Bulan purnama bersinar terang malam itu, cahayanya menembus tirai jendela kamar Beni. Namun Cahaya rembulan itu tak mampu mengusir kesedihan yang menyelimuti hatinya. Beni menyingkap tirai dan menatap keluar melalui kaca jendelanya, melihat rumah-rumah tetangganya berjejer sepi, sunyi dan hening. Dulu, disaat bulan purnama seperti ini, ia biasanya bermain bersama teman-temannya di lapangan. Suara teriakan, sorak sorai dan tawa anak-anak bermain memecah keheningan malam. Tapi kini semua itu tinggal kenangan saja. Beni pun semakin sedih mengenangnya.
“Kapan semua ini akan berakhir? Sampai kapan aku harus terus-menerus berdiam diri di rumah?” gumamnya lirih.
Masa pandemi telah merubah segalanya. Sekolah ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan, sesama teman tak bisa saling bertemu ataupun saling mengunjungi. Ada kerinduan bermain petak umpet, rindu tertawa bersama, dan rindu dengan suasana ramai di sekolah. Setiap hari Beni menghabiskan waktunya belajar secara daring di rumah. Bahkan Beni merasa jenuh belajar sendirian saja. Bagaimana pun, belajar bersama teman-teman di sekolah jauh lebih menyenangkan.
Sore itu, Beni menonton berita di televisi tentang banyaknya pasien di rumah sakit sampai-sampai tak kebagian ruangan atau kamar perawatan. Belum lagi berita tentang banyaknya korban yang meninggal diakibatkan virus Covid-19. Beni tertegun, hatinya sedih. Ia merasa bersalah karena tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong.
“Aku ingin menjadi superhero,” gumamnya.
“Aku ingin membantu menyelamatkan banyak orang. Aku bosan dengan semua ini, aku bosan dengan keadaan sekarang ini.”
“Tapi, kepada siapa aku harus mengadu, melampiaskan kesedihan dan amarah ini,” bisiknya dalam hati.
Sejenak Beni terdiam, lalu seketika itu pula ia beranjak menuju meja belajarnya. Beni mengambil pena dan mulai menulis di buku diary. Ia menulis semua perasaan hatinya, perasaan sedih, takut dan harapan-harapannya. Ia juga menulis tentang mimpi-mimpi indah yang ingin ia wujudkan setelah pandemi berakhir nantinya. Entah telah berapa lama Beni selalu mondar-mandir dalam rumahnya, telah berapa banyak pula harapan dan Impian serta segala gundahnya yang ia tuliskan di buku Diary-nya.
Beberapa bulan kemudian, pemerintah mengumumkan bahwa telah menemukan Vaksin sebagai obat Covid-19 meskipun masih dalam jumlah yang terbatas. Sesuai arahan pemerintah melalui Menteri Kesehatan dan Tim Dokter Indonesia yang menangani kasus C-19 menghimbau kepada masyarakat agar segera menghubungi pihak Rumah Sakit untuk mendapatkan vaksin tersebut. Tak terkecuali Beni dan keluarga pun segera menuju ke puskesmas sesuai dengan arahan pemerintah daerah tempat tinggalnya.
Setelah sekian lama, akhirnya sekolah mulai dibuka kembali. Beni merasa sangat senang karena bertemu lagi dengan teman-temannya di sekolah. Mereka dapat tertawa lagi, bermain bersama lagi, seakan tak pernah ada pandemi. Beni menyadari bahwa ada banyak kesedihan dan penderitaan disebabkan Pandemi Covid-19, namun adanya pandemi juga mengajarkan kita akan pentingnya arti sebuah kebersamaan, empati dan peduli sesama serta berbagai harapan. Melalui pandemi pula, Beni belajar bahwa dalam situasi dan kondisi yang sesulit apapun kita bisa menemukan dan menciptakan kebahagiaan asalkan ada kemauan dan keinginan yang kuat dalam diri.
Cahaya harapan untuk hari esok yang lebih baik semakin menyala. Bulan seakan-akan menyampaikan pesan harapan itu kepada Beni dan menatap mata Beni agar beranjak tidur. Selamat malam dan selamat beristirahat, Beni. Seolah mengerti Beni pun tersenyum sambil perlahan menutup kembali tirai jendela kamarnya dan beranjak tidur.
Kreator : Aliyah Manaf
Comment Closed: Cahaya Di Balik Jendela
Sorry, comment are closed for this post.