KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » DELAPAN JAM SEBELUM HENING

    DELAPAN JAM SEBELUM HENING

    BY 07 Apr 2026 Dilihat: 10 kali
    DELAPAN JAM SEBELUM HENING_alineaku

    RUBY TIMUR A LANTAI 5. Nama itu tertulis di atas sebuah pintu masuk menuju ruang perawatan ketika seorang perawat mendorongku dengan sebuah kursi roda. Di atas dinding bed pasien tertulis 5-8 yang berarti lantai lima, bed nomor delapan. Jam menunjukkan pukul dua siang. Cahaya matahari menembus kaca jendela. Ada empat bed pasien di ruangan itu dan semuanya terisi.

    Aku turun dari kursi roda menuju ranjang pasien dan membenahinya sebelum kutempati. Aku duduk, memandang langit-langit, mencoba meresapi kenyataan bahwa inilah tempat aku akan menunggu malam, pagi, lalu sesuatu yang akan mengubah hidupku selamanya.

    Adzan Magrib berkumandang, semua tirai pembatas sudah ditutup. Usai shalat Maghrib, aku teringat pada seseorang. Segera kunyalakan ponsel dan kucari sebuah nomor yang kusimpan dengan nama Ibu Hj. Perempuan yang tak pernah kehabisan doa, yang selalu punya cara untuk membuat badai dalam diri terasa lebih jinak.

    Setiap kali aku merasa cemas, aku selalu bertanya kepadanya. Layaknya seorang perempuan yang matang, ia selalu bijak dalam memberikan saran agar aku bisa belajar dari pengalamannya. Dari dialah selalu kutemukan jawaban dan solusi atas segala kecemasan itu.

    Aku menekan nama itu untuk melakukan panggilan.

    “Halo, assalamualaikum.”

    “Waalaikumsalam. Halo, Ibu. Apakah saya mengganggu?”

    “Tidak. Ibu baru saja selesai menunaikan shalat Maghrib. Jam berapa besok jadwal tindakannya?”

    “Jam sembilan pagi, Bu. Ibu, saya sangat gugup. Tolong ceritakan pengalaman Ibu dulu setelah menjalani bedah.”

    “Alhamdulillah, tidak usah khawatir. Tidak sakit dan tidak terasa apa-apa. Kita hanya berbaring dan tidur nyenyak. Tahu-tahu sudah selesai,” katanya sambil tertawa ringan, seolah sedang menanamkan keberanian dan pesan bahwa semua akan baik-baik saja.

    “Nanti saat bangun jangan kaget,” lanjutnya. Akan ada selang kecil berisi cairan darah yang disematkan di bawah ketiak, tepatnya di ujung bekas luka bedah, untuk menampung darah sisa. Pengalaman Ibu dulu, paginya selesai operasi, sore menjelang Maghrib Ibu sudah bisa ke toilet sendiri untuk wudhu. 

    “Sendiri, Bu?” tanyaku, takjub sekaligus ragu.

    “Iya. Waktu itu Bapak dan anak-anak pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Ibu bangun saja sendiri, tangan kiri Ibu mendorong tiang infus, tangan kanan memegang selang berisi tabung darah itu. Pelan-pelan saja. Yang terpenting, banyak-banyaklah berdoa agar diberi ketenangan dan kelancaran.”

    Kata-katanya tidak terdengar seperti nasihat. Lebih seperti warisan keberanian yang dititipkan dari satu hati ke hati lain.

    “Benarkah itu, Bu?” Aku berdehem sejenak sesuatu terasa seperti menghalangi tenggorokan. “Doakan saya, Bu. agar bisa sekuat dan setegar Ibu.”

    “Tentu saja. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kita. Dulu sepulang dari rumah sakit, Ibu merawat luka itu sendiri. Mengganti perban, membersihkannya setiap hari. Tanpa pergi ke klinik maupun puskesmas. Ibu juga tidak melibatkan siapa pun. Ibu berdiri di depan cermin agar bisa memastikan lukanya bersih dan mudah memasang plester penutup perban. Jangan takut melihat luka, itu tanda kita sedang dalam proses sembuh.”

    “Sekarang siapa yang menemani di sana?” tanyanya lagi.

    “Saya sendiri, Bu. Adik-adik, saya suruh tidur di kos harian yang sudah saya sewa sebelum masuk rawat inap, agar mereka bisa beristirahat.”

    Ada jeda singkat di seberang sana.

    “Kamu tidak sendiri, Nak. Ada doa yang berjalan mendahului langkahmu.”

    Telepon itu berakhir dengan salam dan doa yang lirih. Setelahnya, kamar kembali sunyi. Namun sunyi yang tadi menyesakkan kini terasa lebih lapang. Besok pagi, ketika pintu kamar ini dibuka, aku sudah siap.

    **** 

    Malam tiba. Lampu kamar diredupkan. Tirai-tirai pembatas antara pasien sudah ditutup sepenuhnya. Seorang perawat datang dengan membawa perlengkapan infus. Ada rasa perih singkat saat jarum itu disematkan di pergelangan tangan kiriku, lalu dingin yang merambat. Kemudian ia memberikan satu butir pil kecil, obat tidur berwarna putih untuk ku minum. Seketika pikiranku tertuju pada pertanyaan dokter anestesi siang tadi. Seperti sebuah janji akan istirahat dengan baik. 

    Perawat memberi tahu bahwa puasa akan dimulai pukul dua dini hari, delapan jam sebelum tindakan. Aku mengangguk, menelan pil itu dengan segelas air. Setenang-tenangnya pikiran ada debar yang tidak bisa dihindari. 

    Tak berselang lama, Dokter Perempuan muda yang bertugas malam itu datang untuk memeriksa, memintaku menunjukkan bagian dada kanan yang ditandai dengan tinta dan menanyakan jika ada keluhan. 

    **** 

    Seorang perawat membangunkanku untuk sahur. Aku mengucek-ngucek mata. Rasanya baru saja aku tertidur. Ada kesadaran penuh bahwa waktu terus bergerak. Setelah itu, ia membalik papan kecil di atas meja samping ranjang dan memindahkannya ke depan. Tertulis dengan huruf kapital: “PASIEN PUASA.” Sebuah penanda resmi, aku telah memasuki fase yang tidak bisa diundur.

    Jam lima pagi, perawat kembali datang membawa pakaian khusus operasi. Berwarna abu-abu pucat. Ia menjelaskan bahwa hanya pakaian itu yang boleh dikenakan saat tindakan nanti. 

    Di kamar mandi saat mengganti pakaian, aku memandangi refleksi bayangan setengah tubuh yang terpantul dari cermin di atas wastafel. Sedikit rambut yang mulai tumbuh, kelopak mata yang agak hitam, bagian dada kanan, aku memandangnya cukup lama. Diam-diam aku masih menunggu suatu keajaiban, di mana saat terbangun nanti semua tetap utuh. Namun bahkan hati kecilku percaya itu tabu dan terdengar konyol. 

    Cukup lama aku memandangi pantulan wajah itu, lalu mengucapkan selamat tinggal pada bagian tubuh yang akan dihilangkan, bagian yang selama ini menjadi identitas sejati seorang perempuan. Mungkin hari ini terakhir kalinya kita bersama. Ada getar halus menyentuh bagian lain diri yang tidak bisa diungkapkan dengan sekadar kata ikhlas. Aku tersenyum pada refleksi wajah itu, tetaplah seperti itu pesan yang ditunjukkan padanya. 

    Aku bergumam. Allah, saat terbangun nanti, aku ingin melakukan segalanya  untuk diriku, hal-hal yang paling kuinginkan yang dulu selalu terhalang kesibukan. Untuk pertama kalinya aku merasakan doa paling tulus yang ku pertaruhkan atas nama dan keinginan diri sendiri. Seperti sebuah komitmen dan janji kepastian. Terima kasih, Ya Rabb. 

    Terdengar ketukan pintu dari luar yang seketika membuyarkan percakapan dengan diri.

    “Sebentar.” Hanya kata itu yang keluar sebagai respon.

    Segera aku mengenakan pakaian itu yang terdapat tali-tali pengikat dari kain, dengan ukuran celana selutut yang juga bertali. Ada rasa aneh ketika mengenakannya, seperti melepas identitas dan bersiap menjadi seseorang yang lain.

    Jam delapan pagi, perawat yang sama datang lagi membawa kursi roda. Sekaligus memastikan bahwa aku sudah siap. Kemudian dia tersenyum lepas saat memandang ke arahku. 

    Apa ada yang salah dengan diriku?Pikirku 

    “Bu, maaf bajunya terbalik, ini yang ada talinya di bagian belakang.” Aku pun refleks tertawa. Perawat itu memintaku untuk memperbaikinya terlebih dahulu.

    Dia mendorongku keluar ruangan menuju lift dan turun ke lantai tiga.  Adik laki-lakiku ikut turun sebagai pendamping. Di depan ruang praoperasi, suasananya lebih ramai dengan para pendamping pasien ada yang berdiri dan ada yang duduk di kursi sepanjang dinding, wajah-wajah mereka memancarkan dan memanjatkan doa-doa lirih, cemas yang digantikan harapan. 

    Aku tersenyum pada adikku. Tampak dia pun berusaha tersenyum, tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Wajahnya tampak pucat ada setitik genangan bening di matanya. Kaki yang gemetar dan tangan yang  berkeringat bukan karena dingin, lebih tepatnya karena rasa yang ditahan untuk tidak khawatir. 

    “Maaf. Anda hanya boleh mengantar sampai di sini,” pesan perawat muda itu kepada adikku.

    RUANG PRAOPERASI, huruf yang sempat kubaca di atas pintu masuk. Ada rasa yang lain saat pintu itu terlewati, udaranya terasa lebih dingin.

    Perawat memintaku untuk melepaskan, kerudung dan semua yang ku kenakan selain dari pakaian operasi. kemudian meminta untukku pindah ke ranjang yang sudah disediakan, ukurannya lebih kecil dengan warna serba hijau. Bersih, rapi, tanpa bekas lipatan. Ranjang itu Kembali didorong menuju pintu lain yang terbuka otomatis. Dunia di dalamnya terasa berbeda. Semua orang mengenakan pakaian hijau. Lampu-lampu terang menempel di atas langit-langit ruangan, udara yang dingin dan steril.

    Sudah ada lima pasien lain yang juga akan menjalani bedah di ruangan persiapan operasi itu. Kami berbaring sejajar, dipisahkan jarak alat-alat medis. Tidak banyak kata yang terucap. Hanya suara keyboard, langkah kaki, dan perbincangan antar tenaga medis. Satu persatu identitas kami diperiksa, kami diminta untuk menyebutkan nama, tanggal lahir dan juga nama dokter Onkologi yang akan membedah kami. Di sebelah kiriku, seorang  pasien perempuan muda. Matanya terus digenangi air mata, ia hanya diam, menatap langit-langit dengan mata yang basah. Hatiku melafalkan beberapa doa, semoga dia diberi ketabahan dan dikuatkan. Dan semoga kami semua diberi kelancaran. Tak ada ruang untuk sekedar bertutur sapa.

    Para perawat dan dokter disana mengenakan pakaian dan penutup kepala serba hijau, sekilas mataku menangkap sosok tubuh tinggi dengan langkah tegap yang tidak asing, masih dengan warna pakaian yang sama dan separuh wajah yang tertutup masker. Dia pemilik bola mata berwarna coklat itu, Dokter Anestesi. Sekilas tatapan kami saling beradu tanpa disengaja, yang kemudian segera aku putus dengan menundukan kepala. 

    Selang beberapa menit terdengar pengumuman tentang pemadaman listrik. Suara itu terdengar jelas dan formal, sebuah pemberitahuan bahwa listrik akan dialihkan menggunakan genset sebelum operasi dimulai. Pengumuman yang sempat membuat debar jantungku mengeras, tetapi bukan karena panik. Sebaliknya, merasa  lega mengetahui ada kepastian bahwa segala kemungkinan telah diperhitungkan dan ada sistem yang berjaga untuk kami.

    Tiba-tiba area sekitar organ perempuanku terasa linu menahan ingin peep. Aku memanggil seorang perawat perempuan yang sedang mengobrol bersama beberapa rekannya di depan sebuah meja dan meminta ijin ke toilet. Dengan ramah perawat itu membantuku melepaskan botol infusan dari tiangnya, terlebih dahulu dia menutup alirannya dan memintaku memegang botol itu dengan hati-hati terutama saat di dalam toilet.

    Aku kembali menempati bed pasien dalam posisi setengah duduk, diam dan menarik napas dalam-dalam. Di titik ini, aku tidak lagi mencoba mengendalikan apa pun. Aku telah melakukan semuanya dengan baik, mengikuti setiap prosedur, menjawab setiap pertanyaan dengan jujur, menahan diri untuk tetap tenang. Kini, aku menyerahkan sisanya pada tangan-Nya, pada tangan-tangan terlatih dan pada keyakinan bahwa usaha sekecil apa pun selalu berarti.

    Di ruang yang serba hijau itu, di antara suara mesin dan langkah kaki, aku memilih untuk percaya. Dan di saat itu, aku adalah seorang perempuan yang pasrah dan terus berusaha.

     

     

    Kreator : Ai Shanti (Shanti)

    Bagikan ke

    Comment Closed: DELAPAN JAM SEBELUM HENING

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021