuh sebagai cucu kesayangan kedua neneknya, cucu yang kehadirannya ditunggu sekian lama.

    Kini putriku tumbuh dewasa, dengan kenangan indah bersama kedua neneknya yang telah tiada. Semoga kedua Ibuku berada di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Amiin ya Robbal alamiin…

    Bagikan ke

    Comment Closed: Berkat Doa Ibunda

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]

      Sep 18, 2024
    • Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]

      Sep 07, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021