Pagi ini hari tampak mendung. Hujan rintik-rintik perlahan membasahi dedaunan. Suasana tampak lengang. Kicau burung yang biasanya bersahut-sahutan tak terdengar lagi. Hanya tetes air berjatuhan di atap rumah yang memenuhi ruang telinga. Sesekali hembusan angin bertiup bisikkan kata cinta.
Kuteguk perlahan kopi pahitku. Rasa malas untuk keluar rumah mulai menghantui. Biarlah anakku tidak sekolah hari ini, karena cuaca hujan aku malas untuk mengantarnya. Kemungkinan orang tua yang lain juga ada yang berpikiran seperti aku. Malas keluar rumah, malas kena air hujan.
Sampai kopiku hampir habis, hujan belum reda juga. Padahal ini waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 sudah waktunya aku berangkat nganter anakku. Coba deh aku tengok anakku di dalam kamar, dia bermalas-malasan apa tetap semangat berangkat sekolah ya?
Aku lirik saja dia, tanpa aku tanya. Ternyata anakku sudah selesai memakai seragam sekolah. Bahkan sudah siap dengan tas sekolahnya di meja. Berarti dia tidak terpengaruh dengan adanya cuaca hujan. Berarti dia tetap semangat berangkat sekolah walaupun hujan belum reda.
Aku harus semangat. Aku harus buang rasa malas yang datang menghantui. Aku tak boleh menanamkan rasa malas dan ide melanggar kedisiplinan kepada anakku yang masih polos. Kalau sampai aku menyuruh dia mbolos atau aku bilang malas berangkat karena hujan, berarti aku adalah orang pertama yang menanamkan kejelekan dan ketidakdisiplinan. Aku tak mau seperti itu. Aku tak mau menanam dosa jariyah.
Oke-lah harus segera kuhabiskan kopi ini. Biar aku tampak sudah siap ketika nanti si bocil Siti melangkah keluar kamar. Oya, mantel di jok sepeda motor, helm di atas rak sepatu. Kunci motor di cantolan. Segera deh kuambil sebelum Si Siti ngajak berangkat.
“Mah, Mamah di mana?” panggil si bocil Siti.
“Hay Nak, Mamah sudah di serambi nih. Mamah lagi pakai mantel, sambil lihat hujan,” sahutku sambil menunjukkan sikap tenang.
“Siti boleh gak Mah, bawa handuk. Nanti kalau sampai sekolah basah gimana kalau gak pakai handuk, risih kan.” Tanya siti setengah memaksa dengan argumennya yang tak mungkin ditolak.
“Boleh lah, bawa aja. Tapi ingat ya, habis pakai langsung disimpan di tas biar nanti saat pulang gak ketinggalan. Walaupun sedikit basah gak papa ditaruh tas, gak usah dijemur di sekolah, nanti kelihatan kumuh sekolahnya kalau ada handuk dijemur.” Jawabku sekaligus memberi penjelasan yang tak mungkin dibantah pula.
“Ayo segera dipakai mantelnya, sudah waktunya berangkat nich. Jangan lupa berdoa ya.” Ajakku yang cukup dijawab dengan anggukan kepala saja.
Dengan sepeda motor tua ini kuterobos rintik hujan yang tak kunjung reda. Kutarik gas motorku perlahan menyusuri jalan meninggalkan jejak perdana di lintasan jalan berlumpur. Suasana lingkungan tampak sepi. Tak ada orang yang lalu lalang seperti hari-hari biasanya.
Sesampainya di perempatan jalan, tampak telah lewat satu sepeda motor yang meninggalkan jejak di atas lumpur becek di sepanjang jalan.
Maa syaa Allah, ternyata bekas jejak sepeda motor yang ada tadi adalah jejaknya bu Aisyah. Ketika aku sampai di sekolah beliau sudah berada di serambi sekolah seorang diri. Tampak di atas sepeda motornya terdapat mantel kusam yang basah.
“Hay Siti, assalamualaikum, maa syaa Allah luar biasa nich Siti, semangatnya jempol. Siti yang datang paling duluan lo sampai pukul 07.00 ini.” sapa bu Aisyah kepada kami sambil senyum dan langsung membantu kami menurunkan Siti dari motor lalu membantu melepas mantelnya. Seolah tak minta jawaban atas sapaannya.
Senyum kami pun mengembang. Subhanallah ternyata bu Aisyah sudah datang di sekolah dan menyambut kedatangan murid-muridnya walaupun hujan. Syukurlah aku tadi tidak jadi menyuruh Siti untuk mbolos. Dengan adanya bu Aisyah menyambut kami rasa hati ini sangat senang dan semakin tumbuh semangat disiplin. Sebagaimana bu Aisyah, beliau selalu disiplin dan tidak pernah datang terlambat.
Aku salut kepadanya. Walaupun dia usianya sudah lebih tua dibandingkan guru-guru yang lain, beliau sangat enerjik dan rajin. Hampir setiap hari saat aku datang mengantar anakku, beliau sudah berada di sekolah terlebih dahulu walaupun tidak jadwalnya piket.
Bukan hanya disiplin saja, bu Aisyah juga rajin. Selama ini yang aku lihat beliau suka menyapu halaman dan serambi sekolah. Bu Aisyah juga rajin mencabut rumput di halaman dan merapikan kerikil-kerikil yang berserakan. subhanallah.
Aku juga mengamati selama ini ketika waktunya pulang dan banyak wali murid menjemput anaknya duduk di sepeda motor masing-masing di pinggir jalan, bu Aisyah turun ke halaman atau ke jalan dan mengantar murid kepada orang tua masing-masing. Walaupun banyak di antara murid yang lari sendiri menuju orang tuanya. Tetapi Bu Aisyah menunggu dan mengawasi muridnya keluar sambil menyapa ramah kepada wali murid sehingga tampak akrab. Ternyata itulah cara beliau menghormati dan mendekati wali murid.

Tak lama setelah aku berbincang dengan Bu Aisyah bu guru lain terus berdatangan. Hujan pun mulai reda dan banyak murid yang berdatangan pula. Alhamdulillah cuaca semakin terang dan waktu terus berlalu. Sudah saatnya bel masuk sekolah berbunyi. Dan aku berlalu meninggalkan mereka yang mulai berbaris. @
Kreator : Endah Suryani, S. Pd AUD
Comment Closed: Bunda Aisyah
Sorry, comment are closed for this post.