KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • Berita Alineaku
  • Bisnis
  • Branding
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Moralitas
  • Motivasi
  • Novel
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Politik
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Bias Otoritas

    Bias Otoritas

    BY 29 Jan 2025 Dilihat: 143 kali
    Bias Otoritas_alineaku

    Hutan rimba berkabut pagi, dimana rusa melintas perlahan,

    Air sungai mengalir deras, berbatu-batu di bawah pepohonan,

    Daun rimbun menjadi tirai, burung bernyanyi tanpa beban.

    Di tengah ini, si pemimpin bicara, memuja suara keras,

    Membelai popularitas bagai mahkota emas,

    Namun lupa suara semut kecil yang juga bernas.

    Di dahan tinggi elang menatap, angin mengusap sayap lebar,

    Di semak-semak, kelinci berlari menghindar bahaya samar,

    Harimau mengaum, tanda kekuasaan tak bisa dibakar.

    Namun kuasa rimba bukan soal suara paling lantang,

    Ada aturan, ada bisikan, harmoni dari yang tenang,

    Tapi si pemimpin terbius sorak, hilang dalam bayang.

    Dibawah pohon beringin tua, kumbang kecil sibuk bekerja,

    Menyusun serbuk bunga, memberi hutan napas sejahtera,

    Namun siapa peduli? Semua sibuk dengan yang tampak di mata.

    Si pemimpin berpidato, mengangkat dirinya ke langit,

    Cinta popularitas menutup hati yang sempit,

    Lupa bahwa suara kecil pun adalah pelita yang legit.

    Monyet berayun dari dahan ke dahan, berteriak penuh canda,

    Dibawahnya buaya mengintai, diam-diam menyusun agenda,

    Begitulah kuasa, sering kali bermain drama.

    Hutan tak butuh pidato yang berbunga kata,

    Ia butuh kejujuran, tindakan nyata,

    Namun bias otoritas membuat semua menjadi fana.

    Gemericik air sungai mengalir, beradu dengan batu cadas,

    Disana ikan berenang, menjelajahi kedalaman deras,

    Mereka tak peduli siapa yang merasa paling tegas.

    Hutan mengajarkan bahwa semua punya peran,

    Namun cinta popularitas seringkali melenyapkan,

    Hingga harmoni rusak, jiwa rimba pun perlahan memelan.

    Burung hantu diam di malam, mengamati di balik gulita,

    Ia tahu rahasia yang pemimpin sembunyikan di hatinya,

    Bahwa kuasa sering lahir dari pujian yang buta.

    Hutan menangis, suara kecilnya hilang dalam hiruk,

    Sementara pemimpin terus berlagak, lupa akan buruk,

    Lupa bahwa cinta sejati hutan adalah diam yang utuh.

    Angin pagi membawa pesan, dari rimba yang penuh makna,

    Bahwa kuasa bukan soal popularitas semata,

    Ia harus mendengar, memahami setiap warna suara.

    Biarkan semut kecil bicara, biarkan akar menjalar,

    Hutan akan hidup jika semuanya setara bersandar,

    Namun jika bias otoritas terus memagar, hutan hanya tinggal hangar.

     

     

    Kreator : Hendraone Basel

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bias Otoritas

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]

      Sep 18, 2024
    • Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]

      Sep 07, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021