
Di sudut lemari ia tertidur pulas dalam sepi,
Diselimuti debu tebal yang memeluk tanpa tepi.
Sebuah buku tua dengan sampul warna abu,
Menyimpan ribuan detik dari masa yang lalu.
Kubuka perlahan lembaran plastik yang kaku,
Kenangan menyapa hangat, seolah membeku waktu.
Wajah bocah kecil tersenyum lepas tanpa beban,
Belum mengenal rumitnya soal dan jawaban.
Lihatlah potret lutut kecil yang dulu terluka,
Saksi bisu saat kau belajar sepeda penuh suka.
Itu adalah bukti bahwa jatuh bukan kegagalan,
Melainkan cara kaki kita memulai perjalanan.
Waktu berlari kencang laksana kuda pacuan,
Mengubah tubuh mungil menjadi sosok harapan.
Meski kertas foto kini mulai menguning warnanya,
Kasih sayang di dalamnya takkan pudar cahayanya.
Jangan biarkan masa lalu menjadi jangkar yang berat,
Jadikan ia akar pohon yang menancap kuat.
Kau pernah dirawat dengan doa dan air mata,
Agar kini tumbuh gagah menggapai cita
Tutup kembali albummu, simpanlah di dalam hati,
Jadikan kenangan sebagai pelita yang tak mati.
Hari esok adalah kertas putih yang menunggu,
Tulislah kisah hebatmu, jangan lagi kau ragu.
Di tulang kayu yang setia berdiri membisu,
Goresan pensil menari, mencatat waktu yang menderu.
Dahulu jemarimu mungil, memeluk lututku penuh rindu,
Kini kau tumbuh menjulang, menantang langit yang biru.
Lihatlah jejak itu, seperti tangga menuju awan yang tinggi,
Setiap garis adalah saksi, bisikan doa yang tak pernah mati.
Namun waktu adalah pencuri, yang berlari tanpa henti,
Membawa langkahmu pergi, mengejar mimpi ke ujung negeri.
Pintu ini kini termenung, merindukan tawa yang pecah,
Menatap bekas goresan yang kini nampak lelah dan pasrah.
Kau bagaikan burung yang kepaknya telah kuat dan gagah,
Meninggalkan sarang yang hangat, demi dunia yang luas dan megah.
Jarak kini membentang bagai cakrawala yang tak bertepi,
Meninggalkan kenangan yang tersimpan rapi di sudut sepi.
Dahulu kepalamu di pundakku, kini kau jauh di seberang mimpi,
Meninggalkan kami yang mengeja sisa bayangmu setiap pagi.
Meski tubuhmu tak lagi terjangkau oleh pelukan lenganku,
Namamu tetap terukir abadi di setiap detak jantungku.
Pulanglah sesekali, meski hanya untuk menyapa debu,
Sebab di kusen ini, rindu orang tuamu takkan pernah membatu.
Kusen ini akan tetap setia menjaga setiap inci kenangan,
Menunggumu kembali membawa segenggam keberhasilan.
Sebab sejauh apa pun langkahmu memeluk awan di ketinggian,
Rumah ini adalah pelabuhan terakhir bagi segala keletihan.
Malam menyampirkan selimut tipis di dapur kecil ini,
Sendok dan piring beradu, seperti lonceng yang belajar bernyanyi,
Meja tua mengajak kami duduk tak pandai mewah, hanya berani,
Menghidangkan ruang bagi lelah, agar pulang terasa berarti.
Nasi hangat mengepul pelan, bagai doa yang naik diam-diam dari periuk di sisi,
Lauk sederhana tersenyum, seolah tahu: yang utama bukan rasa, melainkan hati,
Di sela kunyah, ibu menabur cerita kecil, ayah menampungnya rapi,
Dan kami meneguk kebersamaan seteguk yang tak pernah dibeli.
Percakapan ringan mengalir, menutup celah sunyi yang ingin menyusupi,
Tawa berpantul di gelas, seperti air bening yang tak sempat iri,
Denting sendok menyela lembut, menandai detik-detik yang ingin tinggal di sini,
Sejenak dunia di luar pintu mengecil, tak sanggup mengusik kami.
Kini kursi-kursi lebih sering menghitung langkah yang tak jadi kembali,
Piring menunggu dalam lemari, memelihara kilapnya sendiri,
Kesibukan menjelma palang, memotong jalan pulang menjadi sunyi,
Dan denting yang dulu ramai, tinggal gema yang berputar dalam memori.
Anak-anak mengejar hari, bagai layang-layang yang ditarik angin tinggi,
Pesan singkat mengganti tatap; “nanti” menjadi kalimat yang paling sering terjadi,
Ibu pura-pura kuat, tapi matanya menyimpan hujan kecil tiap sore hari,
Ayah memandangi meja, seperti dermaga yang sabar menanti.
Jika suatu malam kau sempat, matikan sejenak dunia yang terus berlari,
Kembalilah ke meja ini, tempat namamu disimpan hangat dalam nasi,
Biarkan sendok bernyanyi lagi, agar rumah tak keburu sepi,
Sebab yang kita rindukan sesungguhnya: saling hadir, saling mengerti.
Malam dulu retak di ranjang bambu aku menggigil, kelu.
Angin menyelinap dari celah jendela, dingin membatu.
Nenek datang membawa keranjang rotan: “sini, cucu…”
suaranya serupa lampu minyak kecil, tapi selalu menuntunku.
Perca batik pudar, ujung sarung koyak, sisa daster biru.
Di mata orang: tak rapi, tak utuh hanya kain yang tersisa.
Di tangan nenek: semuanya jadi peta pulang yang baru,
sebab kasih tak perlu sempurna untuk menjelma pelindung jiwa.
Jarum menitik: tik…tik…tik seperti hujan mengetuk atap sengku.
Benang merah melintas, mengikat luka-luka agar tak tercerai.
Setiap tusuk adalah doa yang tak pandai jadi lagu,
tapi tahu cara menahan runtuh diam-diam, sampai selesai.
Ada kain berbau sabun cuci, ada yang wangi matahari pukul satu.
Ada yang menyimpan minyak kayu putih dari dadaku yang demam.
Semua sisa dipeluknya, seolah sisa pun berhak dipadu,
lalu hangatnya tumbuh pelan, tebal menutup getir yang kelam.
Saat mimpi buruk datang bagai anjing hitam mengejar napasku,
selimut perca merapat, memelukku seperti lengan yang tak lelah.
Ia menjadi pagar dari takut, menjadi atap bagi ruhku,
dan aku belajar: berani itu bertahan, meski gemetar dan resah.
Kini nenek jauh dari dapur, dari tungku, dari sore yang berseru.
Namun jahitannya hidup berderet rapi di tepi ingatan.
Tiap kali aku lelah, aku kembali menyusup ke hangat itu:
amanatnya dalam-dalam tak perlu utuh untuk jadi rumah,
cukup tulus, cukup tekun, cukup mau menjahit yang berserakan.
Di sudut gudang yang temaram, berdebu,
Teronggok kotak tua, berkarat, menyimpan rahasia waktu.
Bukan perhiasan, bukan pula mahkota yang bersemayam,
Hanya kumpulan besi, pelayan setia tangan ayahku.
Palu gemuk yang sering berdentum, obeng ramping yang berputar,
Tang besi kekar, kunci inggris, gergaji gigi taring.
Setiap retak di dinding, setiap engsel pintu yang terlempar,
Ia perbaiki dalam diam, tanpa banyak kata-kata yang sering.
Dengan tangan kasar, namun gerak yang selalu hati-hati,
Ia menyambung yang patah, mengencangkan sekrup yang kendor.
Bukan hanya meja atau kursi yang ia dapati,
Namun ganjalan di hati, ia rapihkan tanpa bergemuruh.
Tak ada puisi cinta, tak ada ucap yang merayu-rayu,
Hanya keringat yang menetes, di kening yang berkerut dalam.
Ia adalah penjaga, pelindung, fondasi yang takkan layu,
Mengokohkan rumah, agar badai takkan membuatnya karam.
Dulu, aku tak mengerti, hanya melihat pekerjaan yang berat,
Kini kusadari, itu adalah bahasa kasih yang paling dalam.
Setiap denting palu, setiap putaran obeng, ia berikan amanat,
Sebuah janji: bahwa kami, akan selalu aman dari malam.
Kotak perkakas itu, lebih dari sekadar tumpukan besi tua,
Ia adalah warisan, pelajaran tentang kuatnya sebuah arti.
Bahwa cinta tak selalu dalam kata, namun dalam tindakan nyata,
Ayahku, sang pembuat segala, pemeluk kami dari sepi yang abadi.
Di tulang kayu yang setia berdiri membisu,
Goresan pensil menari, mencatat waktu yang menderu.
Dahulu jemarimu mungil, memeluk lututku penuh rindu,
Kini kau tumbuh menjulang, menantang langit yang biru.
Lihatlah jejak itu, seperti tangga menuju awan yang tinggi,
Setiap garis adalah saksi, bisikan doa yang tak pernah mati.
Namun waktu adalah pencuri, yang berlari tanpa henti,
Membawa langkahmu pergi, mengejar mimpi ke ujung negeri.
Pintu ini kini termenung, merindukan tawa yang pecah,
Menatap bekas goresan yang kini nampak lelah dan pasrah.
Kau bagaikan burung yang kepaknya telah kuat dan gagah,
Meninggalkan sarang yang hangat, demi dunia yang luas dan megah.
Jarak kini membentang bagai cakrawala yang tak bertepi,
Meninggalkan kenangan yang tersimpan rapi di sudut sepi.
Dahulu kepalamu di pundakku, kini kau jauh di seberang mimpi,
Meninggalkan kami yang mengeja sisa bayangmu setiap pagi.
Meski tubuhmu tak lagi terjangkau oleh pelukan lenganku,
Namamu tetap terukir abadi di setiap detak jantungku.
Pulanglah sesekali, meski hanya untuk menyapa debu,
Sebab di kusen ini, rindu orang tuamu takkan pernah membatu.
Kusen ini akan tetap setia menjaga setiap inci kenangan,
Menunggumu kembali membawa segenggam keberhasilan.
Sebab sejauh apa pun langkahmu memeluk awan di ketinggian,
Rumah ini adalah pelabuhan terakhir bagi segala keletihan.
Di luar, langit merajut gumpalan kelam,
Lalu tetesan pertama jatuh, seperti permata yang pecah.
Seng tua di atap, menerima mereka dengan denting pelan,
Sebuah orkestra kecil, dimulai di teras rumah yang basah.
Semakin deras, semakin kuat irama itu berderai,
Bagaikan ribuan penari berlarian di atas kepala kami.
Suara gaduh yang anehnya menghangatkan, mengusir sepi,
Membawa ingatan tentang pelukan, tentang aman yang tak terurai.
Di dalam, api kecil lilin menari, bayang-bayang bermain,
Wangi teh melayang, membaur dengan kisah yang terbata.
Dinding rumah ini, bukan sekadar bata dan semen yang dingin,
Namun pelindung dari dunia yang di luar sana kerap menyapa.
Setiap tetes yang jatuh, setiap dengung yang berulang,
Adalah bisikan tentang ketabahan, tentang bagaimana kami bertahan.
Hujan di luar, seperti kerasnya hidup yang datang dan pulang,
Dan atap seng ini, adalah ikatan keluarga yang takkan terpisahkan.
Tidur pun nyenyak, di bawah simfoni sederhana itu,
Di mana ketakutan di luar, seolah tak mampu lagi merayu.
Sebab rumah ini, dengan segala bisingnya yang syahdu,
Adalah benteng hati, tempat jiwa kami selalu menemukan waktu.
Maka biarlah hujan terus menari di atap yang mulai renta,
Mengajarkan kami bahwa di balik badai, ada kedamaian nyata.
Bahwa keluarga adalah selimut terhangat, di tengah dunia yang tak terduga,
Pelabuhan cinta, di mana setiap jiwa berpulang, tanpa ada derita.
Di teras depan, kursi rotan itu setia bersemayam,
Saksi bisu tawa anak pulang sekolah, di senja yang temaram.
Kini ia memikul rindu, menatap jalan yang sepi dan diam,
Menanti bayangan yang jauh, dari kota-kota bergemuruh dalam.
Bukan sekadar perabot, ia adalah lambang cinta yang takkan pudar,
Pelukan sunyi ayah ibu, yang tak henti sabar.
Rumah ini pelabuhanmu, tempat jiwamu selalu berlabuh tegar,
Kembalilah, kursi ini merindukanmu, dengan kasih yang takkan bubar.
Di luar, langit merajut gumpalan kelam,
Lalu tetesan pertama jatuh, seperti permata yang pecah.
Seng tua di atap, menerima mereka dengan denting pelan,
Sebuah orkestra kecil, dimulai di teras rumah yang basah.
Semakin deras, semakin kuat irama itu berderai,
Bagaikan ribuan penari berlarian di atas kepala kami.
Suara gaduh yang anehnya menghangatkan, mengusir sepi,
Membawa ingatan tentang pelukan, tentang aman yang tak terurai.
Di dalam, api kecil lilin menari, bayang-bayang bermain,
Wangi teh melayang, membaur dengan kisah yang terbata.
Dinding rumah ini, bukan sekadar bata dan semen yang dingin,
Namun pelindung dari dunia yang di luar sana kerap menyapa.
Setiap tetes yang jatuh, setiap dengung yang berulang,
Adalah bisikan tentang ketabahan, tentang bagaimana kami bertahan.
Hujan di luar, seperti kerasnya hidup yang datang dan pulang,
Dan atap seng ini, adalah ikatan keluarga yang takkan terpisahkan.
Tidur pun nyenyak, di bawah simfoni sederhana itu,
Di mana ketakutan di luar, seolah tak mampu lagi merayu.
Sebab rumah ini, dengan segala bisingnya yang syahdu,
Adalah benteng hati, tempat jiwa kami selalu menemukan waktu.
Maka biarlah hujan terus menari di atap yang mulai renta,
Mengajarkan kami bahwa di balik badai, ada kedamaian nyata.
Bahwa keluarga adalah selimut terhangat, di tengah dunia yang tak terduga,
Pelabuhan cinta, di mana setiap jiwa berpulang, tanpa ada derita.
Di rahim tanah yang paling sunyi,
ada jemari purba yang tak pernah tidur.
Mereka tidak merindu ciuman matahari,
tidak pula haus akan puji warna-warni bunga.
Mereka hanya tahu cara memeluk gelap,
mencengkeram batu-batu nasib yang keras,
menyusu pada sari pati doa yang dilarutkan hujan.
Di atas sana,
batang tubuh menjulang sombong menantang badai,
dahan-dahan menari merayakan musim.
Orang-orang memuja rimbun daun,
memetik ranum buah yang manis di lidah.
Tapi lupa,
bahwa manis itu adalah hasil sulingan keringat di kedalaman,
bahwa kokoh itu adalah janji yang diikat mati di kegelapan.
Suara-suara masa kecil itu,
bukan lagi teriakan di telinga,
melainkan denyut yang merambat di pembuluh kayu.
Menjadi kompas saat angin mematahkan arah,
menjadi jangkar saat banjir hendak mencabut nama.
Kita adalah pohon yang sering lupa pada telapak kaki sendiri.
Berdiri gagah menopang langit,
karena ada cinta yang rela terkubur,
tak terlihat,
namun menghidupi segala yang bernapas.
Matahari melipat sayap emasnya yang lelah di ufuk barat,
menyuruh bayang-bayang memanjang, mengejar tubuh sendiri.
Di trotoar yang berdebu oleh nasib dan ambisi,
kuseret sepasang kaki yang seharian dipaksa berlari,
mengumpulkan sisa-sisa nama yang tercecer di jalanan asing.
Langit menumpahkan tinta ungu,
menjadi isyarat bagi burung-burung untuk menutup paruh.
Namun di dadaku, ada kompas purba yang bergetar hebat,
jarumnya tidak menunjuk utara atau selatan,
tapi menunjuk pada sebuah lampu kuning temaram
yang menyala tabah di beranda ingatan.
Rumah bukanlah tentang dinding yang tegak atau atap yang megah,
ia adalah rahim kedua yang menerima segala cacat dan kalah.
Di sana, gagang pintu tidak pernah bertanya tentang berapa keping uang,
ia hanya rindu bunyi kunci yang diputar pelan,
tanda bahwa sang petualang telah meletakkan pedang.
Pada senja yang melarutkan batas terang dan gelap,
aku adalah perahu retak yang merindu dermaga.
Sebab sejauh apa pun angin menyeret layar,
hanya di pelukan pintu kayu itulah,
badai di kepala sudi menjadi hening.
Pulang,
adalah perjalanan mengambil kembali diri sendiri,
yang seharian tadi dicuri oleh dunia.
Di rak kayu, di sudut gudang yang sepi,
Sepatu-sepatu kecil berjejer, menyimpan sunyi.
Kainnya pudar, talinya terlepas, kulitnya mengelupas,
Dulu pas di kaki mungil, kini hanya jadi bekas.
Mereka saksi langkah-langkah pertamaku, yang terbata,
Membawa aku berlari, menapak asa di jalanan nyata.
Melindungi jari-jari kaki dari kerikil, dari duri,
Setiap goresnya adalah cerita, dari masa yang takkan mati.
Kaki membesar, dunia meluas, waktu pun berganti,
Sepatu itu sempit, tak lagi mampu mengikuti.
Harus kutinggalkan, bersama tawa riang dan mimpi-mimpi,
Meninggalkan jejak, menuju jalan yang tak bertepi.
Kini melangkah jauh, di jalanan kota yang tak ramah,
Beban pundak bertambah, terkadang jiwa pun lelah.
Namun ingatan sepatu itu, bagai kompas tak mudah patah,
Mengajari tegak berdiri, walau badai datang dan gagah.
Sepatu-sepatu kecil itu, diam di rak, bisikan rahasia,
Bukan tentang ukuran, bukan pula tentang harga.
Tapi tentang kekuatan akar, tentang siapa kita,
Bahwa tiap langkah besar, bermula dari pijakan yang sederhana.
Mereka mengajariku, bahwa beban hidup kini harus kutopang sendiri,
Dengan kaki yang kuat, tak lagi mencari perlindungan diri.
Tak lagi pas di ukuran, namun selalu pas di hati,
Sebuah pengingat: dari mana asal, dan ke mana harus kembali.
Cahaya temaram memeluk ruang tengah,
saat napas semua terlelap, damai tak terhingga.
Hanya aku terjaga, hati tak kunjung lena,
mendengar rumahku berbisik, bernapas pelan, sendiri.
Lampu kuning hangat menyala, menerangi sudut rahasia,
membongkar bayangan panjang, menari di dinding bisu.
Di luar, gelap menelan dunia dengan segala daya,
namun di sini, waktu berdiam, enggan berlalu.
Kutatap figura lama, senyum masa lalu bersemi,
wajah-wajah yang kukasihi, terlelap damai di sampingku.
Setiap bingkai bercerita, tentang janji yang tak mati,
mereka telah tumbuh, telah berlayar, namun hati selalu menuju pintu ini.
Rumah ini bukan sekadar dinding, atap, dan lantai mati,
ia adalah benteng kokoh, dari badai dan kerentaan.
Melindungi setiap mimpi, menjaga hati agar tetap damai,
sebuah berkah hangat, di tengah dunia yang tak berkesudahan.
Di keheningan ini kusadari betapa kaya jiwaku,
bukan harta benda, tapi cinta yang tak pernah jemu.
Setiap napas mereka, melodi syahdu yang merdu,
menyanyikan syukur, atas hidup yang selalu baru.
Maka biarlah cahaya temaram ini terus menjadi suluh,
mengiringi malam, sampai fajar kembali menyapa.
Amanatnya sederhana: bersyukur atas atap yang utuh,
dan cinta yang menyatukan, takkan pernah sirna.
Kau ditanam, seiring tangisku pecah di udara,
sebatang bibit kecil, di rahim bumi yang sama.
Kutumbuh, kau menjulang; kudewasa, kau menua perlahan,
saksi diam di halaman, menopang langit, tanpa beban.
Dulu, dahanmu adalah panggung bagi tawa kanak-kanakku,
rantingmu adalah tiang bendera bagi imajinasiku yang lugu.
Kau berikan buah manis, keteduhan di terik siang yang biru,
tanpa pamrih, tanpa meminta, cukup dengan sisa waktu.
Aku bergerak, melangkah jauh, mengejar cakrawala yang baru,
meninggalkan jejak di jalan-jalan asing, di kota-kota yang menderu.
Namun di setiap persimpangan, di setiap simpang ragu,
selalu ada benang tak kasat mata, menarikku padamu.
Kau tetap di sana, berakar dalam, memeluk tanah yang subur,
sementara aku, seperti daun yang terlepas, terbang entah ke mana.
Kadang rindu menyeruak, bagai angin yang membelai gugur,
mengingatkan bahwa ada jiwa yang tak bisa kupungkiri dari sana.
Kini kutatap kembali, pohon jeruk yang tak pernah pergi,
bukan sekadar kayu, bukan sekadar pelindung hari.
Engkau adalah asal-usul, cerita yang tak bisa dicabuti,
kompas abadi, penunjuk arah, kemana pun aku berlari.
Maka, biarlah duniaku terus berputar, dan aku terus berubah,
seperti air mengalir, mencari muara yang tak berkesudahan.
Tapi hatiku, ia takkan pernah ingkar, takkan pernah rebah,
sebab akarku bersamamu, terpahat dalam ingatan.
Langit menumpahkan gelap, hujan menderu tanpa henti,
Angin menggeram, menerobos celah jendela yang sepi.
Tubuh mengigil, mencari perlindungan, mencari arti,
Lalu kuambil ia, dari sudut lemari tua, selimut yang tak lagi baru ini.
Bukan lagi warna cerah, ia pudar oleh sentuhan waktu,
Bukan benang mewah, tapi seratnya menyimpan banyak kisah pilu.
Jahitan tangan yang mencinta, entah nenek atau ibu,
Setiap helainya, adalah bisikan masa lalu yang syahdu.
Saat melingkariku, ia bagaikan rahim yang hangat dan abadi,
Dingin menyingkir, nyaman menguar, tak ada lagi risau di hati.
Di luar, petir membelah langit, badai mengamuk tanpa diri,
Di dalam, aku terjaga, oleh kedamaian yang tak terperi.
Tapi bukan sekadar suhu, bukan hanya pelindung fisik ini,
Ia membawa kembali aroma rumah, aroma yang tak terganti.
Rasa aman dari mimpi buruk yang dulu kerap menghampiri,
Sebuah pelukan batin, dari ingatan yang tak pernah mati.
Selimut ini, simbol kasih yang tak lekang oleh zaman,
Jahitan tulus, dari tangan yang mengajari kesabaran.
Setiap seratnya, adalah doa, adalah pengharapan,
Mengajarkan bahwa kehangatan sejati tak perlu kemewahan.
Maka biarlah hujan terus menari di atap yang mulai renta,
Aku di sini, di bawah gulungan usang yang penuh cinta.
Menemukan diriku, pelabuhan bagi jiwa yang penat, di tengah derita,
Saat badai mereda, kehangatan itu tinggal batin, abadi, takkan sirna.
Kreator : Okti
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: DI BERANDA RUMAH AKAR DAN KEHANGATAN part 2
Sorry, comment are closed for this post.