Perjalanan ke Jerman bukan sekadar tentang menapaki tanah Eropa yang dulu hanya bisa kulihat di peta atau layar televisi. Ada banyak pelajaran berharga yang kudapatkan dari negeri yang dikenal dengan teknologi dan kedisiplinannya ini. Sebagai negara maju, sistem pendidikan mereka benar-benar membuatku kagum. Cara mereka memanusiakan manusia, menempatkan guru sebagai profesi yang sangat dihormati, dan bagaimana anak-anak didik diberikan ruang untuk berekspresi, menjadi pelajaran yang tak ternilai untuk kubawa pulang ke tanah air.
Aku dan rombongan mendapat kesempatan mengunjungi beberapa institusi pendidikan di sana. Mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga lembaga pendidikan tinggi. Hal yang paling mencolok adalah bagaimana sekolah-sekolah di sana sangat ramah anak. Ruang-ruang kelas didesain nyaman, alat peraga lengkap, dan guru-gurunya sangat dekat dengan murid. Tidak ada sekat atau jarak yang membuat murid takut menyampaikan pendapatnya.
Bukan hanya di ruang kelas, budaya disiplin dan tertib mereka juga tampak di kehidupan sehari-hari. Transportasi umum yang selalu tepat waktu, warga yang sangat menghargai aturan, dan lingkungan yang bersih, membuatku seolah berada di dunia yang benar-benar berbeda. Di sela-sela kunjungan itu, aku sering merenung, betapa masih banyak hal yang perlu dibenahi di negeri kita, terutama dalam dunia pendidikan.
Di antara kunjungan ke berbagai institusi pendidikan, ada satu pengalaman yang sangat membekas di ingatanku, saat kami berkunjung ke salah satu sekolah di Jerman. Sekolah ini cukup besar, dengan fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang sangat rapi. Tapi bukan hanya soal fasilitasnya yang membuatku kagum, melainkan budaya disiplin dan tertib yang benar-benar diterapkan di sana.
Sejak masuk ke area sekolah, suasananya sudah berbeda. Anak-anak berjalan dengan tertib, tidak ada yang berteriak atau berlarian sembarangan. Setiap orang tahu apa yang harus dilakukan, dan melakukan itu dengan penuh kesadaran. Bahkan di area kantin sekolah, yang biasanya di Indonesia identik dengan keramaian dan suara riuh, di sini suasananya tetap tenang.
Ketika jam makan siang tiba, kami diajak menuju kantin sekolah. Semua siswa, guru, bahkan kepala sekolah antre dengan tertib, mengambil makanan dengan sistem self-service. Tidak ada yang menyerobot, tidak ada suara gaduh layaknya pasar. Semua berjalan sesuai barisan masing-masing, saling menghormati, dan tetap menjaga suasana tetap nyaman.
Aku sempat berdiri di pojok, memperhatikan pemandangan itu dengan takjub. Betapa budaya disiplin itu tidak hanya diajarkan lewat teori di kelas, tapi benar-benar dibiasakan dalam keseharian. Keteladanan para guru dan kepala sekolah yang ikut antre bersama murid-muridnya menjadi contoh nyata bahwa pendidikan karakter memang seharusnya dimulai dari atas.
Pemandangan sederhana di kantin sekolah itu justru menjadi pelajaran besar bagiku. Bahwa disiplin, ketertiban, dan saling menghargai tidak harus diteriakkan lewat aturan, tapi cukup dibiasakan dengan keteladanan dan konsistensi.
Di akhir pekan, kami diberi waktu bebas untuk berkunjung ke kota lain di luar Jerman. Saat itulah salah satu mimpi masa kecilku akhirnya terwujud, Paris. Kota impian yang sejak dulu hanya bisa kubayangkan lewat buku-buku pelajaran dan film.
Sejak dulu, Paris selalu menjadi kota impianku. Setiap kali melihat teman-teman atau artis-artis foto dan membuat vlog di Paris, aku suka membayangkan diriku berada di sana. Bahkan di meja belajarku di rumah, aku punya sebuah miniatur Menara Eiffel kecil berwarna perak, hadiah dari bibiku yang bersuami orang Belgia, yang tahu betapa aku ingin sekali ke Paris suatu hari nanti. Miniatur itu selalu menemaniku saat belajar, seolah menjadi pengingat bahwa suatu saat aku harus sampai di sana. Dan hari itu, mimpi yang dulu hanya kubisikkan dalam hati benar-benar menjadi nyata.
Begitu tiba di Paris, rasanya seperti masuk ke dalam cerita dongeng. Bangunan-bangunan tua yang artistik, jalanan yang dipenuhi kafe-kafe kecil di tepi trotoar, dan tentu saja, Menara Eiffel yang megah itu. Aku berdiri lama di depannya, membiarkan angin musim gugur menyentuh wajahku. Rasanya ingin kubekukan momen itu.
Tak sekadar berfoto di bawahnya, aku juga memberanikan diri untuk naik ke atas Menara Eiffel. Bersama beberapa teman, kami menaiki anak tangga demi anak tangga menuju lantai atas menara. Nafas terasa sedikit berat, kaki mulai pegal, tapi semangatku tak surut sedikit pun. Setiap pijakan tangga terasa seperti anak tangga menuju impian yang selama ini kusembunyikan.
Ketika akhirnya sampai di lantai atas, aku terpaku. Pemandangan Kota Paris dari atas Menara Eiffel sungguh luar biasa. Gedung-gedung tua, jalanan yang berkelok, dan sungai Seine yang membelah kota tampak seperti lukisan hidup. Di titik itu, aku merasa seperti sedang berada dalam mimpi panjang yang indah. Semua hal di sekeliling terasa tak nyata, seolah-olah aku sedang memainkan peran dalam film yang selama ini hanya kutonton dari jauh.
Aku berdiri lama di sana, memandangi kota impian yang dulu hanya bisa kusebutkan dalam khayal dan angan-angan kecil di kamar sempit, di desa yang jauh dari hingar-bingar kota. Rasanya seperti bisikan kecil di hatiku berkata, “Lihat, mimpimu tidak mengkhianati perjuanganmu.”
Aku dan teman-teman mengabadikan momen di beberapa ikon kota Paris, mulai dari Arc de Triomphe, Museum Louvre, hingga berjalan di sepanjang Champs-Élysées. Malam harinya, kami menikmati cahaya Menara Eiffel yang berkilauan, sesuatu yang sebelumnya hanya ada di daftar impian.
Di Paris, aku belajar satu hal: Mimpi itu nyata selama kita percaya dan berusaha. Siapa sangka, anak kampung dari kaki bukit desa kecil itu bisa berdiri di bawah, bahkan di atas Menara Eiffel, menikmati senja di kota yang dulu hanya ada di khayalanku.
Kreator : Kade Restika Dewi
Comment Closed: Dari Miniatur ke Menara Asli (Chapter 15)
Sorry, comment are closed for this post.