KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Dari Srimelati ke Mancanegara Bab 12-14

    Dari Srimelati ke Mancanegara Bab 12-14

    BY 10 Sep 2025 Dilihat: 66 kali
    Dari Sri Melati ke Mancanegara_alineaku

    Bab : XII Mengenal Negeri Swedia

         Sambil belajar agama di Makkah, Ilham juga studi diploma teknik perminyakan di sana. Ia ingin nantinya menjadi pengusaha minyak di Arab Saudi dan bermukim di sana, tapi masih terkendala dengan perizinan dari pemerintah Arab yang sulit untuk menerima orang asing menjadi warga negara mereka. Untuk sementara waktu, Ilham belum bisa pulang kampung karena akan menyelesaikan studinya di Makkah. Sesekali dia merenung bagaimana akan melaksanakan amalan jariyah semasa hidup kalau ilmu agama dan ilmu teknologi belum dapat dikuasai. Tak henti-hentinya dia berdoa agar Tuhan memberikan petunjuk dan rahmat terhadap apa yang dicita-citakannya sesuai dengan harapan leluhur dan gurunya di kampung halaman dahulu. Orang tuanya dulu berharap dia jadi dokter agar memberi manfaat bagi orang banyak. Karenanya, Ilham perlu menghasilkan uang, yang mana nanti dapat membantu saudara-saudaranya dalam menuntut ilmu agar cita-cita orang tuanya tercapai.

        Di dusun Srimelati sudah banyak anak-anak yang berhasil mencapai cita-citanya. Bukan seperti dulu, jarang anak yang sekolah tinggi karena kehidupan memang masih minim. Mereka cuma tinggal di dusun saja, tidak kemana-mana, apalagi perempuan. Cuma ibu rumah tangga belaka, yang penting sudah bisa baca tulis, cukuplah. Di zaman sekarang yang sudah canggih, banyak informasi yang didapat sehingga banyak pula yang bercita-cita tinggi. Namun, soal akhlak tetaplah yang utama. Dari kecil anak-anak sudah diajarkan bersosialisasi dengan baik, jangan arogan, sopan santun, mandiri, bertanggung jawab, jangan malas dan bergaul dengan siapa saja, jangan pilih-pilih teman. Hal seperti ini sudah ditanamkan sejak zaman kakek nenek mereka dulu. Walaupun tinggal di dusun, mereka tetap gembira, bahagia sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna. 

        Ilham kecil sekarang sudah dewasa, jauh merantau meninggalkan dusun. Orang tuanya berharap dia berhasil dan sukses di negeri orang. Biarlah mereka ikhlas dengan kepergiannya demi masa depan Ilham juga. 

    “Kalau kita tidak bisa menahan rindu, akibatnya anak tidak akan berkembang.” kata ibunya kepada ayah Ilham.

    Ayahnya mengangguk, tapi dalam hatinya pilu tak terkira. Matanya berkaca-kaca.

    Dulu, Ilham sering membantunya menderes getah. Dia anak yang patuh pada orang tua, tak pernah membantah kalau diperintah. Sekarang mereka terpisah jauh. Semoga suatu saat akan dipertemukan kembali.

    Ilham pun selalu ingat masa indah di dusun bersama keluarga dan teman-teman. Masa kecil memang menyenangkan, selalu gembira tak ada pikiran macam-macam. Yang penting sekolah, bantu orang tua, mengaji dan lain sebagainya. Rindu ia akan gurunya, semakin menambah semangatnya. Terbayang wajah gurunya yang bercahaya, jernih, selalu mendorong Ilham untuk maju. Semoga Syekh Maulana diberi kesehatan dan kebahagiaan selalu.

    Ia teringat ketika gurunya berkata, “Kamu jangan pulang sebelum berhasil. Aku malu kalau kamu gagal.”

    Gurunya itu tidak mempunyai anak, sehingga ia menganggap Ilham seperti anaknya sendiri. Ia ingin Ilham nanti menggantikannya sebagai mursyid di dusun Srimelati. Pesantren Syekh Mukhlis sudah menunggu kedatangannya. 

    “Guruku, jangan wafat sebelum aku kembali.” batinnya.

    Kecintaannya pada dusun lamanya memacu semangat untuk terus berjuang di negeri orang. Meskipun ramai, terasa sepi baginya. Apalagi kalau ingat orang tuanya yang semakin sepuh, bercucuran air matanya. Sebagai anak laki-laki sulung, ia bertekad membahagiakan keluarganya. Biarlah dia yang menjadi tulang punggung. Bila ada hasil kerjanya di Makkah (kerja sambilan sebagai muthawif) akan dikirimkan ke dusun walaupun cuma sedikit, itulah tanda baktinya. 

        Setelah Ilham tamat dari studinya, dia melamar pekerjaan di perusahaan minyak ternama di Arab yaitu Saudi Arabian Oil Company. Saudi Aramco adalah perusahaan minyak terbesar di dunia baik dari segi produksi minyak mentah, cadangan minyak maupun nilai perusahaan. Didirikan oleh pemerintah Arab Saudi, berpusat di Dhahran dan berperan besar dalam perekonomian negara tersebut. Pertama-tama Ilham internship dulu, seperti magang dengan gaji yang lumayan. Alhamdulillah, dia dapat mengirim uang lebih banyak ke orang tuanya di dusun. orang tuanya juga sangat gembira dengan keberhasilan Ilham. 

         Sebagai karyawan baru di perusahaan ini, Ilham ditunjuk untuk mendampingi supervisor saat inspeksi atau operasional, sambil pelatihan tentang standar kerja, keselamatan dan peraturan perusahaan, mempelajari proses produksi, pengeboran atau maintenance, mengumpulkan data operasi, membantu analisis sederhana di laboratorium atau di lapangan, membuat laporan teknis harian (mingguan) dan kerjanya selalu dalam pengawasan mentor, lebih fokus ke belajar, observasi dan membantu pekerjaan administratif teknis. Semua laporan ditulis dalam bahasa Inggris. Karena memang Ilham ini orangnya cerdas, dalam waktu satu tahun dia sudah diangkat menjadi supervisor dan gajinya pun bertambah. Alhamdulillah, Tuhan selalu berpihak pada insan yang ikhlas dan berjuang sekuat daya untuk mewujudkan mimpi dengan gaji sekitar $15000 ditambah tunjangan-tunjangan. Perumahan dan tiket pesawat setiap tahun cukuplah bagi Ilham untuk kebutuhannya dan keluarganya di dusun. Hanya anak yang bertekad kuat, penuh pengabdian, tidak lupa untuk berbagi seperti Ilham yang dapat berhasil meraih impiannya.

    Kedisiplinan, rajin, tegar, tutur kata yang santun, membuat atasan Ilham, Mister Antony yang berasal dari Swedia, selalu memperhatikan gerak geriknya. 

    “Anak ini berbeda dengan yang lain,” kata hatinya hingga Mister Antony tidak segan memberikan ilmunya untuk Ilham. Bertambah banyaklah pengetahuan Ilham tentang perminyakan dan bertambah pula lah kesempatan untuk mendapatkan posisi yang lebih baik.

    Suatu hari, Mister Antony mengundang Ilham untuk makan malam di rumahnya. Akan tetapi, Ilham menolak.

    “Maaf, tuan. Bukan saya tidak mau, tapi selera kita berbeda. Nanti saya mengecewakan tuan.” ucap Ilham.

    “Bukan begitu, Ilham. Kalau kamu takut makanan haram, saya tidak akan menyediakannya karena di rumah kami ada asisten rumah tangga seorang muslim, jadi kami tidak pernah makan yang begituan.” jawab Antony.

    “Baiklah, tuan. Akan saya usahakan datang.”

    Walaupun Ilham ragu, namun dia pergi juga malam itu ke rumah Mister Antony. Sesampainya disana, sudah tersedia makanan di atas meja. Ilham disambut oleh Mister Antony dan anaknya, Elizabeth, beserta asisten rumah tangganya. Ilham bertanya, “Ibu dimana, tuan?”

    “Ibu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”

    ”Oh, maaf tuan. Saya tidak tahu.”

    “Tidak apa-apa, Ilham. Kami sudah mengikhlaskan kepergiannya. Tak ada yang harus disedihkan. Dia sudah tenang di sana.”

    Mereka pun beramah tamah malam itu. Mister Antony banyak bertanya tentang keluarga Ilham, tentang Indonesia dan masih banyak lagi. Keakraban mereka makin intens dari hari ke hari.

    Suatu hari, Mister Antony berkata pada anaknya, Elizabeth. “Seandainya Daddy jodohkan kamu dengan Ilham, bagaimana? “

    ”Mana mungkin lah, Daddy. Kita kan beda keyakinan.” 

    “Tidak apa-apa kalau kamu mau ikut keyakinannya, Ibeth.”

    “Tidak mau, Daddy. kecuali kalau Daddy juga hijrah.”

    “Kita tunggu saja ya bagaimana baiknya nanti.” ujar Mister Antony. 

        Sementara orang tua Ilham di dusun sudah menyediakan calon istri untuk anaknya, seorang gadis yang sudah bekerja menjadi guru di kota Palembang. Gadis dusun yang menurut orang tuanya selaras dengan Ilham.

       Setahun setelah itu, Mister Antony bersedia memeluk Islam. Bersama Elizabeth dia mengucapkan dua kalimah syahadat di depan saksi-saksi dan ustadz lalu ia menikahkan Elizabeth dengan Ilham. Sebelumnya, Ilham telah memberi tahu orang tuanya bahwa ia tidak bisa mengabulkan permintaan mereka karena pertemuannya dengan Elizabeth sudah lama berlangsung. 

        Setelah menikah, ia diajak mertuanya ke Swedia. Orang-orang disana terbuka, menjunjung tinggi kesetaraan, tidak merasa lebih baik dari orang lain, mengedepankan kesederhanaan dan kebersamaan. Tradisi mereka merayakan tarian festival cahaya setiap tanggal 13 Desember, simbol datangnya terang di musim dingin. Bahasa resminya adalah bahasa Swedia, tapi banyak yang fasih bahasa Inggris. Gaya komunikasi cenderung tenang, sopan dan tidak suka konfrontasi. Seni rakyat berupa sulaman dan lukisan tradisional. Masakan mereka salmon asap, acar. Produk roti dan pastry sangat digemari. Kebebasan beragama dijunjung tinggi. Gaya hidupnya dekat dengan alam, gemar aktivitas di luar ruangan seperti ski, hiking, bersepeda. 

    Muslim di sana minoritas sekitar 8% dari populasi. Ada banyak masjid besar seperti masjid Stockholm dan masjid Malino. Hari besar seperti idul fitri dan idul adha diakui secara sosial di komunitas walaupun bukan hari libur nasional. Nilai kehidupan tidak berlebihan dan tidak berkekurangan. Prinsip ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari seperti makan, berpakaian, bekerja, mengajarkan hidup sederhana, jujur dan tidak suka pamer. 

        Humairah, seorang mahasiswa Indonesia baru tiga bulan tinggal di Stockholm untuk studi, pada awalnya merasa canggung apalagi berhijab di tengah masyarakat yang sekuler. Suatu hari setelah kelas, teman-teman mengajaknya ke kantin kampus.

    “Boleh, tapi aku pesan teh aja.” kata Humaira. 

         Mereka mengobrol tentang kuliah, kuliner dan apa saja. Seorang temannya bertanya, “Aku penasaran kenapa kamu selalu pakai hijab?”

        Humaira menjawab, “Bagiku, ini bukan sekedar pakaian, tapi bagian dari keyakinanku kepada Tuhan.” Temannya mengangguk. 

      Sejak saat itu, Humaira tidak lagi merasa asing. Ia sering berdiskusi dengan teman-temannya. Ternyata, menjadi muslimah di Swedia bukan tentang harus sama, tapi saling memahami dan menghargai perbedaan.

        Humaira datang dari Palembang Indonesia diterima di program magister kebudayaan. Hijab pink jadi satu-satunya warna cerah diantara jaket-jaket hitam mahasiswa. Saat di asrama, dia sekamar dengan Elisa, gadis Swedia yang tinggi dan ramah. 

       Malam pertama dia tertegun melihat Elisa menyalakan lilin di jendela. Humaira pun teringat ayat al Qur’an ”Dan, dari kegelapan menuju cahaya.” Beda tradisi, tapi sama mencari cahaya. 

       Di bulan Ramadhan, dia duduk sahur pukul 02.30 dini hari. Musim semi di Swedia memang aneh, matahari terbenam pukul 21.00 dan terbit lagi pukul 03.00. Jadi, ia puasa selama 18 jam. Humaira menarik nafas. Tapi, dia yakin Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Di kampus ia ditawari temannya minum. 

    “Saya lagi puasa.” katanya.

       Lalu, mereka kumpul-kumpul setelah maghrib untuk menghargai Humaira. Malamnya, di masjid banyak yang tarawih. Bukan saja orang Arab, ada juga dari Afrika, Turki dan Asia Tenggara. Humaira berkenalan dengan Aminah, mahasiswa dari Somalia. Humaira terharu di negeri yang jauh ukhuwah terasa lebih dekat. 

      Suatu malam, Elisa masuk ke kamar Humaira membawa sekotak makanan. Humaira menahan air mata terharu. 

      “Terima kasih, engkau sahabat yang sangat baik.” Elisa tersenyum sambil mengangkat jempol. 

        Suatu hari, presentasi Humaira dan kelompoknya tidak diterima dosen. Ia menangis, bersama teman-temannya sebab mereka mengulang kembali presentasinya hingga mereka mengulang di depan dosen. Ruangan hening, lalu dosen bertepuk tangan. Humaira menatap Elisa dan Aminah, sahabat yang telah membantunya. 

         Ketika libur musim panas, Humaira tidak pulang ke Indonesia. Elisa mengajaknya ke desa di utara Swedia. “Kamu bisa ikut ke pesta tradisional.”

    Rumah kayu berwarna merah, hamparan bunga dan udara bersih, Elisa memperkenalkan keluarganya. Mereka menyambut Humaira dengan hangat. 

    Di masjid Stockholm, Humaira ikut pengajian komunitas Indonesia. Ustadzah berkata, “Dimanapun kamu tinggal, kalau ada iman dan persaudaraan, disitulah rumahmu.” 

    Humaira merasa tenang, bukan saja di Palembang, tapi rumah di hati orang-orang yang tulus. 

        Di Swedia Mister Antony memiliki peternakan sapi potong ribuan jumlahnya, dimana sapi Swedia terkenal dengan kualitasnya yang tinggi. Pakan ternak di Swedia berasal dari hasil pertanian lokal, minim menggunakan bahan kimia. Petani lebih memilih pakan organik untuk menjaga kualitas daging dan susu. Kotoran hewan dimanfaatkan sebagai pupuk alam untuk pertanian organik. Beberapa peternakan menggunakan biogas dari limbah ternak untuk energi listrik atau pemanas. Bila musim dingin panjang, kandang dibuat hangat, nyaman dan hemat energi. Di musim panas, hewan dilepaskan ke padang rumput yang hijau. Beberapa peternakan menyediakan daging halal untuk kebutuhan komunitas muslim, disembelih oleh muslim bersertifikat biasanya dilakukan di rumah potong. 

         Ada seorang muslimah bernama Hasanah. Pagi itu, musim semi baru saja tiba. Kabut tipis masih menggantung di antara bukit dan ladang hijau di desa kecil. Dari kejauhan terdengar suara lembut lonceng sapi yang menggema.

    Hasanah berdiri di dekat pagar kayu, menatap sekelompok sapi perah berwarna cokelat yang baru saja dilepaskan dari kandang. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma rumput basah dan tanah segar.

       Setelah menyelesaikan kuliah peternakan di Indonesia, Hasanah mendapat beasiswa dari pemerintah Swedia untuk belajar pertanian dan peternakan selama satu tahun. Ia membawa sebuah misi: mempelajari sistem peternakan halal sekaligus membangun jembatan budaya antara Islam dan Barat.

        Hasanah tak pernah melewatkan sholat Subuh, meskipun dingin menusuk tulang di ruang kecil yang disediakan oleh orang tua angkatnya di Swedia. Seusai salat, ia menggelar sajadah sebentar untuk berdoa, lalu melanjutkan rutinitas memerah susu dan memberi pakan.

        Pemilik peternakan awalnya bingung melihat Hasanah berhenti bekerja di tengah hari untuk menjalankan ritual tertentu. Namun setelah ia menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari ibadah, mereka justru menghormatinya.

    Ketika salju pertama turun, Hasanah duduk di dalam kandang hangat sambil memegang kitab berisi dzikir. Ia menulis dalam catatannya:

    “Betapa luas bumi Allah. Di tempat sejauh ini dari rumah, aku justru menemukan kedamaian. Aku tak sendiri, Allah bersamaku.”

    Salju mulai mencair, digantikan oleh desir angin hangat musim semi. Pada tahun keduanya di Swedia, Hasanah mengambil waktu libur. Langkahnya menyusuri jalan setapak berbatu di antara pepohonan tinggi menjulang, ditemani sinar matahari yang menembus celah-celah daun. Hasanah merasa seolah-olah masuk ke dalam masjid alam.

    Ia berhenti di sebuah tempat terbuka. Di sana, ia menggelar alas kecil lalu duduk bersila. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara angin dan burung berkicau. Hasanah membuka mushaf saku miliknya, lalu membaca Surah Ar-Rahman. Saat sampai pada ayat yang berulang,

    *”Fabi ayyi aalaa’i rabbikuma tukadzdziban” — *
    Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

    Air matanya mengalir. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang mendalam.

    “Aku jauh dari rumah, tapi dekat dengan Allah,” gumamnya. Subhanallah, di balik hutan sunyi ini ada kedamaian. Alhamdulillah, aku bisa menjalani Islam dengan lapang, bahkan di negeri asing. Allahu Akbar, tak ada yang lebih luas dari rahmat-Nya.

    Ia lalu mencatat dalam buku hariannya:

    “Mungkin aku ke sini bukan sekadar belajar beternak, tapi juga untuk menyaksikan tanda-tanda Allah dalam ciptaan-Nya. Bahwa Islam bukan hanya di masjid, tetapi juga di ladang, di kandang, di hutan, dan di hati.”

        Suatu sore di musim gugur, suasana rumah pemilik peternakan, Tuan Frederick dan Nyonya Yossy, terasa hangat. Hasanah sedang bersenandung kecil ketika tiba-tiba Yossy bertanya,

    “Hasanah, bolehkah aku mengetahui sesuatu yang agak pribadi?”

    “Tentu, silahkan,” jawab Hasanah lembut.

    “Mengapa kamu selalu kelihatan tenang? Bahkan saat lelah, atau ketika sapi-sapi kita sulit diatur?”

    Hasanah tersenyum. “Karena aku percaya, segalanya ada dalam kendali Allah. Aku hanya melakukan yang terbaik.”

    Hari demi hari, pertanyaan Yossy semakin banyak: Apa itu shalat? Mengapa muslim tidak makan babi? Apa yang kamu rasakan saat membaca Al-Qur’an? Hasanah menjawab dengan sabar. Ia tidak menggurui, tidak pula memaksa, hanya berbagi.

    Malam itu, setelah maghrib, Yossy terdiam. Ia tidak mengeluarkan suara, namun di matanya ada sesuatu yang berubah: ketenangan yang meresap ke relung hati.

    Hasanah menulis dalam buku hariannya:

    “Kadang dakwah tidak perlu banyak kata. Cukup adab dan kebaikan yang konsisten.”

        Usai liburan, Mister Antony dan keluarganya kembali ke Makkah untuk bekerja. Di sana, Elizabeth mulai belajar mengaji. Ia bergabung dengan sebuah yayasan pembina mualaf di kota suci itu. Kegiatannya beragam: mengikuti pengajian di Masjidil Haram, menghadiri ceramah rutin, kursus singkat tentang dasar-dasar Islam, diskusi harian, hingga program umrah dan haji, juga bimbingan ibadah serta pembekalan hidup Islami. Semua biaya tersebut ditanggung oleh sponsor dari negara-negara teluk.

    Setelah menguasai dasar-dasar Islam, Elizabeth mulai mempelajari ilmu fiqih secara lebih mendalam. Selama setahun belajar, ia bahkan sudah diperbolehkan mengajar anak-anak mualaf mengaji.

       Sementara itu, karier Ilham kian melesat. Ia kini menjadi manajer dengan gaji 20.000 dolar serta bonus tahunan yang besar. Kebutuhan rumah tangga tercukupi dengan baik, bahkan ada kelebihan yang ia tabung sebagai persiapan untuk kembali ke tanah air.

      Lima tahun bekerja di perusahaan minyak tersebut, Ilham sudah bisa memiliki saham di perusahaan itu. Di sisi lain, Mister Antony semakin menua. Ia memutuskan pensiun dan pulang ke Swedia untuk mengurus peternakan sapinya. Ia tidak lagi mengejar dunia; hari-harinya lebih banyak diisi dengan berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Duduk berlama-lama dalam munajat justru membuatnya merasa damai.

       Keuntungan dari hasil penjualan sapi ia serahkan kepada Elizabeth, anak tunggalnya yang kelak akan mewarisi seluruh harta miliknya. Uang itu oleh Elizabeth ditabung untuk bekal jika suatu hari ia dan suaminya pindah ke Indonesia.

     

    Bab XIII : Pindah ke Cilacap

        Lima tahun berikutnya, Ilham merasa sudah cukup mapan untuk pindah ke Srimelati. Saat itu, ayah Elizabeth telah meninggal dunia. Sebelum kepindahan mereka, Ilham membeli sebidang lahan di Ogan Ilir, tidak jauh dari dusunnya, untuk ditanami jeruk sebagai investasi masa depan.

      Sementara itu, peternakan sapi di Swedia sudah ada yang mengurus, yakni keluarga Elizabeth sendiri. Setelah semua urusan selesai, Ilham mengajukan pengunduran diri dari Saudi Aramco. Pihak CEO Aramco menyarankan agar Ilham pindah ke Cilacap, karena perusahaan itu secara rutin mengekspor minyak mentah ke Indonesia yang diproses di kilang minyak besar Cilacap. Akhirnya, usaha kebun jeruk yang ia rintis diserahkan kepada saudaranya untuk mengurus segala sesuatunya.

       Saudara Ilham mulai mencari bibit jeruk yang baik. Pilihannya jatuh pada jeruk Pontianak yang memang didatangkan langsung dari sana. Setelah tanah digemburkan dan dibuat bedengan, setiap lubang tanam diberi pupuk kandang, dipasang tiang bambu sebagai penyangga, lalu disiram. Penyiraman dilakukan dua sampai tiga kali seminggu, atau lebih sering ketika musim kemarau. Pemupukan diberikan setiap tiga bulan sekali. Jika ada rumput di sekitar pohon, harus disiangi, dan cabang yang terlalu rimbun perlu dipangkas. Umumnya, jeruk mulai berbuah setelah dua sampai tiga tahun. Penting diingat: jangan memberi pupuk saat tanah kering—tanah harus disiram terlebih dahulu.

        Pertama kali tinggal di Cilacap, Ilham mengajak Elizabeth mengenal daerah sekitarnya. Mereka berkunjung ke Pantai Teluk Penyu, yang terletak sekitar dua kilometer dari pusat kota. Pantai berpasir cokelat ini terkenal sebagai tempat populer untuk menyaksikan sunset, sekaligus titik keberangkatan perahu menuju Pulau Nusakambangan.

    Pulau Nusakambangan memiliki julukan “pulau cinta alam” sekaligus dikenal sebagai “Alcatraz-nya Indonesia”, karena disana terdapat penjara dengan tingkat keamanan tinggi bagi narapidana kelas berat (pelaku kejahatan luar biasa). Akses masuk ke area penjara sangat terbatas dan dijaga ketat. Hanya petugas, keluarga tahanan dengan izin, atau tim tertentu yang diperbolehkan masuk.

    Namun, di balik citranya sebagai pulau penjara, Nusakambangan menyimpan keindahan alam yang luar biasa. Wisatawan yang ingin menikmati pantainya hanya diperbolehkan masuk ke area yang dikelola oleh Dinas Pariwisata. Di sana terdapat Pantai Karang Bolong yang bisa dicapai dengan perahu dari Teluk Penyu. Selain pesona pantai, Cilacap juga menawarkan wisata alam dan pegunungan, dengan udara segar serta keindahan lingkungan yang masih asri.

        Mayoritas penduduk Cilacap hidup dari pertanian, perkebunan, perikanan laut dan tambak udang/bandeng, terutama di wilayah pesisir. Orang-orangnya ramah, banyak desa masih mengandalkan gotong royong dan tradisi lokal seperti sedekah laut dan ruwatan bumi, sedekah laut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Allah atas hasil laut dan memohon kesehatan serta rezeki yang melimpah. Ini telah menjadi warisan budaya yang sakral dan meriah. Biasanya dilaksanakan sekali setahun, waktu yang paling umum di bulan sura (Muharram) atau saat panen laut melimpah. Persiapan adalah sesaji yang dilakukan oleh pemuka adat, nelayan senior dan tokoh masyarakat berupa kepala kerbau atau kambing, nasi tumpeng, lauk pauk, kembang tujuh rupa, dupa, hasil bumi dan laut seperti pisang, kelapa, ikan dll, miniatur kapal kecil. Semua ditata dalam tandu dan diletakkan di atas perahu utama. Sebelum pelarungan diadakan pengajian, do’a bersama, kirab budaya dari balai desa ke pelabuhan, diiringi musik tradisional, kemudian perahu membawa tandu ke tengah laut, biasanya di Teluk Penyu. Sesaji dilarung ke laut sambil membaca doa keselamatan, diiringi ratusan perahu nelayan dan kapal kecil yang mengikuti dari belakang. Terkadang, masyarakat melempar bunga dan uang logam ke laut sebagai simbol pengharapan dan penghormatan. Setelah pelarungan dilanjutkan dengan pasar malam, lomba perahu hias, makan bersama hingga hiburan rakyat. Warga dan wisatawan dari luar daerah ramai menyaksikan acara ini. Meskipun asalnya ada unsur kepercayaan, namun unsur Islam mulai diutamakan dengan membaca do’a kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Sesaji hanya simbol bukan sesembahan. Tujuan sedekah laut untuk bersyukur, menguatkan hubungan antar warga dan melestarikan warisan budaya. 

        Elizabeth sangat terkesan dengan upacara ini yang berbeda dengan Swedia. Kalau di sana bila hasil laut melimpah mereka mengadakan festival panen dengan ciri pasar petani lokal menjual hasil bumi segar. Acara seni dan musik tradisional digelar, masyarakat berbagi makanan lokal hasil panen. Masyarakat Swedia mengutamakan kesederhanaan, tidak berlebihan dalam konsumsi makan, menjaga ekosistem laut dan hutan tetap lestari, mengadakan jamuan makan keluarga dengan hasil panen mereka seperti ikan asap, kentang rebus, acar dan sebagainya. Suasana kekeluargaan ditekankan, bukan kemewahan, berbagi dengan komunitas tetangga, teman bahkan komunitas sosial, mengadakan doa syukur pribadi, dan merenung sesuai nilai spiritual.

        Dalam kurun waktu yang tak begitu lama, Elizabeth sudah dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan Indonesia dan kulinernya. Seperti mendoan (tempe tipis digoreng setengah matang dengan balutan tepung) dicocol sambal kecap rawit, rasanya gurih dan lembut. Sate yang terbuat dari ikan laut (tenggiri, kakap) dilumuri sambal kacang. Kepiting saus pedas, yang memang di sini banyak menghasilkan kepiting/udang. Minumannya es dawet, ikan bakar, udang goreng tepung, kerang rebus, kerang saus tiram dimakan dengan cocolan sambal jeruk nipis, cumi bakar dibumbui manis pedas. Semuanya merupakan makanan enak dan bergizi.

        Hasil laut ini umumnya diambil oleh masyarakat secara pribadi untuk dapur mereka. Kalau ada kelebihan dari hasil laut, mereka buat ikan asin dan pindang yang diawetkan untuk cadangan bila suatu saat tidak bisa melaut. Dari hasil laut mereka hidup, dan laut tak pernah ingkar: mengajarkan cara bersyukur, sabar, bukan hanya saat perahu penuh, tapi saat dapur masih mengepul walau badai datang.

        Pagi yang indah, langit bersih, ombak di Teluk Penyu tenang. Elizabeth duduk di tepi pantai, di kejauhan ia melihat seorang ibu yang sedang menjemur ikan asin. Elizabeth mendekatinya. “Halo, selamat pagi.”

    ”Anda dari mana?” tanya ibu itu.

    “Dari Swedia.”

    “Turis, ya?” 

    ”Bukan, saya ikut suami yang orang Indonesia.”

    “Masya Allah,” ibu tadi terkagum-kagum.

    “Di Swedia ada laut kah?”

    “Ada, Bu. Tapi, ga ada ikan asin.” mereka tertawa. 

    “Bagaimana caranya anda bisa menikah dengan dengan orang Indonesia?”

    Lalu, Elizabeth menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Ilham, bagaimana dia menjadi mualaf. Ibu tadi sangat terharu mendengar cerita Elizabeth.

    ”Apakah anda tidak rindu pada tempat lahir anda?”

    “Rindu, Bu. Tapi, saya wajib ikut suami saya dan Ayah saya percaya saya akan bahagia di samping suami.”

    Elizabeth sangat senang duduk di tepi pantai. Baginya, laut adalah gambaran kehidupan yang kadang tenang, kadang bergelora. Dari laut dia bisa menikmati ciptaan Tuhan. Laut menyemangatinya untuk selalu bersama Sang Pencipta, kapan saja, dimana saja. Irama laut yang syahdu ibarat seorang hamba yang pasrah akan kehendak Tuhan apapun itu. Laut senantiasa bergelora dalam sepi hingga perindu akan menitikkan air mata mengingat sesuatu yang menggundah gulana kan hatinya. 

        Seorang pelaut pasti merindukan pantai untuk berlabuh istirahat sejenak sambil menata hati, ketika mengarungi samudra nan luas seolah tak bertepi jauh dari kampung halaman, demikian pula dengan Elizabeth. Terkadang, ia merindukan kampung halaman dimana makam ayahnya ada di sana. Ayahnya dulu sangat menyayanginya, apalagi ibunya sudah lama pergi. Rindunya ini dipendam dalam hati karena ia tahu mata pencaharian Ilham ada di sini. Setelah dua tahun di Cilacap, barulah Elizabeth mengemukakan keinginannya untuk ziarah ke makam ayahnya di Swedia. Ilham memeluknya. “Baiklah, sayangku. Bersiaplah, kita akan melakukan perjalanan kesana.”

       Tak disangkanya, Elizabeth sudah lama kepingin pulang. “Bila kamu ingin menetap di Swedia, aku akan resign dari perusahaan. Biarlah kita mengurus peternakan saja di Swedia.”

       Elizabeth menangis tersedu sedu. “Maafkan aku, Ilham. Mungkin, kalau kita sudah punya keturunan tak akan sepi rasa hatiku.”

    ”Bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja untuk menghibur hatimu?”

    Tangisan Elizabeth makin menjadi-jadi. Tak disangkanya kalau Ilham merisaukan dirinya.

    “Tidak, Ilham. Aku akan sabar menghadapi ini semua. Cuma perlu juga kita sesekali ziarah ke makam Ayah sebagai tanda bakti kita.”

    “Baik, Elizabeth. Apapun maumu asalkan kau bahagia akan ku penuhi.”

    Berangkatlah mereka menuju Swedia. Ilham memutuskan resign dari perusahaan demi kenyamanan istrinya. 

     

    Bab XIV : Kembali ke Swedia

        Dua tahun berlalu, Ilham dan Elizabeth dikaruniai keturunan seorang anak laki-laki yang diberi nama Kudus oleh mereka karena Ilham dan Elizabeth sibuk mengurus peternakan. Mereka memanggil adik Ilham yang perempuan ke Swedia untuk membantu mereka. Emi (adik Ilham) merasa gembira karena belum pernah pergi keluar negeri. Dengan senang hati, dia merawat keponakannya yang ganteng itu. Di sana, Emi berkenalan dengan tetangga sekitar. Di Swedia pergaulan terbuka tapi ada batasnya. Seorang gadis tetangga, bernama Vivian, bertanya padanya. “Kamu dari Indonesia ya?”

    “Iya, dari Srimelati tepatnya.”

    ”Oh, saya pernah ke Bali.”

    “Saya suka Indonesia. Banyak tempat wisata yang indah indah.”

    “Kamu suka jalan-jalan?”

    ”Suka,” kata Emi.

    “Minggu ini ada hiking ke danau. Mau ikut?”

    “Kalau grup-nya campur laki-laki perempuan bagaimana?” tanya Emi.

    “Kalau kamu tidak nyaman, bisa tanya leader-nya. Kita bisa bikin grup cewek-cewek aja.”

    Emi merasa dihargai. Ia ikut hiking pertamanya, dinginnya angin, jalanan licin bersalju, suara teman-teman yang ramah membuatnya merasa diterima. Mereka heran melihat Emi membawa bekal, nasi dan lauk pauk karena dia belum terbiasa dengan makanan di sini.

    “Maaf, Aku nggak minum alkohol.” ucapnya, saat ditawari minuman itu.

    “Santai saja, Emi. Kamu tetap bagian dari grup kok,” 

    Lama kelamaan Emi terbiasa. Dia tetap menjaga nilai-nilainya, sholat pakai hijab, makan makanan halal, bergaul tak harus sama, cukup saling menghormati. 

        Hari-hari musim dingin tiba dengan senyap. Langit Swedia mulai kelabu, salju turun perlahan menutupi kota. bagi Emi, salju adalah keajaiban. Ia berdiri dekat jendela sambil mengamati butiran putih itu menutupi jalan, pohon dan atap-atap rumah.

    “Seperti mimpi,” gumamnya. 

    Namun, keindahan itu tidak berlangsung lama. Setelah satu minggu, ia merasakan akibatnya. Hari yang pendek, udara beku, tubuh lelah hati pun murung. Dia merasakan apa yang disebut orang Swedia depresi musim dingin.

    “Kamu kelihatan capek, Emi.” kata Vivian suatu ketika.

    “Iya, gelap terus susah bangun pagi dan sedih tanpa sebab.”

    “Itu biasa di sini. Musim dingin memang bisa membuat mental menjadi drop.” 

    “Ini sunyi, tapi justru aku bisa mendengar suara hatiku lebih jelas.” 

    Malam dimana Emi membuka al Qur’an, ia menangis lirih. “Salju ini tak abadi, tapi aku ingin iman ini tetap hangat.”

    Suatu sore yang mendung, Emi duduk di beranda. Tiba-tiba Vivian datang.

    “Hai, boleh gabung?”

    “Silahkan.”

    “Emi, aku boleh nanya sesuatu agak pribadi?”

    “Iya, apa itu?”

    “Aku perhatikan, kamu selalu sholat di waktu-waktu tertentu, jaga jarak sama cowok, apa semua itu kamu lakukan karena terpaksa atau karena suka?” 

    “Aku lakukan itu karena aku cinta.”

    “Cinta?” Vivian keheranan.

    “Begitulah caraku mencintai Tuhan-ku,” jawab Emi sumringah. “Bagi kami hidup bukan sekedar bebas, tapi bermakna. Ada arah, ada tujuan.”

    “Aku tak percaya Tuhan. Tapi, aku iri melihatmu. Kamu tenang seperti tahu jalan pulang. Sementara aku, bingung dengan pikiranku sendiri.”

    “Mungkin bukan kamu yang jauh dari Tuhan, tapi kamu yang sedang dicari-Nya.”

       

    Pada minggu berikutnya, Vivian kirim pesan. “Aku ingin ke masjid. Boleh ikut kamu?”

    Emi tersenyum  membacanya. Ia tahu hidayah bukan miliknya, tapi ia bisa jadi jendela bagi cahaya yang datang. 

       Bulan Desember tiba, salju turun lebih deras, pohon cemara berdiri di banyak sudut dihiasi cantik, lagu Natal diputar di toko-toko. Ini pertama kalinya Emi merasakan suasana natal di negara Nasrani yang damai tapi sekuler.

    “Emi, aku dan keluargaku akan libur ke rumah nenek di pedesaan. Kamu mau ikut?”

    Emi ragu-ragu.

    “Tenang, tak ada upacara gereja. Hanya kumpul keluarga, makan-makan dan menyalakan lilin. Kamu bisa bawa makanan halalmu sendiri. Kami ingin kamu jadi bagian dari keluarga kami walau hanya sebentar.”

    Emi memandang Vivian, sahabatnya yang kini seperti jembatan antar dunia. 

    “Boleh, asalkan aku bisa sholat dan tidak ikut ritual agama kalian.”

    “Tentu saja,” jawab Vivian ramah. 

    Di pedesaan itu, dikelilingi oleh hutan pinus bersalju. Di dalam rumah, aroma kayu bakar dan kue kayu manis memenuhi udara. Keluarga Vivian menyambut Emi dengan ramah, bahkan menyediakan ruang kecil di loteng khusus agar dia bisa sholat dengan tenang. Emi terharu, merasa dihargai tanpa dihakimi.

    Malam natal pun tiba, mereka makan malam bersama. Emi membawa nasi, rendang, dan keripik buatan sendiri. Semuanya tertawa saat mencoba makanan Indonesia yang sangat pedas. 

    Sebelum tidur, Emi berbincang dengan nenek Vivian. 

    “Kamu Muslim, ya?” tanya nenek. 

    “Iya, Oma.”

    ”Kamu tidak merasa asing di rumah kami?”

    “Mulanya iya, tapi sekarang sedang belajar saling memahami. Terima kasih sudah menerima saya.”, nenek tersenyum sambil menggenggam tangan Emi. 

        Setelah kembali dari rumah nenek Vivian, sebulan kemudian Vivian datang menemui Emi dan mengejutkannya. Dia memakai kerudung biru yang dililit rapi di kepalanya. 

    “Aku cari tutorial pakai hijab di YouTube semalam.” ujarnya malu. 

    “Kamu cantik, Vivian. Bukan karena hijabnya, tapi karena hati yang tulus.” puji Emi.

    Mereka bersama-sama ke masjid. Di pintu masuk, Emi menjelaskan untuk membuka sepatu, mengambil wudhu dan duduk tenang di ruang khusus perempuan. Vivian duduk di pojok, diam dan mengamati. Tak satupun orang memandangnya aneh, malah menyapanya dengan ramah.

        Hari itu khutbahnya dalam dua bahasa, Swedia dan Arab. Temanya tentang cahaya iman dalam musim-musim gelap.

    ”Kehidupan kok rasanya tenang, ya. Padahal aku tidak begitu paham ”

    “Mungkin bukan kata-katanya yang kamu dengar, tapi getarannya.” jawab Emi.

    Di luar masjid, Vivian berkata, “Emi aku belum siap masuk agama apapun, tapi hari ini aku sadar ternyata Tuhan bukan hal yang asing bagiku.”

    “Kamu tidak harus buru-buru. Bahkan kalau kamu datang untuk mencari ketenangan, masjid akan tetap menyambut.” ucap Emi lembut. Langkah kecil hari ini mungkin belum jadi hidayah, tapi benih itu telah tumbuh. 

    Salju masih turun perlahan. Ketika Emi membuka pintu, di luar berdiri Vivian.

    “Aku punya permintaan aneh, tapi kamu jangan tertawa.” ucap Vivian. 

    “Ajari aku membaca al Qur’an.”

    Emi tertegun. Ia bukan ustadzah, bukan pula guru agama. Tapi ketulusan tak boleh disia-siakan. Mereka mulai dari awal. 

    “Huruf pertama ini Alif,” 

    Vivian mengulang pelan. “A.. Alif,” 

    Emi melanjutkan, “Ba… Ta… Tsa…” 

    Di hari kelima, Vivian bertanya, “Kenapa kamu selalu cium al Qur’an setiap selesai baca?”

    ”Karena ini bukan sekedar buku tapi surat cinta dari Tuhan.” 

    Demikianlah Emi mengajari Vivian setahap demi setahap, beberapa bulan setelah belajar al Qur’an, Emi mulai melihat perubahan pada Vivian, ia lebih sering berpakaian longgar, semakin tenang dan mulai menolak ajakan pesta dari teman-temannya.

    Suatu sore, Vivian berkata, “Aku mulai sholat walau belum tahu semua gerakannya. Aku hanya bersujud.” 

    Emi merasa matanya panas tapi ia menahan air matanya. “Vivian aku senang mendengarnya. Jangan terburu-buru, biarkan hatimu mantap dulu.”

    “Aku ingin mengenal Tuhan bukan karena kamu, tapi karena aku benar-benar ingin,”

    Kemudian, Emi mengirim pesan pada seorang ustadzah, memohon nasihat untuk mendampingi seorang pencari tapi menuntutnya tergesa-gesa. Untuk pertama kalinya, Emi merasakan Swedia sebagai rumah keduanya. Dimanapun bumi dipijak, kita akan merasa betah asal dalam kaidah yang benar. Di negeri orang tidak ada halangan bagi kita menebar kebaikan, memberi teladan dalam kehidupan akhlak yang baik sangat diperlukan. 

    Cahaya selalu bersinar dimana saja. Jangan khawatir tidak diterima, Tuhan pasti akan memberikan petunjuk kepada siapa yang benar-benar berjuang tanpa pamrih. Semoga hati kita senantiasa  berusaha menerima cahaya Ilahi, Aamiin ya rabbal alamiin.

     

     

    Kreator : Dewi Yusnani

    Bagikan ke

    Comment Closed: Dari Srimelati ke Mancanegara Bab 12-14

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021