KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • Berita Alineaku
  • Bisnis
  • Branding
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Moralitas
  • Motivasi
  • Novel
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Politik
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Dua Dunia, Satu Langkah

    Dua Dunia, Satu Langkah

    BY 05 Jan 2025 Dilihat: 115 kali
    Dua Dunia, Satu Langkah_alineaku

    Bab 16: Dua Dunia, Satu Langkah

    Taman baca ini awalnya hanya ide sederhana yang muncul dalam percakapanku dengan Cleo beberapa minggu lalu, ketika kami duduk di tepi jalan setapak yang mengarah ke kampung kecil kami.

    Sore itu, angin semilir membawa aroma tanah basah setelah hujan, dan suara tawa anak-anak yang bermain di kejauhan memenuhi udara. Di tengah suasana itu, buku-buku di perpustakaan dulu menjadi pelarian bagiku, memberi harapan di saat dunia terasa kelam. Aku sering membayangkan betapa banyaknya anak-anak di sini yang mungkin tak pernah merasakan keajaiban itu, dan aku ingin mereka tahu ada tempat yang bisa memberi mereka kesempatan untuk bermimpi.

    Aku menyukai idenya, tapi tak pernah menyangka Cleo benar-benar serius. Dalam beberapa hari, ia sudah mulai mengumpulkan buku dari donasi teman-temannya, dan aku ikut membantu semampuku. Kami mulai menyusun rencana sederhana: taman baca kecil di sudut ruang komunitas yang tidak terpakai. Namun, di balik semangat ini, ada keraguan yang terus menghantuiku.

    Aku tahu ini bukan ide yang mudah diterima semua orang, terutama Willy dan Jay. Mereka tampak skeptis sejak awal.

    “Kamu yakin mau repot-repot dengan ini, May?” tanya Jay saat aku menceritakan rencana kami. 

    “Bukannya itu malah bikin kamu tambah sibuk?”

    Aku mencoba menjelaskan, tetapi setiap kata yang keluar terasa sia-sia. Aku tahu apa yang mengganggu mereka—kekhawatiran bahwa aku terlalu sibuk dengan dunianya Cleo dan lupa akan keluarga ini. Tetapi ada juga sesuatu yang lebih dalam, rasa khawatir mereka bahwa aku mungkin lebih memilih dunia yang baru, dunia yang tidak mereka kenal, daripada dunia yang selalu mereka harapkan untukku. Aku mulai merasakan tekanan itu, beratnya ekspektasi mereka yang membuatku merasa terjepit, seolah aku harus memilih antara dua jalan yang sangat berbeda. Dunia yang mereka harapkan untukku terasa semakin jauh, sementara dunia bersama Cleo, meskipun penuh dengan semangat, mulai terasa lebih asing dan menantang.

    Malam itu, saat kami akhirnya mulai menyusun rak buku sederhana di ruang komunitas, aku merasakan kebanggaan yang menghangatkan hati, bercampur dengan beban yang terasa berat, seolah menghimpit dadaku dari segala arah. Kebanggaan itu muncul karena impian kecil kami mulai terwujud, melihat buku-buku tersusun rapi di rak yang sederhana namun penuh arti. Namun, beban itu juga nyata—sebuah kekhawatiran akan pandangan orang lain, terutama keluarga baruku, yang mungkin menganggap semua ini hanya buang-buang waktu. Aku merasa terjepit di antara dua dunia, mencoba menyeimbangkan kebahagiaanku dengan harapan mereka terhadapku. Taman baca ini adalah sesuatu yang berarti bagi Cleo dan aku, tapi di sisi lain, aku tahu ada batas yang mungkin harus aku hadapi.

    Taman baca itu berdiri di ujung jalan, sebuah bangunan kecil yang dulunya adalah gudang tua. Aku dan Cleo bekerja keras untuk menghidupkannya kembali. Dari dinding-dinding yang kusam hingga jendela-jendela yang nyaris ambruk, semuanya kini tampak bersih dan penuh warna. Rak-rak kayu sederhana berisi buku-buku yang kami kumpulkan dari donasi, dan di sudut ruangan, ada karpet empuk untuk anak-anak duduk membaca. Tapi, meskipun bangunan ini sudah siap menyambut siapa saja, ada bayangan ketegangan yang menggantung di antara kami.

    Willy dan Jay berdiri di pintu masuk, wajah mereka menyiratkan keraguan yang sulit disembunyikan. Aku tahu mereka datang bukan untuk memberi selamat.

    “Mayang,” suara Willy terdengar tegas, nyaris dingin. 

    “Apa kamu benar-benar yakin dengan semua ini? Aku nggak lihat apa gunanya mendirikan taman baca di tempat seperti ini. Kamu punya banyak hal yang bisa dilakukan di rumah, kesempatan besar yang menunggu, tapi kamu malah memilih ini?”

    Aku mencoba menjawab, tetapi rasanya sulit menahan emosi. Tanganku gemetar, dan aku mencoba mengatupkannya erat-erat untuk menenangkan diri.

    Jay menambahkan, meskipun dengan nada yang lebih lembut. 

    “Kami nggak bilang ini buruk, Mayang. Tapi apa kamu nggak mikir kalau ada cara lain untuk membantu orang tanpa harus menyibukkan diri seperti ini? Kamu kan sekarang punya akses ke banyak hal. Bukannya lebih baik fokus ke sesuatu yang lebih besar?”

    Aku menarik napas panjang, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. Aku melirik Cleo, yang berdiri di sampingku dengan tatapan waspada. Aku bisa merasakan kemarahannya mulai muncul.

    “Kenapa kalian selalu berpikir bahwa sesuatu yang sederhana itu nggak penting?” Cleo akhirnya angkat bicara, suaranya tajam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, menunjukkan usaha kerasnya menahan emosi. Matanya menatap langsung ke arah Willy, seperti ingin memastikan setiap kata yang diucapkannya benar-benar sampai pada lawan bicaranya. 

    “Taman baca ini mungkin kecil, tapi tempat ini bisa jadi awal bagi anak-anak untuk bermimpi besar. Nggak semua orang punya akses ke hal-hal yang kalian anggap biasa. Mayang tahu itu, makanya dia mau melakukan ini.”

    Willy mendengus pelan, melipat tangannya di dada. 

    “Kamu nggak paham, Cleo. Ini bukan tentang kecil atau besar. Ini tentang prioritas. Mayang baru saja menemukan keluarganya. Dia punya kesempatan untuk berkembang, untuk melakukan hal-hal yang lebih besar. Kenapa dia harus terjebak di sini?”

    “Terjebak?” aku mengulang kata itu, suaraku bergetar sedikit. 

    “Aku nggak merasa terjebak, Willy. Justru sebaliknya. Aku merasa hidupku lebih berarti saat aku bisa melakukan sesuatu yang nyata. Aku tahu kalian ingin yang terbaik untukku, tapi aku juga punya impian sendiri. Dan taman baca ini adalah salah satunya.”

    Jay menghela napas, lalu melangkah mendekat. 

    “Kami hanya khawatir, Mayang. Kami nggak ingin kamu kelelahan atau terlalu terfokus pada sesuatu yang… yah, mungkin nggak sepadan dengan usaha yang kamu keluarkan. Bukankah kamu punya kesempatan yang lebih besar? Kenapa harus berjuang dengan sesuatu yang tampaknya begitu kecil dibandingkan dengan apa yang bisa kamu capai di luar sana?”

    Cleo menatap Jay tajam. 

    “Nggak sepadan? Jadi menurut kalian, membantu anak-anak belajar membaca itu nggak penting? Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?”

    Aku mengangkat tangan, meminta mereka berhenti berdebat. 

    “Dengar,” kataku dengan suara yang lebih tenang. 

    “Aku tahu kalian peduli padaku, dan aku menghargai itu. Tapi aku juga ingin kalian menghormati pilihanku. Taman baca ini bukan sekadar proyek iseng. Ini adalah cara aku untuk memberi kembali, untuk mengingat dari mana aku berasal. Aku nggak mau melupakan bagian dari diriku yang itu.”

    Willy dan Jay saling bertukar pandang, seolah mencoba mencari jawaban di mata satu sama lain. Akhirnya, Willy mengangguk pelan, meskipun wajahnya masih terlihat tegang.

    “Kalau ini benar-benar yang kamu mau, kami nggak akan melarang,” kata Willy, suaranya lebih tenang, meski wajahnya masih menunjukkan keraguan. 

    “Tapi kami juga nggak bisa sepenuhnya mendukung. Kami hanya berharap kamu tahu apa yang kamu lakukan.”

    Jay mengangguk pelan, meskipun raut wajahnya masih terlihat cemas. Aku bisa merasakan bahwa mereka benar-benar khawatir, meskipun mereka berusaha tampak menerima. Namun, aku tahu bahwa kekhawatiran mereka bukan hanya soal taman baca ini—mereka khawatir aku semakin menjauh, kehilangan diri dari apa yang mereka anggap sebagai keluarga yang seharusnya aku prioritaskan. 

    Seiring mereka berbalik dan melangkah pergi, aku menyadari bahwa mereka bukan hanya khawatir tentang taman baca ini, tetapi juga tentang aku yang semakin menjauh dari mereka. Hatiku berdebar, mencoba memahami perubahan dalam hubungan kami—apakah ini benar-benar pilihan yang tepat untuk kami semua?

    Aku tersenyum tipis, merasa lega meskipun ada sedikit kepedihan.

     “Terima kasih, Willy. Itu sudah cukup bagi aku.”

    Setelah beberapa saat hening, mereka akhirnya pergi, meninggalkan aku dan Cleo di taman baca. Suasana menjadi sepi, seperti ada ketegangan yang menggantung di udara. Cleo menatapku dengan ekspresi penuh kemenangan, meskipun aku tahu di balik itu, dia juga merasa lelah. Aku berdiri di sana, memandangi taman baca yang kini terasa seperti dunia milikku sendiri. Namun, hatiku masih terombang-ambing—aku bisa merasakan dua dunia yang semakin jauh terpisah. Di satu sisi, ada dunia impian dan harapan Cleo, dunia yang aku pilih untuk membangun sesuatu yang lebih bermakna. Tapi di sisi lain, ada dunia keluarga baruku yang selalu menginginkan yang terbaik untukku, meskipun dengan cara mereka sendiri. Aku bertanya-tanya, apakah aku bisa benar-benar memegang kendali atas langkahku, atau apakah aku hanya terjebak di antara dua dunia yang saling bertentangan.

    “Mereka akhirnya menyerah,” katanya sambil tersenyum kecil. 

    “Tapi kamu tahu, Mayang, kita harus membuktikan bahwa mereka salah.”

    Aku mengangguk, mataku menatap ke rak-rak buku yang kosong sebagian. 

    “Aku tahu, Cle. Dan aku siap untuk itu.”

    Hari itu adalah awal dari perjuangan baru. Taman baca ini bukan hanya tempat untuk membaca, tetapi juga simbol dari apa yang bisa terjadi jika kita percaya pada mimpi, betapapun kecilnya. Di benakku, aku membayangkan taman baca ini dipenuhi anak-anak yang duduk membaca dengan mata berbinar, menghilangkan batas-batas yang selama ini membatasi mimpi mereka. Aku ingin tempat ini menjadi awal bagi mereka untuk membangun keberanian dan imajinasi tanpa batas, sebuah ruang kecil yang membuka pintu ke dunia yang lebih luas. Aku tahu jalannya tidak akan mudah. 

    Saat malam tiba, aku berdiri di depan taman baca yang gelap, memandangi bayangan gedung yang menyatu dengan kegelapan. Suara langkah kaki terdengar, perlahan menjauh dari arah rumah, seperti membawa serta sebagian beban pikiranku. Aku mencoba menebak siapa pemilik langkah itu, dan entah mengapa, bayangan Willy atau Jay yang kembali mengisi benakku, seolah-olah langkah itu mengisyaratkan sebuah peringatan atau mungkin penyesalan. Kesunyian setelahnya menyisakan ruang bagi pertanyaan yang menggantung. Aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar bisa membuktikan semua ini pada mereka, atau justru langkah ini adalah awal dari sesuatu yang tak terduga? Mungkinkah aku hanya terjebak dalam ilusi tentang apa yang aku bisa capai, atau apakah aku benar-benar tahu apa yang aku inginkan dalam hidupku? Setiap langkah terasa penuh dengan ketidakpastian, tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan menyerah begitu saja.

     

     

    Kreator : Fati Nura

    Bagikan ke

    Comment Closed: Dua Dunia, Satu Langkah

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]

      Sep 18, 2024
    • Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]

      Sep 07, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021