KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Cinta Yang Mulai Tumbuh ( bagian 2 )

    Cinta Yang Mulai Tumbuh ( bagian 2 )

    BY 14 Jan 2025 Dilihat: 415 kali
    Cinta yang Mulai Tumbuh_alineaku

    Senin, 25 november 2024

    Senin pagi yang cerah, alarm ku berbunyi sehingga membuatku langsung terbangun dari tidurku. Jam masih menunjuk pukul 05.20 WIB, akan tetapi aku harus bersiap untuk pergi ke sekolah. Aku segera meninggalkan ranjang menuju ke kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap-siap, aku menuju ke ruang makan. Setibanya disana, aku sudah melihat Ayah dan Bunda sedang sarapan.

    “Pagi, Yah. Pagi, Bunda.” sapaku kepada Ayah dan Bunda.

    “Pagi juga, Zerga.” jawab Ayah.

    “Pagi, sayang. Kakak belum bangun?” tanya Bunda.

    “Zerga nggak tahu, Bund. Tadi Zerga langsung kesini, jadi nggak lihat Kakak.” jawabku.

    “Ya udah, kamu sarapan dulu ya, sayang.” ucap Bunda kepadaku.

    “Bi, tolong bantu siapin sarapanya Zerga, ya.” ucap Bunda kepada Bibi.

    “Siap! Laksanakan, Nya!” jawab Bibi.

    “Den Zerga mau roti panggang atau sup hangat?” tanya Bibi kepadaku.

    “Sup hangat aja, Bi. Sama susu.” jawabku.

    “Siap.” jawab Bibi.

    “Ini, Den. Selamat menikmati.” ucap Bibi sembari memberikan sebuah mangkuk sup dan satu gelas susu di depanku.

    “Makasih, Bi.” ucapku.

    “Sama-sama, Den Zerga.” jawab Bibi.

     

    Setelah aku menghabiskan sarapanku, jam telah menunjuk pukul 06.32 WIB. Aku pun pamit berangkat ke sekolah. Saat aku keluar gerbang rumah, aku tak sengaja bertemu dengan Agam dan Reska.

    “Oyy, bareng kuyy!!” ajak Agam.

    “Ayok, lahh!” jawabku.

    Aku, Agam, dan Reska pun berangkat bersama. Mereka menaiki motor masing-masing.

    Setibanya di sekolah aku langsung menuju ke tempat parkir motor. Lalu, aku, agam, dan reska menuju ke kelas bersama-sama, tetapi di tengah perjalanan menuju kelas, aku menyadari bahwa aku lupa mencabut kontak motorku.

    “Eh, eh, bentar deh. Kayaknya gue lupa cabut kontak motor gue.” ucapku panik.

    “Kok bisa sih lo lupa cabut?!” ucap Reska heran.

    “Iya lagi, mana bentar lagi masuk. Waktunya Bu Eka. Pasti tuh guru langsung tantrum kalo ada yang telat masuk.” ucap Agam.

    “Ya udah, ayo buruan ambil.” ucap Reska.

    “Nggak usah, bro. Kalian duluan aja, gue ambil sendiri.” ucapku.

    Yaelah, mana asik nanti kalo lo telat sendirian.” ucap Agam.

    “Ha’ah lhaa. Gimana kalo kita tunggu di kantin aja, Gam?” tanya Reska ke Agam.

    “Ide paling bagus, coyy! Ayolah, gass!!” jawab Agam.

    Yaelah, kalian katanya pada takut telat, malah ke kantin!” ucapku sedikit kesal.

    “Kan biar kita telat sama-sama, masa lo doang yang telat.” ucap Reska.

    “Nah, iya tuhh. Lo sih ditemenin ambil malah nggak mau.” sahut Agam.

    “Ya udah, sana ke kantin. Nanti gua nyusul. Lagian kan belum tentu juga kalo telat. Siapa tahu jamkos, kan.” ucapku.

    “Malah enak tuh kalo jamkos.” ucap Agam.

    “Ya udah, lo ati-ati ya ambil kunci kontaknya, Ga.” ucap Reska.

    “Idih anjirr alay banget lo, Res! Sumpah! Parkiran motor kan deket banget!” ucapku sedikit geli ke Reska.

    Aku pun bergegas kembali ke tempat parkir dan mengambil kontak motorku. 

    “Kenapa pake acara lupa cabut kontak motor, sih?!” gumamku. 

    Lalu, saat aku aku hendak pergi meninggalkan tempat parkir, aku tak sengaja tertabrak oleh seorang gadis dari arah belakang. Aku sedikit terjatuh, tetapi aku masih bisa menahannya.

    “Aduh, maaf maaf, Kak. Aku buru-buru banget soalnya,” ucap gadis itu sembari mengambil buku-bukunya yang jatuh di atas tanah. 

    Karena sangat terlihat terburu-buru, aku pun langsung membantu gadis itu. Tetapi, saat aku membantunya, aku menyadari sesuatu kalau sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis itu.

    “Eh, kamu Raya, bukan?” tanyaku sedikit ragu.

    “Hah?! Iya. kamu kok bis.. eh .. Zerga?” sahut Raya terkejut.

    Dan, ya, dugaanku benar bahwa aku pernah bertemu dengan gadis itu. Gadis itu adalah Raya yang mengajakku berkenalan di kantin dua hari yang lalu. Rambutnya yang lurus sedikit kecoklatan sangat cantik dan elegan, matanya yang indah, dan senyuman yang manis, membuatku semakin kagum padanya.

    “Ohh, iya. Hai, Raya.” ucapku.

    “Astaga, Zerga. Maaf banget ya aku nabrak kamu. Soalnya aku lagi buru-buru banget.” ucap Raya merasa tidak enak hati.

    “Iya, nggak papa, Ya.”

     “By the way, kamu mau kemana bawa buku sebanyak itu?” tanyaku.

    “Ini aku mau bawa ke perpustakaan disuruh Bu Wati.” jawab Raya.

    “Aku bantuin, boleh?” ucapku menawarkan bantuan.

    “Boleh aja, tapi aku nggak ngerepotin kamu, kan?” tanya Raya.

    “Nggak, kok. Ya udah ayo.” jawabku.

    Aku pun membantu Raya membawa buku-buku itu ke perpustakaan. Di tengah perjalanan menuju perpustakaan, jantungku berdebar lebih kencang dan lebih cepat saat jalan berdekatan dengan Raya. Sangat tak biasanya aku merasakan hal ini saat berjalan atau berdekatan dengan gadis lain. 

    Apa ini? Kendalikan dirimu, Zerga? Tak biasanya kamu seperti ini, jangan-jangan aku… ahh nggak, nggak mungkin.” batinku. 

    Tiba-tiba Raya bertanya padaku, aku pun sedikit kaget karena aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri.

    “Eh, iya, Ga. Kamu jam pelajaran pertama hari ini apaa?” tanya Raya.

    “E-eh i-itu a-anu jamnya B..bu Eka, hehe. Iya, Bu Eka” jawabku dengan gugup.

    “Owh, Bu Eka itu guru mapel matematika kan?” tanya Raya lagi.

    “Iyaa, kamu kok tahu?” tanyaku.

    “Itu kan wali kelas aku Zergaaa gantengggg!!!” jawab Raya sambil mengacak-acak rambutku.

    Detak jantungku makin tak bisa ku kendalikan lagi, wajahku memerah, aku tak bisa mengeluarkan satu kata pun dari mulutku.

    “Zerga? Kamu Nggak papa kan?” tanya Raya.

    “Ng-nggak papa kok, Raya.” jawabku.

    “Wajahmu kok tiba-tiba merah? Beneran nggak papa?” tanya Raya.

    “Iya, beneran ya.” jawabku.

    Tak lama kemudian, tiba lah aku dan Raya di perpustakaan. Aku meletakkan buku-buku di meja perpustakaan. Lalu, Bu Wati menghampiriku dan Raya.

    “Baik, terima kasih ya, Raya. Kamu boleh masuk kelas sekarang.” ucap Bu Wati.

    “Baik, Bu.” ucap Raya.

    “Tunggu sebentar, kamu siapa?” tanya Bu Wati sambil menatapku.

    “Saya Zerga, Bu. Tadi kebetulan saya lihat Raya bawa buku banyak banget, jadi saya inisiatif buat bantuin.” jawabku.

    “Oh, gitu ya. Ya sudah terima kasih juga ya, Zerga. Kalian boleh masuk kelas dan semangat belajarnya ya.” ucap Bu Wati.

    “Baik, Bu.” jawabku dan Raya bersamaan.

    Setelah itu aku dan Raya pun keluar dari perpustakaan.

    “Aku ke kelas duluan ya.” ucap Raya.

    Okay, hati-hati ya.” ucapku.

    “Kamu nggak mau bareng sama aku? kan kelas kita searah.” tawar Raya.

    “Lain kali aja ya, soalnya aku mau nyariin temenku dulu, Agam sama Zerga.” ucapku.

    “Oh gitu ya udah. Aku duluan ya. Good bye, Zerga.

                  

    Raya melambaikan tangan kepadaku, aku pun membalasnya. Dia tersenyum sangat indah saat melambaikan tangan kepadaku, entah mengapa aku sangat menyukai senyuman itu. Aku teringat saat dia menyebutku ‘zerga ganteng’ dan mengacak-acak rambutku waktu menuju ke perpustakaan. 

    “Zerga ganteng? Itu yang tadi dia katakan saat menuju ke perpustakaan?” gumamku.

    “Haha. Lucu ya raya, tapi gue kan emang ganteng, cihuyy.” gumamku lagi. 

    Lalu, kemudian aku bergegas menuju ke kantin. Sesampainya di kantin, aku melihat agam dan reska sedang berbincang-bincang di kursi kantin. Aku segera menghampiri mereka.

    “Hai, bruh!” ucapku.

    “Ah, ini nih yang di tunggu-tunggu. Lo dari mana aja sih, Ga? Masa ngambil kontak motor di parkiran aja lamanya seabad!” gerutu Agam.

    “Yaelah, bentar doang itu tadi.” ucapku.

    “Ya udah deh, sekarang masuk kelas apa tetap disini nih?” tanya Reska.

    “Ayo masuk kelas aja.” jawabku.

    Aku, Agam, dan Reska pun bergegas menuju ke kelas. Setibanya di kelas, aku melihat Bu Eka sedang memulai pelajaran. Aku, Agam, dan Reska pun kebingungan dan juga takut karena terlambat.

    “Anjirr, udah deh habislah kita ini!!” ucap Agam.

    Watefakkk lhaa!!” sahutku.

     “Gimana nih, kalau masuk bakalan dapet hukuman jelas.” ucap Reska.

    “Masuk aja siapa tahu Bu Eka mood-nya lagi baik.” ucap Agam.

    “Gue ngikut aja wis” ucapku.

    “Ya udah ayo masuk.” ucap Reska.

    “Ehh-eh tunggu, pake alasan apa ini nanti?” tanyaku.

    “Alasan macet aja.” jawab Reska.

    “Oke, acc.” sahut Agam.

    Aku, Agam, dan Reska pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Dengan rasa takut kami bersamaan masuk ke dalam kelas.

    “Permisi, Bu Eka. Maaf kami telat, Bu. Tadi kami kena macet, Bu.” ucapku.

    Bu Eka langsung menoleh ke arahku, Agam, dan Reska dengan ekspresi marah.

    “Oh, macet?! Macet dimana emang?” tanya Bu Eka.

    “Ya macet di jalan lh-“ sahut Agam, tetapi Reska langsung membungkam mulut Agam dengan tangan, karena Agam jelas menjawab dengan jawaban yang tidak sopan.

    “Tadi ada problem di lampu merah makanya macet, Bu.” jawab Reska.

    “Kalian akan tetap saya hukum karena telat.” ucap Bu Eka.

    “Yailah Bu, telat dikit doang!” bentak Agam.

    “OHHH BERANI KAMU YA BENTAK-BENTAK GURU KAMU, DASAR ANAK NGGAK TAU ADAB!” bentak Bu Eka.

    “SEKARANG KALIAN BERTIGA KE LAPANGAN! SEGERA! HORMAT KE BENDERA MERAH PUTIH SAMPAI ISTIRAHAT!” bentak Bu Eka lagi sambil memukul papan tulis dengan penggaris panjang.

    “B-baik, Bu.” jawabku dan Reska bersamaan.

    “Dasar, guru brengsek!” rintih Agam.

    “Udah-udah ayo ke lapangan.” ucapku.

    Aku, Agam, dan Reska pun bergegas menuju lapangan sekolah. Sesampainya di lapangan, kami bertiga berdiri di depan tiang bendera merah putih sambil berhormat. 

    “Anjir anjirr, guru model apaan sih tuh Bu Eka.” gerutu Agam.

    “Iya lagi masak telat dikit aja dihukum.” sahut reska.

    “Iya kita kan emang telat, mana tadi Agam bentak-bentak tuh guru jelas langsung emosi.” ucapku.

    “Ya maap, gue jengkel bet tadi.” ucap Agam.

    “Nggak usah minta maaf, malah tadi gue pengen ikutan bentak.” ucapku.

    “Hahahaha. Emang tuh guru nyebelin banget, sumpah!” ucap Agam.

    “Mana biasanya suka caper ke murid cowok, bjirr, ahahahaha.” sahut Reska.

    “Iya gue pernah bjirr digituin. Tuh guru minta bukain spidol, katanya susah bukanya, padahal mah enteng banget anjir” ucapku.

    “Suka kali tuh guru sama lo, Ga.” ejek Agam.

    “Diih, najisss!!!” ucapku.

    “Biasanya kan selalu deket-deket ke Agam kalo pelajaran. awokawokawok.” ejek Reska ke Agam.

    “Idihhh nggak mau juga gue, pacarin sana, Res. Lo kan jones, tuh guru juga janda.” ejek Agam ke Reska.

    “Amit-amit, anjir gue pacaran sama orang kayak gitu.” ucap Reska.

    By the way, guys. Gue minta maaf ya. Gara-gara aku kita jadi dihukum.” ucapku.

    “Ya nggak papa lah, Ga. kayak sama siapa aja lo.” ucap Agam.

    “Iya tuh. Kita kan harus setia kawan. Masa lo dihukum, gue sama Agam diem aja. Oh tentu tidak bisaa boss” ucap reska.

    “Hahaha. Makasih ya, cayang bungut deh cama kalian!” ucapku dengan nada sok imut.

    “Geli sumpah, Ga!” ucap Agam.

    “BTW, tadi lo lama banget kemana aja sih, Ga?” tanya Reska.

    “Tadi tuhhh… guee…” ucapku.

    “Kemanaaa?!” tanya Agam penasaran.

    “Tadi aku tuh nggak sengaja tabrakan sama Raya, terus habis itu dia bawa buku banyak banget, makanya gue bantuin dia dulu bawa buku-buku itu ke perpustakaan.” jelasku.

    “Waduhhh, tanda-tanda nih.” ucap Agam.

    “Uuhuuuyy! Zerga dan Raya di pelaminan!” ejek Reska.

    “Anjir, apaan dah kalian ini! Gue kan cuma bantuin dia doang.” gerutuku.

    “Awalnya sih cuma bantuin tapi nanti jadi saling cinta.” ejek Agam.

    “Nggak ya!” ucapku mengelak.

     

    Di tengah-tengah obrolanku dengan Agam dan Reska, tiba-tiba Bu Eka datang menghampiri kami. 

    “HEY KALIAN, DARITADI PERASAAN IBU PERHATIIN DARI LORONG KELAS KOK KALIAN MALAH BERCANDA-CANDA, KENAPA?! MAU SAYA HUKUM YANG LEBIH BERAT?!” bentak Bu Eka.

    “Nggak mau lah, Bu. Siapa juga yang mau.” ucap Agam.

    “YAUDAH, KALAU GITU DIAM YANG TEGAK BADANNYA!! KAMU INI AGAM, DARITADI NGELAWAN SAYA MULU! MAU KAMU SAYA TAMBAHIN HUKUMAN SENDIRI?!” bentak Bu Eka.

    “Dibilang nggak mau, gimana sih.” jawab Agam.

    “Udah, Gam. Sabar. Sabar.” ucapku.

    “Dasar anak-anak bandel! Terus begini sampai jam istirahat nanti!!” ucap Bu Eka lalu pergi meninggalkan aku, Agam, dan Reska.

    Budeg kali ya tuh guru, dibilangin nggak mau masih aja di tanyain!” gerutu Agam.

    “Sabar-sabarr, Gam.” ucap Reska.

    Aku, Agam, dan Reska hormat di tengah lapangan menghadap ke tiang bendera merah putih dan berbincang-bincang sedikit. Tak terasa tiba-tiba bel istirahat telah berbunyi.

    *TENG TENG TENG, SAATNYA  JAM ISTIRAHAT,TENG TENG TENG*

    Aku, Agam, dan Reska segera berlari menuju kursi yang ada di pinggiran kelas. Rasanya capek banget. Kakiku kram dan lemas. Keringat yang bercucuran membuat seragamku basah. Aku langsung duduk lemas di kursi dan bersandar di dinding, agam yang tak kuat terbaring lemas di kursi pinggiran kelas yang panjang, dan reska duduk di lantai sambil bersandar di dinding.

    “Capekk banget guaaaaa!!!” rintih Agam.

    “Sama, cuuyy! Gerah bett!!!” keluh Reska sambil mengibaskan baju bagian dadanya.

    “Gue wis ra bisa berkata-kata, gue butuh banyu!!” ucapku dengan terengah-engah.

    “Bah?? Bayu??” tanya Agam.

    Banyu anjir!! Bukan bayu!” sahut Reska.

    Banyu apaan anjir?!” tanya Agam.

    Banyu itu artinya air di Bahasa Jawa” jelasku.

    “Owalahh. Ya udah gue juga butuh bayu.” ucap Agam.

    Banyu anjir!! Kalau Bayu noh anak kelas IPS 3!” sahut Reska membenarkan perkataan Agam.

                 

                  Aku sangat lemas hingga kepalaku mulai agak pusing dan pandanganku tiba-tiba menjadi agak gelap. Tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan botol air kepadaku. Ternyata, itu adalah Raya.

    “Nih, air buat kamu.” ucap Raya sambil menyodorkan botol air kepadaku.

    “H-hah, eh iya. Makasih yah.” ucapku sedikit kaget.

    “Cieee, Zergaa!!” goda Agam.

    “Anjir enak bett, gue juga mau kalii!!” protes Reska.

    “Oh iya lupa, kalian kan bertiga. Aku belinya cuma satu. Bentar deh.” ucap Raya.

    “Eh eh nggak usah ya, gue bercanda doang kok.” ucap Reska.

    “Nggak papa, aku ada ide.” ucap Raya.

    Lalu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tampaknya agak aneh. Dan, tiba-tiba Raya memanggil laki-laki itu.

    “TOMI!! TOMI!!” teriak Raya memanggil laki-laki itu.

    Laki-laki itu pun langsung menoleh dan berjalan menuju Raya sambil mengatakan sesuatu.

    “Eh, neng geulis. Ada apa, neng geulis?” tanya laki-laki itu dengan nada yang aneh.

    “Eh, Tomi. Aku boleh minta tolong nggak?” tanya Raya ke laki-laki aneh itu.

    “Jelas bolehhh dong, neng geulis.

    “Boleh minta tolong beliin air putih di koperasi??” ucap Raya.

    “Jelas boleh, dong. Kecil itu mah. Apa sih yang nggak buat neng geulis Raya.” lagi-lagi ucap laki-laki aneh itu dengan nada yang aneh.

    “Oke, tolong beliin dua, ya.” ucap Raya.

    “Siapp, neng geuliss!” jawab laki-laki aneh itu.

    Laki-laki aneh itu pun segera pergi ke koperasi sekolah. Sementara itu aku meminum air yang telah diberikan oleh Raya, dan pusing di kepalaku mulai menghilang, begitu juga dengan pandangan yang tiba-tiba gelap kini kembali normal berkat air yang diberikan oleh Raya. Dan, aku sempat bertanya kepada Raya tentang laki-laki aneh itu.

    “Itu tadi siapa, ya?” tanyaku kepada Raya.

    “Ohh, itu tadi temen aku. Aku awalnya nggak kenal sih, tapi tiba-tiba dia sok asik gitu sama aku, akhirnya ya jadi temen.” jawab Raya.

    “Tapi kok kayak sedikit aneh, ya?” tanyaku.

    “Iya, kayak boti.” sahut Agam.

    “Huss, Agam! Kebiasaan mulut lo.” ucap Reska.

    “Emang bener anjir, kayak boti.” bantah Agam.

    “Aku nggak tau sih dia kenapa kaya gitu. Awalnya aku juga sempet bingung kenapa dia kok kayak gitu, tapi lama-lama ya udah nggak papa, toh dia nggak bahaya. Dia juga sering bantuin aku, ya misalnya kayak ini tadi.” jelas Raya.

    “Ohh, gitu.” ucapku.

    “Kadang dia juga bantuin temen-temen aku.” ucap Raya.

    “Siapa tadi namanya?” tanyaku.

    “Namanya Tomi” jawab Raya.

    Tak lama kemudian, Tomi kembali dengan membawa dua botol air mineral. Tomi pun memberikan air itu kepada Raya. Saat dia hendak pergi, dia sempat melirikku dengan mata yang sinis, pandangannya sangat berbeda dengan pandangannya pada saat melihat Raya.

    Apa dia pura-pura boti yah biar bisa deket sama Raya? Ah, biarin deh males mikir gue!” batinku. Lalu, tiba-tiba raya mengatakan sesuatu.

    “Eh iya, Zerga maaf ya. Kamu dihukum karena telat masuk kelas kan? Gara-gara kamu bantuin aku kamu jadi telat.” ucap Raya.

    “Udah nggak papa, Ya.” ucapku.

    “Maaf banget loh, sama makasih udah bantuin aku tadi.” ucap Raya.

    “Iya, sama-sama, Ya.” ucapku.

    “Ya udah kalau gitu aku ke kantin dulu ya. Kamu mau bareng nggak?” tawar Raya.

    “Maaf nggak dulu deh, Ya. Aku mau ke kelas, capek banget soalnya.” jawabku.

    “Oh iya nggak papa, kamu istirahat aja.” ucap Raya.

    “Makasih ya airnya.” ucapku.

    “Sama-sama, aku pergi dulu. Dadahh.” ucap Raya lalu pergi ke kantin.

    Ekhem-ekhem, tanda-tanda apa nih??!!” goda Agam.

    “Kalo jadian, cumi darat satu.” sahut Reska.

    “Mata lo!!!” ucapku kesal.

    “Naik anj aja lo, Res. HAHAHA.” ejek Agam ke Reska.

    “Bangke lo, Gam!” ucap Reska kesal. 

    “Udah ah. Ayo balik ke kelas, capek pengen tidur.” ajakku.

    “Samaaaaa!!” ucap Agam loyo.

    “Ayo, kuyy!!” ajak Reska.

    Aku, Agam, dan Reska pun segera menuju ke ruang kelas. Setibanya di ruang kelas, aku langsung merebahkan diriku di lantai, begitupun dengan Agam dan Reska.

    “Huhh, enaknyaa!!!” ucap Agam.

    “Tidur dulu eaa mumpung istirahat.” ucapku.

    Tak bersuara, rupanya Reska langsung tertidur di sampingku. Aku dan Agam pun tidur sejenak. Setelah jam istirahat selesai, aku melanjutkan pembelajaran seperti biasanya sampai jam pulang.

     

    Tak terasa bel pulang telah berbunyi. Aku pun bersiap-siap untuk pulang, begitu juga dengan Agam dan Reska. Aku segera keluar kelas dan bergegas menuju ke tempat parkir, karena tiba-tiba langit menjadi mendung dan sedikit berangin. Di perjalanan menuju tempat parkir, aku, Agam, dan Reska berbincang-bincang sedikit.

    “Mendung, enak nih buat galau.” ucap Reska.

    Gainakk, mending makan mie sambil telepon bubub.” sahut Agam.

    “Serah lu!!” gerutu Reska.

    “Bercanda, Res!!! Jangan marah, donggg!!!” bujuk Agam ke Reska.

    Etdah tengkar lagi. Mending bantuin gue mikir, ntar malem enaknya makan apa.” ucapku.

    “Gue ada saran, buat lasagna aja, cocok sama cuacanya.” saran Reska.

    “Oke, acc!!” ucapku.

    “Ntar malem nggak nongkrong?” tanya Agam.

    “Ayo aja, udah lama nih.” jawab Reska.

    “Dimana emangnya?” tanyaku.

    “Ya di warkop biasanya.” jawab Agam.

    “Ya udah liat nanti dulu.” ucapku.

    Aku pun sampai di parkiran, tetapi saat aku hendak menaiki sepeda, agam dan reska memanggilku.

    “Ga, gue sama Reska mau beli rokok dulu, mau ikut nggak?” tanya Agam.

    “Nggak deh, males gue.” jawabku.

    “Ayolah, Ga. Bentaran doang!” bujuk Reska.

    “Ntar aja ah kalo nongkrong.” ucapku.

    “Ya udah deh.” ucap Agam.

    “Oke, kalau gitu kita duluan ya, Ga. Tiati lo.” ucap Reska.

    “Siap, boy!!” ucapku.

    Agam dan Reska segera pergi. Saat aku hendak menyalakan motor, tiba-tiba hujan turun. Awalnya hanya hujan rintik-rintik tetapi lama-lama hujannya semakin deras. 

    “Hah? Yang bener aja, gue nunggu hujan selesai di sini? Sendirian?” keluhku.

    Tiba-tiba saja aku mengingat bahwa aku membawa jas hujan di dalam jok motor. Aku segera turun dan mengambil jas hujan itu.

    “Nah, untung aja bawa ini.” ucapku kegirangan.

    Aku segera memakai jas hujan itu, lalu aku menaiki motor. 

    “Terobos nggak ya?” tanyaku ragu pada diri sendiri. 

    Setelah bimbang, aku memutuskan untuk menerobos hujan itu. Lalu, saat aku keluar dari gerbang sekolah, aku melihat Raya sedang berteduh di halte sekolah. Aku pun menghampirinya dan turun dari motor.

    “Ya, kamu kok sendirian di sini?” tanyaku.

    “Aku nggak ada yang jemput, Ga. Orang rumah pada sibuk. Ojek online juga pada nggak bisa soalnya hujannya deras begini.” jawab Raya.

    “Ya udah ayo aku anterin.” tawarku.

    “Serius nggak papa?” tanya Raya.

    “Iya ayo, ntar malah keburu makin deras hujannya.” jawabku.

    Lalu, aku langsung melepas jas hujan yang ku pakai, dan segera memakaikannya ke Raya.

    “Terus, kamu gimana?” tanya Raya.

    “Gimana apanya?” tanyaku balik.

    “Kamu nggak pakai jas hujan dong jadinya.” ucap Raya.

    “Nggak papa, kebal aku mah.” ucapku sombong.

    “Ihh, seriuss Zerga!!” ucap Raya jengkel.

    “Beneran, Ya. Udah ayo, buruan.” ucapku.

    Aku dan Raya menerobos hujan yang sangat deras. Aku merasa sangat kedinginan, tetapi tiba-tiba Raya memelukku erat, membuatku merasa hangat. Di perjalanan, aku sedikit bercanda dengan Raya, rasanya sangat menyenangkan bisa mendengar tawanya. Lalu, tak lama kemudian sampailah di rumah Raya. Awalnya aku tak tahu rumahnya dimana, tetapi dia memberitahuku, meskipun aku sempat bingung dengan jalannya, hehe. Raya pun segera turun dari motorku.

    “Ayo mampir dulu, Ga. Masih deras banget ini.” tawar Raya.

    “Lain kali aja, ya. Baju aku basah semua, nggak enak kalau mampir.” jawabku.

    “Kamu beneran nggak papa pulang sendiri di hujan deras banget kayak gini?” tanya Raya.

    “Nggak papa, Ya. Beneran deh.” ucapku meyakinkan.

    “Ya udah, ini jas hujannya kamu pakai ya.” ucap Raya sambil melepas jas hujan dan memakaikannya kepadaku.

    “Makasih, Raya.” ucapku sambil tersenyum.

    “Kebalik!! Aku yang harusnya ngucapin makasih.” ucap Raya.

    “Ya udah, aku pulang dulu ya.” ucapku.

    “Iyaa, makasih ya, Ga. Hati-hati.” ucap Raya sambil melambaikan tangan.

    Aku pun segera pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku. Aku segera mandi dan membersihkan diri. Setelah itu, aku terbaring lemas di ranjang, badanku menggigil. Aku merasa sepertinya badanku agak sedikit demam. Akhirnya, aku keluar dari kamar dan meminta bantuan Bibi untuk membuatkan teh hangat.

    “Bi, boleh minta tolong buatin aku teh hangat nggak?” tanyaku.

    “Jelas boleh dong, Den Zerga. Bentar ya, Bibi buatin dulu.” jawab Bibi.

    “Aku tunggu di kamar ya, Bi.” ucapku.

    “Baik, Den Zerga. Nanti biar saya antarkan teh hangatnya.” ucap Bibi.

    “Oh iya Bi, Kakak kemana?” tanyaku.

    “Non Wendy belum pulang, Den Zerga.” jawab Bibi.

    “Oh, ya udah. Aku ke kamar dulu ya, Bi.” ucapku.

    “Siap, Den Zerga” ucap Bibi.

    Aku pun kembali ke kamarku, berbaring di ranjang sambil bermain handphone. Tiba-tiba ada nomor yang tidak aku kenal mengirimiku beberapa pesan.

    Ternyata, nomor tidak dikenal itu adalah nomor Raya. Aku pun menyimpan nomor Raya di handphone-ku. 

    “Kok Raya bisa dapat nomorku, ya?” gumamku. 

    Aku bingung dari mana Raya mendapatkan nomorku.

    “Ah, biarin. Yang penting aku udah save nomor Raya.” gumamku lagi.

    Dan, ternyata Raya berterima kasih kepadaku karena telah membantunya tadi.

    Tak lama kemudian, Bibi datang dan mengetuk pintu kamarku. Akupun segera membuka kan pintu untuk Bibi. Saat aku buka Bibi langsung memberikan the hangat kepadaku.

    “Ini, teh hangatnya, Den Zerga.” ucap Bibi sambil memberikan teh hangat itu kepadaku.

    “Makasih ya, Bi.” ucapku.

    “Iya, Den Zerga. Sama-sama.” jawab Bibi.

    “Eh, kok muka Den Zerga pucat gitu? Den, sakit yaa?” tanya Bibi.

    “Engga kok, Bi. Paling cuma demam biasa gara-gara tadi kehujanan.” jawabku.

    “Jangan dibiarin gitu dong, Den Zerga. Nanti kalau tambah parah gimana?” ucap Bibi.

    “Nggak papa, Bi. Nanti aku minum obat kok.” ucapku meyakinkan Bibi.

    “Ya udah, kalau gitu Den Zerga istirahat aja. Kalau butuh apa-apa panggil saya aja, saya di dapur masak makan malam.” ucap Bibi.

    “Iyaa, Bi.” jawabku.

    Setelah itu aku menutup pintu dan duduk di sofa kamarku sambil minum teh hangat itu.

    “Ah, hangatnya.” gumamku. 

    Setelah aku meminum teh hangat, aku kembali ke ranjang dan bermain handphone di atas ranjang. Saat aku membuka ponsel, sudah banyak notif dari Reska.

    Hweheee, maaf guys wallpaper aku jamet. Ah sudahlah biarin aja ya guys, bagus kok itu kayak emo aesthetic gitu. Lalu, aku pun segera membuka pesan yang dikirim oleh reska.

      Setelah berbincang-bincang sedikit dengan Reska di pesan, aku turun ke bawah untuk makan malam dan untuk minum obat. Setibanya di ruang makan, sudah ada beberapa makanan lezat yang siap di meja. Aromanya yang sangat enak dan sedap membuat nafsu makan ku semakin bertambah.

    “Wahh sedapnyaa!” ucapku memuji masakan Bibi.

    “Ayo, Den Zerga silahkan makan, habis ini makanannya udah siap.” ucap Bibi.

    “Kakak mana, Bi? Belum pulang?” tanyaku kepada Bibi.

    “Habis ini kayaknya sampai, Den Zerga tunggu saja.” ucap Bibi.

    “Kalau gitu, aku tunggu Kakak dulu deh, Bi. Biar bisa makan sama-sama.” ucapku.

    “Siap, Den Zerga.” ucap Bibi.

    Aku pun menuju ruang keluarga, menunggu Kakak pulang. Sambil menunggu, aku menonton film di televisi. Dan, tak terasa Kakak sudah tiba di rumah.

    “Aku pulang!!” ucap Kak Wendy menghampiriku.

    “Ayo, makan malam udah matang loh.” ajakku.

    “Sabar, kali. Kakak mandi dulu.” ucap Kak Wendy.

    “Iyaaaaaa, aku tunggu. Cepetan tapi!” gerutuku.

    Sambil menunggu kakak lagi, aku pergi ke ruang makan lebih dulu. Dan, terlihat di meja makan sudah tertata rapi dan makanan sudah lengkap. Aku pun duduk di kursi dan menunggu Kakak.

    “Lama banget kakak ini!!!” gumamku. 

    Sampai akhirnya tak lama kemudian Kakak pun datang dan duduk di kursinya. Akhirnya aku, Kakak, dan Bibi makan bersama. Aku saat makan malam hanya bertiga, karena orang tuaku selalu pulang larut malam. Terkadang mereka makan malam berdua di restoran atau di tempat makan lainnya.

    Setelah makan, aku pun meminum obat. Saat meminum obat Kakak sempat menanyai kondisiku yang tak biasanya meminum obat.

    “Kamu demam ya, Zer?” tanya Kak Wendy.

    “Demam biasa aja kayaknya, Kak. Gara-gara tadi waktu pulang kehujanan.” ucapku.

    “Kalau pulang itu nunggu hujannya reda, Zerrrrrr. Kalau kamu sakit demam, terus parah, gimana? Untungnya sekarang cuma demam biasa.” ceramah Kak Wendy.

    “Iyaa iyaa. Bawel!” ejekku.

    “Hm, mayak!!” gerutu Kak Wendy.

    “Ya udah, Kak. Aku udah selesai minum obat, aku ke kamar dulu yahh, mau tidur.” ucapku.

    “Iyaa, jangan terlalu kecapekan, Zerr. Kalau cari Kakak, aku di kamar.” ucap Kak Wendy.

    “Iyaa iyaa, bawel banget Kakak ini.” ucapku sambil lari menuju ke kamarku.

    Setibanya di kamar, aku langsung mematikan lampu dan langsung meloncat ke ranjangku. Tak lama kemudian aku pun tertidur.

     

     

    Kreator : Syahfira Dewi

    Bagikan ke

    Comment Closed: Cinta Yang Mulai Tumbuh ( bagian 2 )

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021