“Mak, Emak… hari ini aku sungguh malu. Tapi, itulah yang mungkin harus aku alami sebagai pembelajaran bagiku ya, Mak. Dengan demikian aku baru sadar untuk introspeksi diri, Mak. Mungkin kalau tidak mengalami penyengapan seperti ini aku akan lalai dan aku akan semakin jauh mengikuti kata hati yang membara ke mana-mana, semakin terlena dalam ghibah, dan semakin terbiasa membudayakan kebiasaan ngrasani alias ghibah. Dan, aku akan benar-benar ambil pelajaran dari peristiwa sore ini, Mak. Aku udah kapok poeng. Aku sudah taubat, aku sudah jera. Aku tak akan ghibah lagi,” ucap Si Eny kepada emaknya yang biasa menjadi tempat curhatnya.
“Ya baguslah kalau begitu. Benar lah kamu ambil pelajaran dari semua itu. Dan, itu sudah menjadi ikrarmu untuk tidak ghibah lagi. Bukankah kamu sudah tahu kalau ghibah itu tidak baik? Ngrasani alias ghibah itu dilarang dalam ajaran agama Islam. Kamu kan sudah paham semua itu, tapi kenapa kamu langgar sendiri? Itu kan akhirnya kamu kena batunya. Kamu malu sendiri kan? Makanya, hati-hati setiap mau bicara. Jangan bablas keenakan bicara sampai ngrasani orang, ngebahas orang lain apalagi tentang jeleknya. Padahal, jeleknya orang itu tergantung pada pandangan masing-masing orang. Kalau kamu memandang seseorang jelek, tentu kamu akan menilainya jelek. Tetapi, kalau kamu memandang seseorang itu baik karena memandang dengan hati yang baik, tentu kamu akan menilai seseorang itu baik pula. Iya kan? coba renungkan,” sahut Emak ketus, seolah menambah tamparan manis di pipi Eny.
“Iya deh, Mak. Aku paham semua itu. Aku khilaf, Mak. Aku tidak berniat menilai seseorang itu jelek atau berpikiran jelek, Mak. Tetapi, kemarin itu aku curhat hanya sebagai bentuk protes atau atau rasa jengkel atau rasa dongkol yang hinggap di perasaanku. Namanya manusia biasa, Mak. Jauh dari sempurna. Hanya menerima perlakuan yang aku rasakan tidak adil saja aku merasa tersinggung, merasa jengkel, dan jengkel. Sehingga muncullah kata-kata protes dalam bentuk curhat, biar perasaan ini terasa plong dan lega merasakan kejengkelan yang aku alami,” sahut si Eni setengah membela diri.
“Lha, memangnya kamu curhat sama siapa, dan kamu curhat apa, sampai sedemikian hebohnya dirimu,” lanjut emaknya yang semakin kepo dengan ucapan anaknya.
“Kemarin itu aku curhat ke Bapak, Mak. Kebetulan aku sama Bapak lagi santai, makan camilan sama minum teh hangat. Terus aku bilang ke Bapak tentang apa yang aku alami tadi. Aku bilang Bu ITU begini begitu. Aku merasa dia itu nepotisme, Mak. Dan dari nepotismenya itu, berpengaruh pada peraturan yang tidak tegas terhadap komunitas kami. Aku nih merasakan kedisiplinan dalam komunitas kami semakin kendor, semakin luntur. Dan seterusnya, dan selanjutnya, bla bla bla..” cerocos Si Eny lagi.
“Pada awal aku curhat. Bapak masih menanggapi. Tapi, kemudian Bapak berkomentar pedas alias nyengap aku, Mak. Tapi, ada benarnya benar juga apa yang diucapkan Bapak. Dan, kalau Bapak tidak nyengap aku, tentunya aku tak akan segera sadar,” lanjut si Eni.
“Memang Bapak ngomong gimana?” respon emaknya yang semakin larut dalam penasaran tentang apa yang dikatakan anaknya.
“Wes, ora sah curhat ning aku, mumet ndasku krungu curhatmu, gak enek kepentingane karo aku, curhato ning patung-patung kono, ojo curhat ning aku. Masio kok rasani ngono yo panggah wae kok suwitani ngono kok. Lek terah jentel kibarkan bendera hitam, keluar dari komunitas iku, iku lagek jentel. (Sudah tidak usah curhat ke saya, pusing kepalaku mendengarkan curhatmu, tidak ada kepentingannya sama saya, silahkan curhat ke patung-patung sana, jangan curhat ke saya. Walaupun kamu protes ya tetap saja kamu bergabung di sana begitu. Kalau berani kibarkan bendera hitam, keluar dari komunitas itu, itu baru kamu berani.” begitu Mak ucapan Bapak yang membuatku sadar untuk tidak ngrasani lagi.
“OW, begitu…ya baguslah kalau begitu,” ucap emaknya yang disambut senyum dingin oleh anaknya.
Kreator : Endah Suryani, S. Pd AUD
Comment Closed: Disengap
Sorry, comment are closed for this post.