Hari itu udara cerah, angin semilir membelai dedaunan hijau di sebuah taman kaki bukit. Seorang sahabat bercerita tentang pengalaman bermainnya :
“Sebetulnya di masa kecil saya sangat suka bermain, akan tetapi pola asuh keluarga dan lingkungan tidak memberi saya cukup waktu dan kesempatan untuk mengisi kanak-kanak dengan aktivitas bermain yang optimal. Saya lebih dituntut untuk banyak belajar, orang dewasa di sekitar saya saat itu lebih memandang bermain sebagai aktivitas yang tidak esensi dan membuang waktu”.
Cerita di atas hanyalah satu ilustrasi kasus betapa banyak orangtua yang kurang memahami pentingnya bermain bagi perkembangan anak. Perbincangan saya lanjutkan dengan mengulik pendapat saudara kembar saya yang kebetulan mempelajari psikologi. Tulisan ini merangkum sedikit hal dari perbincangan kami tersebut.
Bermain adalah aktivitas yang sangat penting bagi anak. Sungguh menyedihkan menghadapi orang dewasa yang bersikap negatif terhadap aktivitas bermain yang dilakukan anak sehari-hari. Kacamata sebagian orang dewasa seringkali melihat bermain merupakan kegiatan yang tidak berguna, cenderung mengganggu atau membuang-buang waktu.
Apa sebetulnya bermain itu? Banyak ahli psikologi yang mengemukakan pendapatnya tentang apa itu bermain. Mereka mengatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain, di mana bermain pada anak merupakan sarana untuk belajar. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang kaya, anak juga dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman dan kemampuan kognitifnya dalam upaya menyusun kembali gagasan-gagasannya yang indah.
Sebagaimana makan, minum, bernafas, dan tidur, kegiatan bermain sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan anak. Kegiatan bermain tidak hanya berperan dalam perkembangan fisik anak tetapi juga dalam perkembangan intelektual, bahasa, sosial, dan emosinya.
Dalam hal perkembangan intelektual, bermain membantu anak memahami dunia sekitar. Bermain akan merangsang perkembangan kognitif anak, membangun struktur kognitifnya, sekaligus membangun kemampuan kognitifnya yang meliputi kemampuan mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengurut, mengamati, membedakan, membuat peramalan, menarik kesimpulan, membandingkan, dan menentukan hubungan sebab akibat. Selain itu saat bermain anak juga akan belajar untuk memecahkan masalah dan mengembangkan kemampuan konsentrasi.
Aktivitas bermain bagi anak juga ibarat ‘laboratorium bahasa’. Saat bermain anak mengucapkan ribuan kosa kata, belajar bercakap-cakap, berargumen, menjelaskan, meyakinkan, juga bereksperimen dengan kata-kata baru sehingga memperkaya perbendaharaan katanya serta ketrampilan memahami kata-kata itu.
Pada aspek perkembangan sosial, melalui bermain anak akan mengembangkan sikap sosial terhadap orang lain, anak akan terdorong untuk meninggalkan sikap egosentrisnya dan mulai menghargai keberadaan orang lain. Selain itu anak juga belajar untuk berkomunikasi dengan orang lain, belajar mengorganisasi, serta lebih menghargai orang lain dengan segala perbedaan yang ada.
Di sisi lain, lewat bermain anak dapat menumpahkan seluruh perasaannya, baik marah, takut, sedih, cemas, atau gembira. Dengan demikian bermain menjadi wahana untuk berekspresi bebas sekaligus relaksasi. Situasi bermain akan membantu anak untuk membentuk kestabilan emosi, menumbuhkan rasa kompetensi dan percaya diri, serta menjadi sarana untuk menyalurkan keinginan. Selain itu dalam hal perkembangan emosi, bermain akan membantu anak untuk menetralisir emosi negatif, menyelesaikan konflik, menyalurkan agresivitas secara aman, serta mengembangkan konsep diri yang realistis.
Pada sisi perkembangan fisik anak, bermain menjadi aktivitas yang bisa mengembangkan kecakapan motorik kasar dan memperhalus keterampilan jari jemari serta koordinasi mata-tangan. Secara lebih khusus, bermain akan mengembangkan kepekaan penginderaan pada anak. Pengalaman mengeksplorasi dengan penginderaan memungkinkan anak belajar mengenal dan mengapresiasi beraneka bentuk, ukuran, tekstur, bau, suara, dan rasa. Kemampuan motorik kasar (seperti: berjalan, berlari, melompat, berguling, mengangkat, menjinjing, berputar) dan kemampuan motorik halus (seperti: merangkai, menyusun, melipat, melukis, menempel) juga akan terasah ketika anak bermain. Dan yang tidak kalah penting, bermain akan memberi kesempatan bagi anak untuk menyalurkan energi fisik yang terpendam.
Selain fungsi di atas, bermain juga dapat merangsang kreativitas dan imajinasi anak serta dapat menjadi metode terapi bagi anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.
Setiap anak selalu ingin bermain. Hampir sepanjang waktunya ia gunakan untuk bermain. Ia akan memilih sendiri permainannya. Kadangkala ia berlama-lama dalam satu permainan, pada saat yang lain sangat sebentar. Dalam bermain anak bereksplorasi. Situasi itu sering dilakukan tanpa disadari bahwa ia telah melatih dirinya dalam beberapa kemampuan tertentu sehingga ia memiliki kemampuan-kemampuan baru.
Comment Closed: DUNIA BERMAIN BAGI ANAK, PENTINGKAH?
Sorry, comment are closed for this post.