Sebagai guru pengabdi, aku datang dengan semangat membara. Tapi di balik semangat itu, aku sadar, aku bukan hanya akan belajar mengajar, tapi juga belajar dari guru-guru ada di sini. Murid-murid adalah cermin, tapi para guru adalah kompas. Dari merekalah aku mulai mengerti, menjadi guru adalah bukan hanya sebuah profesi, melainkan sebuah perjalanan panjang, penuh warna dan sangat layak dikenang.
Bu Komang, guru kelas enam yang selalu berhasil mencuri perhatianku, baik karena suaranya, maupun karena kehadirannya yang tidak bisa diabaikan. Usianya saat itu sekitar 30-an, tapi kharismanya seperti ibu komandan yang sudah malang melintang di medan pertempuran. Perawakannya besar, dengan dominasi massa lemak yang tampaknya unggul telak atas massa otot dan tulangnya. Kalau berjalan, tubuhnya ikut menari-nari seperti irama marching band, membuat siapa pun yang melihat jadi ikut ingin baris-berbaris.
Suaranya? Jangan ditanya lagi. Kencang, jelas, dan penuh wibawa. Kalau dia yang jadi pemimpin upacara bendera, jangankan murid, tiang bendera pun bisa berdiri lebih tegak dari biasanya. Tapi meskipun senyumnya lebar dan kerap tertawa menggelegar, ternyata kesabarannya tidak selaras dengan itu. Bu Komang ini tipe yang bisa berubah dari “ibu peri” jadi “naga api” dalam hitungan detik. Untungnya, sepertinya beliau tidak punya riwayat hipertensi, atau mungkin belum terdiagnosis saja.
Namun di balik itu semua, tetap saja ada sisi unik dan menyenangkan dari Bu Komang yang membuatnya sulit untuk dilupakan. Entah karena gayanya yang khas, atau karena setiap kelas yang dia pegang selalu punya cerita lucu tersendiri.
Dan kini, kabarnya Bu Komang sudah jauh berbeda dari sosok yang dulu kukenal. Memasuki usia 40-an, beliau bukan lagi Bu Komang yang jalan kakinya seperti hentakan genderang perang. Katanya, sekarang Bu Komang rajin berolahraga! Ia bergabung dengan klub senam ibu-ibu gaul, yang anggotanya lebih sering update story di sosial media daripada olahraga, tapi semangatnya tetap 100%.
Hasilnya? Jangan kaget. Body Bu Komang sekarang katanya bikin iri anak muda. Lentur, kencang, dan katanya sih, kalau dilihat dari belakang, bisa dikira usia 20-an, asalkan jangan disuruh ngomong dulu. Wajah boleh matang, tapi semangatnya? Fresh from the oven!
Salut buat Bu Komang yang sekarang makin sehat, makin kece, dan mungkin juga makin sabar, atau setidaknya, napasnya sekarang cukup panjang untuk menahan emosi. Sehat selalu ya, Bu Komang. Dunia pendidikan butuh guru-guru seperti Ibu—yang bisa berubah, berkembang, dan tetap meninggalkan kesan!
Lain lagi ceritanya dengan Pak Ali, guru kelas 5 yang datang jauh-jauh dari tanah Jawa. Ia meninggalkan istri dan anak di kampung halaman demi mengabdi di pelosok desa. Di SDN 6 Tianyar Barat, nama Pak Ali bukan hanya dikenal sebagai guru, tapi juga sebagai sosok panutan. Dedikasinya luar biasa—mengajar tak sekadar menyampaikan pelajaran, tapi juga menanamkan nilai perjuangan.
Pak Ali bukan guru biasa. Di balik kemeja batik dan senyum kalemnya, tersembunyi jurus-jurus silat yang siap diluncurkan kapan saja—tentu bukan untuk menertibkan murid nakal, tapi untuk melatih mereka jadi juara. Di bawah bimbingannya, anak-anak SDN 6 Tianyar Barat berkali-kali memboyong medali emas di ajang silat PORJAR. Mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, sampai provinsi—nama sekolah kami selalu disebut, dan di balik itu, ada Pak Ali yang melatih dengan sabar, tanpa banyak bicara, tapi penuh makna.
Kalau ditanya siapa tokoh yang paling membumi tapi punya semangat langit, mungkin jawabannya ya… Pak Ali. Sosok sederhana yang tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga ketulusan. Salut, Pak!
Ada satu lagi guru yang sampai sekarang masih menempel kuat dalam ingatanku, Pak Nengah. Guru legend sejati. Wajahnya penuh sejarah, bukan karena tua, tapi karena tiap kerutan di wajahnya seolah menyimpan kisah perjuangan, kelucuan, dan sedikit keapesan hidup. Tapi jangan salah, Pak Nengah ini adalah tipe guru yang bisa membuat satu kelas tertawa hanya dengan cara dia menyebut nama murid.
Saat aku SD, beliau masih lajang. Status yang membuatnya jadi sasaran empuk untuk di bully, baik oleh murid maupun sesama guru. Konon, Pak Nengah takut sama cewek. Bukan karena trauma, tapi ya… memang gugup aja kalau harus berbicara panjang dengan perempuan. Tapi jangan salah sangka, bukan berarti beliau penyuka sesama. Hanya saja, hati Pak Nengah butuh waktu lebih lama untuk loading ke cewek.
Lama-lama, rekan-rekan gurunya mulai turun tangan. Mereka mulai menjodoh-jodohkan Pak Nengah dengan Bu Ayu, seorang guru dari sekolah lain di bawah bukit sana. Proyek perjodohan yang awalnya hanya iseng-iseng itu, ternyata… berhasil! Ajaib sekali. Saat Pak Nengah akhirnya mengumumkan bahwa ia akan menikah, sontak seluruh sekolah geger. Murid-murid bersorak gembira seolah Timnas baru saja lolos Piala Dunia.
Bahkan saat hari pernikahan tiba, murid-murid datang berbondong-bondong, tanpa diundang, lengkap dengan hadiah seadanya dan baju terbaik yang mereka punya. Suasana lebih mirip pesta rakyat daripada resepsi. Tapi begitulah Pak Nengah, guru yang bukan hanya mengajar, tapi juga menghibur, menginspirasi, dan tak pernah jauh dari hati murid-muridnya.
Pak Nengah selalu ditugaskan sebagai wali kelas 1 atau 2. Entah karena apa, tapi mungkin Kepala Sekolah tahu, hanya orang dengan kesabaran seluas Samudra Hindia yang sanggup menangani anak-anak usia awal sekolah yang masih suka menangis saat ditinggal ibunya, atau tiba-tiba duduk di bawah meja karena ogah belajar. Dan siapa lagi kalau bukan Pak Nengah, guru tersabar sejagat raya.
Bayangkan saja, sambil menghadapi murid-murid yang masih belum fasih mengeja, Pak Nengah tetap bisa tersenyum. Bahkan saat satu kelas serempak salah membaca huruf, beliau hanya tertawa pelan, mengelus dada, lalu berkata, “Tenang, kita ulang dari awal ya.” Kalau ada lomba guru dengan denyut jantung paling stabil, seharusnya Pak Nengah menang.
Tapi jangan kira kesabarannya hanya soal mengajar. Di balik tingkah kocaknya dan cerita jodoh yang sempat heboh itu, Pak Nengah juga punya keahlian yang tak banyak orang tahu: menulis aksara Bali di atas lontar. Bukan hanya bisa, tapi benar-benar ahli. Beliau membimbing anak-anak menekuni warisan budaya dengan tangan terampil dan hati yang tenang. Dan ya, aku salah satu anak binaannya waktu itu. Hasilnya? Juara 1 tingkat provinsi lomba penulisan aksara Bali di ajang Porsenijar. Siapa sangka guru yang dulu sering dibully karena jomblo ini, ternyata mampu mencetak juara!
Pak Nengah membuktikan bahwa guru yang hebat bukan hanya yang bisa bikin murid paham pelajaran, tapi yang juga bisa menanamkan kecintaan pada budaya, bahkan pada hal-hal kecil yang terbuat dari sabar dan lontar.
Ada lagi satu guru yang selalu lekat di ingatanku, Pak Gusti, guru Agama Hindu. Kalau soal gaya, dialah yang paling nyentrik di sekolah. Begitu datang, headset selalu nempel di telinga, seakan-akan mau ngasih kode ke seluruh jagat sekolah, “Tenang, bro… gue guru yang asik.”
Saat tidak mengajar, bisa dipastikan beliau akan duduk manis di depan laptopnya. Entah apa yang dikerjakan, katanya sih merancang RPP, tapi kadang aku curiga jangan-jangan lagi nonton K-Pop.
Hebatnya, Pak Gusti punya kemampuan super, yaitu kebal gangguan sekitar. Obrolan ibu-ibu guru soal harga cabe naik? Lewat. Celotehan sales perabotan yang sok akrab? Diabaikannya. Bahkan panggilan Kepala Sekolah pun seringnya hanya jadi angin lalu. Baru kalau sudah tiga kali dipanggil, biasanya headset dilepas, tapi tetap sambil senyum santai, seolah-olah bilang, “Maaf, Bu… saya baru nyadar, sinyalnya gangguan.”
Di balik gayanya yang nyentrik, Pak Gusti itu sebenarnya guru yang baik hati. Murid-murid suka karena beliau nggak pernah marah, suka bercanda, dan paling bisa ngasih nasihat tanpa bikin dahi berkerut. Pokoknya, guru yang kalau ada lomba “guru paling chill se-provinsi”, seharusnya dia juara bertahan.
Namun, kebersamaan kami dengan Pak Gusti tak berlangsung lama. Beberapa tahun kemudian, beliau dipindahtugaskan, kembali ke kampung halamannya. Mungkin itu memang berkah buatnya, bisa lebih dekat dengan keluarga, lepas dari gangguan ibu-ibu rempong, dan bebas putar playlist K-Pop tanpa harus pakai headset.
Dengar-dengar, sekarang beliau sudah jadi kepala sekolah. Wah, selamat ya, Pak Gusti! Semoga headset-nya tetap jadi andalan, biar rapat-rapat dinas nggak terlalu tegang.
Dari guru-guru di sana aku belajar, bahwa menjadi guru bukan hanya tentang memberi, tapi juga menyerap. Dari guru-guru ini, aku belajar bahwa mengajar bisa dilakukan dengan suara lantang atau bisikan lembut. Bisa lewat silat, senyuman, bahkan candaan. Tapi satu yang pasti: guru sejati selalu meninggalkan jejak, di hati, di ingatan, dan kadang di buku harian seperti ini.
Kreator : Kade Restika Dewi
Comment Closed: Cerita dari Sekolah: Tawa, Peluh, dan Guru-guru Tak Terlupa (Chapter 4)
Sorry, comment are closed for this post.