KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Episode.4.3 . Sebuah kecelakaan

    Episode.4.3 . Sebuah kecelakaan

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 16 kali
    Episode.4.3 . Sebuah kecelakaan_alineaku

    Pagi hari di bulan Januari, Yunita masih membereskan berkas dan surat panggilan untuk ke pengadilan menjadi saksi ahli. Yunita meneliti isi surat tersebut. Pada bagian penerima surat, tertulis inisial A.S agar terjaga kerahasiaan data di dalamnya. Yunita membaca dan melihat kasus A.S ini adalah kasus pembunuhan di daerah Ciamis dan telah ditangani selama lebih dari enam bulan olehnya. Dengan sigap dan analisis tajam, Yunita menjelaskan kepada hakim tentang kasus tersebut. Setelah selesai panggilan di pengadilan, masih di bulan Januari, Yunita melakukan pemeriksaan pada siswa SMA Kesuma Bangsa 2 ditemani Tiara, sahabatnya. 

    “Tadi pagi gimana? Amankah jadi saksi ahli?” tanya Tiara sambil membereskan berkas.

    “Aman lah. Desakan hakim meminta second opinion dari Psikolog luar,” ujar Yunita menjelaskan.

    “Ya, bentar lagi lulus lah jadi psikolog organik di lingkup tugas hukum,” ujar Tiara menyemangati.

    “Iya, tetap nggak boleh lepas semangat itu say,” ujar Yunita.

    “Yang penting semangat, rajin menghafal dan tekun,” tambah Tiara.

    “Hari ini terakhir ya untuk tes potensi anaknya?” tanya Yunita mengalihkan suasana.

    “Iya. Mas Gun lagi ngajar, jadi di handle aku aja. Kalem, sisa evaluasi sebagian biar sama aku aja ya, Yun. Okay?” desak Tiara.

    “Makasih ya,” ujar Yunita.

    Setelah itu, Yunita bergegas pulang dan menghafal beberapa tes seperti akademik dan pengetahuan umum agar lolos masuk instansi dan menjadi PNS.

    Dua hari kemudian, Yunita melaksanakan tes masuk PNS dan beberapa tes dapat dilalui dengan baik, mengawali dengan langkah pasti untuk sukses diri lebih baik.

    Bip. Terdengar kembali notifikasi dari ponselnya.

    “Yun, kapan kita bisa ngobrol bebas? Aku tunggu di kafe Merawat Coffie ya…” 

    Pesan dari Wahyu mengajaknya bertemu.

    “Tumben banget ni anak. Sepertinya lagi di Bandung ya,” gumam Yunita dalam hati. 

    Tanpa menunggu, Yunita segera membalas pesan Wahyu saat itu juga sambil tersenyum tipis.

    “Okay, pukul empat sore aku bisa. Ntar aku kesana.” 

     

    Beberapa saat kemudian, Yunita menepati janji temunya dengan Wahyu. Rupanya, Wahyu tidak sendiri. Ada Doni dan tunangannya yang ikut meramaikan suasana. Yunita disambut penuh suka cita. Wahyu pun menyampaikan bahwa Doni dan tunangannya dijodohkan oleh orang tua masing-masing, dan tiba-tiba suasana sejenak berubah menjadi serius.

    “Sebenarnya aku pun dijodohkan. Tapi, rasanya perjodohan ini masih belum cocok buat aku, Yun. Aku masih ingin mengejar bisnisku di kota lain. Menurutmu, cara menolaknya gimana ya?” tanya Wahyu.

    “Aku mah setuju aja, Yun. Orang pas ketemu eh si pacar aku juga yang dijodohkannya ya pas lah…” ujar Doni menimpali.

    “Iya, kalo menurut Yuni sih, sebaiknya Mas Wahyu bicarakan kembali dengan orang tua tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada. Sementara Doni, tak masalah, asal penyesuaian aja karena ketika pacaran beda dengan pernikahan. Menurut teori lho ya,” ujar Yunita menjelaskan.

    Mereka semua pun tertawa dan Yunita menjelaskan kembali. “Kemungkinan Mas Wahyu masih takut untuk membina relasi rumah tangga, sehingga  lebih memilih karier.”

    Wahyu hanya mengangguk. 

    Sementara itu, Doni dan sang kekasih pamit hendak pergi ke suatu tempat, sehingga hanya ada Yunita dan Wahyu.

    “Yun, ingat kan waktu aku kasih pager ke kamu waktu itu?” tanya Wahyu sambil mengaduk coffee latte kesukaannya.

    “Iya lah. Aku kaget juga. Baru juga kenal, kamu malah kasih aku benda mungil yang aku nggak hafal  cara pakainya. Hehe..” ujar Yunita setengah tertawa.

    “Iya lah. Waktu itu kan aku udah punya usaha. Ya, belum ada ponsel secanggih sekarang sih. Atau, sekarang mau aku belikan ponsel baru?” tanya Wahyu menawarkan.

    “Oh nggak lah. Makasih. Masih cukup dengan ponsel yang ku beli pakai gaji pertamaku ini. Hehe..” jawab Yunita terkekeh.

    “Okay, jadi kita teruskan ya pembicaraan ini,” kata Wahyu memanfaatkan waktu. 

    “Jadi, kemarin aku didesak Mama buat janji temu dengan seseorang.”

    “Oh, pasti cowok,” gurau Yunita memotong ucapan Wahyu.

    “Idih! Aku masih normal, neng! Ya cewek lah!” ujar Wahyu sebal.

    “Kenalan lah kita, dan hari ini dia mau ketemuan lagi. Aku rasa cocok sih buat jadi teman. Tapi buat jadi istri, I don’t think so.” Wahyu menggeleng.

    “Loh,kenapa? Lalu, siapa namanya?” Yunita heran.

    “Namanya Airin, mahasiswa kedokteran, keluarga terpandang,” ujar Wahyu datar.

    “Kok nadanya begitu? Bersyukur, Mas. Kamu bisa ketemu orang yang cantik, baik, calon dokter lagi,” ucap Yunita. “Memang, aku tahu Mas Wahyu nggak bisa suka begitu saja. Tapi kan masih ada banyak waktu.”

    “Ya iya lah. Seperti pager yang ku titipkan ke kamu, perlu waktu hunting empat semester tambah satu semester aku jadi OP, wah perjuangan,” timpal Wahyu.

    “Heh, fokus sama masalah Mas Wahyu aja sekarang. Jadi, sekarang Mas mau tugas kemana?”

    “Makassar, mungkin ke Malaysia juga. Sekarang, setelah aku dicuekin kamu, aku lebih fokus kerja aja. Perjodohan kemarin ku anggap sebagai menambah relasi saja,” ujar Wahyu sambil membaca isi ponselnya.

    “Nah, itu ketahuan. Fokus satu, pilih dan kerjakan. Maaf ya, bukan aku cuek, sekarang aku juga  lebih fokus kerja, ngejar target PNS,” jawab Yunita.

    “Oh ya, diumumkan lusa ya…” ucap Wahyu.

    “Iya nih. Bismillah.” sembari mengepalkan tangan Yunita berdoa, “Bismillah…Bismillah,”

    “Oke, aku tetap berdoa Yunita yang baik ini pasti keterima dan sukses.”

    Mereka pun larut dalam pembicaraan tentang persahabatan mereka semasa kuliah, hingga tak terasa jam menunjukkan pukul sembilan malam. Yunita kemudian mengakhiri pembicaraan dan pulang menggunakan taksi seperti biasanya.

    Sementara Wahyu masih duduk sendirian di kafe sambil membuka kembali beberapa foto kenangannya berdua dengan Yunita saat masih di kampus. Ia tersenyum sendiri sambil mengingat memori indah bersama Yunita.

     

    Dua hari setelah pertemuannya dengan Wahyu, Yunita menuju kantor pusat kepolisian dan ternyata ia diterima sebagai PNS. Kedua orang tuanya tentu saja senang dan bangga akan prestasi anaknya. Yunita pun ditempatkan di biro personel dan menjabat sebagai staf ahli psikologi. Semakin kuat Yunita menangani kasus seperti saat menjadi freelance. Hingga saat pulang kerja, Yunita tampak bersiap untuk bertugas dan membaca pesan dari Thomas. Ada kasus lagi yang harus ditangani. Tanpa pikir panjang, Yunita pun bergegas memesan taksi. Karena tidak ada, tiba-tiba ada ojek pangkalan. Yunita mengejar kasus yang disebut Wahyu berlokasi di daerah Dago Atas. Namun, sebelum sampai ke lokasi, Yunita justru mengalami kecelakaan. Motor yang ditumpanginya terperosok ke dalam lembah.

    Saat itu, Yunita masih setengah sadar lalu mengirim pesan singkat  ke Thomas. 

    “Sorry, aku tidak bisa menangani kasus. Aku kecelakaan.” 

    Beberapa detik kemudian, Yunita langsung pingsan.

    Thomas akhirnya tiba beberapa menit menuju lokasi dimana Yunita kecelakaan dan memberikan pertolongan menuju rumah sakit terdekat. Saat itu, Thomas menerima pesan pula bahwa pesawat yang dikendalikan Ilham jatuh di pedalaman Papua. Thomas hanya menjawab di grup teman SMA Negeri 212.

    “Doakan kedua teman kita ya, Guys. Yunita dan Ilham kecelakaan, tolong teman semua bantu dan support  dengan doa semoga mereka segera pulih.”

    Sedangkan Yunita masih diberikan pertolongan. Menurut dokter harus segera dilakukan rontgen. Tentu saja Thomas segera menelepon orang tua Yunita dan menjelaskan keadaan Yunita.

    Sudah satu hari berlalu, tetapi Yunita belum juga sadar. Sementara itu, ibu Yunita datang dan setia menunggu di sampingnya. Sedangkan Thomas kembali menjalankan tugasnya.

    “Tolong saya, Bu. Saya minta tolong agar semua kasus bisa terang, Bu. Bantu saya…”

     

    Sebuah suara di balik tirai sebuah rumah kosong berucap lirih. Yunita berjalan menuju tirai, dan saat dibuka Yunita melihat seorang pemuda dengan muka penuh darah. Pemuda itu semakin dekat dan mulai mencengkram tangan Yunita dengan kuat, sampai sesak ia merasa sesak nafas kembali. 

    “Yun … Bangun, nak.” Samar Yunita mendengar suara lirih Mamih. 

    Tiba-tiba Yunita membelalakkan matanya. Ia tersadar lalu segera memeluk Mamih.

    “Badan Yunita masih sakit, Mih.” Yunita menangis sambil memeluk Mamih.

     

     

    Kreator : Yusi Hariyumanti (Uchi)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Episode.4.3 . Sebuah kecelakaan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021