Roda berputar mengalami masa 360 derajat. Kadang merasakan saat di bawah, di atas, di samping pada sudut 90 derajat membentuk siku-siku, atau sudut-sudut lainnya. Semua perputaran itu terjadi agar dapat menggelinding dengan sempurna. Perputaran itu pun kadang lambat atau cepat bahkan sangat cepat hingga tiada terasa dalam posisi di sebelah mana.
Begitu pula perputaran roda kehidupan manusia. Tak selamanya mulus, ada riak-riak kehidupan yang melingkupinya. Ada suka duka, ada kebahagiaan dan kesedihan, ada saat lapang dan sempit. Pasangan antithesis kata. Kata yang memiliki makna berlawanan.
Seperti halnya yang dialami gadis kecil bermata sipit ini. Meskipun dia bukan keturunan bangsa tertentu yang identik dengan mata sipit. Dia orang Jawa asli. Ayah ibunya adalah pasangan hidup dari tetangga desa saja. Sebuah desa kecil yang tersohor tandus dulu kala. Sebutan itu telah berubah pun karena perputaran masa. Kini menunjukkan geliatnya menjadi desa atau wilayah ternama karena keindahan pantainya.
Setting kehidupan itu memposisikan Sang Gadis harus menapaki lika-liku jalan kehidupan. Sebut saja gadis ini bernama Widya. Widyasari lengkapnya. Setapak demi setapak Widya melakoni amanah dari kedua orang tuanya. Ayah ibunya yang mempunyai profesi guru menyarankan kepadanya untuk menjadi guru pula.
Boleh jadi pada awalnya Widya menolak. Widya sebagai siswa SMA pada jurusan Biologi berharap ingin menjadi ilmuwan atau masuk kuliah kedokteran. Terbayang olehnya saat praktikum biologi, kimia, atau fisika. Widya selalu mendapat kesempatan mengenakan jas praktik. Jas putih yang keren seperti para ilmuwan atau dokter yang pernah dia lihat di televisi atau sekali waktu pernah berjumpa di Puskesmas atau Rumah Sakit Daerah di wilayah kabupatennya.
Bayangan itu terkubur saat harus memilih Perguruan Tinggi dengan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan pilihan harus jelas, dibedakan antara pilihan kependidikan dan nonkependidikan. Tidak ada alternatif untuk mencoba memilih dengan menggabungkan di antara keduanya.
Nasihat orang tua untuk memilih jalur pendidikan, Widya ikuti. Dia memilih jalur campuran dengan pilihan pertama Pendidikan Kimia IKIP Yogyakarta, pilihan kedua Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Bandung, dan pilihan ketiga Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Semarang. Idealisme yang kuat dengan pilihan program studi yang tidak ringan bahkan Perguruan Tingginya bervariasi.
Sebenarnya Widya juga menyadari bahwa dirinya bukan anak pintar atau berprestasi akademik saat di SMA. Dia mengikuti arus yang membawanya mencapai cita-cita. Saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru keluar, diumumkan melalui media cetak “Kedaulatan Rakyat”, Widya melihat satu per satu tulisan kecil-kecil pada surat kabar tersebut. Terpampang dengan jelas nama Widyasari dengan nomor ujian sama persis dengan miliknya, tertulis program studi Bahasa Indonesia IKIP Semarang. Dia melonjak kegirangan.
“Ayah.. Ibu.. Aku diterima di IKIP Semarang program studi Bahasa Indonesia!” demikian teriaknya agak lantang.
“Alhamdulillah,” sahut Ibu.
Ayahnya juga berucap lirih dan menyalami Widya.
Setapak pertama telah terlampaui dengan lolos UMPTN. Persaingan ketat melalui ujian itu tidaklah mudah karena bersaing dengan seluruh lulusan SMA se-Indonesia. Perbekalan selanjutnya harus menapaki dunia baru yang jauh dari kampung halaman bahkan lintas provinsi. Namun, Widya harus yakin bisa menggapai mimpi dan harapan kedua orang tuanya.
Keyakinan itu dibuktikan dengan keberaniannya. Dia sendirian ke Semarang untuk mengikuti tahapan lanjutan pendaftaran ulang mahasiswa baru, mengikuti orientasi pendidikan mahasiswa baru, menjalani Penataran Pendidikan dan Penghayatan Pancasila atau P4, sampai akhirnya benar-benar menjalani masa perkuliahan.
Perkuliahan lazimnya mahasiswa strata 1 atau sarjana adalah delapan semester. Betul adanya Widya bisa melampaui semua semester perkuliahan dengan baik, khususnya semester tujuh harus Praktik Pengalaman Lapangan atau PPL mengajar di sebuah SMP Negeri di Kota Semarang. Dilanjutkan dengan Kuliah Kerja Nyata atau KKN di desa Madugowongjati, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang. Kedua momentum itu meraih nilai sempurna A. Sampai akhirnya semester kedelapan tinggal merampungkan skripsi.
Babakan baru setapak di akhir jenjang kuliah ini yang tidak sederhana. Idealisme di awal dengan proposal yang telah disetujui dosen pembimbing harus penuh lika-liku perjuangan. Masa yang tidak sebentar harus Widya lalui. Inilah jalan setapak berliku yang sesungguhnya, tinggal satu menuntaskan skripsi saja.
Mungkin ini dialami banyak mahasiswa dan boleh jadi inilah pendadaran yang sebenarnya. Bagaimana bisa melampaui proses bimbingan skripsi, proses menuangkan gagasan dan pengetahuan dengan sistematis, proses pendewasaan menghadapi tantangan kehidupan. Dukungan dan doa tulus Ayah Ibu dan Kuasa Yang Maha Bijaksana melalui para dosen dan institusi memberi kesempatan Widya menyelesaikan skripsi dan mencapai gelar sarjananya. Widya memasuki kuliah tahun 1991 dan mengenakan toga kelulusan tahun 2000. Widya sangat bersyukur mendapat kesempatan lulus.
Mungkin kisah ini langka dan tak mungkin terulang di masa kini. Perputaran regulasi pendidikan sudah sangat tertib dengan durasi tertentu harus dropout. Perjalanan hidup Widya dalam melampaui jalan setapak berliku semoga menjadi pengalaman bermakna bahwa roda kehidupan selalu berputar.
Kreator : Dwi Astuti
Comment Closed: Jalan Setapak Berliku
Sorry, comment are closed for this post.