Ada luka yang tak bisa disembuhkan kecuali dengan menulis,
dan ada cinta yang terlalu dalam untuk diteriakkan, kecuali lewat kata.
Saat ku torehkan jejak dalam antologi Merdeka Berpikir, Merdeka Beraksi, aku tahu; ini bukan sekadar tentang buku. Ini tentang luka yang tak boleh dibiarkan membusuk, dan nurani yang tak bisa terus dibungkam.
Ini tentang menggugat kenyamanan semu, mengoyak keheningan yang mematikan, dan mencintai negeri ini dengan cara paling sunyi tapi paling setia, menulis.
Aku menulis bukan untuk dipuji, tapi karena ada yang harus diselamatkan.
Aku menulis karena tak mau jadi saksi bisu saat bangsa ini kehilangan akal sehatnya, dan rakyatnya dijauhkan dari makna merdeka yang sejati.
Aku menulis karena aku masih percaya; kata-kata bisa mengubah dunia, selama ia ditulis dengan jiwa dan diperjuangkan dengan cinta.
Tiap huruf adalah luka yang kuteriakkan dengan lembut.
Tiap kalimat adalah harapan yang kukirimkan dengan gemetar.
Tiap paragraf adalah api kecil, yang kucoba jaga agar tak padam di tengah derasnya apatisme.
Dari ruang kelas kampus rakyat,
dari mata mahasiswa yang gelisah,
dari tanya yang tak selesai tentang masa depan dan kemerdekaan berpikir,
aku tahu:
kemerdekaan bukan slogan.
Ia adalah perlawanan.
Ia adalah kesetiaan pada kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tak populer.
Aku bersyukur,
menjadi bagian dari bara kecil ini; yang mungkin tak membuat gegap gempita, tapi menyala dengan diam-diam, menjalar perlahan, dan suatu saat akan membakar ketidakpedulian.
Semoga kata-kata ini bukan hanya berhenti di halaman,
tapi menjelma langkah,
menjelma keberanian,
dan menuntun bangsa ini pulang;
pulang ke rumah kemanusiaan, ke pelukan keadilan, ke cahaya peradaban.
Bogor, 23 Juni 2025
Kreator : Nurul Janah
Comment Closed: Di Antara Kata dan Cinta Tanah Air
Sorry, comment are closed for this post.