“Let’s goooo… let’s gooo!” seru Bu Endah mengajak murid-muridnya memulai jalan-jalan pagi. Jalan kaki keliling lingkungan sekolah biasa mereka lakukan setiap hari sebelum masuk kelas.
Bu Endah sebagai guru Kelompok Bermain di lembaga KB-TK ABA 45 Bambe selalu membiasakan berjalan kaki setiap pagi sebagai latihan bertahap dan mengembangkan kemampuan motorik kasar anak-anak yang masih berusia 3-4 tahun ini.
“Anak usia 3-4 tahun sangat perlu untuk diajak berjalan kaki. Melatih otot kaki mereka agar semakin kuat secara bertahap dan melatih mereka untuk melatih atau menjaga keseimbangan tubuh mereka. Karena di usia belia ini mereka masih ada beberapa yang masih belum sempurna keseimbangan tubuh mereka saat lari atau berjalan, sehingga perlu dilatih dengan telaten dan step by step.” ujar guru yang sudah hampir 25 tahun menjadi guru Kelompok Bermain ini.
Dari pengamatan dan pengalaman guru yang sudah tidak muda lagi ini, anak yang baru masuk sekolah pada awal tahun ajaran baru yaitu sekitar bulan Juli-Agustus mengalami perubahan yang sangat nampak dalam perkembangan motorik kasarnya jika dilatih secara rutin atau bertahap.
Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya, usai circle time bu Endah mengajak muridnya berjalan keliling sekolah. Sekalian menunggu antri masuk halaman dan cuci tangan. bergantian dengan kelas TK, untuk kelas KB diajak menambah gerak dengan berjalan dan kadang berlari.
Bukan sekedar berjalan biasa saja, setiap kali menemukan yang unik, yang baru, yang menarik, dan yang asing, anak-anak murid Bu Endah selalu mengamati dan mengomentari. bu guru Endah pun membiarkan mereka berkomentar dan melihat-lihat segala apa yang membuat mereka penasaran. Bahkan Bu Endah mendukung dan menstimulasi mereka dengan apa yang mereka temukan.
Suatu hari mereka berjalan kaki ke arah menjauhi lembaga mereka. Sesampai di tempat yang agak jauh dari sekolah, mereka menemukan sebuah jembatan kecil di atas got saluran air menuju sungai. Anak-anak pemberani itu pun penasaran untuk melewatinya. Kemudian bu guru mengajak komunikasi tentang jembatan tersebut. Lalu memberi contoh cara berjalan melewati jembatan tanpa garis pembatas di kiri kanannya itu.
”Anak-anak kalau ada orang berjalan lewat jembatan ini kemudian jatuh ke bawah itu, bagaimana kira-kira?” tanya Bu Endah melempar kalimat pemantik. Dengan semangat dan antusias bocil-bocil itu menjawab saling bersahutan.
“Sakit Bu, karena jatuh kena batu di bawah.” jawab Darren dengan cepat. “Nanti basah Bu karena nanti kena air got di bawah itu Bu.” jawab Xena sambil menunjuk ke arah bawah jembatan.
“Betul sekali, kalian semua anak hebat. Sekarang kita sudah tahu kan apa kira-kira yang akan terjadi kalau sampai jatuh?” tanya Bu Endah kepada mereka.
“Kalian mau kah jatuh ke bawah?” lanjut Bu Endah yang langsung dijawab semua anak dengan serempak. “Tidaaakkkkk!!” seru mereka.
“Berarti kalau kalian tidak mau jatuh ke bawah, kalian harus fokus berjalan, melihat jalan atau jembatan yang akan dilewati, dan kalian berusaha sampai di seberang sana dengan aman dan selamat. Itu namanya HATI-HATI. Sudah taukah anak-anak semua? harus bagaimana kita agar selamat?” sahut Bu Endah memberi penjelasan dan mengenalkan makna dari kata HATI-HATI.
Setelah mereka selesai berbincang tentang jembatan dan kata hati-hati tersebut kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan melewati jembatan kecil itu satu persatu dengan pemantauan dan pendampingan guru.
Sesampai di seberang sungai kecil tersebut mereka bertambah gembira menemukan hal baru yang menarik serta mendapatkan istilah baru yaitu kata HATI-HATI dan mengenal makna dari kata hati-hati.
Kemudian mereka berlari melanjutkan perjalanan kembali ke sekolah untuk segera masuk ke dalam kelas. Mereka berlari, berjalan, bebas berekspresi dengan penuh gembira hati. @@@@@@@@@@@@@
Kreator : Endah Suryani, S. Pd AUD
Comment Closed: Hati-Hati
Sorry, comment are closed for this post.