KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Guru di sekolah pada masa penjajahan

    Guru di sekolah pada masa penjajahan

    BY 07 Apr 2026 Dilihat: 11 kali
    Guru di Zaman Para Leluhur Nusantara_alineaku

    (Guru dari penjajah)

     

    Wahai guru…

    Aku tertarik untuk mengetahui bagaimana guru pada masa penjajahan Belanda? Bagaimana proses mengajarnya? Bagaimana para murid-muridnya belajar?

     

    Perlu engkau ketahui, Belanda itu bukan hanya menjajah rempah-rempah di Nusantara seperti yang selama ini sering kita dengar dalam buku-buku sejarah. Penjajahan mereka tidak sekadar mengambil lada, pala, cengkeh, dan hasil bumi lainnya. Jauh lebih dalam dari itu, mereka membangun sebuah sistem yang perlahan tapi pasti mengubah cara berpikir, cara hidup, bahkan cara kita memandang diri sendiri sebagai bangsa. Penjajahan itu menjalar ke seluruh aspek kehidupan: Sumber daya alam dikuras, perekonomian dilibas, pribumi ditindas, politik di retas, pendidikan dirampas, tak boleh ada yang cerdas, kebudayaan ditebas, perjuangan membela tanah air ditumpas, bangsa Nusantara dibuat tidak boleh ada diatas. Semuanya dijadikan alat untuk meredupkan kesadaran.

    Dampak yang terjadi selanjutnya, rakyat dipaksa bekerja melalui sistem tanam paksa, membanting tulang di tanahnya sendiri tanpa menikmati hasilnya. Perekonomian rakyat runtuh, sementara penjajah hidup dalam kemewahan. Pribumi diposisikan sebagai kelas rendah, diperlakukan tidak setara di tanah kelahirannya sendiri. Namun yang lebih berbahaya bukanlah penjajahan fisik itu. Hal yang lebih menghancurkan adalah penjajahan mental. Penjajahan yang membuat seseorang tidak lagi merasa dijajah.

     

    Tapi aku disini akan membahas masalah pendidikan yang nantinya akan pengaruh kepada penghancuran kebudayaan bangsa Nusantara.  Pendidikan menjadi salah satu alat paling efektif yang digunakan oleh penjajah.  Mereka membuatnya sebagai  alat untuk membentuk orang-orang  pribumi patuh, tunduk, dan tidak sadar akan jati dirinya. Pendidikan dijadikan pintu masuk untuk mengubah arah peradaban bangsa Nusantara. Sehingga akan mudah dikendalikan, dan tidak menyangka bahwa sedang lagi dijajah. Semua dikondisikan seakan mereka jadi juru penolong untuk memperbaiki kehidupan kita. Sangat halus, terstruktur dan berlangsung hingga ratusan tahun.

     

    Kita awali dari abad ke -19 sekitar tahun 1892. Pada masa itu penjajah Kolonial Belanda mulai mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi. Sebelumnya ada juga sekolah tapi khusus anak-anak keturunan Belanda dan orang-orang elit yang bekerja untuk mereka. Sekolah merupakan tempat belajar berupa gedung yang di dalamnya tersedia meja dan kursi. Guru disediakan untuk mengajari anak-anak di dalam gedung sekolah dengan waktu yang ditentukan. Murid-murid harus berseragam, membawa buku dan alat tulis sendiri. Sekolah ini diberi nama Volkschool yang artinya “Sekolah Rakyat”. Sekilas, ini tampak seperti bentuk kepedulian penjajah terhadap pendidikan masyarakat pribumi. Namun jika ditelaah lebih dalam, ada agenda besar yang tersembunyi di baliknya.

     

    Di sisi lain, bangsa kita sudah memiliki sistem pendidikan sendiri yang telah berlangsung ratusan tahun. Dengan sistem yang mapan dan berakar kuat dalam budaya dan spiritualitas masyarakat. Tata cara belajar yang jauh berbeda dengan sekolah buatan penjajah Belanda. Di berbagai daerah, telah kita kenal Padepokan, Asrama, Padukuhan, Pesantren dan bentuk pendidikan tradisional lainnya. Para murid menginap di sekitaran rumah Guru dengan membuat pondok atau bentuk lainnya. Di tempat-tempat itulah ilmu ditransmisikan dari generasi ke generasi. Pendidikan tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter, akhlak, dan kedekatan dengan Tuhan.

     

    Di pesantren, misalnya, seorang murid tidak hanya belajar membaca kitab atau memahami ilmu agama. Ia juga belajar tentang kehidupan. Ia belajar kepada gurunya, berinteraksi setiap hari, menyerap nilai-nilai melalui teladan langsung. Proses pendidikan berlangsung selama 24 jam—bukan hanya di dalam ruang dengan meja dan kursi, tetapi juga dalam setiap aktivitas kehidupan. Supaya belajar lebih dekat dengan alam yang menjadi rumah besar manusia. Alam menjadi ruang belajar yang luas. Kesederhanaan menjadi bagian dari kurikulum. Keikhlasan menjadi fondasi utama.

    Pada tahun 1922 juga berdiri sebuah sekolah di Yogyakarta tanpa izin dari penjajah kolonial Belanda. Sekolah sederhana tanpa seragam, tanpa bangunan yang memadai tapi menakutkan bagi penjajah. Sekolah itu bernama Taman Siswa yang didirikan oleh bangsawan keraton. Beliau adalah Ki Hajar Dewantara yang kelak menjadi bapak pendidikan Indonesia. Di sana anak-anak pribumi diajarkan berpikir bebas, persamaan hak, manusia merdeka dan pengetahuan tentang komunikasi diplomasi. Rasa cinta tanah air, semangat untuk merdeka dan nasionalisme di tanamkan pada para pelajar. 

    Berbeda dengan itu, sekolah yang didirikan oleh penjajah kolonial Belanda memiliki sistem yang kaku dan terstruktur. Murid duduk di bangku, dengan meja didepannya, badan menghadap papan tulis, Guru didepan kelas, belajar dalam waktu yang terbatas, dengan kurikulum yang telah ditentukan. Guru yang disediakan dari bangsa mereka menjadi pusat pengetahuan, sementara murid menjadi penerima pasif. Segala sesuatu diatur: pakaian seragam, jam belajar, bahkan cara berpikir.

    Lebih dari itu, sekolah kolonial Belanda membawa nilai-nilai baru yang secara perlahan menggeser nilai-nilai lokal. Pendidikan tidak lagi bertujuan pada pembentukan manusia seutuhnya lahir dan batin, melainkan pada penciptaan tenaga kerja yang siap pakai untuk kepentingan kolonial Belanda. Anak-anak pribumi dididik agar menjadi pegawai rendahan, juru tulis, atau pekerja administrasi yang membantu jalannya pemerintahan penjajah.

     

    Sementara itu, lembaga-lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren mulai dipinggirkan. Mereka dicap sebagai kuno, tidak modern, dan tidak relevan dengan perkembangan zaman. Padahal justru di situlah akar kekuatan bangsa ini berada. Di sanalah ditanamkan nilai-nilai keberanian, kemandirian, dan kecintaan terhadap tanah air.

     

    Dari semua pembahasan diatas, yang mesti engkau ingat. Tidak mengherankan jika banyak tokoh perlawanan terhadap penjajah Belanda lahir dari lingkungan pesantren. Orang-orang dari kalangan pesantren adalah orang-orang yang taat pada agamanya. Mereka memiliki kesadaran spiritual yang kuat, serta pemahaman bahwa penjajahan adalah bentuk kezaliman yang harus dilawan. Bangsanya harus bebas dari penjajahan. Maka lahirlah fanatisme terhadap tanah air dan anti penjajah Belanda.  

     

    Hal inilah yang membuat penjajah merasa terancam. Untuk mengatasi hal ini, Belanda membuat strategi dengan menciptakan sekolah. Salah satu tujuan utamanya supaya anak-anak pribumi jangan ada lagi menimba ilmu ke pesantren.  Mereka ingin mengalihkan generasi muda dari pesantren ke sekolah-sekolah kolonial. Dengan kedok sekolah merupakan pendidikan orang modern, sama seperti anak-anak Belanda. Mereka menjanjikan masa depan yang lebih baik, pekerjaan yang layak, dan status sosial yang lebih tinggi. Namun tanpa disadari, mereka sedang diarahkan untuk menjauh dari akar budayanya sendiri.

     

    Cermatilah, akan aku beri tahu kepadamu lagi. Di abad 19 telah banyak bangsa Nusantara yang memeluk agama Islam. Mereka mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Metode pendidikan di dalam pesantren itu diantaranya membersihkan niat dan menyucikan hati. Supaya hubungan dengan Tuhan semesta alam tetap terjalin. Sehingga kehidupannya di masa depan akan selalu mendapat bimbingan Nya. Sedangkan sekolah penjajah Belanda sengaja diciptakan supaya anak-anak pribumi tidak mengenal Tuhannya. Tidak membersihkan niat, tidak pula menyucikan hati. Sedangkan yang diisi hanyalah ilmu pengetahuan belaka. Ditambah dengan asupan nilai-nilai yang merusak kebudayaan, sejarah, dan menjauhkan dari jati diri bangsanya.

    Salah satu bentuk halus dari perubahan ini adalah melalui bahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan cara berpikir dan identitas suatu bangsa. Pada sistem pendidikan kolonial, sengaja dibuat pergeseran penggunaan kata-kata yang memiliki makna bagus menjadi rusak. Contoh kecilnya diselipkan makna perendahan jati diri melalui sekolah-sekolah mereka, seperti penggunaan kata “saya’ yang berasal dari bahasa melayu “sahaya”. Dalam sejarah bahasa Melayu, “sahaya” berarti hamba atau budak. Jika kalimatnya dilengkapi menjadi “Hamba sahaya” alias budak. Ketika kata ini digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari, tanpa disadari ia membawa makna subordinasi. Seolah-olah anak-anak pribumi sedang merendahkan dirinya di hadapan mereka. Jadi mereka mendoktrin anak-anak pribumi bahwa mereka itu Tuannya dan pribumi adalah budaknya. Mereka majikan dan kita adalah pembantu dan pesuruhnya. 

    Sementara di pendidikan pesantren, ketika kita mengatakan untuk diri kita “aku”. Sebuah kata yang menandakan karakter dan kepribadian pada diri kita. Itulah tujuan mereka, supaya mereka tetap di atas sebagai bangsa nomor satu. Dampaknya masih terasa sampai sekarang. Kita masih menganggap bangsa asing lebih hebat dari bangsa sendiri.

     

    Di berbagai daerah, fenomena serupa juga terjadi.  Mereka  merusak kebudayaan bangsa Nusantara dari segi bahasa. Dalam bahasa sunda mereka mendoktrin kalau untuk mengucapkan kata yang menunjukan pada diri sendiri itu dengan “abdi”. Jika diterjemahkan artinya sama dengan hamba. Padahal ada kata “aing” yang menunjukan esistensi diri sendiri. Di Minangkabau terdapat kata “ambo”. Di Jawa dengan kata “kulo” yang berasal dari kata “kawulo”. Itu semua memiliki arti hamba, yang pada dasarnya memiliki nuansa kerendahan diri.

     

    Padahal, dalam konteks asli budaya Nusantara, kata-kata tersebut digunakan dalam hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya. Sebagai bentuk kerendahan hati seorang hamba di hadapan Sang Pencipta. Semua kata itu di masing-masing suku budaya Nusantara digunakan saat berdoa. Bukan digunakan untuk percakapan sesama manusia. Terjadi pembalikan makna yang sangat halus namun berdampak besar. Mereka berdalih kurang sopan menggunakan kata aku, aing, ingsun. Sementara itu mereka plintir kata-kata itu untuk dibuatkan dalam percakapan sehari-hari kepada bangsa mereka. Dengan kata lain mereka mendoktrin bahwa “kami ini Tuan dan majikanmu, dan kalian itu budak”.

     

    Inilah salah satu bentuk penjajahan mental yang sangat halus. Tidak ada paksaan, tidak ada kekerasan, tetapi efeknya begitu dalam. Generasi demi generasi tumbuh dengan cara pandang yang telah dibentuk sedemikian rupa. Mereka mulai merasa bahwa budaya sendiri kurang bernilai, sementara budaya asing dianggap lebih tinggi dan lebih maju.

     

    Lebih jauh lagi, pendidikan modern yang kita jalani saat ini sebagian besar masih mewarisi sistem kolonial tersebut. Orientasi pendidikan masih banyak berfokus pada pencapaian akademik semata, bukan pada pembentukan karakter dan kesadaran diri. Nilai-nilai spiritual seringkali ditempatkan di pinggiran, bukan sebagai inti. 

     

    Padahal, jika kita melihat kembali ke akar pendidikan Nusantara, kita akan menemukan sebuah konsep pendidikan yang sangat berkualitas. Cipta, Rasa, Karsa, semua diolah menjadi satu kesatuan yang utuh. Pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membersihkan hati, menajamkan batin. Pendidikan yang tidak hanya menyiapkan seseorang untuk bekerja, tetapi juga untuk hidup dengan spiritualitas yang tinggi.

     

    Kita bangsa Nusantara di kenal dengan bangsa yang memiliki spiritualitas yang luhur. Salah satu buktinya, disetiap perkampungan pasti kita akan temui rumah ibadah agama apapun. Dan itu sudah berlangsung selama ribuan tahun. Tapi ketika mereka para penjajah datang, dan kemudian membuat sejarah bangsa Nusantara sebagai bangsa yang rendah, primitif. Orang-orangnya masih menyembah pohon-pohon besar. Semua sejarah kita diplintir oleh mereka. Kita dapat buktikan dari buku karangan Sir Thomas Stanford Rafles yang berjudul History of Java. Penjajah yang membuat sejarah kita seperti kemauan mereka.

    Maka pertanyaannya sekarang adalah: apakah kita akan terus melanjutkan warisan sistem yang menjauhkan kita dari jati diri? Ataukah kita berani untuk kembali menggali nilai-nilai asli Nusantara yang telah lama terpendam?

    Namun ada sejarah lain yang perlu aku ungkapkan kepadamu. Walaupun belajar di Sekolah Rakyat yang didirikan oleh penjajah Belanda, tidak semua anak pribumi kehilangan arah dan jati diri bangsanya. Justru dari bangku-bangku pendidikan kolonial itulah lahir tokoh-tokoh besar yang kelak menjadi pelopor kemerdekaan Nusantara. Mereka mampu menyerap ilmu pengetahuan modern tanpa harus menanggalkan akar kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air. Inilah yang menjadi kekuatan utama, kecerdasan yang dibingkai oleh kesadaran identitas.

    Kita mengenal Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Proklamator yang dengan penuh keberanian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kita juga mengenal Jenderal Soedirman, seorang panglima besar yang dengan strategi dan keteguhan hati memimpin perjuangan bersenjata melawan penjajah. Tak kalah penting, Sutomo atau Bung Tomo menjadi simbol semangat juang arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan. Mereka semua pernah merasakan pendidikan ala Barat, namun tidak larut dalam cara pandang penjajah.

    Hal yang membedakan mereka adalah adanya keseimbangan dalam proses belajar. Selain mendapatkan pendidikan formal dari sekolah Belanda, mereka juga belajar dari guru-guru bangsa sendiri. Tokoh-tokoh lokal, ulama, dan pemimpin masyarakat yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan, harga diri, serta kesadaran akan pentingnya kemerdekaan. Dari sinilah tumbuh jiwa merdeka yang tidak bisa dibeli atau dipengaruhi oleh kekuasaan kolonial. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai alat untuk mencari pekerjaan, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun kesadaran dan memperjuangkan keadilan.

    Namun, tidak semua anak pribumi memiliki kesadaran yang sama. Sebagian di antaranya justru terjebak dalam kenyamanan yang ditawarkan oleh penjajah. Mereka tergiur oleh jabatan, gaji, dan status sosial yang diberikan oleh pemerintah kolonial. Akibatnya, mereka memilih untuk bekerja dalam sistem penjajahan, baik sebagai pegawai pemerintahan, karyawan perusahaan dagang seperti Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), maupun sebagai tentara dalam Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).

    Kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan istilah “Londo ireng”, sebuah sebutan yang menggambarkan pribumi yang secara fisik adalah orang Nusantara, tetapi secara sikap dan keberpihakan justru mendukung penjajah. Mereka sering kali menjadi alat kekuasaan kolonial untuk menekan bangsanya sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa penjajahan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga secara mental dan ideologis.

    Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa pendidikan tidak secara otomatis menentukan arah seseorang. Tapi yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang memaknai ilmu yang diperolehnya. Apakah ilmu itu digunakan untuk memperkuat jati diri dan membela bangsanya, atau justru menjadi alat untuk tunduk pada kepentingan asing. Oleh karena itu, membangun kesadaran jati diri bangsa menjadi hal yang sangat penting dalam setiap proses pendidikan, agar generasi masa depan tidak kehilangan arah di tengah arus perubahan zaman.

    Kebangkitan sebuah bangsa tidak dimulai dari kekuatan fisik, tetapi dari kesadaran. Kesadaran akan siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan melangkah. Pendidikan seharusnya menjadi alat untuk membangkitkan kesadaran itu, bukan mematikannya. Kita tidak harus menolak semua hal yang datang dari luar. Modernitas bukanlah musuh. Ilmu pengetahuan dari Barat juga memiliki banyak manfaat. Namun yang perlu kita lakukan adalah menyaring, bukan menelan mentah-mentah. Mengambil yang baik, tanpa kehilangan jati diri.

    Sudah saatnya kita membangun kembali sistem pendidikan yang berakar pada nilai-nilai luhur bangsa. Menggabungkan kecerdasan intelektual dengan kedalaman spiritual. Menghidupkan kembali semangat belajar yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga makna.

    Karena sejatinya, penjajahan yang paling berbahaya bukanlah ketika tanah kita direbut, tetapi ketika pikiran kita dikendalikan. Dan kemerdekaan yang sejati bukan hanya ketika penjajah pergi, tetapi ketika kita mampu berdiri tegak sebagai diri sendiri sebagai bangsa yang merdeka, lahir dan batin.

     

     

    Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Syahnaz)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Guru di sekolah pada masa penjajahan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021