Bunyi bip ponsel membangunkan Yunita dari tidurnya. Dengan setengah kaget, ia melihat ke arah jendela dan jam menunjukkan sudah pukul 06.30 WIB,
“Waduh, kesiangan nih!” gumam Yunita. Ia kemudian bergegas mandi dan merapikan berkas yang ada di atas meja kerja.
“Nak, makan dulu ya,” ujar Bu Agriani yang sedang duduk di meja makan bersebelahan dengan sang ayah yang beberapa hari ini sering dinas luar kota.
Ayahnya adalah seorang sarjana kesehatan yang bekerja sebagai kepala bagian umum di salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Sang ayah cukup keras dalam mendidik Yunita, terutama urusan shalat dan kedisiplinan. Saat kesiangan seperti ini Yunita pun sering ditegur dan diberitahu sang ayah jangan terulang kembali.
“Kalem Mamih dan Bapakku…” ujar Yunita sambil minum susu dan roti sedikit, kemudian segera memesan taksi menuju kantor Biro Gunardi.
Di perjalanan, Yunita masih melanjutkan lamunan saat SMA dulu. Ingatannya melayang pada pertandingan Porseni kala itu, tepatnya pertandingan bola basket. Saat itu Yunita bermain sebagai libero, sehingga ia berusaha mengoper bola kepada rekan satu tim. Ketika hendak menghindari serudukan lawan, tiba-tiba seseorang mendorongnya hingga ia terhenyak.
“Aduh!!” ujar Yunita masih dalam lamunan. Selintas terlihat wajah mirip Evita.Mengapa Evita mendorongnya saat itu. Meski pertandingan basket kala itu dimenangkan oleh kelas IPA 3, sementara Evita ada di kelas IPA 1. Yunita tersenyum sendiri saat itu karena saat bola dilempar hattrick ke arah papan bola, dan bola pun masuk. Angka itu menjadi penentu kemenangannya. Saat itu, tampak Evita kesal dibuatnya. Ia bersama dua sahabatnya akan melakukan pemukulan pada Yunita, namun Poppi teman satu kelas Yunita melawan dan mengatakan.
“Stop! Kita menang! Sebaiknya kalian pergi,” ujar Poppi.
Yunita pun dipapah Poppi menuju UKS. Saat akan diberi tindakan oleh guru, Yunita dikagetkan oleh suara pria paruh baya, yang ternyata Yunita telah sampai ke biro Gunardi.
“Hai Yun,” ujar Tiara yang saat itu berada di Ruang Konsul 1.
“Ini ada pemeriksaan sekolah ya? Kok ramai sekali. Jadi ingat masa SMA kita,” ujar Yunita pada Tiara dan kebetulan Gunardi berjalan ke arah mereka.
“Iya lah, biasa seling aja dengan yang muda-muda atuh. Masa kasus pembunuhan melulu, euneuk nanti hehe,” goda Gun, nama panggilan kecil Gunardi.
“Okay, let’s go! Kita garap tugas ini. Untuk masuk kuliah kan?” Ujar Yunita menegaskan kembali.
“Iya … Ayo, kamu di Ruang Konsul 3 ya,” ujar Tiara sambil memberikan berkas kepada Yunita.
Yunita pun masuk ke Ruang Konsul 3 dan terlihat seorang ibu muda bernama Naila menyapanya.
“Bu guru … Eh, anu … Bu psikolog ya? Sudah lama nggak ketemu. Saya yang dulu pernah kasusnya ditangani Ibu. Sekarang anaknya mau masuk kuliah loh, Bu. Alhamdulillah, saya sekarang ndak takut lagi sama masa depan. Sejak perceraian saya dengan suami, anak saya mau konsul, namanya Izar,” ujar Bu Naila, klien Yunita beberapa waktu berselang.
“Oh iya. Syukurlah, Bu. Mari kita lihat hasil ananda ya,” ujar Yunita tanpa basa basi.
Satu per satu konsultasi diberikan dan hanya dalam waktu kurang dari dua jam Yunita selesai dengan 15 orang siswa SMA Kesuma Bangsa yang hadir saat itu.
Sambil membuat laporan, Tiara pun masuk ruangan Yunita. “Yun, kamu jadi ikut tes masuk CPNS minggu depan?” tanya Tiara.
“Iya nih. Biasa, Bapak aku yang mengharuskan aku masuk PNS, sambil ngerjain kasus, freelance sana sini. Ya lumayan lah buat nambah pengalaman, sambil persiapan ujian,” ujar Yunita penuh semangat.
“Bismillah, lancar ya, Yun. Aku kayaknya nggak ikut karena Mas Gun nggak setuju aku masuk PNS itu,” ucap Tiara.
“Mas Gun kan udah jadi dosen, sayang. Kamu cukup kelola bironya aja, kan sudah sejoli itu,” ujar Yunita menyemangati.
“Iya deh. Ayo kita bereskan berkas. Eh tapi … tadi temen-temen grup SMA pada ngobrol soal foto liburan kita. Sepertinya memang ada yang menguntit kita, Yun. Tapi, klarifikasi ke Evita dia nggak ngaku. Berarti seseorang di antara teman SMA kita, dong. Semoga saja segera terungkap ya,” ujar Tiara penasaran.
“Sudahlah, biarkan saja. Nanti juga berlalu dengan sendirinya. Aku sejak ditinggal Bang Ilham malas komen macam-macam selain bertanya soal relasi dan jaringan pekerjaan saja,” ucap Yunita sambil sibuk menulis.
“Iya deh kalo gitu,” ujar Tiara.
Mereka pun menyusun berkas konsultasi SMA Kesuma Bangsa dengan semangat hingga selesai. Kemudian Tiara dan Gunardi mengajak Yunita untuk makan di warung Masakan Padang yang berada di sebelah biro Gunardi di daerah Surya Sumantri Atas kota Bandung.
“Makanan Padang ini aku suka rendang. Khas bumbunya dan sedap, apalagi dimakan pakai nasi panas. Makasih ya, Mas Gun dan Neng Tiara,” ujar Yunita sambil makan dengan lahap.
“Iya, Yun. Sok atuh, makan yang kenyang. Besok masih ada konsul siswa SMA Harapan di daerah Dago Atas. Temenin Tiara ya Yun,” ujar Gunardi memelas.
“Oh, okay. Nanti aku bantu,” jawab Yunita.
Bip. Terdengar notifikasi pesan di ponsel Yunita.
“Apa kabar, Yun?”
Ternyata pesan tersebut dari Mas Wahyu, teman kampus yang naksir Yunita ketika dahulu, saat belum ada ponsel dan baru ada pager.
Sambil membaca isi pesan WhatsApp Mas Wahyu, Yunita terbayang saat dulu ketika masa pager hadir, sepulang kampus Yunita berjalan menuju perpustakaan dan Mas Wahyu mengikuti Yunita dari fakultas Manajemen Industri lalu masuk ke perpustakaan kampus sambil memberikan pager.
“Nih, buat kamu. Saat aku perlu ngobrol sama kamu, baca isi pager ini ya,” desak Wahyu kemudian berlalu meninggalkan Yunita begitu saja.
“Dih, aneh banget tuh orang!” gumam Yunita.
Pesan yang dikirimkan Wahyu saat ini pun juga hampir sama dengan ucapannya kala itu.
“Ini nomor WhatsApp-ku, Yun. Kalo ada apa-apa dan aku perlu kamu, aku boleh telepon ya. Thanks.”
“Siapa, Yun?” tanya Tiara.
“Ah ini, cuma teman lama,” jawab Yunita, masih setengah tidak percaya.
Tak berselang lama, mereka kembali asyik berdiskusi tentang kasus kecil dengan diselingi tawa Yunita dan Tiara mengingat Mas Gun sering bergurau.
Tak terasa jam menunjukkan pukul tiga sore. Yunita masih memikirkan pesan dari Mas Wahyu.
“Aku nanti sering chat, ya. Ajak ketemuan dan ngobrol ya … oke?” Wahyu kembali mengirimkan pesan kepada Yunita.
Kreator : Yusi Hariyumanti HS ( Uchi)
Comment Closed: Episode 4.2. Sebuah Pager
Sorry, comment are closed for this post.