
Aku menamakannya surat cinta, walau berwujud rentetan panjang percakapan daring pada platform media sosial kekinian.
Sebuah awalan yang mengaduk-aduk perasaan. Manis, tangis, marah, emosi, nafsu, bergumul menjadi satu. Kami sangat menikmati naik turun gejolaknya. Namun pada akhirnya…
Kaia_:
Hello, beautiful lady.
Begitu sapa seseorang yang baru kubuka chat-nya dua hari kemudian.
Kaia_:
Thankyou for accept me.
Lanjutnya lagi. Reaksiku memberi emotikon jempol. Entah siapa dia.
Kaia_:
May I know where are you from?
Dia bertanya dari mana asalku. Saat kujelaskan dari Indonesia, dia memuji bahwa negaraku adalah negara dengan gugusan pulau-pulau cantik. Namanya Kaia, berasal dari Hongkong, namun saat ini menetap dan bekerja di Singapura.
Kaia_:
How should I call your name?
Kaia menanyakan namaku. Cepat kujawab, “Nadya.”
“Nadya … suatu nama yang indah, dan juga kamu cantik.” Dia memuji.
“Thank you.” Reaksiku datar menanggapi gombalannya. Biasalah, laki-laki.
Kami bercakap lumayan akrab. Ada saja hal yang menjadi bahan perbincangan.
“Saya belum fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia, tetapi bila kesulitan, saya bisa menggunakan google translate.” Dia menjelaskan dengan bahasa baku.
“Apakah anda pernah ke Singapura sebelumnya?”
“Belum pernah.”
“Kalau kamu ke Singapura, kabari saya dulu ya. Saya mau traktir kamu kopi dan makan, terus akan ajak kamu jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah.” Dia berkata dengan yakinnya.
“Saya pernah ke Indonesia pada tahun 2022, Bali. Di bagian Indonesia mana kamu tinggal?”
Melihat foto-foto di akunnya, terlihat bahwa dia memang senang melakukan traveling. Kulihat beberapa negara telah di kunjunginya, termasuk Bali, Indonesia.
“Depok, West Java.” Aku menjawab seperlunya.
“Oh, saya belum pernah kesana. Tapi saya dengar disana banyak pemandangan indah, kulinernya enak-enak, dan budayanya kaya, benarkah?”
“Ya betul sekali. Dan yang pasti salah satu universitas terbesar di Indonesia ada di Depok, Universitas Indonesia.” Aku menjelaskan.
“Itu bagus, terimakasih sudah memberitahu. Saya berencana untuk pergi ke Indonesia lagi lain kali, dan saat itu saya pasti akan mengunjungi tempatmu.”
“Tapi saya tidak punya teman disana. Berharap kamu bisa menjadi teman baik saya.” Kaia berkata penuh harap.
***
Untuk beberapa minggu kami lost contact. Actually, kami berdua tidak terlalu suka berselancar di dunia maya. Jarang membuka akun. Hingga akhirnya di suatu pagi dia memberi kejutan.
“Hello Nadya, guest what!” Dia begitu bersemangat, meminta menebak apa penyebabnya. Aku mampu merasakan bahwa dia begitu antusias.
“What?” Aku sedikit malas menanggapinya, karena tengah dikejar deadline laporan yang diminta bosku.
“Saya sudah memperoleh tiket. Saya akan mengunjungimu.”
“Apaaa…” Sekaget-kagetnya aku mendengar kabarnya itu.
“Yap, tanggal 15 saya akan mengunjungimu. Jemput di Bandara Sukarno Hatta, ya.”
Astaga, bukankah itu dua hari lagi? Dan itu artinya, sebagai tuan rumah yang baik aku harus menemaninya berjalan-jalan selama di Indonesia. Lantas, alasan apa yang harus aku bilang ke Gala, kekasihku?”
***
Hari yang ditunggu-tunggu Kaia pun tiba. Tapi tidak denganku. Dengan malas kulangkahkan kaki turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Setelahnya sarapan dan berangkat ke bandara untuk menjemput lelaki Hongkong itu.
Tepat pukul sebelas. pesawat yang ditumpanginya mendarat mulus dan selamat di daratan Indonesia. Aku menuju terminal kedatangan luar negeri untuk menyambutnya.
Terlihat di kejauhan, pria dengan kulit putih, hidung lumayan mancung, berkemeja putih, serta berkacamata hitam melambai ke arahku. Itu dia mahluknya. Ganteng, sama dengan foto-foto di akunnya. Sekilas mirip Liu Xiao Xu, aktor drachin, favoritku. Begitulah, berkat kecanggihan teknologi, walau belum pernah bertemu, tapi bisa melihat profilnya dari media sosial.
Dia menyalamiku. Wajahnya sumringah. “How are you, Nadya?”
Mungkin dia juga happy melihatku yang tidak beda dengan foto-foto di akunku. Bukan sombong, orang-orang bilang aku agak mirip penyanyi dangdut sopan idolaku, Ike Nurjanah. Ahay!
Kusambut uluran tangannya. “Hello… I am fine.”
Untuk beberapa saat dia terus memandangi wajahku dengan senyum mautnya. Giginya berjajar rapih putih terlihat.
“Saya benar, kamu memang benar-benar cantik.” Pujinya lagi. Tepatnya sih nge-gombal.
Aku yang ditatap sedemikan rupa sedikit goyah, serasa melayang hingga langit ke tujuh, tempat para bidadari bersemayam.
“Ayo kita langsung ke Depok.” Ajaknya setelah beberapa saat tadi kami terpaku saling menatap.
Komunikasi kami lucu, setelah masing-masing bicara, wajib mengetiknya di handphone dan menyerahkannya ke Mbah google translate. Namun terkadang campur dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
“Loh, aku pikir kamu menginap di sekitaran Jakarta.” Tanyaku tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan.
“Saya ingin mendekati area tempat tinggalmu.” Jawabnya pula seraya tersenyum, nakal.
Aku meminta pak supir taksi menuju arah Depok, ke daerah Margonda. Kaia menginap disalah satu hotel disana.
Perjalanan agak tersendat. Ternyata di depan gedung MPR/DPR sedang ada aksi damai, demonstrasi mahasiswa, buruh, dan masyarakat. Salah satu tuntutan krusial yang disuarakan seingatku adalah merevisi Undang-Undang Pemilu demi sistem demokrasi yang lebih aspiratif dan terbuka, menghapus sistem outsourcing dan menolak upah murah, serta mengesahkan Rencana Undang-Undang Perampasan Aset untuk memberantas korupsi. Ada lebih banyak tuntutan dari ini.
Kaia bertanya perihal demonstrasi yang tengah disaksikannya. Aku menjelaskan sejauh yang aku paham saja. Karena agar informasi yang tersampaikan, jelas dan sesuai dengan kenyataan yang ada.
Saat memasuki wilayah Depok, sebelum ke hotel, terlebih dahulu mampir ke rumah makan ‘Sederhana’ untuk mengisi perut yang sedari tadi protes meminta jatahnya. Semoga lelaki disebelahku ini menyukai cita rasa masakan Padang.
“By the way, untuk berapa lama kamu akan tinggal?” Tanyaku sambil menunggu pesanan kami datang.
“About two days, and Monday saya kembali ke Singapura.” Jelasnya.
“Owh… okay, short enough, huh?” Kataku singkat, meniru dialek bule.
“Yeah, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama.” Terangnya seraya mengangkat bahu dengan mimik sedikit kecewa, mungkin karena tidak bisa tinggal lebih lama di Indonesia.
Namun hatiku senang bukan kepalang. Kupikir dia akan stay satu mingguan, karena dengan begitu akan memakan waktuku untuk menemaninya dan akan berbohong pada Gala lebih lama.
“Thanks God!” Sorakku dalam hati. Aku tidak berani mengatakan soal lelaki ini kepada kekasihku. Dua tahun mengenalnya, cukup bagiku membaca sifat dan wataknya. Biarlah aku merahasiakannya. And I will take the risk. Aku akan mengambil resiko untuk ini.
“Saya lihat postinganmu, kamu suka melakukan traveling. Saya juga suka traveling,” lanjut Kaia.
Tak berapa lama, pesanan kami datang. Kaia ingin mencicipi rendang, ayam bakar, sambal ijo, lalapan daun singkong, dan ketimun. Aku memesan ikan kembung bakar beserta lalapan dan sambal ijonya juga.
Lahap kami menyantap hidangan siang menjelang sore ini. Makan siang yang terlambat akibat kemacetan karena demonstrasi tadi. Kemudian kami lanjut menuju hotel tempat Kaia menginap. Hanya mampir sebentar, kemudian aku pamit karena pesan singkat Gala memberitahukan bahwa dia akan mengajakku makan malam.
***
Kusempatkan menyapa Kaia selagi menunggu Gala datang menjemput. Sedang apa dia kira-kira disana.
Aku menanyakan apakah dia sudah makan atau belum. Khawatir dia kebingungan mencari makan malamnya. Tapi aku sudah mengingatkan, bisa makan di restoran hotel, atau bisa juga pesan online. Meskipun aku yakin dia pasti mengerti itu, tanpa diberitahu.
Kaia_:
“Hi… yap, done! Aku memesan di resto hotel ini.” Jelas Kaia, cepat.
Alhamdulillah. Ku akhiri obrolan melalui akun media sosial ini, seraya pamit.
Kaia_:
“Bye…”
***
Tepat pukul tujuh malam, aku dan Gala sudah berada di Dopamine Café, tempat favorit kami. Café dengan nuansa bangunan tua Belanda dan vibes jaman penjajahan dahulu serta segala pernak pernik vintage-nya, menambah kesan magis yang terpancar.Tapi tidak menimbulkan kesan seram. Karena setiap hari, pagi sampai malam, cafe ini selalu ramai pengunjung
Tak berapa lama, pesanan kami tiba. Anak-anak muda berpakaian khas noni-noni mengantarkan nasi goreng, spaghetti, beserta coffee latte dan thaitea kearah meja kami.
“Aku ditugaskan mengikuti konferensi selama dua hari, Nad.” Lapor Gala, memecah keheningan ditengah menyantap makan malam. Gala adalah seorang dosen muda di almamater kami. Aku kagum dan sangat menghormatinya.
“Oh, ya? Kapan, Gal? Dimana?” Tanyaku beruntun ditengah mulutku penuh nasi goreng yang sedang ku kunyah. Untung saja tidak menyembul ke luar dari mulutku.
Laki-laki itu tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib kekasih hatinya ini. “Aku berangkat besok pagi, Senin siang insyaallah sudah kembali.”
“Dan konferensinya berlangsung di NTU, Singapura,” lanjutnya lagi.
***
Kaia_:
Kamu mau mengajak aku kemana hari ini, dear?”
Subuh sekali, Kaia sudah berkirim pesan. Ku kucek-kucek mata yang masih mengantuk ini, sambil mencari-cari handphone. Baru pukul empat tiga puluh ini, Kaiaaaa!
Segera kubalas pesannya. Tanpa menunggu balasan, kusambar handuk, menuju kamar mandi, bersiap, dan shalat.
Kupacu kendaraan imut Honda Brio hijau stabilo kesayanganku ini menuju tempat Kaia. Ternyata, dia sudah duduk manis di lobi hotel, menunggu kedatanganku dengan senyum khasnya.
“Sudah sarapankah?” Lembut aku bertanya, di keheningan kami dalam perjalanan yang belum terlalu macet ini.
“Yes,” jawabnya, selalu semangat menebarkan aura positif.
“Maaf ya, semalam tidak bisa menemani makan,” kataku sedikit menyesal.
“Tidak apa-apa, saya maklum dengan kesibukan kamu,” jawabnya penuh pengertian.
Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya. Wise sekali kau tuan. Suka padamu!
“Mau kemana kita?” tanyanya dengan mimik penasaran.
“Kamu maunya kemana?” Aku balas bertanya sembari meledek, memasang muka yang kubuat selucu mungkin.
“Hhmm… aku mau ke Universitas Indonesia,” cetusnya.
“Are you serious?” Tanyaku tak percaya.
“Yap.” Dia menjawab sambil mengedipkan sebelah matanya, nakal. Dia berkata sangat yakin akan berkunjung ke salah satu kampus terbesar di Indonesia itu.
Kuajak Kaia ke perpustakaan The Crystal of Knowledge terlebih dahulu. Tempat favoritku dan Gala semasa kuliah dulu, bahkan hingga saat ini. Tempat pelarianku, aku selalu menyebutnya begitu kepada Gala.
Kaia sangat mengagumi fasad bangunannya, “Wow… very futuristic,” gumamnya kagum saat memandang dari arah danau samping perpustakaan. Danau yang teduh dengan pepohonan rindang dan kursi yang dibuat dari semen menghadap danau. Ada juga tempat duduk yang dibuat setengah lingkaran berundak, yang selalu ramai dengan kegiatan seni ataupun diskusi, baik mahasiswa maupun masyarakat umum.
Dia juga cukup terkesan dengan koleksi buku-bukunya yang lengkap. Rasa lapar pun menyergap setelah kami mengelilingi bangunan yang luas, empat lantai ini. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Selanjutnya, aku mengajak Kaia untuk makan siang yang sudah sangat terlambat ini, di rumah makan Mang Engking, restoran ala Sunda yang ada di kampus ini. Semoga dia suka dengan menu-menunya.
Setelah makan, kami kembali ke perpustakaan. Aku mau mengajak Kaia minum kopi di Javaroma. Salah satu coffee shop. Lagi-lagi kesukaan aku dan Gala. Tempatnya di desain tertutup kaca sekeliling mengikuti bentuk ruangan, dan persis berada di tepi danau, syahdu sekali.
“Mau ngopi gak, Kai? Anggap saja kopi perpisahan sebelum kamu kembali ke Singapura besok.” Candaku seraya tertawa kecil sambil meninju lenganya, lembut.
“Oke, aku mau,” tukasnya cepat menyambut ajakanku, sambil meringis dan mengusap-usap lengannya. Pura-pura kesakitan. Kocak memang manusia satu ini.
“By the way, are you married? Have kids?” tanyaku penuh selidik ketika kami sudah mengambil satu tempat di tengah. Bagaimana pun, mengetahui status perkawinannya adalah hal penting bagiku.
“Saya sudah menikah, tapi kami bercerai beberapa tahun yang lalu. Jadi, saat ini saya lajang.” Jelasnya, to the poin.
“Kami hidup bersama sekitar empat tahun, dan fokus pada bisnis kami saja. Itulah sebabnya kami tidak mempunyai anak.” Lanjut Kaia lagi.
“Oh …” Aku mengangguk, mencoba berempati.
“Ngomong-ngomong, kita belum saling bertukar nomor WhatsApp.” Ucapan Kaia mengagetkanku.
Nah, ini yang aku takutkan. Selama ini, kami hanya berkomunikasi lewat chat di media sosial. Karena aku tidak mau memberi nomorku. Ini karena aku sangat mengenal kekasihkuku, dia seorang muslim yang lumayan taat. Dia tidak akan membiarkan aku berbagi nomor dengan laki-laki lain, apalagi tidak lama lagi kami akan menikah. Mengerti kan maksudku?
“Saya fikir lebih baik kita ngobrol di WhatsApp, karena saya jarang aktif di media sosial. Dengan WhatsApp, tentu akan semakin mudah dan nyaman untuk berkomunikasi.” Sambung Kaia lagi seperti kalimat di iklan-iklan. Aku nyengir.
“Maaf Kaia, aku tidak menggunakan WhatsApp.” Tolakku halus, berbohong.
“Saya kira tidak demikian.” Tiba-tiba nada bicaranya serius.
“Jika kamu tidak keberatan, bisakah menambahkan saya?” Harap Kaia seraya menyerahkan sobekan kertas berisi nomor WhatsApp-nya.
“Maaf, saya tidak bisa memberikan nomor saya.” Tolakku halus sembari mendorong lembut tangannya yang masih memegang kertas.
“Why, my dear?” Tanyanya dengan mimik wajah sedih penuh tanda tanya.
“Maafkan saya.” Kataku singkat.
Akan tetapi, obrolan sempat terhenti karena pelayan membawakan pesanan kami. Aku mengambil nafas panjang, lega.
Setidaknya, aku sejenak terselamatkan. Segera kuhirup tanpa jeda matcha latte-ku, nikmatnya. Tandas setengah gelas.
“Minum dulu americano mu Kai, nanti dingin.” Kucoba membujuk. Dia menurut.
“Aku mau tahu, Kaia itu nama aslimu?” Mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasana kembali cair.
“Kaia adalah nama kerja saya. Nama Tionghoa saya adalah Joe Jin Zhang. Kamu bisa memanggilku Joe,” terangnya.
“Boleh tahu kamu bekerja dibidang apa?” cecarku lagi.
“I work at electronics Export and Import Company,” jelas Kaia lagi. Aku sudah terlalu nyaman memanggilnya Kaia, daripada Joe.
“Nadya, aku harap suatu hari bisa mendapatkan nomormu,” katanya lagi.
Sia-sia aku mengalihkan pembicaraan tadi. Aku hanya bisa tersenyum tipis.
“Come on dear, aku sangat menginginkan nomormu,” rajuknya lagi.
Selalu terpampang jelas wajah Gala di pelupuk mata. Akhirnya aku bilang ke Kaia. “Ijinkan aku mengakhiri pertemanan kita ini.” Mungkin ini berlebihan.
Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Kulihat ekspresi kaget, muram menahan sedih di wajahnya. Tentu dia syok mendengar perkataanku barusan. Aku sendiri kaget dengan apa yang baru aku katakan. Aku menyesal membuatnya sedih ketika dia sedang berada di Indonesia.
“Apaaa? Mengapa kamu akhiri persahabatan kita dengan mudahnya, kenapaa?” Suaranya parau. Dia memiliki perasaan yang sensitif, ternyata. Tapi, menurutku sedikit kekanak-kanakan perihal nomor whatsapp saja.
Namun begitu terselip sedikit penyesalan karena telah membuatnya seperti ini. “Maafkan telah mengecewakanmu, membuatmu sakit hati, my Kaia,” aku membatin.
Tanpa terasa, sinar jingga di ufuk sana mengantarkan sang mentari ke peraduannya. Jarum jam menunjukkan pukul enam. Aku pamit sebentar ke Kaia untuk menunaikan shalat maghrib di masjid yang terletak persis disebelah perpustakaan.
***
Sesuai jadwal, hari ini Kaia akan kembali ke Singapura. Mencoba menebus kesalahan, pagi-pagi sekali aku sudah menampakkan batang hidung di hadapannya. Dia masih santai di balkon lantai lima hotel ini, menikmati secangkir kopi di tangannya.
Aku menyusul dan mengambil tempat disampingnya, “Berangkat jam berapa, Kai?” Tanyaku lembut di telinganya. Tiba-tiba aku ingin melakukan itu.
“Aku masih menunggu nomor whatsapp mu.” Bisiknya lirih. Pandangannya tak lepas dari city view didepan kami.
“Seperti yang sudah aku sampaikan, aku tidak bisa memberi nomorku, Kai.”
“Kenapa? Apakah kamu sudah punya pacar? Apakah pacarmu tidak mengizinkannya?”
Pertanyaan Kaia memberondong laksana rentetan peluru menyerang pertahananku.
Aku mengangguk cepat, “Aku tidak memberitahu dia tentang persahabatan kita ini.”
“Dalam beberapa bulan ke depan kami akan menikah.” Lanjutku lagi.
Kulihat Kaia tidak kaget mendengar penjelasanku. Mungkin karena usia dewasanya, empat puluh dua tahun, membuatnya tenang, mudah menguasai keadaan.
“Owh… congratulations.” Kalimat sependek itu yang hanya keluar dari mulutnya. tanpa ekspresi.
“Terimakasih.” Jawabku tak kalah pendek.
Apakah ini namanya yang kata orang godaan sebelum menikah? Entahlah.
***
Aku mengantar Kaia sekaligus menjemput Gala di bandara. Hhmm… hari ini aku melayani dua laki-laki yang sama-sama kusayangi. Entah kenapa, walau baru beberapa minggu pertemanan kami, dengan Kaia terasa lain. Aku merasa dekat, aman, nyaman, dan percaya berada disampingnya.
“Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya, my dear?” Mohon Kaia penuh harap, ketika kami sampai di terminal 3 bandara.
Dengan penuh haru, kupeluk erat tubuh Kaia dan mendekapnya lama, seakan-akan ingin menebus kesalahanku padanya. Kaia pun demikian, memelukku erat seperti tak mau melepaskan.
“Aku ingin kita tetap keep in touch, boleh?” bisiknya lirih di telinga, sambil menyibak anak-anak rambut ke daun telingaku.
Aku mengangguk, “Sure, my Kaia,” jawabku pelan di telinganya.
Aku terbawa suasana dan perasaan. Departure Gate Terminal 3 menjadi saksi perpisahan kami.
Tanpa pernah aku tahu, di kejauhan sepasang mata tengah memperhatikan. Mencoba meyakinkan diri, bahwa perempuan yang dilihat tengah berpelukan mesra itu, bukan kekasihnya. Dada Gala menggelegak.
Kreator : Inda Yuliani (Ning Inda)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Chapter 1 Loveletter
Sorry, comment are closed for this post.