Di pagi hari yang cukup cerah, Lisa duduk di atas ayunan yang berada di samping rumahnya sambil menunggu kedatangan Fani, Hani, dan Zahra, tiga orang sahabat setianya. Mereka berjanji bahwa di hari Minggu itu mereka akan bersilaturahmi ke rumah Ustadz Hamdi, guru agama di sekolah mereka, dan sekaligus guru privat keluarga Lisa.
Ketika mendengar suara sepeda motor berhenti di depan pintu gerbang rumahnnya Lisa bangun dari duduknya, kedua matanya langsung diarahkan ke pintu gerbang. Setelah tahu dua orang yang turun dari motor itu, dia langsung berjalan untuk membukakan pintu.
“Asaalamu laikum !” Ucap kedua orang yang baru turun dari motor itu, bersamaan.
“Wa alaikum salam, Fani…., Hani…, silahkan masuk !” Ucap Lisa setelah pintu terbuka.
“Zahra belum datang ?” Tanya Fani.
“Belum…., katanya sih sudah OTW, mungkin sebentar lagi dia nyampe.” Jawab Lisa.
“Rumahmu sepi amat ?” Tanya Hani setelah berada di ruang tamu.
“Iya…, papa, dan mamaku lagi pergi ke rumah paman.”
“Kamu ga ikut ?” Tanya Fani.
“Sebenarnya sih pengen ikut, tapi aku kan udah janji dengan kalian, kalau hari ini akan pergi ke rumah Ustadz Hamdi.” Jawab Lisa
.”Terima kasih atas pengorbananya, ya !” Ucap Hani.
“Pake pengorbanan segala, kaya perang aja.” Ucap Lisa sambil sedikit mencibir. “Oh, iya…., kalian mau minum apa ?” Tanyanya.
“Teh aja….” Jawab Hani
“Kalau kamu Fani ?” Tanyanya kepada Fani.
“Udah….., samain aja.” Jawab Fani.
“Tunggu sebentar, ya !” Ucap Lisa sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
“Iya….,” Jawab Fani dan Hani
Ketika Lisa pergi ke dapur terdengar suara sepedah motor berhenti. Pengendaranya tiada lain adalah Zahra yang sedang mereka tunggu.
“Assalamu alaikum “ Ucap Zahra setelah berada di depan pintu rumah Lisa.
“Wa alaikum salam !” Jawab Fani dan Hani.
“Mana Lisa ?” Tanya Zahra.
“Lagi bikin air di dapur.” Jawab Fani
“Lis ….., buat aku juga, ya!” Teriak Zahra
“Iya….” Jawab Lisa dari dapur.
Sementara itu ustadz Hamdi sedang menyiapkan tempat di depan taman kecil di halaman rumahnya. Sebuah karpet sudah terhampar, sebuah dus berisi air mineral, dan makanan ringan juga telah tersedia. Ada kebahagiaan tersendiri dalam hati ustadz Hamdi, ketika ada muridnya yang datang bersilatu rahmi ke rumahnya. Karena di zaman modern seperti sekarang ini, sudah sangat jarang murid mendatangi rumah gurunya. Tidak sedikit diantara mereka yang hanya menganggap guru ketika disekolahan saja, sementara diluaran sana, mereka menganggap bukan siapa-siapa. Terlebih-lebih setelah mereka lulus, apalagi setelah mereka sukses. Penghormatan dan penghargaan terhadap guru semakin memudar.
Sambil menunggu kedatangan Lisa dan teman-temanya, ustadz Hamdi membaca beberapa artikel yang ada di link sebariskata.com. Sebuah link yang menampung karya penulis-penulis pemula untuk dibimbing dan diarahkan menjadi penulis solo. Beberapa saat kemudian Lisa dan teman-temanya pun datang.
“Assalamu alaikum, pak !” Ucap Lisa mewakili teman-temanya.
“Wa alaikum salam !” Ucap ustadz Hamdi. “Alhamdulillah…, kalian sudah datang. Silahkan duduk !” Lanjutnya.
“Gimana kabarnya, pak ?” Tanya Hani sambil bersalaman kepada ustadz Hamdi.
“Alhamdulillah…, seperti yang kalian lihat.” Jawabnya sambil menerima salaman dari yang lainya.
“Ibunya tidak ada, pak ?” Tanya Fani.
“Mohon maaf, tadi setelah menyiapkan tempat ini, istri dan anak-anak saya pergi ke kolam renang.” Jelas Ustadz Hamdi.
“Bapak tidak ikut ?” Tanya Lisa
“Ah…, malu.., masa sudah setua ini ikut-ikutan renang.” Kata ustadz Hamdi sambil mengeluarkan air, lalu menyodorkanya kepada mereka. “Ayo, silahkan, diminum airnya !” Pintanya.
“Terima kasih, pak !”
“Menurut info dari Lisa, katanya diantara kalian ada yang akan menanyakan sesuatu pada saya.” Ustadz Hamdi memulai pembicaraan.
“Iya, pak. “ Kata Zahra, sambil mengangkat tanganya.
“Kamu Zahrah ?” Tanya ustadz Hamdi sambil mengarahkan pandangannya kepada Zahra
“Iya, pak.”
“Mengenai apa ?”
“Mengenai darah, pak “
“Darah ?”
“Maksudnya darah haid, pak.” Jelas Zahra.
“Oooh…., Apa yang akan kamu tanyakan ?” Tanya ustadz Hamdi
“Saya haid sudah dua pulah hari, tapi tidak berhenti berhenti, dan darahnya banyak lagi. Apa yang harus saya lakukan, pak ?
“Zahra…, dan juga yang lainya.” Ucap ustadz Hamdi sambil mengarahkan pandangannya kepada semuanya, agar yang lain pun menyimak. “Batas maksimal haid itu 15 hari. Kalau lebih dari itu, berarti darah istihadhoh.” Lanjutnya.
“Apa itu darah istihadhoh, pak ?” Tanya Lisa.
“Darah istihadhoh itu, artinya darah penyakit.” Jelas ustadz Hamdi.
“Mohon maaf, pak. Karena kami semua juga masih belum paham, bagaimana kalau sebelum menjelaskan masalah Zahra, bapak menjelaskan dulu kepada kami tentang darah haid secara umum.” Usul Fani
“Iya, pak. Saya setuju.” Hani menguatkan.
“Bagaimana Zahra, apa kamu setuju ?” Ustadz Hamdi bertanya pada Zahra.
“Boleh, pak. “ Jawab Zahra sambil menganggukan kepalanya..
“Baiklah, saya akan jelaskan dari awal.” Kata ustadz Hamdi, sambil berpikir sejenak. “Anak-anakku…., darah yang keluar melalui vagina perempuan itu ada tiga. Yang pertama darah haid, yang kedua darah nifas, dan yang ketiga darah istihadhoh.” Ustadz Hamdi berhenti sejenak. “Paham….?” Tanyanya.
“Paham, pak. Jawab Lisa dan kawan-kawan serempak.
“Darah haid yaitu darah yang keluar dari rahim wanita melalui vaginanya dan terjadi setiap bulan. Darah nifas adalah darah yang keluar dari rahim wanita, setelah dia melahirkan. Sedangkan darah istihadhoh adalah darah yang keluar diluar dari kebiasaan haid dan nifas.”
“Untuk mengetahui darah istihadhoh, berarti kita harus mengetahui dulu hal-hal yang berkaitan dengan haid ?” Tanya Lisa.
“Betul.” Jawab ustad Hamdi
“Di usia berapa, seorang wanita mulai haid, pak ?” Tanya Hani
“Antara usia sembilan sampai lima belas tahun. Artinya bisa di usia sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, atau lima belas tahun.” Jelas ustadz Hamdi
“Batas minimal dan maksimal untuk orang yang haid, berapa hari, pak ?” Tanya Fani
“Minimal sehari semalam, umumnya tiga sampai tujuh hari, dan paling lama lima belas hari.” Jelas ustadz Hamdi
“Berarti kalau kurang dari sehari semalam tidak dianggap haid, lebih dari lima belas hari lima belas hari termasuk istihadhoh ?” Lisa mencoba menyimpulkan
“Iya, betul …!”
“Yang masuk kategori istihadhoh itu semua hari, atau kelebihan dari lima belas hari, pak /?” Tanya Hani
“Kelebihan dari lima belas hari. Seperti yang terjadi pada Zahra dari dua puluh hari itu, yang terhitung istihadhoh adalah hari keenam belas dan seterusnya.”
“Kalau nifas ?” Kembali Fani bertanya
“Nifas tercepat adalah sekali keluar, tapi…, ini jarang terjadi. Umumnya empat puluh hari, dan paling lama enam puluh hari. Bagaimana, paham ?” Tanya ustadz Mahmud.
“Paham, pak “ Jawab Lisa dan kawan-kawan.
“Apa yang harus dilakukan untuk orang yang mengalami istihadhoh, pak ?” Tanya Zahra
“Untuk orang yang haid, tidak boleh shalat, tidak boleh puasa, tidak boleh memegang, membawa, dan membaca Al-Qur’an, tidak boleh thawaf, tidak boleh sa’i, dan tidak boleh tinggal di masjid. Untuk orang yang istihadhoh, ketentuan itu tidak berlaku. Artinya dia tetap harus shalat, harus puasa kalau di bulan Ramadhan, boleh memegang, membawa, dan membaca Al-Qur’an, thawaf, sa’i dan sebagainya.” Jelas ustadz Hamdi.
“Kan darahnya masih keluar, pak.” Ucap Zahra
“Sekalipun darah nya masih keluar.” Tegas ustadz Hamdi
“Caranya bagaimana, pak ?” Kembali Zahra bertanya.
“Kalau mau shalat subuh misalnya, kamu mandi dengan niat untuk menghilangkan hadats besar. Selesai mandi, pakai pembalut secukupnya. Lalu kamu wudhu, dan shalat Subuh.”
“Kalau mau shalat Dzuhur ?” Tanya Hani
“Kalau mau shalat Dzuhur, mandilah kurang lebih satu jam sebelum masuk waktu shalat Ashar, pakai lagi pembalut, lalu wudhu dan shalat Dzuhur. Ketika waktu ashar tiba, wudhulah kembali, dan shalat Ashar
“Tidak usah mandi lagi ?” Tanya Fani
“Tidak usah…”
“Apakah pembalutnya ganti lagi, pak ?” Tanya Lisa
“Sebaiknya kemaluanya dibersihkan, dan pembalutnya diganti.”
“Kalau mau shalat magrib, gimana pak ?” Tanya Fani
“Setelah waktu maghrib tiba, kamu mandi dengan niat menghilangkan hadats besar lagi, pakai pembalut lagi, lalu wudhu dan shalat maghrib. Ketika waktu Isya tiba, kamu wudhu lagi, dan tunaikan shalat Isya. Begitu seterusnya.” Papar ustadz Hamdi.
“Jadi intinya mandinya cukup tiga kali ?” Kembali Lisa menyimpulkan.
“Iya….”
“Bagaimana Zahra ….? Paham ?” Tanya ustadz Hamdi
“Iya, pak. Saya paham.” Jawab Zahra
“Bagaimana yang lain, ada yang mau ditanyakan lagi ?” Tanya ustadz Hamdi.
“Tidak ada, pak. Terima kasih atas penjelasanya. Mudah-mudahan penjelasan bapak bermanfaat bagi kami.
“Amiiin.” Ustadz mengaminkan. Nah…., sekarang tiba saatnya makan cemilan. Ayo silahkan ! Ustadz Hamdi mempersilahkan.
Lisa, Fani, Hani, dan Zahra menikmati hidangan yang sudah disiapkan ustadz Hamdi dengan, senang dan riang gembira.
Kreator : Baenuri
Comment Closed: Darah
Sorry, comment are closed for this post.