
Wahai guru…
Bisakah engkau ceritakan kepadaku bagaimana sosok guru pada ratusan tahun yang lalu di tanah Nusantara? Bagaimana mereka mendidik dan melatih para muridnya? Bagaimana sejarahnya pendidikan di bangsa ini?
Pada masa itu, seorang guru bukan sekadar orang yang pandai berbicara, memiliki pengetahuan juga memiliki kesaktian dalam ilmu kanuragan. Ia adalah manusia yang telah melewati pelatihan panjang dalam menempa dirinya, baik secara lahir maupun batin. Ia belajar bertahun-tahun, bahkan sepanjang hidupnya. Tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, keteguhan hati, serta kejernihan pikiran.
Sosok seorang guru pada zaman itu adalah manusia yang telah teruji oleh semesta. Ia seperti kita orang biasa rakyat jelata yang tidak memiliki gelar, juga tidak punya jabatan yang diberikan oleh kerajaan. Ia dilatih dari perjalanan hidup yang penuh perjuangan, pengorbanan dan penderitaan. Ia memperoleh pengalaman dari proses jatuh bangun, kepahitan hidup, ketangguhan jiwa, dan kesungguhan dalam mencari kebenaran, serta dari kesetiaan dalam menjalani laku hidup yang jujur dan sederhana.
Bertahun-tahun ia melatih diri tanpa henti. Mengasah batin menjadi kebiasaan sehari-hari. Mengolah cipta, rasa, dan karsa dengan penuh kesungguhan. Tidak ada pamrih di dalam dirinya. Ia tidak mengenal jabatan yang dijadikan tujuan. Ia tidak berharap imbalan uang dari ilmu yang dibagikan. Ia tidak pula menginginkan pujian dari orang lain.
Hidupnya dijalani dengan sederhana, namun setiap waktu penuh makna. Ia memandang hidup sebagai ladang pengabdian. Segala yang ia lakukan bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menghidupi kehidupan yang lebih luas: manusia, alam, dan seluruh ciptaan yang ada di semesta.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang guru pada masa itu mengajarkan kebaikan dan kebenaran bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui contoh hidup. Setiap tindakannya adalah pelajaran. Setiap ucapannya mengandung makna. Setiap langkahnya menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.
Ia tidak sekadar mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan cara hidup yang benar. Ia mengajarkan bagaimana manusia harus menjaga keseimbangan antara pikiran, hati, dan tindakan. Baginya, ilmu yang tidak disertai dengan kebijaksanaan hanya akan menimbulkan kerusakan.
Karena itulah, kebaikan dan kebenaran selalu diraciknya menjadi satu dalam laku kehidupan. Ilmu bukan sekadar pengetahuan yang dihafal, tetapi menjadi bagian dari sikap hidup yang dijalani setiap hari. Ia benar-benar memahami bahwa ilmu hafalan tak akan dapat membuat perilaku menjadi lebih baik, kecuali bila diamalkan dengan kesunggguhan hati.
Menariknya, guru pada masa itu tidak pernah mencari murid. Ia tidak berkeliling menawarkan dirinya untuk mengajar. Ia tidak membuat pengumuman untuk mempromosikan bahwa dirinya memiliki ilmu tertentu yang bisa dipelajari. Ia hanya hidup sebagaimana adanya, menjalani kehidupan dengan kesederhanaan dan ketulusan.
Namun justru karena itulah orang-orang datang mencarinya. Kabar tentang kebijaksanaan seorang guru biasanya tersebar dari mulut ke mulut. Orang-orang yang pernah bertemu dengannya merasakan kedamaian, ketenangan, dan pencerahan dalam hidup mereka. Dari situlah nama seorang guru mulai dikenal oleh masyarakat.
Orang-orang datang dari berbagai tempat untuk berguru kepadanya. Mereka membawa niat yang bermacam-macam. Ada yang datang untuk mencari kebijaksanaan hidup, agar mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik. Ada pula yang ingin mempelajari ilmu kanuragan, ilmu bela diri, atau kesaktian yang dipercaya dapat melindungi diri dari bahaya. Ada juga yang hanya untuk menceritakan masalah hidup dan berharap bisa mendapatkan solusi darinya.
Tidak sedikit pula yang datang dengan keinginan untuk memperoleh kekuasaan, pengaruh, atau kelebihan tertentu yang dapat membuat mereka disegani oleh orang lain. Semua itu adalah gambaran tentang manusia yang masih diliputi oleh berbagai macam nafsu dan kepentingan pribadi. Namun seorang guru yang bijaksana tidak serta-merta menerima semua orang sebagai murid. Ia memahami bahwa ilmu memiliki kekuatan yang besar. Jika diberikan kepada orang yang belum siap secara batin, ilmu tersebut justru dapat digunakan untuk tujuan yang buruk.
Karena itulah, sebelum memberikan pelajaran, seorang guru terlebih dahulu menanamkan dasar yang paling penting kepada para calon muridnya: membersihkan jiwa, menyucikan batin. Para murid diajarkan untuk mengenali diri mereka sendiri. Mereka diajak untuk memahami kelemahan dan kekurangan yang ada dalam diri. Mereka dilatih untuk menundukkan kesombongan, mengendalikan amarah, serta mengurangi keinginan-keinginan yang berlebihan.
Bagi para guru leluhur, kesucian hati adalah fondasi utama dari segala ilmu. Tanpa hati yang bersih, ilmu yang baik sekalipun bisa berubah menjadi alat untuk melakukan perbuatan yang hina dan tercela. Seorang murid yang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki kebijaksanaan dapat menggunakan pengetahuannya untuk menipu orang lain, menyakiti sesama, bahkan merusak tatanan kehidupan masyarakat. Karena itulah seorang guru sangat berhati-hati dalam memilih siapa yang boleh menjadi muridnya.
Tidak semua orang yang datang ingin berguru akan diterima. Pertanyaan mendasar bagi mreka yang datang adalah untuk apa mereka datang dan ingin menimba ilmu dari guru itu? Sehingga sebagian dari mereka diminta untuk kembali setelah memperbaiki niatnya. Sebagian lagi diuji dengan berbagai cara untuk melihat keteguhan hati mereka. Mereka cukup mengikuti kehidupan sehari-hari sang guru tanpa memprotes tindakannya. Kadangkala guru memerintahkan kepada calon muridnya sesuatu hal yang aneh menurutnya. Ada juga perlakuan yang berbeda dari sang guru terhadap calon muridnya. Ada pula yang diminta hanya untukmengamati saja dalam waktu yang lama sebelum akhirnya diterima sebagai murid. Semua itu bukan untuk merendahkan, tetapi untuk melihat apakah seseorang benar-benar memiliki kesungguhan dalam mencari ilmu.
Jika calon murid tersebut telah memiliki kemantapan hati dengan niat yang suci maka guru pun bersedia mengangkatnya sebagai murid. Sehingga hubungan antara guru dan murid bukan sekadar hubungan pengajar dan pelajar. Hubungan itu lebih menyerupai hubungan antara orang tua dan anak. Seorang guru akan memperhatikan setiap muridnya dengan cermat. Ia memahami bahwa setiap manusia memiliki watak, bakat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Karena itu, ilmu yang diajarkan kepada masing-masing murid pun bisa berbeda. Namun ada pelajaran diberikan dengan tingkat yang sama, tetapi cara pengamalannya tidak selalu sama. Bimbingan yang diberikan kepada setiap murid juga bisa sangat berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan masing-masing.
Ada murid yang lebih banyak diajarkan tentang kebijaksanaan hidup. Ada yang dilatih ketangguhan fisik melalui latihan kanuragan. Ada pula yang dibimbing untuk memperdalam laku spiritual agar mampu memahami makna kehidupan yang lebih dalam. Pada masa proses belajar itu tidak ada jadwal yang kaku seperti yang kita kenal sekarang. Belajar tidak selalu dilakukan pada waktu tertentu. Kapan saja dan di mana saja proses belajar bisa terjadi.
Ketika seorang murid menemani gurunya berjalan pulang dari hutan, ia bisa belajar tentang kehidupan dari alam. Ketika membantu menanam padi di sawah, ia belajar tentang kesabaran dan ketekunan. Ketika duduk bersama di malam hari, ia belajar mendengarkan kisah-kisah penuh hikmah dan makna tentang kehidupan manusia.
Tempat belajar mereka pun tidak selalu berupa bangunan khusus. Tidak ada ruang kelas yang megah atau kursi yang tersusun rapi. Alam sering kali menjadi ruang belajar yang paling orisinal. Di bawah pohon besar, di tepi sungai, di lereng gunung, atau di halaman rumah sederhana, di situlah proses belajar berlangsung.
Para murid tidak belajar hanya melalui kata-kata, tetapi melalui pengalaman hidup yang nyata. Mereka belajar bagaimana menghadapi kesulitan, bagaimana menghargai sesama, serta bagaimana menjaga keharmonisan dengan alam. Dalam sistem pendidikan para leluhur, tidak ada batasan waktu yang pasti tentang berapa lama seseorang harus belajar. Tidak ada pula istilah lulus atau tamat sebagaimana yang dikenal dalam sistem pendidikan modern.
Seorang murid akan terus belajar selama ia merasa masih membutuhkan bimbingan dari gurunya. Dan seorang guru akan terus membimbing selama muridnya masih bersedia untuk belajar dengan rendah hati. Tidak ada pula kertas yang disebut ijazah sebagai tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikannya. Pengakuan terhadap seorang murid tidak diberikan melalui selembar dokumen, tetapi melalui perubahan dalam dirinya.
Keberhasilan seorang murid dapat terlihat dari sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ia menjadi manusia yang lebih bijaksana? Apakah ia mampu mengendalikan dirinya ketika menghadapi masalah? Apakah ia menggunakan ilmunya untuk menolong orang lain?
Jika seorang murid telah menunjukkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak, maka masyarakat dengan sendirinya akan mengakui bahwa ia telah berhasil menempuh perjalanan belajarnya.
Melihat sosok guru yang begitu lengkap kesiapan dirinya itu menunjukkan bahwa Bangsa nusantara sejak dulu sudah pintar. Mereka mewariskan ilmu pengetahuannya kepada generasi berikutnya berharap ilmu tersebut bisa bertahan hingga ribuan tahun. Sehingga peradaban bangsa Nusantara tetap memiliki keistimewaan dan tak hilang ditelan zaman.
Coba kita tarik kebelakang pada zaman ada kerajaan-kerajaan besar di Nusantara kuno seperti Majapahit, Singosari, Kadhiri, Mataram kuno, Sriwijaya, Taruma nagara, Salaka nagara dan seterusnya. Perhatikan teknologi yang diterapkannya, salah satunya candi bangunan kuno yang bertahan hingga ratusan tahun. Rusaknya karena tidak ada perawatan dan seringnya terjadi peperangan di setiap diasti kerajaan yang berdiri. Jika kita bandingkan candi dan piramida Mesir yang berdiri megah, maka dapat kita lihat bahwa candi memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Tulisan yang digunakan berbentuk 3 dimensi,sedangkan hierogliph hanya 2 dimensi. Ini menunjukkan bahwa bangsa Nusantara memiliki keerdasan tingkat internasional. Lantas mengapa hanya bangsa mesir kuno yang lebih populer? Seakan menunjukkan bahwa kehebatan bangsa Nusantara sengaja dikubur oleh para penjajah dan dunia.
Belum lagi dari segi ilmu kanuragan seperti Bandung Bondowoso yang miliki kehebatan hingga bisa memerintahkan para jin membuat candi prambanan. Dimana hanya nabi Sulaiman yang memiliki keilmuan yang sama. Tapi apakah dunia pendidikan menerima fakta tersebut? Tidak, mereka justru merendahkannya dengan menganggap dongeng. Sehingga hilanglah kebanggaan bangsa Nusantara akan leluhurnya. Terus sejak mulai kapan bangsa Indonesia ini menjadi menurun tingkat kecerdasan peradabannya?
Salah satu guru kita Alm. Prof.Dr.KH. R.Ng. Agus Sunyoto, M.Pd menjawab, “Ketika orang Nusantara (saat Indonesia belum merdeka) mulai banyak belajar dilembaga pendidikan yang disediakan penjajah Belanda”. Itu sangat menggerus kecerdasan bangsa Nusantara. Baik kecerdasan intelektual (lahiriyah) maupun kecerdasan spiritual (batiniyah). Jadi orang yang belajar di sekolah pada masa itu jika dilihat dari aspek sejarah, tidak tambah pintar secra intelektual dan spiritual, malah makin tambah bodoh. Apa buktinya?
Di tanah Nusantara ini ada 5 sistem pendidikan yang berlangsung selama berabad-abad. Nomor ke 5 diberi nama ‘’Sekolah’’ yang diciptakan oleh penjajah Belanda. Tujuannya supaya mereka terus bisa menjajah bangsa Nusantara. Dengan dalih akan membuat bangsa kita menjadi lebih pintar, tahu baca tulis, tahu ilmu hitung dan disiplin ilmu lainnya.
Diawali dari standarisasi nasional sekolah pada tahun 1892 di zaman kolonialisme Belanda. Anak-anak dari bangsa pribumi diperbolehkan belajar disekolah. Namun tetap ada diskriminasi dengan diperlakukan sebagai orang golongan kelas 3. (golongan 1 bangsa Belanda, golongan 2 bangsa luar negeri seperti Arab dan Cina dan golongan ke 3 bangsa pribumi). Terus kita tarik dan hitung sampai ke tahun 2026 ini, sudah 134 tahun berlalu. Apa hasilnya? Banyak lahir sarjana-sarjana. Diantaranya menjadi pahlawan Pra Kemerdekaan. Tapi ingat, mereka juga menimba Ilmu keluar negeri karena sadar akan tipu daya penjajah Belanda. Terus apa karyanya orang-orang yang hanya belajar diskolah buatan penjajah Belanda? Ternyata tidak ada. Nyatanya mereka cuma agen-agen yang menjual pengetahuan dari barat, di kemas, lalu di jual lagi ke masyarakat Indonesia. Dan itu berlangsung hingga sekarang. Contoh kecilnya komersialisasi pendidikan disemua lini.
Mari kita lihat kembali ke zaman kuno, sebelum orang nusantara mengenal sistem pendidikan ciptaan Belanda yang bernama sekolah. Ternyata di Nusantara ini sudah ada 4 sistem pendidikann yang berlangsung selama berabad-abad :
Pertama, Sistem Padepokan, Pra Hindu dan Budha. Pada masa agama resmi belum masuk ke tanah Nusantara, orang yang diharapkan ilmunya membuat padepokan sebagai tempat atau lembaga untuk menimba ilmu. Biasanya yang diajarkan pada padepokan adalah ilmu bela diri (kanuragan), ilmu tatanan sosial masyarakat, ilmu kebudayaan, kesusasteraan dan kesenian. Disanalah orang-orang yang ingin memperoleh ilmu digembleng, ditempa, dilatih, dan dididik untuk bisa menjadi manusia yang memiliki kelengkapan ilmu dan pengetahuan.
Kedua, Sistem Asrama, (pengaruh Budha), banyak ditemui pada masa kerajaan Sriwijaya (Kini menjadi Kota Palembang, Sumatera Selatan). Sebab kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan bercorak Budha. Sehingga orang-orang dari selatan yang ingin belajar agama Budha ke daerah India, tidak perlu jauh-jauh datang kesana. Mereka bisa mendapatkan ilmu yang dicari pada lembaga pendidikan di Sriwijaya yang kala itu sudah menjadi pusat pendidikan agama Budha di dunia. Para pencari ilmu itu tinggal di ashrom-ashrom (asrama : sekarang) yang memang disediakan bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu agama Budha. Biasanya terletak di pinggiran sungai, sebab sungai merupakan sarana transportasi air yang paling efisien saat itu.
Ketiga Sistem Dukuh, (pengaruh Syiwa Budha). Sistem pendidikan model dukuh/padukuhan ini dilakukan oleh penganut agama Siwa Budha (Hindu). Sistem pendidikan ini sudah ada pada masa kerajaan majapahit. Sebab masyarakat majapahit meyakini pendidikan sangatlah penting, karena bagian dari catur asrama. 4 tingkatan hidup yang harus dijalani setiap manusia. Tingkatan kesatu adalah Brahmacari. Hidup sebagai murid. Yaitu masa mencari pendidikan. Tingkatan kedua adalah Grhastha. Membangun keluarga untuk meneruskan keturunan. Tingkatan ketiga Wanaprastha. Membangun kehidupan spiritual. Yaitu mengundurkan diri dari keduniawian. Tingkatan keempat adalah Bhiksuka. Mencapai kesempurnaan.
Keempat, Sistem Pesantren, (pengaruh Islam). Ketika Islam mulai berkembang di Nusantara, para guru/wali mengajarkan ilmu di masjid, langgar atau surau. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang ingin berguru pada guru/wali tersebut. Dan proses menimba ilmu itu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Maka dibuatlah pesantren sebagi tempat untuk para pencari ilmu. Kemudian para pencari ilmu itu membuat pondok-pondok sebagai tempat menginap dan beristirahatnya. Didasari peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal pondok pesantren.
Sekarang kita teliti, apa hasil dari 4 sistem pendidikan Nusantara kuno? Diantaranya orang-orang dulu pernah menciptakan aksara huruf. Jawa punya aksara jawa, Sunda punya aksara sunda, begitu pula dengan Bali, Batak, Bugis dan suku bangsa lainnya. Dari sistem aksara ini selanjutnya berimbas pada struktur ketatabahasaan masing-masing suku. Kemudian dizaman awal-awal masehi, orang-orang Nusantara sudah mampu menciptakan kalender. Kalender yang berdasarkan musim disebut Pranoto mongso. Kalender berdasarkan astronomi disebut kalender Pawukon. Dalam kalender penanggalan jawa dengan 5 hari pasaran. Sampai sekarang masih digunakan penemuan dari leluhur-leluhur kita itu.
Sekarang kita tanya, bangsa indonesia yang telah menimba ilmu di sekolah penjajah Belanda selama 134 tahun, adakah yang bisa menciptakan aksara? Atau menciptakan kalender dengan perhitungan yang lebih sempurna, tanpa ada tahun kabisat?
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Syahnaz)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Guru di Zaman Para Leluhur Nusantara
Sorry, comment are closed for this post.