KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Ipin dan Ipin, Mbo dan Mbi

    Ipin dan Ipin, Mbo dan Mbi

    BY 16 Nov 2025 Dilihat: 48 kali
    Ipin dan Ipin, Mbo dan Mbi_alineaku

    Udara di aula Kantor Wilayah Kementerian terasa kaku dan berbau karpet, bercampur aroma melati dari rangkaian bunga di sudut ruangan. Di hadapan kami, deretan pejabat tinggi Kementerian duduk dengan wajah serius. Hari ini adalah hari pelantikan. Hari di mana aku, bersama dua rekan seperjuangan yang kini menjadi saudara seperangkatan, akan mengukir babak baru, bersama sederetan nama-nama lainnya dari berbagai utusan  kantor kabupaten kota se Provinsi 

    Di sebelah kananku berdiri Ros, ia adalah mantan Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang terkenal dengan ketelitiannya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sedikit tegang, memancarkan gabungan kebanggaan dan beban tanggung jawab yang baru. Di seberang Ros, ada Ali. Ali adalah guru senior dari Madrasah Aliyah (MA), pribadinya yang santai dan humoris seolah tertinggal di gerbang, digantikan oleh sorot mata penuh tekad. Kami bertiga mantan guru MI, mantan Kepala MI, dan mantan guru MA berdiri dalam satu barisan, siap menyandang gelar baru: Pengawas  Sekolah dan Pengawas Madrasah.

    Meskipun kami baru diangkat bersama, ikatan kami sudah terjalin lama, bahkan sebelum SK ini ditandatangani. Kami sudah saling mengenal di lingkungan Kementerian yang sama, sering berbagi keluh kesah tentang rapor, kurikulum baru, atau tingkah laku siswa saat jam istirahat. Siapa sangka, kini kami tidak lagi berhadapan dengan papan tulis, melainkan dengan administrasi, mutu, dan bimbingan puluhan guru dan Madrasah.

    “Selamat Buk, Buk Ros, Pak Ali,” bisik seorang panitia usai acara. Kata-kata itu terasa berat, melebihi bobot SK yang kini kugenggam. Sambil berjalan keluar aula, kami bertiga saling menatap. Tatapan itu bukan lagi tatapan antar rekan guru, melainkan tatapan tiga musketeer yang baru menerima peta harta karun sekaligus tugas yang mustahil.

    “Selamat datang di realitas baru,” ujar Ali, berusaha mencairkan suasana dengan senyumnya yang khas. “Dulu kita cuma mikirin kelas sendiri, sekarang kita harus mikirin madrasah dan guru PAI  se-kabupaten/ kota.”

    Ros mengangguk. “Ya, dan sepertinya peta ini lebih rumit dari jadwal pelajaran manapun. Aliyah, kamu siap, kan?”

    Aku memeluk SK di dadaku. Ada getaran semangat yang tak bisa disembunyikan. “Siap, Ros. Kita tidak sendirian. Kita bertiga.”

    Perasaan canggung dan tegang yang menyelimuti kami saat pelantikan perlahan mencair, tergantikan oleh rutinitas baru yang menuntut kolaborasi. Meja-meja kami di ruang Pengawas kini menjadi posko, tempat segala informasi, tantangan, dan bahkan keluh kesah berkumpul. Aku, Ros, dan Ali adalah trio yang tak terpisahkan, tak hanya karena kami dilantik bersama, tetapi karena kami saling menyadari bahwa tugas ini terlalu besar untuk dipikul sendiri-sendiri.

    Ros, dengan latar belakangnya sebagai Kepala MI, unggul dalam urusan manajemen dan administrasi. Ketika aku, Aliyah, bingung dengan format laporan akreditasi yang berubah-ubah, Ros akan dengan sabar menarik bangkunya, menunjuk layar komputerku, dan berkata, “Bagian ini fokus pada input sarana, Pin. Jangan campur dengan output hasil belajar.” Ros adalah kompas kami, selalu memastikan langkah kami terstruktur dan sesuai regulasi.

    Sementara itu, Ali, sang mantan guru MA, adalah ahli strategi komunikasi dan teknologi. Wilayah kerjanya yang luas, mencakup madrasah di daerah pinggiran yang sulit sinyal, memaksanya menjadi inovator. Ia selalu menemukan cara paling efektif untuk menyampaikan bimbingan teknis, bahkan lewat rekaman suara atau video singkat. Jika ada perangkat lunak kementerian yang error atau link yang tidak bisa dibuka, “Panggil Ali!” selalu menjadi teriakan penyelamat di antara kami.

    Dan aku ?, Aku menjadi jembatan emosional tim. Berasal dari latar belakang guru MI yang akrab dengan dunia anak, aku sering kali bisa membaca suasana hati para guru madrasah yang kami kunjungi, kapan mereka butuh motivasi, kapan mereka butuh ditegaskan, dan kapan mereka hanya butuh didengarkan sambil ditemani minum teh.

    Kami semakin akrab. Setiap pagi diawali dengan Ros yang membawa bekal makanan ringan dari rumahnya, Ali yang tak pernah lupa membawakan kopi susu dari warung langganan, dan aku yang sudah menyiapkan rundown harian kami. Kami tidak hanya berbagi tugas, kami berbagi info tentang madrasah mana yang memiliki inovasi terbaik dan madrasah mana yang tengah menghadapi masalah klasik: permasalahan guru PAI, atau dana BOP dan Sertifikasi yang terlambat.

    “Dulu kita saingan nilai di kelas, sekarang kita saingan siapa yang paling cepat menyelesaikan laporan kunjungan,” canda Ali suatu sore, saat kami bertiga masih berada di kantor, lampu ruangan sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya dari monitor laptop.

    Ros tersenyum tipis. “Bukan saingan Mbo. Tapi kolaborasi. Karena pada akhirnya, keberhasilan kita bukan cuma di laporan, tapi di kualitas madrasah yang kita awasi.”

    Meskipun wilayah pengawasan kami terpisah jauh, sore hari menjelang waktu pulang selalu menjadi waktu wajib bagi kami untuk bertukar cerita, dari kisah lucu siswa yang tertukar tas, hingga tantangan serius saat menemukan kepala madrasah yang kesulitan menerapkan kurikulum merdeka. Solidaritas kami adalah bahan bakar, membuat kami merasa tidak ada tugas yang terlalu berat selama kami berada dalam tim ini.

    Solidaritas tim kami, yang terdiri dari Aku, Ros, dan Ali, semakin erat seiring hari-hari kunjungan madrasah berlalu. Namun, di antara dinamika profesional kami sebagai Pengawas, Ros dan aku menemukan tingkat keakraban yang melampaui sebatas rekan kerja. Ikatan kami begitu kuat, seolah kami telah bertukar peran, bahkan bertukar nama.

    Panggilan itu berawal dari rekan-rekan sejawat di kantor. Mereka memperhatikan, hampir setiap kegiatan dinas, setiap rapat internal, setiap sesi coffee break di kantin, Ros dan aku selalu terlihat berdua.

    “Itu Ipin dan Upin datang lagi,” celetuk salah satu rekan kerja saat kami memasuki ruang rapat bersamaan, tertawa geli.

    Aku dan Ros awalnya hanya tersenyum malu. Namun, label “Ipin dan Upin” itu ternyata lebih melekat dari yang kami bayangkan. Kami tidak keberatan, karena memang begitulah adanya. Di mana ada aku, hampir pasti ada Ros, dan sebaliknya. Kami berbagi ide, berbagi beban, dan bahkan sering berbagi bekal makan siang yang sama.

    Seiring waktu, julukan itu mengalami sedikit modifikasi yang hanya kami berdua yang pahami: Ipin dan Ipin.

    “Pagi, Ipin!” sapaku suatu pagi saat Ros baru saja tiba di meja.

    Ros tersenyum lebar, meletakkan tasnya. “Pagi juga, Pin. Sudah siapkah kita menaklukkan tumpukan berkas hari ini?”

    Panggilan itu menjadi kode rahasia kami. Lucu, ringan, dan efektif mencairkan suasana kantor yang terkadang terasa mencekam karena deadline laporan. Bagi orang lain, mungkin aneh mendengar dua pengawas madrasah saling memanggil ‘Ipin’, tapi bagi kami, panggilan itu adalah pengingat akan persahabatan yang tulus, penanda bahwa kami memiliki partner in crime sejati dalam menjalani tugas berat nan mulia ini.

    Ali,  hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

    “Kalian ini Upin dan Ipin. Lalu aku apa?” protes Ali suatu kali, sambil pura-pura cemberut.

    “Kau?” jawab Ros sambil tertawa. “Kau adalah Kak Ros, Li. Yang selalu mengantar dan menjemput kami pulang dengan ide-ide cemerlangmu!”

    Tawa kami pecah. Momen-momen ringan seperti inilah yang membuat kami bertahan selama hampir satu setengah tahun ini. Di balik seragam dinas yang rapi dan laporan yang tebal, kami hanyalah tiga sahabat yang berjuang, dengan Ros dan aku sebagai ‘Ipin dan Ipin’ yang tak terpisahkan.

    Jika keakrabanku dengan Ros terwujud dalam panggilan “Ipin dan Ipin,” maka dinamika dengan Ali memiliki level keunikan yang berbeda pula, yang juga sering menjadi bahan tertawaan rekan-rekan pengawas senior di kantor.

    Pak Ali, yang kami juluki “Kak Ros” karena sifatnya yang suportif, ternyata memiliki peran lain dalam duniaku: kembaran yang terpisah.

    Momen itu terjadi saat jam istirahat, di mana kami bertiga Aku, Ros, dan Ali, tengah duduk bersama para pengawas senior, berbagi cerita sambil menyeruput kopi. Ada salah seorang senior yang mengomentari kedekatan dan kemiripan kami berdua, terutama dalam selera humor yang sama-sama receh.

    Spontan aku menyahut, “Wajar dong Pak. Kami ini kembar yang terpisah sejak lahir.” Dipertemukan Kembali setelah menjabat jadi Pengawas !”

    Sontak semua mata tertuju padaku, termasuk Ros yang terkejut. “Serius, Aliyah?” tanya seorang rekan senior dengan nada penasaran.

    “Serius, Pak!” jawabku meyakinkan. “Kami kembar tidak identik. Kembar tapi lahir secara terpisah.” Karena saya perempuan, saya diberi nama Aliyah. Dan karena dia laki-laki  diberi nama Ali.” Aku menunjuk Ali yang kini hanya bisa tertawa pasrah.

    Ruangan pengawas pecah oleh tawa kami dan pengawas senior lainnya. Tawa paling keras datang dari Ali, yang kemudian menoel bahuku sambil berkata, “Benar! Baru kali ini aku mengakui kembaranku ini di depan umum!” ha ha ha, Ali tertawa renyah

    Sejak saat itu, panggilan kembar tak identik itu kian melekat. Mbo yang berasal dari kata kembo=kembar untuk panggilan Ali sedangkan  Mbi sapaan untukku. Entah dari mana asalnya, yang jelas panggilan itu terasa ringan dan efektif sebagai penanda kedekatan kami.

    “Mbi, berkas punya Mbo hilang! Tadi Mbi lihat tidak di meja?” bisik Ali suatu pagi dengan panik. “Astaga, Mbo. Mbi baru datang! Coba lihat di tas Mbo sendiri!” balasku, menahan tawa.

    Di tengah kesibukan mengawasi puluhan madrasah, deadline laporan, dan regulasi yang selalu berubah, momen-momen ringan dan kekonyolan inilah yang menjadi pelumas bagi semangat kami. Tiga serangkai Pengawas Ipin dan Ipin serta Mbi dan Mbo, telah membuktikan bahwa tugas mulia dapat dijalani dengan hati yang gembira, didukung oleh persahabatan yang unik dan penuh tawa.

    Setiap pagi, ruang kerja Pengawas adalah markas, tempat kami tertawa dengan sapaan “Ipin dan Ipin” atau  “Mbi dan Mbo.” Namun, saat kami bertiga mengenakan helm dan jaket, kami adalah tiga navigator yang siap menaklukkan peta wilayah yang terbentang luas.

    Tantangan terbesar kami di awal masa tugas, selain tumpukan berkas, adalah topografi Wilayah binaan kami tersebar. Guru Agama (PAI) yang menjadi fokus Ros, sering kali berada di gang-gang kecil perkampungan yang padat. Sementara Raudhatul Atfal (RA) binaanku dan Ali, kadang harus dicapai dengan menyusuri jalanan dan gang yang sepi dan jauh.

    Awalnya, kami bertiga sangat tergantung satu sama lain di lapangan. “Ali, ini belok kanan atau lurus? GPS-ku bilang di sini ada empang!” Ros pernah berteriak panik lewat telepon, saat motornya tersesat di tengah hamparan sawah menuju Sekolah terpencil.

    Saat itu, Ali dan aku akan berusaha menyusul, atau setidaknya memberikan panduan real-time sambil kami sendiri juga menuju madrasah binaan masing-masing. Terkadang, kami bahkan saling menemani ke titik terdekat, memastikan salah satu dari kami menemukan plang madrasah dengan aman sebelum berpisah. Momen ini selalu terasa seperti kami benar-benar sedang berjuang bersama, bukan hanya di meja kantor, tapi juga di atas aspal dan jalanan berbatu.

    Ros, dengan sifatnya yang teliti, akan mencatat setiap tikungan, setiap patokan warung, dan setiap jembatan yang dilewati. Ali, dengan naluri traveller-nya, akan dengan mudah mengingat rute tercepat. Dan aku? Aku selalu siap menjadi pemandu sorak, memastikan semangat kami tidak kendur meskipun matahari sudah meninggi.

    Seiring waktu—hampir satu setengah tahun berjalan—kami sudah menemukan ritme dan kemandirian kami. Peta di kepala kami sudah terinstal dengan baik, tak lagi membutuhkan panduan suara dari Google Maps.

    Kini, ritual lapangan kami telah berubah. Tidak ada lagi aksi saling menyusul atau menemani. Sebelum berangkat, kami hanya bertukar pesan singkat yang efisien.

    Ali (Mbo): Mbi, hari ini aku ke RA. Al-Amin di pelosok. Jaringan buruk. Doakan lancar.

    Aku (Mbi): Aku siap meluncur ke RA. Al-Haadi. Hati-hati Mbo. Kabari kalau sudah di titik aman.

    Ros (Ipin): Aku ke Sekolah Binaan 3, lancar jaya. Salam untuk para guru.

    Perjalanan ini adalah perjalanan transformasi. Dari guru yang hanya mengurus kelas, kini kami menjadi Pengawas yang mengurus mutu pendidikan. Dari rekan kerja yang canggung, kami menjadi trio solid: Aku, Ros, dan Ali. Panggilan Ipin dan Ipin, serta Mbi dan Mbo, bukan hanya sekadar sapaan lucu di kantor, melainkan simbol ikatan persahabatan yang kokoh.

    Di tengah kesibukan administrasi dan tantangan lapangan, aku menyadari satu hal: memiliki Ros dan Ali dalam satu tim adalah anugerah terbesar dalam babak baru kehidupanku sebagai Pengawas Madrasah. Bersama mereka, tak ada madrasah yang terlalu jauh untuk dijangkau, dan tak ada masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan.

    Hampir satu setengah tahun sejak kami bertiga berdiri kaku di barisan pelantikan, banyak hal yang berubah. Kami telah menempuh ratusan kilometer jalanan desa dan kota, mengisi ratusan lembar laporan, dan menghadiri puluhan kali rapat koordinasi yang menegangkan. Tugas sebagai Pengawas Madrasah memang berat, menuntut keseriusan dan dedikasi yang tak terhingga.

    Namun, di tengah kesibukan itu, kantor kami, ruangan yang dulunya terasa asing telah bertransformasi menjadi rumah kedua, berkat kehadiran diriku, Ros dan Ali.

    Aku menatap Ros, yang kini sedang fokus menyeleksi draf kurikulum di mejanya. Panggilan “Ipin” kami bukan lagi sekadar candaan. Itu adalah pengakuan bahwa kami adalah dua jiwa yang berjalan beriringan, saling melengkapi dan tak terpisahkan dalam suka duka.

    Lalu pandanganku beralih pada Ali, yang sedang tertawa sendiri saat membaca pesan di ponselnya, mungkin pesan lucu dari salah satu gurunya. Panggilan “Mbo” dan “Mbi” adalah pengingat bahwa kami, sang “kembar tak identik”, memiliki chemistry dan semangat yang sama dalam menjalani hidup. Ali bukan hanya rekan kerja, dia adalah saudara, tempat kami melempar beban pikiran tanpa perlu berpura-pura serius.

    Kami sudah tidak perlu lagi saling menemani ke pintu gerbang madrasah terpencil. Kami sudah bisa menavigasi setiap tikungan dan pelosok wilayah binaan kami hanya dengan panduan internal. Kini, komunikasi kami di lapangan cukup diwakili oleh pesan singkat yang efisien, namun penuh makna: Hati-hati, Ipin, atau Kabari kalau sudah di titik aman, Mbi.

    Pada akhirnya, bukan jumlah madrasah yang berhasil kami akreditasi, atau kesuksesan kami menyelesaikan laporan tepat waktu, yang paling membanggakan. Keberhasilan terbesar kami adalah : Kami tetap utuh. Tiga orang dengan latar belakang berbeda yakni guru MI, Kepala MI, dan guru MA dipersatukan oleh surat keputusan Kementerian dan ditempa oleh tantangan lapangan, namun diikat erat oleh persahabatan yang unik dan penuh tawa.

    Kami adalah Aku, Ros, dan Ali. Tiga pilar yang kokoh, didukung oleh semangat “Ipin dan Ipin” serta kekonyolan “Mbi dan Mbo”. Selama kami bertiga ada, tugas mulia ini tidak akan pernah terasa sepi, dan setiap tantangan akan dihadapi dengan senyuman dan keyakinan: Kami tidak sendiri, Kami bertiga.

     

     

    Kreator : Aliyah Manaf

    Bagikan ke

    Comment Closed: Ipin dan Ipin, Mbo dan Mbi

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021