Bab 10 Kejar Target Skripsi Setelah kedatangan orang tuaku ke kos, aku mulai berbenah untuk menyusun skripsi yang beberapa bulan tertunda karena kesibukan ikut festival. Mulai booking persewaan komputer langganan, dan menghubungi lagi dosen pembimbing yang sudah kembali ke tanah air. Sebetulnya, skripsiku tertunda bukan cuma karena aku ikut festival saja sih, tapi juga […]
Umma terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tubuhnya terbungkus selimut putih, kontras dengan wajahnya yang semakin pucat. Selang oksigen melingkar di hidungnya. Perutnya yang sedikit membuncit menandakan ada kehidupan baru yang sedang tumbuh, dan jika Allah meridhai, adikku akan bertambah satu lagi. Di sisi ranjang, aku, Abi dan Rina, adik saya duduk dengan mata sembab. […]
“Bu… kenapa dunia ini terasa begitu menyakitkan? Terasa asing… sampai-sampai aku ingin mati.” Kata-kata itu meluncur perlahan dari bibir Adinda, namun terasa seperti petir di dadaku. Jantungku berdegup kencang. Tenggorokanku tercekat. Selama menjadi wali kelasnya, saya melihat bahwa Dinda anak yang ceria. Aku bukan seorang psikolog. Bukan pula konselor yang ahli dalam memahami liku-liku batin […]
Malam adalah kanvas bagi kehampaan. Di gedung perkantoran tua ini, di lantai dua belas yang sepi, aku adalah satu-satunya penunggu. Penjaga malam. Sebuah gelar yang terdengar agung, namun sejatinya hanya berarti aku adalah pengamat sunyi dari kegelapan yang merayap. Lampu-lampu koridor yang berkedip, suara pendingin ruangan yang mendengung monoton, dan sesekali, derit lift yang kosong—itulah […]
Ruang ini hampa. Bukan kosong dalam arti tidak ada benda, melainkan hampa dari makna, dari tujuan, dari setiap gema yang seharusnya ada. Aku duduk di tengahnya, di sebuah kursi kayu tua yang berderit setiap kali aku bergerak, dikelilingi oleh dinding-dinding bisu yang seolah menelan setiap suara, setiap nafas. Aku telah mencarinya. Mencari suara itu. Frekuensi […]
Debu. Selalu ada debu. Menyelimuti setiap permukaan, menari-nari di udara yang pengap, seolah setiap partikelnya adalah fragmen dari waktu yang membeku, atau mungkin, serpihan dari diriku yang perlahan hancur. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku membersihkan lantai ini. Mungkin setahun yang lalu? Atau sepuluh? Waktu di sini, di dalam empat dinding yang membusuk ini, […]
Ruang ini kosong. Atau setidaknya, begitulah yang kubayangkan. Dinding-dindingnya telanjang, lantai kayu dingin, dan hanya ada satu benda di sudut yang berdebu: sebuah cermin tua. Permukaannya buram, sedikit retak di salah satu sisinya, seperti jaring laba-laba yang tak terlihat. Aku menghabiskan sebagian besar hari-hariku di sini, di tengah kehampaan ini, menatap pantulan yang tak lagi […]
Cerpen Basa Sunda Rabu, 14 Mei 2025 “Katipu Jualan Online” Bi Rumsih hayang meser acuk. Acukna ogé saukur acuk sapopoe. Mimitina tina Facebook, tuluy dialihkeun ka WhatsApp. Bi Rumsih henteu curiga, da ieu téh kakara ngalaman meuli barang sacara online. Anu jualan puguh waé bungah, nawarkeun rupa-rupa dagangan. Acuk setélan dikirimkeun gambarna ka Bi […]
Carpon isuk “Matak Nyesel Popotongan” Baheula bi Rumsih asa hese neangan kabogoh, komo pisalakieun mah. Rumasa diri sakitu rupana. Lobana ngageunggeureuhan atawa ngaledek jodona jauh. Umur geus naek ka opat can kawin. Bi Rumsih geus teu geunah cicing. Kusabab dina asmara kirang sae. Lobana direbut batur, Bi Rumsih saukur ngahanjelu siga teu sumanget. Tapi […]