Kali ini mau ngomongin soal ‘emotional shield’. Istilah saya aja ini sih. Pernah kah merasa diri sendiri bikin benteng yang tinggi sampai ngga bisa disentuh orang, padahal beberapa momen sebelumnya kamu baik-baik aja dan bisa blending wajar sama orang tersebut? Seringkali kondisi seperti ini dilakukan tanpa disadari. Kayak ada auto-run gitu, begitu ada kondisi pemicu, temboknya langsung muncul. Mau bilang human shield ya kan ngga kelihatan ya. Jadinya istilah saya aja ini, kita mungkin sering sering tidak sadar melakukan self protection semacam emotional shield untuk melindungi diri sendiri dari kondisi atau reaksi yang tidak kita inginkan untuk dilihat oleh orang lain secara langsung kecuali jika kita nyatakan dengan jelas.
Bagaimana dengan seseorang yang karakternya ekstrovert dan biasa mengungkapkan dengan jelas perasaan dan pikirannya, orang yang terbuka macam ini pun bisa juga mengeluarkan emotional shield itu tadi. Kapan dan kenapa kira-kira? Biasanya karena ingin menghindari rasa sakit jika dirinya dibiarkan ‘merasakan’ lebih dalam. Jadi daripada merasakan, lebih baik menepis dengan cara membentengi diri sendiri.
Misalnya ada seorang perempuan, pada dasarnya dia berkarakter lembut, tapi kemudian jika radarnya sudah merasakan tanda-tanda disakiti oleh orang terdekat (secara emosional), maka karakter lembutnya bisa berubah seketika menjadi kaku dan keras. Itu jadi tameng supaya dia tidak membiarkan perasaannya langsung kena dengan kalimat atau sikap yang menyakiti dari orang lain itu tadi. Perubahan ini biasanya tidak muncul seketika, kadar keras dan kakunya emotional shield itu tadi tergantung seberapa banyak dan lamanya ditumpuk itu hujaman sikap atau perkataan yang menyakiti si perempuan. Hm, makanya banyak kali perempuan ini menahan rasa sakit sampe gerd atau apalah ke badan. Kebanyakan ditahan, ditameng, tapi ya pelan-pelan mesti belajar dilepas dan diselesaikan.
Yang kita semua kayaknya sudah tahu, penyelesaian itu bisa jadi tidak semua bisa berakhir menyenangkan dan sesuai keinginan. Kayak kita baca di cerita-cerita dan film gitulah. Nah, siap tidak siapnya menerima apapun reaksi ketika bersikap jujur, itu tergantung kekuatan dan kesehatan mental juga rasanya. Sebab kalau cuma pasang emotional shield terus sebagai bentuk pertahanan diri, sampai berapa lama tuh bisa bertahan? Yang jelas nggak bisa selesai sih persoalannya. Karena namanya soal kalau ngga dibaca ya ngga bisa dijawab, ya kan? Memang kita perlu terus belajar berani untuk menyampaikan apa yang kita rasakan dan pikirkan. Walau tidak semua bisa mendapatkan respon yang baik dari lawan bicara, kan tiap orang juga punya life issues yang beda-beda. Marriage or having relationships is never scary, you just have to prepare yourself more. Kalau dulu saya tidak banyak persiapan, setidaknya saya bersyukur bahwa saya masih bisa dan mau banyak belajar, supaya kelak anak perempuan saya memiliki ilmu dan ketahanan diri yang lebih. Dan anak-anak lelaki saya akan jadi pasangan yang baik nantinya.
Kata banyak konten fyp di dunia maya, beruntunglah kamu kalau dapat yang cintanya setara. Jadi pas lagi mau manja, dimanjain balik, bukannya disuruh dewasa dan ngelap air mata sendiri. Eeaaa. Tapi kalau nyatanya memang tidak setara saat ini, semoga tidak selamanya alias nantinya akan saling mengejar ketertinggalannya. Manusia yang belum mati, selamanya selalu terbuka pintu perubahan asalkan dirinya sendiri yang pegang kenopnya dan bergerak membukanya.
Kreator : Dixie Maia
Comment Closed: Emotional Shields
Sorry, comment are closed for this post.