Di saat zaman teknologi yang semakin maju, segala sesuatu yang konvensional mulai ditinggalkan. Segalanya beralih ke digital dan banyak orang, baik usia tua maupun muda, lebih suka memainkan gawainya daripada hal lain.
Baru bangun tidur di pagi hari, benda yang paling pertama dicari pastilah telepon genggam. Siang, sore, malam… seperti itu terus ritme kehidupannya. Bahkan, karena asyik memainkan benda yang satu itu, hubungan komunikasi antar manusia mulai berkurang.
Di depan tv, di ruang keluarga jika malam tiba, semua anggota keluarga berkumpul. Duduk bersama di sofa itu. Bukannya saling berkomunikasi, berbagi cerita hari itu, berbagi tawa, tetapi asyik dengan telepon genggamnya masih-masih. Acara kumpul keluarga besar, kumpul bersama teman di cafe, berbicara secara langsung pun jarang terjadi. Semua asyik menunduk, entah itu bermain media sosial, membaca berita terbaru, atau sekedar bermain games.
Sungguh dengan adanya telepon genggam pintar, bagaikan buah simalakama. Di satu sisi benda itu memberikan banyak keuntungan bagi manusia, seperti dapat berkomunikasi jarak jauh tanpa melalui surat seperti zaman dulu, bisa membaca koran, menonton, bahkan bisa membayar berbagai layanan tanpa harus mengantri berjam-jam. Sama seperti aku ketika 20 tahun lalu harus mengantri hanya untuk membayar listrik, air, dan telepon. Yang kadang bisa menghabiskan waktuku selama seharian penuh. Belum lagi jika ingin membeli tiket pesawat, tiket bis, atau hal lainnya juga harus memperhatikan jam operasional kantor perusahaan yang menjual jasa tersebut. Namun, dengan adanya telepon genggam yang pintar itu, kita bisa membeli itu semua bahkan sambil rebahan di rumah. Dan masih banyak lagi keuntungan lainnya.
Di sisi lainnya, adanya teknologi ini ternyata mengurangi interaksi antara orang-orang sekitarnya, khususnya interaksi dengan anggota keluarga di rumah. Semua asyik dengan dunianya sendiri.
Lalu…Apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan keasyikan interaksi sebelum adanya telepon genggam? Ya, kita harus meletakkan telepon itu dan melupakannya sejenak.
Cerita asyiknya interaksi dengan sesama anggota keluarga bermula dari ide anak sulungku yang beberapa minggu ini mulai asyik bermain monopoli dengan teman kuliahnya jika jam perkuliahan telah usai. Permainan monopoli, sebuah permainan sederhana yang pernah ku mainkan ketika masih kecil ternyata menciptakan permainan mengasyikkan dengan teman-temannya. Permainan ini juga berupa selembar kertas berisi gambar dilengkapi dengan dadu, rumah mini, kartu dan peralatan lainnya. Harganya pun cukup murah. Sebuah permainan yang hampir terlupakan oleh zaman, ternyata dimainkan kembali oleh anak sulungku.
Suatu sore, ketika sedang mampir ke toko mainan untuk membeli mainan anak bungsuku, Si Sulung melihat permainan monopoli juga ada dijual di toko mainan tersebut. Di rumah, kucoba mengingat cara memainkannya, dibantu Si Sulung yang menjelaskan bagaimana aturan permainannya. Setelah dimainkan, permainan monopoli berhasil menyita waktu senggang kami di malam hari sebelum tidur. Di ruang tamu yang biasanya hanya diisi dengan main telepon genggam masing-masing, berganti dengan canda tawa dan keriuhan berrnain monopoli yang semakin lama semakin seru. Bermain sambil berkhayal punya negara, punya perusahaan air, perusahaan listrik sangat mengasyikkan. Monopoli, sebuah permainan sederhana dan murah telah berhasil menciptakan kembali interaksi yang hampir hilang ditelan teknologi. Bahkan anak bungsuku yang belum mahir membaca pun ikut memainkannya. Interaksi seperti ini yang kurindukan seperti sebelum mengenal gawai.
Walaupun kita hidup di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat, usahakan untuk menjalin komunikasi, berinteraksi minimal dengan anggota keluarga di rumah. Karena dengan salah satu cara ini bisa menciptakan kenangan indah antara orang tua dan anak-anak. Selain itu juga dapat meningkatkan hubungan yang lebih erat dan lebih akrab. Tidak hanya dengan memainkan permainan monopoli, sebenarnya masih banyak permainan lainnya yang bisa dimainkan seperti permainan ular tangga, halma, lompat tali, atau hanya sekedar menggambar bersama. Jadi, tunggu apa lagi? Ajak anakmu untuk bermain apa yang pernah kamu mainkan ketika masih kecil. Dan itu sangat mengasyikan.
Kreator : Fatrisia Yulianie
Comment Closed: Bermain Monopoli
Sorry, comment are closed for this post.