Suara tawa kecil nampak riuh di tengah-tengah kelas rendah, kelas 1. Teriknya pagi itu dengan suasana yang nyaman tanpa bau limbah membuat anak-anak kelas 1 bersemangat untuk memulai aktivitas. Beberapa hari yang lalu, bau limbah menyengat dari greenhouse sebelah sekolah membuat proses pembelajaran di sekolah menjadi terganggu. Agak chaos ditambah dengan banyaknya lalat akibat musim buah, membuat para guru memutar otak setiap memulai pembelajaran. Saat itu, pembelajaran kacau dan anak-anak menjadi kurang fokus belajar.
Pembelajaran di kelas rendah sedikit terganggu. Di meja depan, salah satu anak asyik bermain sepeda motor plastik mainan yang didapatnya dari hadiah jajanan 500-an yang dibeli pagi tadi. Di baris belakang, dua anak putri berbincang-bincang tentang mainan kesukaan mereka. Sementara itu, Bu Ajeng memimpin di depan kelas untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Bu Ajeng mengamati satu persatu murid-murid dengan tatapan penuh harap akan generasi masa depan. Namun, tiba-tiba tatapan itu berubah menjadi muram tatkala melihat dua anak baris kesatu dan baris kedua yang justru selalu bertengkar setiap hari. Bagaikan “Tom and Jerry” , kartun itu tepat menggambarkan dua anak ini, rutinitas tiap pagi hari, mereka isi dengan melirik satu sama lain lalu mengumpat dan membully orang tua mereka satu sama lainnya.
Melihat fenomena tiap hari yang tiada hari tanpa bully dan bertengkar rasanya mustahil bagi murid-murid untuk nyaman saat belajar. Dia berpikir, “Andai saja cara mendidik guru waktu kecilku bisa ku terapkan pada anak didikku sekarang”. Jika orang tua memiliki kesadaran untuk kebaikan akhlak anaknya dan menyerahkan pendidikan anak kepada gurunya di sekolah, pasti karakter-karakter pembully yang masiv seperti sekarang takkan terjadi . Lalu, apa penyebab masifnya olok-olokkan, bullying atau apalah istilahnya akhir-akhir ini menjadi marak terjadi di sekolah? Mungkinkah peran sekolah tidak lagi berpengaruh pada pembentukan karakter anak akibat dominannya penggunaan handphone pada keseharian anak di rumah? Bisa jadi. Anak lebih fokus pada hal lain di luar pembelajaran.
Menatap dibalik jendela, Bu Ajeng menghela nafas panjang seolah dia sudah lelah dengan hiruk pikuk permasalahan anak didiknya yang menganggap bully sebagai makanan wajib bagi mereka. Hari berganti hari, dia belum juga menemukan solusi dari permasalahan sulitnya mendidik anak didiknya. Harapan orang tua murid sangat besar terhadap masa depan anak-anaknya. Namun, di awal pendidikan dasar yang seharusnya bisa menjadi pondasi bagi anak untuk membentuk karakter peduli sesama, saling menyayangi, dan kerjasama, malah tergeser dengan budaya perundungan yang sering terjadi di kalangan anak jaman sekarang. Dilema pergeseran karakter anak dimanapun berada membuat kita berpikir bahwa ada kegagalan yang menyeluruh dialami para pendidik dan pengajar, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
“Aldo……jangan mengejek temanmu dengan menyebut nama orang tuanya. Itu menyakitkan, nak!” kata Bu Ajeng kepada anak didiknya yang mengolok-olok temannya sampai menangis. Dari raut wajah Aldo tak nampak rasa bersalah bahkan dia tertawa puas.
“Dia pantas diejek, Bu. Hahaha..” timpal Aldo menjawab nasehat Bu Ajeng.
Di meja seberang Aldo, Naila mengamati setiap gerak gerik Aldo dan teman-temannya sejak tadi.
Tet..tet…tet…
Bel berbunyi tanda waktu istirahat anak-anak sekaligus makan bergizi gratis sebelum bergegas ke kantin. Berdoa dan bernyanyi.
“Sebelum Kita Makan, Dik,” lalu anak-anak makan bersama dengan lahap. Menu pagi itu adalah Burger ditambah susu Dinasty, susu merk lokal yang disukai anak-anak. Ketika anak-anak sudah keluar untuk beristirahat, di belakang tempat duduk Bu Ajeng tiba-tiba Naila si anak berkacamata itu datang menghampiri.
“Bu, tadi aku melihat Aldo mengejek Zio dengan mengejek kulitnya,” kata Naila dengan polosnya.
“Oh iya, apalagi yang Naila tahu tentang pertengkaran tadi pagi hingga membuat Zio menangis?” tanya Bu Ajeng.
Sambil menunjuk meja Zio, dia mengatakan bahwa Zio juga mengejek Aldo dengan dengan mengejek nama ayahnya sehingga membuat Aldo marah dan membully Zio hingga menangis.
“Terima kasih, Naila. Kamu sudah memberikan informasi yang penting untuk Bu guru,” kata Bu Ajeng kepada Naila.
Menasehati anak dengan usia kelas rendah membutuhkan penanganan khusus agar mereka tidak marah atau badmood. Setiap permasalahan pasti ada solusinya. Bu Ajeng memilih mendokumentasikan setiap permasalahan di kelas, jika memang nanti dibutuhkan untuk konseling atau layanan aduan dari wali murid tentang permasalahan anak mereka. Membuat jurnal juga penting dilakukan untuk bukti dukung jika ada permasalahan yang rumit untuk diselesaikan. Bu Ajeng jadi teringat dengan pelatihan-pelatihan tentang pembentukan karakter positif bagi peserta didik yang pernah dia ikuti beberapa bulan yang lalu. Menurut para ahli, setiap pola asuh anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka, jika di rumah anak diasuh orang tua dan di sekolah diasuh guru mereka, seharusnya pembentukan karakter itu mudah dan tetap bisa diterapkan pada anak.
“Bu guru, Lihat lukisanku!” celetuk Dafa, anak yang duduk paling belakang dan sedikit berkurang usilnya daripada kemarin.
“Bagus, Dafa melukis gedung-gedung ya? Kenapa ini tidak diberi gambar Ayah, Ibu dan Kakakmu?”tanya Bu Ajeng.
Bu Ajeng melihat foto profil Orang tua Dafa, memang benar hanya nampak foto Ayah, Dafa dan kakaknya saja.
“Dafa mau menggambar bu guru di lukisanmu?” hibur Bu Ajeng.
“Baik, Bu. Aku senang menggambar Bu Ajeng yang cantik,” Dafa tersenyum sambil meninggalkan bu guru yang masih tertegun dengan kondisi Dafa yang kehilangan sosok ibunya. Pantas saja, anak itu sering menyendiri, marah tanpa sebab, usil bahkan sering menonjok temannya jika tersinggung hanya masalah sepele.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Anak-anak bersiap untuk pulang. Mereka merapikan semua peralatan sekolah kedalam tas punggung mereka masing-masing. Bu Ajeng terlihat letih setiap selesai mengajar kelas 1. Dia berkata pada dirinya sendiri bahwa perjuangan sebagai guru adalah pilihan hidupnya. Bu Ajeng bersyukur bisa menjadi bagian dari transformasi kehidupan dari banyak murid yang sekarang menjelma menjadi orang-orang yang sukses. Sebagai guru, harapan untuk mencerdaskan bangsa seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 sangat ingin diwujudkan, meskipun tantangan mengajar dan mendidik murid di era digitalisasi ini sangat berat dan penuh resiko. Degradasi karakter anak akibat masifnya pengaruh gawai menjadi sebab utama anak tak lagi sopan pada orang tuanya, abai pada nasihat gurunya, dan sering merundung pada teman sebayanya. Miris, melihat realita anak didik yang semakin jauh dari harapan para guru untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mampu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Pondasi pembentukan karakter positif pada peserta didik di era digitalisasi perlu terus didorong agar dapat berdampak positif pada lisan, perbuatan maupun pemikiran anak jaman sekarang yang semakin kacau dan tanpa adab. Kembali pada pola asuh, pola mengajar dan mendidik yang klasik dengan sentuhan hukuman dan sanksi kadang perlu diterapkan jika konsekuensi dan restitusi tak mempan menghadapi ganasnya perundungan dan tingkah laku anak didik saat ini. Semoga Bapak Ibu guru dimanapun berada senantiasa diberikan kesehatan mental dan fisik agar dapat terus memotivasi dengan mengajar dan mendidik putra-putri Indonesia para generasi emas masa depan. Aamiin.
Kreator : Nila Solichatun Nadhiroh
Comment Closed: Degradasi Karakter Anak Didik
Sorry, comment are closed for this post.