Hari itu, matahari bersinar agak terik. Aku sedang berada di kantor KUA untuk mengurus legalisir surat nikah. Biasanya urusan begini selalu dipegang oleh suamiku. Tapi karena ia sedang ada urusan lain, mau tak mau, aku yang harus turun tangan. Sebenarnya aku ingin mengendarai motor sendiri, tapi suamiku tidak mengizinkan. Akhirnya, aku memesan ojek online.
Tak lama kemudian, datanglah seorang driver dengan jaket hijau, helm hitam, dan wajah ramah penuh senyum. Aku pun naik, dan kami berangkat menuju kantor KUA. Sepanjang perjalanan, kami tidak banyak berbicara, hanya suara kendaraan yang bersahutan di jalanan. Setelah urusanku selesai, aku kembali memesan ojek untuk pulang. Seorang driver lain datang menjemput. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya teduh. Ada sesuatu dari caranya menyapa yang terasa sopan dan jujur.
“Ibu dari KUA, ya?” tanyanya sambil menyalakan motor.
“Iya, Mas. Baru saja selesai ngurus legalisir surat nikah buat keperluan akta anak,” jawabku.
Ia mengangguk kecil. Setelah itu, suasana menjadi hening. Hanya suara mesin dan angin sore yang menemani perjalanan kami. Hingga akhirnya, ia membuka percakapan dengan nada ragu.
“Bu… boleh saya cerita sesuatu?”
“Boleh, Mas. Silakan.”
Ia menarik napas panjang, seolah menyiapkan hati.
“Saya sebenarnya ingin menikah, Bu. Calonnya sudah ada. Tapi… saya lagi ragu.”
Aku menoleh sedikit, mendengarkan dengan saksama.
“Kenapa ragu, Mas?”
“Beberapa hari lalu saya datang ke rumahnya, tapi keluarganya menolak kehadiran saya, Bu. Ibunya sampai berkata kasar di depan saya. Padahal dulu, waktu awal kami pacaran, keluarganya baik sekali, Bu. Sopan, hangat… tapi sekarang seperti berubah total.”
Aku bisa merasakan nada getir di suaranya.
“Mas tahu nggak, apa penyebabnya?”
Ia terdiam beberapa saat sebelum menjawab,
“Mungkin karena pekerjaan saya, Bu. Dulu saya kerja di pabrik sebagai pengawas. Tapi sejak pandemi, saya dirumahkan. Sekarang saya jadi driver online.”
Ia tertawa hambar, menatap jalanan kosong di depan.
“Mungkin bagi mereka, pekerjaan saya sekarang nggak pantas untuk anaknya.”
Aku menatap bayangannya lewat kaca spion. Di balik senyum kecilnya, ada luka yang dalam.
“Lalu calon Mas sendiri gimana sikapnya?”
“Dia diam aja, Bu. Waktu saya dihina, dia cuma menunduk. Nggak membela saya, nggak ngomong apa-apa. Padahal, saya tetap datang dengan niat baik.”
Aku menarik napas pelan.
“Mungkin dia takut sama keluarganya,” kataku mencoba menenangkan.
Ia mengangguk, tapi tetap menatap kosong ke depan.
“Bisa jadi, Bu. Tapi rasanya aneh. Dulu keluarganya ramah, sekarang tiba-tiba dingin. Saya juga nggak ngerti.”
Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya. Mungkin karena kisah itu menambah beban di udara.
Sesampainya di depan rumahku, aku belum turun. Ia pun masih tampak ingin bercerita, jadi aku biarkan saja.
“Mas, boleh saya tanya sesuatu?”
“Boleh, Bu.”
“Mas masih salat?”
Ia menoleh cepat, seperti tak menyangka pertanyaan itu muncul.
“Masih, Bu. Tapi ya… kadang bolong-bolong.”
Aku tersenyum tipis.
“Mas, rezeki dan jodoh itu rahasia Allah. Kadang Allah putuskan sesuatu bukan karena kita nggak pantas, tapi karena Dia ingin kita memperbaiki diri dulu. Coba, Mas, mulai dari salatnya. Jangan bolong-bolong lagi. Kalau memang jodoh, Allah sendiri yang akan meneguhkan hati dan mempermudah jalannya.”
Ia terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Saya nggak pernah mikir ke situ, Bu. Selama ini saya cuma marah, sedih, tapi nggak pernah benar-benar minta petunjuk dari Allah.”
“Coba shalat istikharah, Mas,” lanjutku lembut.
“Minta petunjuk dengan hati yang tenang. Kalau memang dia bukan yang terbaik, Allah pasti akan menggantinya dengan seseorang yang menghargai perjuangan Mas, bukan status pekerjaan Mas.”
Ia mengangguk, lalu berkata lirih,
“Terima kasih, Bu. Saya nggak nyangka dapat nasihat sepenting ini dari penumpang.”
Aku tersenyum.
“Saya juga nggak nyangka, Mas. Naik ojek siang ini ternyata bukan cuma soal perjalanan pulang, tapi perjalanan hati.”
Ia tertawa kecil, kali ini lebih lega.
“Doakan saya, Bu.”
“InsyaAllah, Mas. Semoga Allah beri yang terbaik.”
Motor itu pun perlahan menjauh, meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pagar rumah. Angin siang berhembus lembut, membawa suara langkah kehidupannya yang terus berjuang di jalanan.
Aku menatap ke arah jalan dan bergumam dalam hati:
“Kadang, kita bertemu seseorang hanya sebentar. Tapi dari ceritanya, Allah sedang menyampaikan pesan agar kita lebih banyak bersyukur. Bahwa cinta sejati bukan tentang jabatan atau harta, tapi tentang siapa yang tetap bertahan di saat keadaan terburuk.” Dan sejak hari itu, setiap kali aku melihat driver online lewat di jalan, aku selalu berdoa dalam hati
semoga mereka semua bukan hanya menemukan penumpang,
tapi juga menemukan ketenangan, keyakinan, dan cinta yang benar-benar tulus.
Kreator : Ferayanti, S. HI.
Comment Closed: CURHATAN DRIVER ONLINE
Sorry, comment are closed for this post.