KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • Berita Alineaku
  • Bisnis
  • Branding
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Moralitas
  • Motivasi
  • Novel
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Politik
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Between The Pages Chapter 7

    Between The Pages Chapter 7

    BY 16 Apr 2025 Dilihat: 66 kali
    Between The Pages_alineaku

    CHAPTER 7 [Between Falling and Flying]

    Aku duduk di pinggir atap gedung pencakar langit, kaki-kakiku berayun santai di udara kosong. Dari ketinggian ini, hingar bingar kota terlihat seperti lautan lampu yang berkedip-kedip—merah, kuning, putih—menciptakan simfoni cahaya yang hampir membuatku lupa akan kegelapan yang menyelimuti langit di atasku.

     

    Angin malam meniup rambutku dengan lembut, membawa aroma khas perkotaan—campuran antara asap kendaraan, makanan dari restoran-restoran di bawah, dan sisa-sisa hujan yang turun sore tadi. Aku, Acheron, menemukan kedamaian aneh dalam kekacauan kota ini.

     

    Mataku menelusuri keramaian di bawah, mengamati orang-orang yang bergerak seperti semut-semut kecil. Mereka semua terjebak dalam rutinitas yang sama, dalam sistem yang mereka buat sendiri, dalam aturan-aturan yang sebenarnya tak lebih dari ilusi kolektif. Sungguh menggelikan bagaimana manusia menciptakan begitu banyak batasan untuk diri mereka sendiri.

     

    Lihat saja bagaimana mereka berlomba-lomba mengejar status sosial, membangun hierarki palsu, menciptakan konflik atas dasar perbedaan yang mereka buat sendiri. Mereka membunuh sesama mereka atas nama ideologi, menindas yang lemah demi keuntungan pribadi, dan yang paling menyedihkan—mereka melakukan semua itu sambil meyakinkan diri bahwa mereka berada di pihak yang benar.

     

    Aku menghela napas panjang. Kadang aku bertanya-tanya, apakah hanya aku yang melihat kekonyolan ini? Apakah hanya aku yang merasa muak dengan semua kepura-puraan ini? Dengan standar ganda mereka? Dengan obsesi mereka akan penerimaan sosial?

     

    “Bukankah ini lucu? Bagaimana manusia bisa begitu sibuk menciptakan masalah untuk diri mereka sendiri, sementara mereka mengabaikan masalah nyata yang ada di depan mata mereka? Bagaimana mereka bisa begitu peduli dengan ‘apa kata orang’ tapi tidak peduli dengan apa yang benar-benar penting? Bagaimana mereka bisa begitu takut untuk sendirian tapi pada saat yang sama menghancurkan setiap hubungan yang mereka miliki? Kan?”

     

    Aku menoleh ke samping, menatap gadis yang duduk dalam diam di sebelahku. Matanya yang datar menatap balik tanpa ekspresi, seolah semua yang kukatakan hanyalah hembusan angin yang lewat.

     

    Aku terus berbicara, lebih kepada diriku sendiri daripada kepadanya. Tentang bagaimana manusia selalu terjebak dalam siklus yang sama, tentang bagaimana mereka mengulangi kesalahan yang sama berulang kali, tentang bagaimana mereka menolak untuk belajar dari sejarah. Gadis di sebelahku hanya mengangguk sesekali, matanya masih menatap kosong ke kejauhan.

     

    “Dan kau tahu apa yang paling ironis?” tanyaku, tidak benar-benar mengharapkan jawaban. “Mereka tahu semua ini. Mereka sadar akan kesia-siaan yang mereka lakukan. Tapi tetap saja mereka—”

     

    Suara dering ponsel memotong lamunanku. Gadis di sebelahku mengeluarkan ponselnya dari saku, dan untuk pertama kalinya sejak kami duduk di sini, aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku—sebuah phone strap berbentuk kelinci kecil berwarna pink dengan pita di telinganya.

     

    “Heh,” aku mendengus pelan, sedikit geli melihat kontras antara ekspresi datarnya dan aksesori imut di ponselnya. “Tidak kusangka kau suka barang-barang seperti itu.”

     

    Dia tidak merespon, jemarinya bergerak cepat membuka email yang baru masuk. Cahaya dari layar ponsel menerangi wajahnya yang pucat, menciptakan bayangan-bayangan aneh di bawah matanya yang lelah.

     

    Tiba-tiba, dengan gerakan yang hampir mekanis, dia menutup ponselnya. Tanpa kata, dia bangkit berdiri, masih dengan ekspresi datar yang sama. Aku tetap duduk di tempatku, tidak bergerak sedikitpun meski aku tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya.

     

    “Ah, sudah waktunya ya?” ujarku santai, masih memandang kerlap-kerlip lampu kota di bawah. “Kau tahu, sebenarnya kau tidak perlu repot-repot melakukan ini. Aku bisa saja melompat sendiri kalau memang itu yang diinginkan oleh ‘mereka’.”

     

    Aku bisa merasakan dia berdiri tepat di belakangku sekarang. Dua tangannya terangkat perlahan, siap mendorong. Angin malam berhembus lebih kencang, seolah alam sendiri sedang menanti momen ini.

     

    “Tapi kurasa ini memang cara mereka, ya? Selalu ingin terlihat bersih. Selalu ingin memastikan tidak ada jejak yang tertinggal.” Aku tersenyum tipis, memejamkan mata. “Bunuh diri selalu lebih mudah dijelaskan daripada pembunuhan.”

     

    Aku merasakan tekanan di punggungku. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatku kehilangan keseimbangan. Tubuhku condong ke depan, gravitasi mengambil alih. Dalam kegelapan di balik kelopak mataku yang tertutup, aku bisa merasakan angin yang semakin kencang menerpa wajahku selagi aku jatuh.

     

    Sensasi jatuh bebas ini… entah mengapa terasa begitu damai. Mungkin karena akhirnya aku bisa lepas dari semua kepura-puraan itu. Atau mungkin karena aku tahu, setidaknya kematianku akan menjadi satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku yang penuh kebohongan ini.

     

    Namun sebelum tubuhku mencapai tanah, sebuah bisikan lembut menyusup ke dalam pikiranku. “Apakah kau benar-benar yakin kematian adalah hal yang nyata?” Suara itu terdengar malas namun anehnya menggelitik kesadaranku. “Bagaimana jika kematian hanyalah ilusi lain yang kau ciptakan untuk dirimu sendiri?”

     

    Pertanyaan itu membuat pikiranku terguncang. Sebelum aku bisa mencerna maknanya, tiba-tiba aku merasakan hentakan keras. Bukan seperti benturan dengan aspal yang dingin dan keras, melainkan seperti jatuh terduduk dari posisi berdiri. Rasa sakit menjalar dari tulang ekorku, membuatku mengaduh pelan.

     

    Ketika kubuka mata, pemandangan kota yang berkilauan telah lenyap. Tidak ada lagi angin malam yang dingin, tidak ada lagi suara deru kendaraan dari bawah. Sebagai gantinya, aku mendapati diriku berada di sebuah ruangan yang terasa… berbeda.

     

    Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rak-rak buku tinggi berjajar rapi, beberapa di antaranya penuh sesak dengan buku-buku tua, sementara yang lain anehnya dibiarkan kosong, seolah menunggu untuk diisi. Cahaya temaram dari lampu-lampu antik menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman, sangat kontras dengan dinginnya malam yang baru saja kurasakan.

     

    Perpustakaan ini tidak besar, tapi entah mengapa terasa lega. Mungkin karena langit-langitnya yang tinggi, atau mungkin karena cara cahaya jatuh di antara rak-rak, menciptakan ruang-ruang bayangan yang membuat ruangan terasa lebih dalam dari yang sebenarnya. Aroma kertas tua dan kayu bercampur dengan sesuatu yang tidak bisa kuidentifikasi—seperti aroma tinta yang baru mengering, tapi ada sesuatu yang lebih… misterius di dalamnya.

     

    Aku mencoba berdiri, masih sedikit meringis karena rasa sakit di tulang ekorku. Keheningan di ruangan ini terasa hidup, seolah-olah perpustakaan ini sendiri adalah makhluk yang bernapas, menyimpan rahasia-rahasia di antara lembar-lembar buku tuanya.

     

    “Menarik sekali bagaimana kau masih bisa mempertanyakan realitas kematian, padahal kau sendiri bahkan tidak yakin apakah eksistensimu saat ini nyata atau tidak.”

     

    Suara itu datang dari belakangku, tenang dan santai, namun cukup mengejutkan hingga membuatku terlonjak. Aku berbalik dengan cepat, dan di sanalah dia—sesosok figur yang duduk dengan nyaman di atas tumpukan buku-buku tua, bersandar pada rak kayu seolah itu adalah kursi empuk favoritnya.

     

    Sang Penulis—entah bagaimana aku tahu itu dia—membalik halaman buku di tangannya dengan gerakan yang hampir malas. Matanya tidak lepas dari kata-kata yang tercetak di sana, seolah kehadiranku hanyalah gangguan kecil dalam ritual membacanya yang khusyuk.

     

    “Bagaimana rasanya jatuh dari gedung pencakar langit hanya untuk mendarat di perpustakaanku?” tanyanya, masih tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. “Kuharap kau tidak terlalu kecewa dengan perubahan mendadak dalam plotnya. Tapi kau tahu, terkadang cerita perlu mengambil arah yang tidak terduga untuk tetap… menarik.”

     

    Aku menatapnya, mencoba mencerna situasi ini. Pakaiannya terlihat biasa—sweater rajut yang terlihat nyaman dan celana panjang gelap—tapi ada sesuatu yang tidak biasa tentang caranya mengisi ruangan ini dengan kehadirannya. Setiap gerakannya, sekecil apapun, seolah mengubah atmosfer di sekitarnya.

     

    “Kau pasti punya banyak pertanyaan,” lanjutnya, akhirnya menutup buku di tangannya dan menatapku langsung. “Tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: apakah kau siap untuk jawabannya?”

     

    Aku terdiam sejenak, mencoba memproses kata-katanya. Siap untuk jawaban? Aku bahkan tidak yakin apa pertanyaannya. Seluruh situasi ini terasa seperti teka-teki yang tidak memiliki kunci jawaban.

     

    “Dimana ini?” akhirnya aku bertanya, memutuskan untuk mulai dari hal yang paling mendasar.

     

    Sang Penulis tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuatmu tidak yakin apakah dia sedang mengejek atau benar-benar terhibur. “Di perpustakaanku, tentu saja. Tempat yang ada dan juga tiada. Ruang antara ruang, kalau kau mau menyebutnya begitu.”

     

    “Itu… sama sekali tidak menjelaskan apapun,” aku mengerutkan dahi, frustasi mulai terasa. “Bagaimana bisa sebuah tempat ada dan tiada pada saat yang sama?”

     

    “Bagaimana bisa kau yakin bahwa kau benar-benar ada?” dia balik bertanya, mengangkat satu alisnya. “Bukankah beberapa saat yang lalu kau sedang jatuh dari gedung? Atau mungkin kau masih jatuh? Atau mungkin kau tidak pernah benar-benar jatuh?”

     

    Kepalaku mulai berdenyut. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

     

    “Ah, pertanyaan klasik,” dia mengangguk pelan, seolah baru saja mendengar sesuatu yang sudah dia duga. “Sayangnya, aku sendiri tidak yakin. Atau mungkin aku tahu tapi tidak bisa memberitahumu. Atau mungkin aku tahu tapi memilih untuk tidak memberitahumu. Pilih saja interpretasi yang paling membuatmu nyaman.”

     

    Aku menghela napas panjang. “Kau bilang aku punya banyak pertanyaan, dan kau bertanya apakah aku siap untuk jawabannya. Tapi bagaimana aku bisa siap untuk jawaban dari pertanyaan yang bahkan tidak aku ketahui?”

     

    Sang Penulis mengambil buku lain dari tumpukan di sebelahnya, membuka halaman secara acak. “Bukankah itu justru pertanyaan yang sebenarnya? Apakah kita benar-benar perlu tahu pertanyaannya untuk bisa menerima jawaban? Atau mungkin, jawaban itu sendiri yang akan membawa kita pada pertanyaan yang tepat?”

     

    “Kau sengaja membuatnya membingungkan,” aku menuduh, mulai merasa kesal dengan gaya bicaranya yang berputar-putar.

     

    “Mungkin,” dia mengakui tanpa rasa bersalah. “Atau mungkin kebingungan adalah satu-satunya cara untuk memahami sesuatu yang memang pada dasarnya membingungkan. Tapi kembali ke pertanyaanku yang awal: apakah kau siap untuk jawabannya?”

     

    Aku menatapnya lama, mencoba mencari tanda-tanda bahwa dia sedang mempermainkanku. Tapi wajahnya tetap tenang, seolah dia benar-benar menunggu jawaban dariku—jawaban untuk sebuah pertanyaan yang bahkan tidak aku pahami.

     

    Akhirnya, aku menyerah mencoba memahami logika dari situasi ini. “Baiklah,” aku menghela napas. “Aku siap untuk jawabannya. Berikan saja padaku jawaban apa pun yang kau punya.”

     

    Sang Penulis menutup bukunya dengan suara ‘snap’ pelan. “Ah, tapi bukankah kita perlu pertanyaan dulu sebelum mendapatkan jawaban?”

     

    “Tapi kau yang tadi menawarkan jawaban!” protesku. “Kau yang bertanya apakah aku siap untuk jawabannya!”

     

    “Benar sekali,” dia mengangguk. “Aku bertanya apakah kau siap untuk jawabannya. Aku tidak mengatakan bahwa aku akan memberikan jawaban tanpa pertanyaan.”

     

    “Ini tidak masuk akal,” aku menggeleng frustasi. “Bagaimana aku bisa tahu pertanyaan apa yang harus kuajukan jika aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kita bicarakan?”

     

    “Mungkin itulah pertanyaannya,” Sang Penulis tersenyum misterius. “Atau mungkin pertanyaannya adalah mengapa kau begitu yakin bahwa kau perlu tahu apa yang sedang kita bicarakan untuk bisa mengajukan pertanyaan yang tepat?”

     

    “Kau…” aku menggertakkan gigi, “kau sengaja membuatnya rumit.”

     

    “Tidak juga,” dia mengangkat bahu. “Aku hanya mencoba menunjukkan bahwa terkadang kita terlalu fokus mencari jawaban, padahal yang kita butuhkan adalah pertanyaan yang tepat.”

     

    “Dan bagaimana aku bisa tahu pertanyaan yang tepat?” tanyaku, masih dengan nada frustrasi.

     

    “Nah,” matanya berbinar, “sekarang itu baru pertanyaan yang menarik.”

     

    Sang Penulis membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu yang penting. Namun tiba-tiba, matanya melebar sedikit, seakan-akan baru menyadari sesuatu yang luput dari perhatianku. Dia mengatupkan bibirnya kembali, dan untuk sesaat, aku melihat kilatan emosi yang tidak bisa kuartikan di matanya—campuran antara kesedihan, pemahaman, dan mungkin sedikit… penyesalan?

     

    Dia menghela napas panjang, senyum lelah terukir di wajahnya. “Mungkin ini bukan waktunya,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku.

     

    Sebelum aku bisa bertanya apa maksudnya, dia menjentikkan jarinya dengan gerakan santai. Suara ‘klik’ lembut terdengar dari belakangku, diikuti dengan suara derit kayu yang bergerak. Aku berbalik, dan di sana, seolah sudah ada sejak awal, berdiri sebuah pintu kayu sederhana yang terbuka lebar, menampakkan pemandangan kota di malam hari.

     

    “Tunggu—” aku mulai protes, tapi kata-kataku terpotong ketika kurasakan dorongan lembut di punggungku. Dorongan itu tidak keras, tapi cukup untuk membuatku kehilangan keseimbangan. Aku terjatuh ke belakang, melewati ambang pintu.

     

    Dalam sekejap mata, aku sudah terduduk di trotoar. Aku berkedip sekali, mencoba memfokuskan pandangan. Pintu itu—dan Sang Penulis—telah lenyap sepenuhnya, seolah-olah mereka tidak pernah ada. Yang tersisa hanyalah suara deru kota malam dan lampu-lampu jalan yang berpendar redup.

     

    Aku terdiam sejenak, masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Perpustakaan itu, Sang Penulis, percakapan yang membingungkan—semuanya terasa seperti mimpi yang memudar dengan cepat.

     

    “Sekarang apa?” aku bertanya pada keheningan malam, suaraku terdengar kecil di tengah deru kota yang tak pernah tidur. Tidak ada yang menjawab, tentu saja. Hanya angin malam yang berhembus lembut, membawa aroma aspal basah dan kehidupan perkotaan.

     

     

    Sang Penulis duduk di kursi kayunya yang tua, membolak-balik halaman buku dengan gerakan yang hampir terlihat malas. Matanya setengah terpejam, seolah mengantuk atau mungkin hanya bosan. Dia menghela napas panjang, suara yang terdengar seperti campuran antara kejengkelan dan hiburan.

     

    “Anak itu—Acheron—dia tidak seharusnya ada di sini,” gumamnya pada udara kosong, nada suaranya terdengar acuh tak acuh. “Tapi yah, apa bedanya? Maksudku,” dia mengangkat bahu dengan gerakan santai, “apa bedanya diselamatkan oleh sebatang pohon dengan ranting-rantingnya yang kebetulan ada di sana, atau oleh sebuah perpustakaan yang kebetulan muncul di tengah jalan?”

     

    Dia berhenti sejenak, seolah menimbang-nimbang kata-katanya sendiri. Jari-jarinya mengetuk pelan sampul buku yang kini tergeletak di pangkuannya. “Kebetulan adalah kata yang lucu, bukan? Seperti sebuah alasan yang kita gunakan ketika tidak ingin mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang bekerja. Atau mungkin memang hanya kebetulan. Siapa yang tahu?”

     

    Seulas senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Bukankah begitu, wahai Sang Narator?”

     

    …Entahlah. Mungkin—

     

     

    Kreator : Clown Face

    Bagikan ke

    Comment Closed: Between The Pages Chapter 7

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]

      Sep 18, 2024
    • Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]

      Sep 07, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021