Aroma Kopi Ayah di Pagi Hari
Pagi menyibak malam dengan jemari embunnya,
aroma kopi merambat dari dapur yang sepi,
ayah duduk membisu, merangkul cangkir tuanya,
meneguk kepahitan sebelum mentari berdiri tinggi.
Tangannya seperti akar yang memeluk erat bumi,
kasar tertoreh waktu, namun lembut membelai anaknya,
matanya adalah telaga menyimpan seribu sunyi,
dalam dan jernih tak pernah meminta siapa membacanya.
Punggungnya bercerita tentang gunung yang dipikul,
bahunya menopang langit agar tak runtuh ke tanah,
ia menjadi perahu di tengah badai yang memukul,
mendayung seorang diri tanpa pernah mengeluh lelah.
Kini kuselami makna di setiap teguk kopinya,
cinta tanpa suara yang menggetarkan hingga ke tulang.
ayah adalah puisi yang tak selesai kupahami maknanya,
tiap baitnya pengorbanan yang tak pernah minta dikenang
Doa yang Disulam Ibu
Ibuku tak merapal doa dengan lidah,
Cintanya adalah kerja yang tak kenal lelah,
Setiap helai nasihat menjadi benang indah,
Yang ia sulam dalam jiwaku agar tak goyah.
Di dapur, ia tumiskan resah menjadi asa,
Mengubah khawatir jadi hidangan di atas meja,
Kehangatan sepiring nasi bagai penawar masa,
Saat dunia di luar terasa dingin dan tanpa jeda.
Lalu siapakah aku tanpa sulaman itu?
Tanpa sebuah dekapan hangat saat dunia kelabu,
Atau bisik nasihatnya yang datang tepat waktu,
Mungkin hanya ranting patah yang membeku.
Maka kusadari, doanya bukanlah untaian kata,
Ia adalah hangatnya nasi dan tebalnya selimut kita,
Sebuah sulaman hening yang terwujud nyata,
Dalam tiap hal kecil yang ia beri dengan cinta.
Cermin di Dinding Kamar
Di depan cermin yang diam membisu,
Kutatap sesosok asing yang terasa aku,
Matanya menyimpan jejak musim yang lalu,
Dan guratan samar yang lahir dari pilu
Ia, sang pantulan, diam tak bersuara,
Namun matanya tajam bagai belati dua sisi,
“Sudah cukup baikkah engkau, wahai raga?
Aku terdiam, memeluk ragu di dalam hati
Lalu kulihat lebih dalam, melewati ragu,
Ada bekas luka yang membuatku jadi aku,
Ada tawa yang tersisa dari masa lalu,
Aku adalah mozaik dari rapuh dan syahdu.
Cermin ini bukanlah hakim yang keji,
Ia hanyalah kawan sunyi yang jujur berjanji,
Menemaniku belajar memeluk diri sendiri,
Dan berdamai dengan semua yang telah terjadi.
Kreator : Okti
Comment Closed: DI BERANDA RUMAH AKAR DAN KEHANGATAN part 1
Sorry, comment are closed for this post.