RUANG OPERASI.
Tiba waktu, hari ketika tubuhku akan diubah selamanya. Kenyataan yang nyaris membuat aku mundur. Aku menyerahkan tubuhku kepada tangan-tangan asing yang dermawan. Hatiku sudah lebih dulu pasrah sebelum pikiran sempat menyusun keberanian; di balik pintu-pintu baja dan aroma antiseptik ruangan, aku mengerti. Ada bagian dari diriku yang tidak akan kembali. Hari itu bukan sekadar tentang tindakan bedah ia adalah perjanjian sunyi antara tubuh dan takdir. Ada yang harus dilepaskan, ada yang harus diselamatkan, dan aku hanya diberi satu pilihan, bertahan.
Menjelang operasi beberapa dokter Onkologi yang menangani kami datang, dan melakukan obrolan singkat dengan masing-masing pasiennya sebelum memasuki ruang bedah.
Dokter onkologi yang akan menanganiku, meminta menunjukkan bagian dada yang terdapat benjolannya.
“Ini akan dibuang, Anda harus siap kehilangannya.” Saya mengangguk dengan senyum yang enggan terukir, barangkali memang seperti itu harusnya, kebenaran disampaikan: apa adanya, tidak meminta izin untuk menyakiti.
Apa pun yang ingin kukatakan tak akan mengubah keadaan. Bukan karena menyerah mengharap keajaiban yang bahkan hati kecil seolah menolak selain dari kata pasrah, dan bahkan tidak bisa memilih untuk memutuskan. Kata-kata yang keluar hanya bahwa aku siap.
“Ibu sudah siap?” Seorang perawat laki-laki muda bertanya “Apakah ada perhiasan yang di pakai, gigi goyang atau gigi palsu? Biar dilepas dulu.” Kata tidak yang keluar dari suaraku seolah menjadi jawaban mutlak.
Lalu perawat llaki-laki itu mendorong ranjangku menuju ruangan lain di balik pintu besi yang masih akan memasuki pintu besi lainnya. Ruangan yang sangat bersih. akuAku berusaha merekam semua yang ada di sana dengansemuanya ke dalam ingatan, seolah aku tahu bahwa suatu hari nanti, ingatan inilah yang akan membuktikan bahwa aku pernah melewatinya, dinding berwarna abu-abu terang, pintu-pintu geser berlapis baja, langit-langit ruangan bergaris stainless mengkilat.
Kami melewati lorong-lorong steril dengan aroma asing. Semakin dalam semakin melewati beberapa ruangan, telapak kakiku terasa semakin dingin kombinasi udara steril dan rasa takut yang diam-diam masih memaksa hadir.
Sekilas di balik beberapa ruangan itu tampak mesin-mesin berukuran besar lengkap dengan layar monitor, selang-selang kecil transparan yang dilengkapi beberapa alat bantu pernafasan.
Hingga tiba di sebuah ruangan, dengan pintu besi stainless geser. Semua hanya tampak warna hijau, sebuah mesin anestesi lengkap dengan layar monitor dan beberapa selang kecil transparan yang terhubung ke masker oksigen, meja yang masih ditutupi dengan kain yang serba hijau. Beberapa perawat mengangkat tubuhku dan memindahkan ke ranjang lain. Seorang perawat mengangkat tangan kiriku dan merentangkannya hingga lurus ke samping di atas meja, lalu memasangkan alat entah apa itu, di bagian dada kiri, tangan dan kedua pergelangan kaki. Kemudian dia menanyakan nama lengkap dan tanggal lahir, nama dokter yang akan menindak operasi.
“Maaf saya mau melihat gelang di tangan Anda.” Aku menduga dia ingin memastikan ketepatan identitas bahwa tubuh ini bukan orang yang salah.
Aku menghitung jumlah orang berseragam hijau yang ada di sana dan menyimpannya dengan baik di ingatan seolah hati ini tidak ingin melewatkan hal sekecil apapun, setidaknya ada lima orang yang saat itu tertangkap oleh mata. Lima pasang tangan yang masing-masing mengenakan pakaian dan penutup kepala berwarna hijau
Seseorang datang dengan membawa beberapa spuit berisi cairan di dalam nampan aluminium. Dia adalah sang pemilik bola mata cokelat itu.
“Saya dokter anestesi Anda” Suaranya yang dalam penuh wibawa, dia pun menanyakan kembali nama lengkap dan tanggal lahir sebelum mulai menyuntikkan cairan yang mungkin menuju gerbang ketiadaan. Satu persatu spuit berisi cairan itu disuntikkan ke dalam selang infusan.
“Silakan berdoa. Obat anestesinya masuk sekarang.” Suara yang dalam itu seolah-olah ikut mengalirkan ketenangan bersama anestesi yang disuntikan.
Aku mengucapkan “Bismillahirahmanirrahim” dan berdoa di dalam hati.
Di atas tubuhku, aku melihat mata lensa kamera seakan menatap tanpa berkedip, deretan lampu lampu kecil di dalam gagang berukuran besar, mungkin ini yang disebut shadowless lamp atau lampu tanpa bayangan, garis-garis mengkilat di langit langit ruangan.
Rasa dingin menjalar cepat. Dari lengan, ke dada, ke kepala. Kebas menyusup seperti kabut. Tak ada tempat untuk kata gelisah, tak cukup ingatan untuk mengagumi pemilik suara halus yang dalam itu. Samar, dan semakin jauh Aku masih mendengar dokter itu berkata:
“Selamat tidur, Nona.”
Aku yakin masih tetap membuka mata, seolah tidak ingin melewatkan apapun, Bayang-bayang benda di sekeliling seakan menebal, kabur dan bergeser dengan kilat, denging halus, udara dingin mengusap wajah. Seperti memasuki dimensi lain, tak ada waktu, tak ada mimpi, tak ada rasa. Semua terjeda dan memasuki babak baru. Suara-suara yang semakin menjauh. Sekelebat gumpalan terang terbungkus tanpa warna, hening lalu hampa.
*****
“Bu, bangun Bu!.” Suara berat itu tergesa. Aku dapat merasakan telapak tangannya menepuk wajah berkali-kali, lalu menggoyang kepalaku.
Mataku terlalu berat untuk dibuka. Sekilas, bayangan orang-orang berseragam hijau berkelebat dan redup kembali. Derap kaki yang tergesa. Aku merasakan sepasang tangan mengangkat bagian atas tubuhku ke posisi duduk, dan sepasang tangan lain terasa membalut dan melilitkan sesuatu di bagian dada, menarik dan mengikatnya dengan kencang, tapi apa dan kenapa?
Bunyi benda kecil saling beradu halus, denting logam jatuh terpilin di lantai, gemercik air keran. Bunyi bip dari layar monitor elektrokardiograf dengan ritme cepat dan beraturan. Deru suara mesin suction, bunyi blup halus gelembung oksigen aku mendengar semuanya. Tetapi mataku masih enggan terbuka, dan bahkan hati kecilku menolak untuk terjaga. Bau amis darah kering yang menjalar dari dalam tenggorokan, mengalir ke lubang hidung dan mulut, udara yang masuk melalui saluran hidung dari selang kecil menyusup dingin ke dalam rongga tenggorokan dan—“haus.”
Aku sudah dibangunkan kesempatan lain, semua sudah tidak sama lagi. Terima kasih ya Rabb. Dingin sekali gumamku dalam hati, dan kembali terjeda tanpa waktu.
“Teh, bangun!” Suara adikku, menghentikan ketiadaan akan waktu.
“Jam berapa sekarang?” Kalimat pertama yang keluar, mengembalikan semua ingatan dengan utuh.
“Jam 12 siang, Teh”
Setidaknya, ada empat jam dalam ketiadaan.
Suara bip dari elektrokardiograf saling bersahutan di sekitar. Tangan kananku mulai meraba-raba tempat tidur, Ada selang kecil yang tersemat ke ujung dada di bawah ketiak, Ingatanku tertuju pada seseorang yang selalu kupanggi ibu Hj. Mungkin ini yang dimaksud dia dengan drain bedah, selang yang mengalirkan darah sisa dari dalam bekas luka dan memiliki tabung seperti pompa air kecil sebagai penampungnya.
terkadang kita hanya perlu diberi tahu. Bukan untuk menghindar, tapi untuk belajar memahami dan menerima.
Enam orang pasien yang tadi berada di ruang praoperasi bersama sudah berkumpul Kembali di dalam satu ruangan observasi pasca operasi. Terdengar suara isakan halus dari wanita di sebelah ranjangku. Ternyata itu suara dari orang yang sama saat di ruang praoperasi. Dia yang paling murung di antara kami dari sebelum masuk ruangan bedah. sekilas terdengar suara perawat bahwa salah satu pasian akan di pindahkan ke ruang ICU.
Aku melihat adikku berjalan ke arah di mana beberapa perawat berdiri di depannya. Di atas meja di sebelahnya terdapat sebuah toples berisi seperti lemak bercampur darah, potongan daging dan ah aku tidak mau melihatnya, bisa kupastikan itu adalah bagian dari diriku yang tidak akan kembali.
Lagi-lagi ruangan itu terasa sangat dingin aku mencoba mengangkat tangan, memberi isyarat ingin meminta selimut tambahan. Tetapi tak seorangpun menyadari. Dingin itu semakin menusuk, mataku terlalu berat di bawah pengaruh anestesi dan kembali tertidur.
Jam 2 sore, dua orang perawat datang dengan ranjang pasien lain dan memindahkan tubuhku ke ranjang yang di bawanya untuk kembali ke ruang rawat inap.
Sebuah perjalanan baru akan dimulai, aku adalah salah satu dari ribuan perempuan yang baru saja dianugrahi kesempatan kedua, melewati ruang paling sunyi dan bangkit dengan harapan yang utuh
Aku memahami tidak keluar dari ruang itu sebagai orang yang sama, tetapi aku keluar sebagai seseorang yang masih diberi kesempatan untuk bernapas, untuk hidup, dan untuk mencintai tubuh ini dalam bentuknya yang baru. Tidak ada lagi tawar-menawar dengan nasib yang hanya menyisakan penerimaan. Doa yang terus dijaga, dan langkah kecil untuk berdamai dengan apa pun yang telah diambil dan yang masih ditinggalkan. Dalam dingin ruangan itu, akhirnya aku mengerti: menyerahkan diri bukan berarti semua selesai, melainkan percaya bahwa hidup masih layak diperjuangkan, meski tak lagi utuh. Dan aku akan belajar mencintai diri kembali, dengan caranya yang baru.
Kreator : Ai Shanti (Shanti)
Comment Closed: DI BAWAH CAHAYA LAMPU TANPA BAYANGAN
Sorry, comment are closed for this post.