KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Jejak Musim Panas – Bab 2 Peta Yang Tertinggal

    Jejak Musim Panas – Bab 2 Peta Yang Tertinggal

    BY 18 Okt 2026 Dilihat: 11 kali
    Anak Baru Lagi_alineaku

    Alya langsung pulang sore itu. Tidak mampir ke perpustakaan. Tidak ikut Mira yang sempat mengajaknya melihat toko kecil di seberang sekolah. Ia hanya ingin kembali ke kamar. Entah kenapa. 

    Ketika sampai, Alya meletakkan ranselnya di lantai, melepas sepatu, lalu berjalan ke jendela. Hutan itu masih ada di sana, tentu saja. Namun sekarang pemandangannya terasa berbeda.

    Matahari sudah turun di balik deretan pepohonan, meninggalkan semburat jingga pucat di antara batang-batang tinggi yang berdiri rapat. Cahaya sore hanya menyentuh pucuk-pucuk daun, sementara bagian bawah hutan perlahan tenggelam dalam bayangan.

    Alya membuka sedikit jendelanya. Angin dingin segera menyusup masuk, membuat tirai putih mengembang pelan dan menerbangkan ujung jilbabnya ke belakang bahu. Udara membawa aroma tanah lembap dan dedaunan.

    Shhh… shhh…

    Suara yang sama seperti kemarin. Alya menyandarkan satu bahu pada bingkai jendela.

    Musim panas lalu, ada murid yang meninggal di sana.

    Kalimat Jonas kembali muncul di kepalanya. Lalu suara Mr. Hargreeve.

    Fokus ke depan. 

    Dan tirai laboratorium yang ditutup begitu cepat. Alya mengembuskan napas.

    “Sudahlah.”

    Ia menutup jendela. Mungkin Jonas hanya sedang menakut-nakutinya. Mungkin Mr. Hargreeve memang orang yang mudah gugup. Dan mungkin hutan itu memang hanya… hutan.

    Alya berbalik menuju ranselnya. Lebih baik membereskan buku. Setidaknya buku tidak punya rahasia.

    Ia duduk bersila di lantai, membuka resleting ransel, lalu mengeluarkan buku-bukunya satu per satu. Matematika, Bahasa Inggris, sebuah buku catatan, kotak pensil.

    Tangannya masuk sekali lagi ke dasar tas. Lalu berhenti. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang kasar. 

    Kertas. Alya mengernyit, Ia menariknya keluar. Selembar kertas terlipat terselip di antara bagian belakang ransel dan buku sainsnya. Alya menatapnya. Itu bukan kertas pelajaran. Warnanya sudah tidak benar-benar putih, melainkan kekuningan seperti kertas yang terlalu lama disimpan. Lebih tebal daripada kertas biasa, dengan lipatan-lipatan kasar di permukaannya. Salah satu sudutnya robek.

    Sepertinya kertas itu sudah berkali-kali dilipat. Dibuka. Lalu dilipat lagi.

    Alya membaliknya. Tidak ada nama. Tidak ada tulisan. Ia mencoba mengingat pagi tadi. Ia sendiri yang memasukkan buku-buku ke ransel. Ia ingat betul. Kertas ini tidak ada. Alya melirik pintu kamarnya. Tertutup. Lalu kembali menatap kertas di tangannya.

    “Apa ini?”

    Dengan hati-hati, ia membuka lipatan pertama. Lalu yang kedua. Kertas itu melebar di atas kedua pahanya.

    Alya terdiam, itu adalah sebuah peta. Bukan peta yang dicetak. Peta itu digambar dengan tangan.

    Garis-garis pensil tipis membentuk bangunan yang segera dikenali Alya sebagai sekolah. Ada lapangan, gedung utama, dan sebuah garis panjang yang tampaknya menggambarkan pagar belakang. Dari sana, sebuah jalur sempit masuk ke dalam hutan.

    Alya mendekatkan wajahnya. Jalur itu berkelok-kelok di antara simbol-simbol pohon, kemudian bercabang dua. Salah satu cabangnya dicoret. Cabang lainnya berlanjut lebih jauh. Ada gambar lingkaran mengelilingi sebuah pohon yang ukurannya dibuat jauh lebih besar daripada pohon-pohon lain. Di sampingnya tertulis: POHON TUA

    Dari sana, garis terus masuk semakin dalam. Sampai akhirnya berhenti. Sebuah tanda X digambar di sana. Alya mengusap ujung kertas dengan ibu jarinya.

    Apa yang ada di sana?

    Ia hampir melipat kembali peta itu ketika melihat sesuatu di sudut bawah. Tulisan kecil. Alya memiringkan kertas agar terkena cahaya lampu. Huruf-hurufnya sempit dan sedikit miring, ditulis menggunakan tinta hitam yang sebagian sudah memudar.

    Jangan percaya semua orang dewasa.

    Alya tidak bergerak. Nafasnya tertahan, satu detik. Dua detik. Bulu kuduk di lengan perlahan berdiri. Ia membaca tulisan itu lagi. Jangan percaya semua orang dewasa.

    “Ya Allah…” Kali ini suaranya benar-benar keluar, pelan sekali.

    Alya bangkit dan duduk di tepi ranjang. Kasur empuk itu turun sedikit di bawah berat tubuhnya. Peta terbuka di pangkuannya. Ini jelas bukan miliknya. Dan ia yakin, sangat yakin, kertas ini tidak ada di ranselnya pagi tadi. Artinya seseorang memasukkannya. Tetapi siapa? Dan kapan? Di kelas? Saat dia ada di kantin? Saat pelajaran sains?

    Alya mencoba mengingat siapa saja yang berada dekat tasnya sepanjang hari. Terlalu banyak. Ia menatap tanda X sekali lagi.

    Ya Allah. Kalau ini ujian, aku belum siap.

    Alya menutup mata sejenak. Dalam hidupnya yang berpindah-pindah, ia sudah belajar bahwa hal-hal aneh bisa berarti sesuatu, tetapi tidak selalu. Terkadang sebuah barang tertukar. Sering kali orang salah memasukkan sesuatu ke tas yang salah. Tidak semua kebetulan adalah sebuah pertanda. Dan tidak semua pertanyaan harus dicari jawabannya. Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan Ibu. Alya menarik napas panjang.

    Allah, berikan aku petunjuk. Doanya hanya terdengar di dalam hati.

    Kalau ini kebaikan, dekatkan. Ia membuka mata.

    Kalau ini bahaya, jauhkan. 

    Tidak ada jawaban. Tentu saja. Hanya suara angin yang kembali menyentuh kaca jendela. Namun jantung Alya masih berdetak sedikit terlalu cepat. Ia melipat peta itu kembali. Sekali. Dua kali. Lalu memasukkannya ke dalam laci meja, kemudian mendorongnya hingga menutup kembali.

    Selesai.

    Setidaknya untuk malam ini.

    ——-

    Ternyata tidak. 

    Malam itu Alya sulit tidur. Ia berguling ke kanan. Lalu ke kiri. Menarik selimut. Membuangnya lagi.

    Jam digital di meja menunjukkan pukul 11:47 malam. Kamar sudah gelap, kecuali cahaya kebiruan dari jam dan sepotong sinar bulan kekuningan yang masuk melalui celah tirai. Alya menatap langit-langit kamarnya.

    Jangan percaya semua orang dewasa.

    Ia memejamkan mata. Lalu—

    Krak.

    Mata Alya langsung terbuka. Ia menoleh ke jendela. Diam. Beberapa detik kemudian terdengar gesekan dedaunan dari arah hutan.

    Shhh… shhh…

    Lalu terdengar sesuatu seperti langkah kaki seseorang. Alya menahan napas.

    Satu.

    Dua.

    Tiga.

    Tidak ada lagi.

    “Angin,” gumamnya.

    Ia menarik selimut sampai ke dada.

    “Itu cuma angin.”

    Namun pikirannya sudah kembali kepada murid yang meninggal. Bahkan namanya pun Alya belum tahu. Jonas hanya mengatakan seorang murid. 

    Aneh.

    Seseorang meninggal di hutan itu, tetapi tidak ada seorang pun yang menyebut namanya. Seolah-olah jika namanya tidak disebut, orang itu perlahan akan menghilang dari ingatan. 

    Alya menatap kegelapan. Tetapi Allah tidak pernah lupa. Pikiran itu membuat dadanya sedikit lebih ringan. Tidak ada yang benar-benar hilang dari catatan-Nya.

    Alya menyingkap selimut. Ia bangun, mengambil wudu*, lalu menggelar sajadah* di sisi ranjang. Malam itu ia shalat singkat. Bukan karena tiba-tiba menjadi pemberani. Bukan juga karena yakin ada sesuatu di luar jendela. Ia hanya membutuhkan ketenangan.

    Setelah selesai, Alya tidak langsung bangkit. Ia duduk di atas sajadah, kedua tangannya bertumpu di paha. Kamar kembali sunyi. Napasnya mulai teratur.

    Aku hanya anak baru.

    Matanya beralih ke meja. Ke laci tempat peta itu tersimpan.

    Aku bahkan tidak akan lama di sini.

    Tiga bulan. Setelah itu, keluarganya akan pindah lagi. Sekolah baru lagi. Kamar baru lagi. Pertanyaan yang sama lagi.

    Kamu dari mana?

    Seharusnya itu membuat semuanya lebih mudah. Apa pun yang terjadi di Northwood bukan urusannya. Namun entah mengapa, justru itu yang membuatnya gelisah.

    ——

    Keesokan harinya, Alya membawa peta itu ke sekolah. Ia tidak langsung menunjukkannya kepada siapa pun. Belum. 

    Sepanjang pelajaran pagi, kertas terlipat itu berada di bagian terdalam ranselnya. Sesekali Alya melirik tasnya sendiri. Konyol.

    Peta itu tidak mungkin ke mana-mana. Tetapi sebelum mengatakan apa pun kepada Mira dan Jonas, ia ingin memastikan satu hal.

    Saat istirahat, mereka kembali duduk di meja yang sama, di dekat jendela sebelah kanan ruangan. Kali ini ada seseorang yang duduk bersama Jonas. Anak laki-laki berkacamata bulat yang kemarin duduk di pojok kelas. Rambut hitamnya jatuh sedikit menutupi dahi, dan seragamnya terlihat terlalu rapi dibandingkan semua murid lainnya. Di depannya terbuka sebuah laptop kecil berwarna abu-abu yang tampak jauh terlalu canggih untuk sekadar mengerjakan tugas sekolah. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard.

    “Kaito,” kata Jonas singkat ketika Alya duduk.

    Kaito mengangkat satu tangan tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Hai.”

    “Hai.” 

    Alya membuka kotak bekalnya di meja. Mira sudah lebih dulu sibuk membongkar tas bekal makannya.

    “Dia memang begitu,” bisik Mira sambil melirik Kaito. 

    Jemari Kaito berhenti sesaat. “Aku dapat mendengarmu, Mira.”

    Mira tersenyum tanpa merasa bersalah. “Memang sengaja.”

    Alya menahan senyum melihat interaksi kedua orang itu.

    Beberapa menit pertama mereka berbicara tentang guru matematika yang memberikan terlalu banyak pekerjaan rumah. Mira mengeluh paling banyak. Jonas sesekali menanggapinya. Sedangkan Kaito lebih sering menatap laptopnya dari pada ikut berbicara.

    Alya menunggu. 

    Peta itu masih tersimpan di bagian terdalam ranselnya, tepat di bawah meja. Ia sebenarnya sudah beberapa kali ingin bertanya, tetapi selalu mengurungkannya. Sampai akhirnya Ia meletakkan sendok.

    “Kalian tahu siapa murid yang meninggal musim panas lalu?”

    Jari Kaito berhenti di atas keyboard. Jonas yang sedang membuka botol minum ikut berhenti. Mira tidak jadi memasukkan makanan ke mulutnya. Alya memperhatikan mereka bertiga.

    Oke. Jadi pertanyaan itu memang penting.

    Mira perlahan menurunkan garpunya. 

    “Kenapa kamu tanya?” suara Mira mengecil.

    Alya mengangkat bahu, berusaha terdengar santai.  “Aku cuma ingin tahu.”

    Tidak ada yang langsung menjawab.

    Alya diam, menunggu lagi dengan sabar. Tatapannya berpindah dari Mira, ke Kaito, lalu berhenti pada Jonas. 

    Jonas memandang sekeliling kantin sebelum sedikit mencondongkan tubuh. “Namanya Leo.”

    Alya mengingat nama itu dalam diam. Leo. Akhirnya, murid di dalam cerita itu memiliki nama.

    “Kelas delapan,” lanjut Jonas. “Pintar. Pendiam. Agak… “ Ia berhenti sejenak, seperti sedang mencari kata yang tepat. “Aneh.”

    “Jonas,” tegur Mira.

    “Apa? Memang begitu.”

    “Jangan bilang orang yang sudah meninggal itu aneh.”

    “Aku tidak bermaksud jelek.”

    “Terus maksudmu?”

    Jonas mengangkat bahu. “Dia memang agak aneh.”

    Mira memutar bola matanya.

    Alya hampir menanyakan kenapa Leo itu aneh, tetapi ada pertanyaan lain yang lebih penting. “Terakhir terlihat di mana?”

    Kali ini Jonas tidak langsung menjawab. Ia melirik Kaito sejenak, lalu kembali menatap Alya.

    “Di dekat hutan.”

    Alya merasakan sesuatu mengencang di perutnya. 

    Kaito perlahan menutup laptopnya. “Ibuku bilang ada sesuatu yang tidak beres.”

    Alya menatapnya, “Tidak beres bagaimana?”

    Kaito menggeleng.

    “Ibuku tidak mau cerita.” Ia mendorong kacamatanya ke atas hidung. 

    “Cuma bilang aku tidak boleh mendekati hutan. Dan tidak boleh membicarakan Leo di sekolah.”

    Mira mengernyit, “Kenapa?”

    Kaito mengangkat bahu. “Katanya… lebih baik begitu.”

    Alya menatap mereka bertiga. Lalu tangannya turun ke bawah meja. Membuka resleting ranselnya, lalu menarik keluar selembar kertas terlipat.

    “Aku menemukan sesuatu kemarin.”

    Mira mengerutkan kedua alisnya. “Apa?”

    Alya tidak menjawab. Ia membuka lipatan kertas itu di tengah meja. Sekali. Dua kali. Peta terbentang di antara kotak makan mereka.

    Mira menutup mulutnya.

    Kaito langsung menarik tubuhnya lebih dekat.

    Jonas tidak bergerak. Matanya terpaku pada peta. Warna wajahnya perlahan berubah.

    “Alya…”

    “Apa?”

    Jonas menunjuk tulisan kecil di sudut peta. Tangannya tidak sampai menyentuh kertas.

    “Itu…” Ia menelan ludah. “Itu tulisan Leo.”

    Alya menatapnya. “Kamu yakin?”

    “Aku yakin, aku pernah melihat catatannya.” Jonas kini benar-benar pucat.

    Kaito menarik peta sedikit mendekat, matanya bergerak cepat mengikuti setiap garis.

    “Dari mana kamu dapat ini?”

    Alya menatapnya. Kemudian Mira. Kemudian Jonas.

    Ia menarik napas, “Entah. Aku menemukannya di dalam ransel kemarin.”

    Mira menatap peta, lalu berpaling pada Alya. 

    “Jadi seseorang memasukkan ini ke tasmu?”

    Alya hanya mengangguk.

    “Tanpa sepengetahuanmu?”

    Alya mengangguk lagi.

    Mira bersandar perlahan di kursinya. 

    “Oke.” ia menghembuskan napas. “Itu menyeramkan.”

    Tidak ada yang membantah pernyataan itu.

    Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Suara kantin tetap riuh di sekitar mereka. Anak-anak tertawa. Nampan beradu. Kursi bergeser. Tetapi di meja kecil itu, semuanya terasa jauh lebih sunyi.

    Alya menatap tulisan di sudut peta sekali lagi.

    Jangan percaya semua orang dewasa.

    Dan entah kenapa, tidak tahu bagaimana peta itu masuk ke dalam ranselnya terasa jauh lebih menakutkan daripada tanda X di tengah hutan.

    ——-

    Bel masuk berbunyi. 

    Mira tersentak. “Cepat, simpan.”

    Alya segera melipat peta. Kaito memasukkan laptop ke dalam tas, sementara Jonas berdiri sambil membawa nampannya. 

    Alya baru saja memasukkan peta ke ransel ketika muncul perasaan aneh. Perasaan ketika seseorang sedang melihatmu.

    Ia menoleh. Di ujung koridor yang terhubung dengan kantin, seseorang berdiri diam, Mr. Hargreeve. Guru itu tidak membawa buku, tidak berjalan dan hanya berdiri sendirian. Matanya tertuju ke arah meja mereka.

    Alya membeku. Untuk sesaat, pandangan mereka bertemu. Mr. Hargreeve tidak terlihat marah. Tidak juga bingung, hanya saja tatapannya terasa berbeda. Waspada. 

    Lalu pandangan matanya turun ke ransel Alya. Hanya sepersekian detik. Setelah itu ia berbalik dan berjalan pergi.

    Alya masih menatap koridor kosong.

    “Alya?” Mira sudah berdiri di sampingnya.

    “Kamu kenapa?”

    Alya menggeleng. “Tidak apa-apa.”

    Namun tangannya mencengkeram tali ransel sedikit lebih erat. Mr. Hargreeve melihat mereka. Alya yakin akan hal itu. Tapi apa yang sebenarnya ia lihat? Seberapa banyak yang ia tahu?

    ——

    Di kelas, Alya tidak mendengar setengah dari pelajaran. Pensilnya berada di tangan, tetapi halaman buku catatannya hanya berisi tanggal dan dua baris tulisan. Pikirannya terus kembali pada peta. 

    Tulisan Leo. 

    Tatapan Mr. Hargreeve.

    Dan satu pertanyaan yang tidak mau pergi. Kenapa peta itu ada di tasku? Mungkin seseorang sengaja memasukkannya. Tapi siapa? Dan kenapa memilih anak baru yang bahkan belum dua hari berada di sekolah ini?

    Alya mengetukkan ujung pensilnya pelan ke meja.

    Tik. Tik. Tik.

    Lalu sebuah pikiran muncul. Karena ia anak baru. Alya berhenti mengetukkan pensil. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang tahu apa yang akan ia lakukan. Dan yang terpenting, dalam tiga bulan, ia akan pergi.

    Alya menatap keluar jendela. Dari kelas itu, ia bisa melihat pucuk-pucuk pohon di kejauhan bergerak ditiup angin. Mungkin itu sebabnya. Atau mungkin ia hanya sedang mencoba membuat semuanya masuk akal. Ia belum tahu.

    Alya menurunkan pandangannya. Di bawah meja, tangannya mengepal pelan. Ia tidak tahu siapa yang memasukkan peta itu. Ia tidak tahu apa yang menunggu di tanda X. Ia bahkan tidak tahu apakah Jonas benar bahwa peta itu milik Leo. Tetapi sekarang ada terlalu banyak pertanyaan untuk diabaikan.

    Leo. Hutan. Kepala sekolah yang menghilang mendadak. Mr. Hargreeve. Dan sebuah peta yang entah bagaimana berakhir di dalam ranselnya.

    Alya melirik jam di dinding. 

    Tiga bulan. Kali ini ia tahu persis berapa lama mereka akan tinggal. Tidak seperti negara-negara sebelumnya. Kadang mereka akan tinggal selama setahun, kadang beberapa tahun, dan sering kali Alya sendiri tidak tahu kapan koper-koper mereka harus dikeluarkan lagi.

    Tapi kepindahan kali ini berbeda. Pekerjaan Ayah dan Ibu hanya akan berlangsung selama tiga bulan di sini. Setelah itu, mereka akan pergi lagi. Alya menatap pucuk-pucuk pohon di kejauhan. Tiga bulan seharusnya cukup lama untuk sekadar menjadi anak baru. Namun untuk menemukan apa yang disembunyikan Northwood,  ia tidak yakin tiga bulan akan cukup.

     

     

    Kreator : Vifta Indrawati

    Bagikan ke

    Comment Closed: Jejak Musim Panas – Bab 2 Peta Yang Tertinggal

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021