KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Guru Spiritualitas di Zaman Para Leluhur Nusantara

    Guru Spiritualitas di Zaman Para Leluhur Nusantara

    BY 07 Apr 2026 Dilihat: 8 kali
    Guru di Zaman Para Leluhur Nusantara_alineaku

    (Guru agama pada masa Nusantara kuno)

     

    Wahai guru…
    Ceritakan kepadaku bagaimana sosok guru spiritualitas pada ratusan tahun yang lalu di tanah Nusantara? Bagaimana cara mereka mendidik dan melatih para muridnya? Bagaimana para murid menjalani proses belajar padanya?

    Perjalanan panjang peradaban Nusantara telah berlangsung selama ribuan tahun. Kehidupan bangsa ini telah memiliki kelengkapan dalam menjalani hidup di alam semesta. Mereka telah mengenal Tuhan bahkan disaat agama resmi belum masuk ke Nusantara. Dari cikal bakal itulah bangsa Nusantara tetap menyembah kepada Tuhan yang tak bisa diindera, dirasa, dijangkau. Bahkan tidak berani untuk memanggil nama Nya. Kelak di kemudian hari dalam islam di sebut  laisa kamislihi syaiun. Tuhan tidak serupa dengan sesuatu apa pun. Tan keno kinoyo ngopo. Tidak bisa digambarkan dengan bentuk apa pun.

    Zaman Nusantara kuno, di abad 6 -7 masehi telah berdiri kerajaan sriwijaya yang bercorak Budha. Bahkan menjadi pusat pendidikan ilmu budha sedunia pada masa keemasannya. Sementara di sebelah timurnya yaitu pulau jawa, ada beberapa kerajaan yang bercorak hindu syiwa. Dimana pemeluknya dari golongan bangsawan dan para abdi negara. Namun sebelum ada agama-agama tersebut, telah berkembang pada masyarakat golongan bawah agama kepercayaan yang disebut Kapithayan. Agama kepercayaan ini mengajarkan ketauhidan juga, tapi tidak ada sebutan untuk nama Tuhannya. Kemudian baru masuklah Islam yang di sebarkan secara masif di Nusantara oleh para wali di abad ke 15.

    Ketika ilmu diajarkan oleh para guru yang membawakan identitas agama, maka dibuatlah tempat atau lembaga pendidikannya. Di hindu syiwa namanya ashrom, di islam namanya pesantren. Persamaannya kedua lembaga itu menampung orang-orang yang belajar dan menimba ilmu pada seorang guru atau lebih. Ilmu yang diajarkan juga mirip, yaitu diawali dengan membersihkan niat, menata pikiran dan menyucikan batin. Baru kemudian diisi dengan wawasan ilmu pengetahuan. Sedangkan perbedaannya dari segi pengamalan menurut agama masing-masing

    Sering kali kita membayangkan masa lalu sebagai masa yang sederhana, jauh dari teknologi dan sistem pendidikan yang tidak teratur seperti sekarang. Namun di balik kesederhanaan dan keterbatasan itu, para guru spiritual itu memiliki cara mendidik yang sangat dalam maknanya. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses mengisi pikiran dengan pengetahuan dan melatih rasa dengan pengalaman, tetapi sebagai proses membentuk manusia seutuhnya.

    Pada masa itu, seorang guru bukan sekadar orang yang menguasai ilmu pengetahuan, pandai berbicara dan memiliki ilmu kanuragan yang pilih tanding. Ia adalah manusia yang telah menempuh perjalanan panjang dalam spiritualitas dirinya, baik secara lahir maupun batin. Ia belajar bukan hanya dari kitab atau petuah orang lain, tetapi belajar memahami dan mengendalikan dirinya sendiri. Dalam ruang batin sunyi yang hanya dirinya dan Tuhannya yang tahu.

    Para guru tersebut selalu menyucikan diri agar cahaya ketuhanan bisa menyinarinya, membimbing jalannya, memberinya petunjuk. Sehari-hari melatih dirinya untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan baik melalui intuisi, ilham maupun wahyu (khusus bagi para nabi). Hal semacam ini adalah pondasi utama yang diajarkan mereka kepada murid-muridnya. Jika seseorang sudah baik hubungannya dengan Tuhannya, maka  ilmu yang diajarkan dengan mudah dapat diamalkan oleh para muridnya.

    Seorang guru spiritualitas adalah manusia yang telah teruji dengan berbagai ujian kehidupan. Ia terbentuk bukan karena gelar akademik, bukan pula dari jabatan yang diberikan oleh suatu lembaga. Ia lahir dari kesungguhan dalam mengolah diri, dari ketekunan dalam memahami kehidupan, serta dari kesetiaan menjalani laku hidup yang jujur dan sederhana.

    Dalam laku spiritualitas, ia gemar berpuasa untuk menyucikan diri dan batinnya, memisahkan nafsu dari kebutuhannya, dan selalu memohon petunjuk dalam setiap laku hidupnya. Disaat malah hari, ia membagi waktu malam menjadi 3 bagian. Sepertiga untuk mengajar, sepertiga untuk istirahat, sepertiga untuk beribadah, bertafakur, berzikir dalam keheningan batin,

    Bertahun-tahun bahkan puluhan tahun ia belajar. Ia berguru kepada banyak orang, mengembara dari satu tempat ke tempat lain, menyerap kebijaksanaan dari berbagai pengalaman. Ia belajar dari alam, dari para guru, dari kegagalan, dari kesunyian, dan dari perenungan yang panjang. Melatih diri menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari. Mengasah batin menjadi rutinitas yang tidak pernah ditinggalkan. Cipta, rasa, dan karsa diolah dengan kesungguhan yang tak mengenal lelah.

    Disetiap detik perjalanan hidup, ia tidak pernah sekalipun terbesit untuk mengejar kedudukan atau kekuasaan. Ia tidak berharap dikenal banyak orang. Bahkan kerap kali ia memilih hidup prihatin dengan ksederhanaan, jauh dari keramaian. Baginya, yang terpenting adalah menjaga kejernihan hati dan kejernihan pikiran.

    Tak ada pamrih dalam dirinya. Ia tidak mengajar demi mendapatkan uang. Ia tidak menyampaikan ilmu demi mendapatkan pujian. Ia juga tidak menginginkan pengikut yang banyak. Cukup menjalani hidupnya dengan kesadaran bahwa manusia diberi tanggung jawab oleh Tuhan untuk mengelola alam dunia beserta penghuninya. Karena itu, apa yang ia lakukan bukan untuk meninggikan dirinya sendiri, melainkan untuk menghidupi kehidupan yang lebih luas. Ia memandang ilmu sebagai amanah, bukan sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Setiap sikapnya adalah pelajaran. Setiap tindakannya menjadi contoh yang dapat ditiru oleh orang-orang di sekitarnya.

    Ketika ia berbicara tentang kejujuran, ia sendiri adalah orang yang jujur.
    Ketika ia mengajarkan kesabaran, ia sendiri adalah orang yang sabar. 

    Ketika ia mengajarkan rasa syukur, ia sendiri sudah menunjukkan rasa syukurnya. 

    Ketika ia menasihati tentang kesederhanaan, ia sendiri hidup dalam kesederhanaan.

    Dengan cara itulah para murid belajar. Mereka tidak hanya mendengar ajaran, tetapi menyaksikan langsung bagaimana ajaran itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu tidak berhenti pada kata-kata. Tetapi Ilmu menjadi laku hidup.

    Seorang guru pada masa para leluhur tidak pernah berkeliling mencari murid. Ia tidak menawarkan dirinya untuk mengajar. Ia tidak memasang tanda atau mengumumkan bahwa dirinya memiliki ilmu tertentu yang bisa dipelajari. Ia hanya hidup sebagaimana adanya. Ia menjalani kehidupannya dengan penuh kesadaran dan kejujuran.

    Namun justru karena itu, orang-orang datang mencarinya. Kabar tentang kebijaksanaan seorang guru biasanya tersebar dari mulut ke mulut. Orang yang pernah bertemu dengannya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan dalam ucapannya. Ada kedalaman makna dalam nasihatnya. Ada ketulusan dalam sikapnya.

    Dari situlah orang-orang mulai berdatangan untuk berguru. Mereka datang dari berbagai tempat dengan berbagai macam niat. Ada yang datang untuk mencari kebijaksanaan hidup. Mereka ingin memahami bagaimana menjalani kehidupan dengan lebih baik, bagaimana menghadapi kesulitan, dan bagaimana menemukan ketenangan dalam diri. Ada pula yang datang untuk mempelajari ilmu kanuragan, ilmu bela diri, atau kesaktian yang dipercaya dapat melindungi diri dari bahaya.

    Sebagian datang dengan harapan memperoleh kekuasaan atau pengaruh di tengah masyarakat. Ada pula yang ingin mendapatkan kelebihan tertentu agar disegani oleh orang lain. Semua itu adalah gambaran tentang manusia yang masih diliputi oleh berbagai macam keinginan dan nafsu.

    Namun seorang guru yang bijaksana tidak serta-merta menerima semua orang sebagai murid. Ia memahami bahwa ilmu memiliki kekuatan yang besar. Ilmu dapat membawa kebaikan yang besar, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan jika berada di tangan orang yang tidak bijaksana.

    Karena itulah, sebelum memberikan pelajaran, seorang guru terlebih dahulu menanamkan dasar yang paling penting kepada para calon muridnya: membersihkan jiwa. Para murid diajarkan untuk mengenali dirinya sendiri. Mereka diajak untuk memahami kelemahan yang ada dalam diri mereka. Mereka dilatih untuk menundukkan kesombongan, mengendalikan amarah, serta mengurangi keinginan-keinginan yang berlebihan.

    Proses ini sering kali tidak mudah. Banyak orang ingin segera mendapatkan ilmu, tetapi enggan memperbaiki dirinya sendiri. Namun bagi para guru, kesucian hati adalah fondasi dari segala ilmu. Tanpa hati yang bersih, ilmu yang baik sekalipun dapat berubah menjadi alat untuk melakukan perbuatan yang buruk. Ilmu dapat digunakan untuk menipu, menindas, atau merugikan orang lain.

    Karena itulah seorang guru sangat berhati-hati dalam memilih murid. Tidak semua orang yang datang akan diterima. Sebagian diminta untuk kembali setelah memperbaiki niatnya. Sebagian lagi diuji dengan berbagai cara untuk melihat keteguhan hatinya.

    Semua itu bukan untuk merendahkan, tetapi untuk melihat kesungguhan seseorang dalam mencari ilmu. Jika seseorang tetap bertahan dengan penuh kesabaran, maka guru akan melihat bahwa orang itu benar-benar memiliki niat yang tulus untuk belajar.

    Ketika seorang guru akhirnya menerima seseorang sebagai murid, hubungan antara mereka tidak sekadar hubungan pengajar dan pelajar. Hubungan itu lebih menyerupai hubungan antara orang tua dan anak. Seorang guru akan memperhatikan perkembangan setiap muridnya dengan penuh perhatian dan kepedulian. Ia memahami bahwa setiap manusia memiliki watak, bakat, dan kemampuan yang berbeda-beda.

    Karena itu, ilmu yang diberikan kepada setiap murid tidak selalu sama. Ada murid yang lebih banyak diajarkan tentang kebijaksanaan hidup. Ia diajak memahami hakikat manusia dan hubungan manusia dengan alam serta Sang Pencipta.

    Ada murid yang dilatih dalam ilmu kanuragan, belajar menguatkan tubuh, melatih keberanian, dan menjaga kehormatan diri. Ada pula murid yang dibimbing untuk memperdalam laku spiritual melalui meditasi, tirakat, atau berbagai bentuk latihan batin lainnya. Meskipun pelajaran yang diberikan mungkin sama, cara pengamalannya bisa berbeda-beda. Guru memahami bahwa setiap murid memiliki jalan hidupnya sendiri.

    Dalam proses belajar itu tidak ada jadwal seperti yang kita kenal sekarang. Belajar tidak selalu dilakukan di waktu tertentu. Kapan saja dan di mana saja proses belajar dapat dilaksanakan. Ketika seorang murid menemani gurunya dalam sebuah perjalanan, ia bisa belajar tentang kesabaran dari pohon yang tumbuh perlahan. Ia belajar dari hewan tentang keseimbangan dari alam yang saling menjaga. Ia mengamati berbagai tingkah pola manusia, tanpa mengomentari.

    Ketika membantu bekerja di sawah, ia belajar tentang ketekunan dan kesabaran menunggu hasil dari kerja keras. Ketika duduk bersama di malam hari, di bawah langit yang penuh bintang, ia belajar mendengarkan kisah-kisah penuh hikmah tentang kehidupan manusia. Alam sering kali menjadi ruang belajar yang paling luas. Di bawah pohon besar, di tepi sungai, di lereng gunung, atau di halaman rumah sederhana, di situlah proses belajar berlangsung.

    Para murid belajar bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui pengalaman hidup yang nyata. 

    Mereka belajar bagaimana menghadapi kesulitan.
    Mereka belajar bagaimana menghargai sesama manusia dan makhluk lainnya
    Mereka belajar bagaimana menjaga keharmonisan dengan alam.

    Selama proses belajar padanya, tidak ada batasan waktu yang pasti tentang berapa lama seseorang harus belajar. Tidak ada pula istilah lulus atau tamat seperti yang kita kenal sekarang. Seorang murid akan terus belajar selama ia merasa masih membutuhkan bimbingan dari gurunya. Dan seorang guru akan terus membimbing selama muridnya masih memiliki kerendahan hati untuk belajar. Tidak ada pula kertas yang disebut ijazah sebagai tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikannya.

    Pengakuan terhadap seorang murid tidak diberikan melalui selembar dokumen, tetapi melalui perubahan yang terjadi dalam dirinya.

    Apakah ia menjadi manusia yang lebih sabar?
    Apakah ia mampu mengendalikan amarahnya?
    Apakah ia menggunakan ilmunya untuk membantu orang lain?

    Apakah ia mendapat bimbingan dari Tuhannya?

    Jika seorang murid telah menunjukkan kedewasaan dalam sikap dan tindakan, masyarakat akan dengan sendirinya mengakui bahwa ia telah berhasil menempuh perjalanan belajarnya.

    Menurut mereka tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang utuh. Al-Insan Al-Kamil. Murid yang bercirikan :

    Manusia yang mengenal dirinya sendiri.
    Manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.
    Manusia yang menggunakan ilmunya untuk membawa kebaikan bagi sesama.

    Manusia yang mampu mengemban amanah yang diberikan Tuhannya

    Seorang guru sejati bukan hanya orang yang mengajarkan ilmu. Ia adalah penjaga nilai-nilai kehidupan. Ia menjaga agar kebijaksanaan tidak hilang ditelan oleh zaman. Ia memastikan bahwa ilmu tetap digunakan untuk membawa kebaikan bagi manusia dan alam. Dan seorang murid sejati bukanlah orang yang sekadar pandai menghafal pelajaran. Ia adalah orang yang mampu menghidupkan ilmu itu dalam setiap langkah kehidupannya.

    Di samping itu, ada juga guru spiritualitas yang khusus membidangi Tarikat, biasa disebut Mursyid. Guru tersebut banyak mengajarkan tentang perilaku sufi yang lebih menekankan tujuan akhirat dan selalu mendekatkan diri kepada Sang pencipta. Mereka banyak menjauhi urusan keduniawian, kecuali yang sekedar kebutuhan saja. Namun semua guru dengan pendekatan agama, biasanya memiliki tujuan yang sama. Membersihkan diri, menyucikan hati, menjauhi duniawi, menekan nafsu, dan mengolah batin. Semua itu sebagai tatacara agar selalu terhubung dengan Tuhan semesta alam.

    Demikianlah gambaran tentang guru spiritualitas pada masa para leluhur di Nusantara. Sosok yang mungkin tidak dikenal luas, tidak tercatat dalam buku-buku sejarah, namun jejak kebijaksanaannya tetap hidup dalam nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Selama masih ada manusia yang mencari kebenaran dengan hati yang tulus, selama masih ada manusia yang mau belajar dengan kerendahan hati, maka semangat para guru leluhur itu akan tetap hidup di dalam perjalanan manusia.

    Disini aku akan menceritakan sedikit tentang guru di pesantren pada masa Nusantara kuno. Berawal dari seseorang yang dianggap oleh sebagian masyarakat memiliki kebiijaksanaan, kepandaian, menunjukan sikap terpuji, ketaatan kepada Tuhan dan lainnya. Maka sebagian orang mendatangi guru tersebut untuk menimba ilmu darinya. Untuk belajar pada masa itu dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Maka orang-orang tersebut membuat pondok-pondok untuk tempat tinggalnya selama masa belajar. Gurunya dikenal dengan panggilan Kiyai dan muridnya dikenal dengan santri. Kelak tempat pendidikan itu disebut dengan pesantren.

     

    Belajar di pesantren tidak mengenal batas usia, tidak mengenal batasan waktu dan tidak mengenal pengakuan berupa ijazah. Apalagi menggunakan absensi. Kesungguhan niat belajar akan sangat mudah untuk dilihat. Bagi yang mau belajar dipersilahkan, bagi yang tidak mau belajar, tidak ada konsekuensi. Disana mempelajari kitab-kitab klasik dari para ulama yang bersanad sampai kepada Nabi Muhammad saw. Tidak hanya mempelajari pengetahuan, para santri juga diajarkan ilmu kanuragan. Dengan tujuan supaya dapat membela diri. Ilmu pertanian, ilmu perekonomian dan lainnya untuk mencari nafkah.

     

    Pondok pesantren yang tertua di Indonesia saat ini adalah pesantren Al Kahfi Somalangu yang telah berdiri sejak 1475 M. Sedangkan pesantren yang paling populer adalah Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Gontor, Pesantren Sidogiri, Pessanttren Al Falah Ploso dan lainnya. Rata-rata berada dipulau jawa. Ada sebuah falsafah hidup yang sangat menarik dari Pesantren Gontor tahun 1960-an.  

     

    Berani hidup tak takut mati, 

    Takut mati jangan hidup, 

    Takut hidup mati saja”.

     

     

    Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Syahnaz)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Guru Spiritualitas di Zaman Para Leluhur Nusantara

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021