Bintang adalah seorang santri yang rajin dan bersemangat. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan lingkungan pondok pesantren, karena keluarganya sangat mendukung pendidikan agama. Setelah lulus dari sekolah dasar, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren yang terletak jauh dari rumahnya.
Bintang menjalani hari-harinya di pondok dengan penuh semangat. Setiap pagi, ia bangun lebih awal untuk melaksanakan shalat tahajud dan dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah. Setelah itu, ia mengikuti kegiatan mengaji Al-Qur’an dan menghafal hadits. Sebagai santri, ia selalu berusaha disiplin dan taat terhadap peraturan pondok.
Namun, kehidupan Bintang di pondok tidak hanya tentang belajar agama. Ia juga aktif di organisasi santri yang disebut OSPI (Organisasi Santri Pondok Islam). Bintang dipercaya menjadi ketua bidang sosial di organisasi tersebut. Tugasnya adalah mengatur berbagai kegiatan sosial seperti bakti sosial, membantu masyarakat sekitar pondok, dan menggalang dana untuk saudara-saudara yang membutuhkan. Posisinya di organisasi membuat jadwalnya semakin padat, tetapi ia merasa bangga dan bersyukur bisa berkontribusi lebih banyak bagi pondok dan masyarakat.
Suatu hari, Bintang menghadapi dilema, kegiatan di pondok dan di sekolah sangat padat. Namun, di sisi lain, OSPI sedang merencanakan sebuah kegiatan besar, yaitu pesantren kilat untuk anak-anak dari luar pondok. Sebagai ketua bidang sosial, ia harus mengurus segala persiapan, mulai dari menyusun jadwal hingga memastikan kebutuhan logistik tersedia.
Bintang merasa bingung. Di satu sisi, ia selalu berusaha berkegiatan di pondok dan di sekolah dengan baik sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai santri. Di sisi lain, ia tidak ingin mengecewakan teman-temannya di organisasi yang sudah bekerja keras merencanakan kegiatan tersebut. Ia pun berdoa memohon petunjuk kepada Allah, berharap diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menyelesaikan kedua tugasnya.
Setelah beberapa hari merenung, Bintang memutuskan untuk berbicara dengan pengasuh pondok. Ia menceritakan kegiatannya di OSPI dan betapa pentingnya peran yang dipegangnya dalam kegiatan pesantren kilat tersebut. Sang pengasuh memahami situasi Bintang dan memberikan solusi. Ia menyarankan Bintang untuk membagi waktu dengan lebih efektif dan melibatkan teman-teman santri lain dalam kegiatan pesantren kilat. Dengan cara ini, Bintang bisa tetap fokus pada kegiatan pondok dan sekolah tanpa mengabaikan tanggung jawab di OSPI.
Mendengar saran dari pengasuh, Bintang merasa lega. Ia segera mengumpulkan teman-temannya di OSPI dan meminta bantuan mereka untuk membagi tugas dalam persiapan pesantren kilat. Bintang tetap memantau dan memberikan arahan, tetapi ia tidak lagi menangani semua hal sendirian. Waktunya yang biasanya penuh dengan kegiatan OSPI kini bisa ia alokasikan juga untuk kegiatan pondok dan menyelesaikan tugas sekolah.
Setiap malam, setelah mengurus persiapan pesantren kilat, Bintang menyempatkan waktu untuk mengaji di pondok. Ia melakukannya dengan penuh ketekunan dan keyakinan bahwa dengan niat yang ikhlas, Allah akan memudahkan jalannya. Berkat kerjasama dengan teman-teman di OSPI dan kedisiplinannya, ia berhasil menjalankan kedua tugas tersebut.
Enam bulan kemudian, kegiatan pesantren kilat berjalan sukses, dan Bintang dapat melakukan tugasnya sebagai santri untuk selalu mengaji. Pengasuh pondok dan teman-temannya memberikan apresiasi atas usahanya yang luar biasa. Bintang merasa sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan tugasnya di pondok sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain melalui OSPI.
Bagi Bintang, perjalanan di pondok adalah pelajaran berharga tentang bagaimana membagi waktu, bertanggung jawab, dan tetap berkomitmen terhadap ilmu dan pengabdian. Ia semakin yakin bahwa kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga bagaimana kita bisa memberi manfaat kepada sesama.
Kreator : Safitri Pramei Hastuti
Comment Closed: Bintang: Perjuangan Santri Antara Hafalan dan Pengabdian
Sorry, comment are closed for this post.