Sebulan terakhir ini hidupku seolah berjalan di lintasan yang sama, berulang tanpa banyak pilihan; rumah sakit, kantor, lalu rumah sakit lagi. Rumah kadang hanya sekadar tempat berganti pakaian, bahkan seringkali hanya menjadi alamat di ingatan. Ada hari-hari di mana kakiku melangkah, tapi jiwaku tertinggal di ruang tunggu rumah sakit.
Tubuh ini tentu lelah. Pikiran pun tak kalah letih. Namun, ada satu hal yang kupelajari: manusia bisa sangat kuat saat keadaan memaksanya untuk bertahan. Bukan karena ingin, tapi karena tidak ada pilihan lain selain terus berjalan.
Semua ini bermula dari sakit pak su. Awalnya hanya pembengkakan di kaki. Sudah berminggu-minggu beliau menahan rasa sakit, mengobatinya sekadarnya, seperti orang tua pada umumnya—lebih memilih diam daripada menyusahkan, lebih memilih menahan daripada mengeluh. Aku pun, jujur saja, mengira ini hanya masalah kecil yang akan selesai dengan obat atau istirahat.
Sampai suatu pagi, saat pak su hendak mengantarku ke kantor, beliau tak sanggup lagi berdiri dengan sempurna. Langkahnya tertahan, wajahnya menahan nyeri. Hati kecilku berontak. Ada rasa takut yang tak bisa dijelaskan, seolah firasat itu datang tanpa permisi.
Aku memaksa dengan suara yang berusaha terdengar tenang.
“Ayo kita ke IGD sekarang. Absen dulu saja, nanti aku izin sama atasan untuk antar abg ke rumah sakit.”
Dengan berat hati, pak su mengangguk. Aku tahu, keterpaksaan itu bukan karena tak percaya, tapi karena beliau tak ingin merepotkan. Namun di situlah aku belajar, kadang mencintai berarti berani memaksa demi keselamatan.
Setelah diperiksa di rumah sakit, keputusan dokter mengejutkan: pak su harus dirawat. Rencananya akan dilakukan operasi ringan untuk meredakan pembengkakan di kaki. Dalam pikiranku, ini hanya soal waktu. Aku bahkan sempat merasa lega akhirnya ada kepastian. Namun Allah kembali menunjukkan bahwa tidak semua yang kita anggap akhir, benar-benar akhir.
Pemeriksaan lanjutan mengungkap kenyataan lain: ada kelainan pada jantung pak su. Operasi kaki yang sudah direncanakan pun dibatalkan. Risiko terlalu besar. Dokter memilih jalan yang lebih aman, memberikan obat agar pembengkakan di kaki itu pecah dengan sendirinya.
Aku terdiam cukup lama ternyata yang terlihat sakit bukanlah akar masalahnya. Kaki hanyalah tanda, jantunglah yang sebenarnya membutuhkan perhatian serius. Di sanalah hatiku mulai belajar satu hikmah penting, Allah sering memberi peringatan lewat hal-hal kecil, sebelum masalah besar datang menghampiri.
Jika hari itu aku tidak memaksa pak su ke rumah sakit, mungkin kelainan jantung itu belum terdeteksi. Jika pembengkakan itu dianggap sepele, mungkin kami akan terus menunda. Dan jika semua terasa baik-baik saja, mungkin kami tak pernah sadar bahwa bahaya sedang mengintai dalam diam.
Hari-hari berikutnya pun diisi dengan bolak-balik rumah sakit dan kantor. Jadwal berantakan, rencana tertunda, tenaga terkuras. Ada saat-saat lelah berubah menjadi air mata yang jatuh diam-diam. Tapi justru di sanalah aku belajar, lelah yang dijalani dengan ikhlas tidak akan sia-sia.
Dari peristiwa ini, aku memahami bahwa:
- Sakit adalah cara Allah mengingatkan, bukan selalu sebagai hukuman.
- Kelelahan adalah ujian ketulusan, sejauh mana kita mau bertahan untuk orang yang kita sayangi.
- Dan keterlambatan rencana manusia sering kali adalah ketepatan rencana Tuhan.
Sebulan ini memang berat, tapi dari berat itu aku menemukan makna. Bahwa hidup tak selalu tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa dalam kita belajar saat perjalanan itu memaksa kita berhenti sejenak.
Kini aku mengerti, tidak semua ujian datang untuk melemahkan. Sebagian hadir untuk menyelamatkan, mendewasakan, dan menguatkan hati dengan cara yang mungkin tidak kita sukai, tapi sangat kita butuhkan.
Kreator : Ferayanti
Comment Closed: DI BALIK LELAH ADA RENCANA ALLAH
Sorry, comment are closed for this post.