Pagi hari di bulan Januari, Yunita masih membereskan berkas dan surat panggilan untuk ke pengadilan menjadi saksi ahli. Yunita meneliti isi surat tersebut. Pada bagian penerima surat, tertulis inisial A.S agar terjaga kerahasiaan data di dalamnya. Yunita membaca dan melihat kasus A.S ini adalah kasus pembunuhan di daerah Ciamis dan telah ditangani selama lebih dari enam bulan olehnya. Dengan sigap dan analisis tajam, Yunita menjelaskan kepada hakim tentang kasus tersebut. Setelah selesai panggilan di pengadilan, masih di bulan Januari, Yunita melakukan pemeriksaan pada siswa SMA Kesuma Bangsa 2 ditemani Tiara, sahabatnya.
“Tadi pagi gimana? Amankah jadi saksi ahli?” tanya Tiara sambil membereskan berkas.
“Aman lah. Desakan hakim meminta second opinion dari Psikolog luar,” ujar Yunita menjelaskan.
“Ya, bentar lagi lulus lah jadi psikolog organik di lingkup tugas hukum,” ujar Tiara menyemangati.
“Iya, tetap nggak boleh lepas semangat itu say,” ujar Yunita.
“Yang penting semangat, rajin menghafal dan tekun,” tambah Tiara.
“Hari ini terakhir ya untuk tes potensi anaknya?” tanya Yunita mengalihkan suasana.
“Iya. Mas Gun lagi ngajar, jadi di handle aku aja. Kalem, sisa evaluasi sebagian biar sama aku aja ya, Yun. Okay?” desak Tiara.
“Makasih ya,” ujar Yunita.
Setelah itu, Yunita bergegas pulang dan menghafal beberapa tes seperti akademik dan pengetahuan umum agar lolos masuk instansi dan menjadi PNS.
Dua hari kemudian, Yunita melaksanakan tes masuk PNS dan beberapa tes dapat dilalui dengan baik, mengawali dengan langkah pasti untuk sukses diri lebih baik.
Bip. Terdengar kembali notifikasi dari ponselnya.
“Yun, kapan kita bisa ngobrol bebas? Aku tunggu di kafe Merawat Coffie ya…”
Pesan dari Wahyu mengajaknya bertemu.
“Tumben banget ni anak. Sepertinya lagi di Bandung ya,” gumam Yunita dalam hati.
Tanpa menunggu, Yunita segera membalas pesan Wahyu saat itu juga sambil tersenyum tipis.
“Okay, pukul empat sore aku bisa. Ntar aku kesana.”
Beberapa saat kemudian, Yunita menepati janji temunya dengan Wahyu. Rupanya, Wahyu tidak sendiri. Ada Doni dan tunangannya yang ikut meramaikan suasana. Yunita disambut penuh suka cita. Wahyu pun menyampaikan bahwa Doni dan tunangannya dijodohkan oleh orang tua masing-masing, dan tiba-tiba suasana sejenak berubah menjadi serius.
“Sebenarnya aku pun dijodohkan. Tapi, rasanya perjodohan ini masih belum cocok buat aku, Yun. Aku masih ingin mengejar bisnisku di kota lain. Menurutmu, cara menolaknya gimana ya?” tanya Wahyu.
“Aku mah setuju aja, Yun. Orang pas ketemu eh si pacar aku juga yang dijodohkannya ya pas lah…” ujar Doni menimpali.
“Iya, kalo menurut Yuni sih, sebaiknya Mas Wahyu bicarakan kembali dengan orang tua tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada. Sementara Doni, tak masalah, asal penyesuaian aja karena ketika pacaran beda dengan pernikahan. Menurut teori lho ya,” ujar Yunita menjelaskan.
Mereka semua pun tertawa dan Yunita menjelaskan kembali. “Kemungkinan Mas Wahyu masih takut untuk membina relasi rumah tangga, sehingga lebih memilih karier.”
Wahyu hanya mengangguk.
Sementara itu, Doni dan sang kekasih pamit hendak pergi ke suatu tempat, sehingga hanya ada Yunita dan Wahyu.
“Yun, ingat kan waktu aku kasih pager ke kamu waktu itu?” tanya Wahyu sambil mengaduk coffee latte kesukaannya.
“Iya lah. Aku kaget juga. Baru juga kenal, kamu malah kasih aku benda mungil yang aku nggak hafal cara pakainya. Hehe..” ujar Yunita setengah tertawa.
“Iya lah. Waktu itu kan aku udah punya usaha. Ya, belum ada ponsel secanggih sekarang sih. Atau, sekarang mau aku belikan ponsel baru?” tanya Wahyu menawarkan.
“Oh nggak lah. Makasih. Masih cukup dengan ponsel yang ku beli pakai gaji pertamaku ini. Hehe..” jawab Yunita terkekeh.
“Okay, jadi kita teruskan ya pembicaraan ini,” kata Wahyu memanfaatkan waktu.
“Jadi, kemarin aku didesak Mama buat janji temu dengan seseorang.”
“Oh, pasti cowok,” gurau Yunita memotong ucapan Wahyu.
“Idih! Aku masih normal, neng! Ya cewek lah!” ujar Wahyu sebal.
“Kenalan lah kita, dan hari ini dia mau ketemuan lagi. Aku rasa cocok sih buat jadi teman. Tapi buat jadi istri, I don’t think so.” Wahyu menggeleng.
“Loh,kenapa? Lalu, siapa namanya?” Yunita heran.
“Namanya Airin, mahasiswa kedokteran, keluarga terpandang,” ujar Wahyu datar.
“Kok nadanya begitu? Bersyukur, Mas. Kamu bisa ketemu orang yang cantik, baik, calon dokter lagi,” ucap Yunita. “Memang, aku tahu Mas Wahyu nggak bisa suka begitu saja. Tapi kan masih ada banyak waktu.”
“Ya iya lah. Seperti pager yang ku titipkan ke kamu, perlu waktu hunting empat semester tambah satu semester aku jadi OP, wah perjuangan,” timpal Wahyu.
“Heh, fokus sama masalah Mas Wahyu aja sekarang. Jadi, sekarang Mas mau tugas kemana?”
“Makassar, mungkin ke Malaysia juga. Sekarang, setelah aku dicuekin kamu, aku lebih fokus kerja aja. Perjodohan kemarin ku anggap sebagai menambah relasi saja,” ujar Wahyu sambil membaca isi ponselnya.
“Nah, itu ketahuan. Fokus satu, pilih dan kerjakan. Maaf ya, bukan aku cuek, sekarang aku juga lebih fokus kerja, ngejar target PNS,” jawab Yunita.
“Oh ya, diumumkan lusa ya…” ucap Wahyu.
“Iya nih. Bismillah.” sembari mengepalkan tangan Yunita berdoa, “Bismillah…Bismillah,”
“Oke, aku tetap berdoa Yunita yang baik ini pasti keterima dan sukses.”
Mereka pun larut dalam pembicaraan tentang persahabatan mereka semasa kuliah, hingga tak terasa jam menunjukkan pukul sembilan malam. Yunita kemudian mengakhiri pembicaraan dan pulang menggunakan taksi seperti biasanya.
Sementara Wahyu masih duduk sendirian di kafe sambil membuka kembali beberapa foto kenangannya berdua dengan Yunita saat masih di kampus. Ia tersenyum sendiri sambil mengingat memori indah bersama Yunita.
Dua hari setelah pertemuannya dengan Wahyu, Yunita menuju kantor pusat kepolisian dan ternyata ia diterima sebagai PNS. Kedua orang tuanya tentu saja senang dan bangga akan prestasi anaknya. Yunita pun ditempatkan di biro personel dan menjabat sebagai staf ahli psikologi. Semakin kuat Yunita menangani kasus seperti saat menjadi freelance. Hingga saat pulang kerja, Yunita tampak bersiap untuk bertugas dan membaca pesan dari Thomas. Ada kasus lagi yang harus ditangani. Tanpa pikir panjang, Yunita pun bergegas memesan taksi. Karena tidak ada, tiba-tiba ada ojek pangkalan. Yunita mengejar kasus yang disebut Wahyu berlokasi di daerah Dago Atas. Namun, sebelum sampai ke lokasi, Yunita justru mengalami kecelakaan. Motor yang ditumpanginya terperosok ke dalam lembah.
Saat itu, Yunita masih setengah sadar lalu mengirim pesan singkat ke Thomas.
“Sorry, aku tidak bisa menangani kasus. Aku kecelakaan.”
Beberapa detik kemudian, Yunita langsung pingsan.
Thomas akhirnya tiba beberapa menit menuju lokasi dimana Yunita kecelakaan dan memberikan pertolongan menuju rumah sakit terdekat. Saat itu, Thomas menerima pesan pula bahwa pesawat yang dikendalikan Ilham jatuh di pedalaman Papua. Thomas hanya menjawab di grup teman SMA Negeri 212.
“Doakan kedua teman kita ya, Guys. Yunita dan Ilham kecelakaan, tolong teman semua bantu dan support dengan doa semoga mereka segera pulih.”
Sedangkan Yunita masih diberikan pertolongan. Menurut dokter harus segera dilakukan rontgen. Tentu saja Thomas segera menelepon orang tua Yunita dan menjelaskan keadaan Yunita.
Sudah satu hari berlalu, tetapi Yunita belum juga sadar. Sementara itu, ibu Yunita datang dan setia menunggu di sampingnya. Sedangkan Thomas kembali menjalankan tugasnya.
“Tolong saya, Bu. Saya minta tolong agar semua kasus bisa terang, Bu. Bantu saya…”
Sebuah suara di balik tirai sebuah rumah kosong berucap lirih. Yunita berjalan menuju tirai, dan saat dibuka Yunita melihat seorang pemuda dengan muka penuh darah. Pemuda itu semakin dekat dan mulai mencengkram tangan Yunita dengan kuat, sampai sesak ia merasa sesak nafas kembali.
“Yun … Bangun, nak.” Samar Yunita mendengar suara lirih Mamih.
Tiba-tiba Yunita membelalakkan matanya. Ia tersadar lalu segera memeluk Mamih.
“Badan Yunita masih sakit, Mih.” Yunita menangis sambil memeluk Mamih.
Kreator : Yusi Hariyumanti (Uchi)
Comment Closed: Episode.4.3 . Sebuah kecelakaan
Sorry, comment are closed for this post.