
Ada hal-hal yang tidak bisa ditarik kembali setelah dibagikan. Rahasia adalah salah satunya. Sejak peta itu terbuka di atas meja kantin, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Tidak besar. Tidak juga langsung membuat semuanya menjadi tegang.
Mira masih mengeluh tentang tugas matematika. Jonas masih menjawab pertanyaan dengan kalimat-kalimat pendek seolah setiap kata harus dihemat. Kaito masih lebih sering menatap layar daripada orang yang sedang berbicara dengannya. Mereka masih bercanda. Masih makan bersama. Masih membicarakan guru yang menyebalkan dan tugas yang terlalu banyak.
Namun di bawah semua itu, ada sesuatu yang baru. Sebuah benang tipis yang tidak terlihat, tetapi terasa. Kita tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Dan sekarang, mereka sama-sama harus memutuskan apa yang akan dilakukan dengan pengetahuan itu.
Alya menyadari, mungkin memang seperti itulah beberapa persahabatan dimulai. Bukan selalu karena menyukai musik yang sama. Bukan juga karena mendukung klub sepak bola yang sama. Kadang persahabatan dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana, duduk di meja yang sama, lalu memilih untuk saling percaya.
Pada pelajaran berikutnya, Mira duduk di sebelah Alya di kelas bahasa. Itu tidak biasa. Selama dua hari mengenalnya, Alya sudah tahu bahwa Mira hampir tidak pernah benar-benar memiliki tempat duduk tetap. Ia bisa duduk di depan ketika ingin bertanya kepada guru, pindah ke belakang ketika ingin mengobrol, lalu tiba-tiba muncul di sisi lain kelas karena seseorang membawa camilan. Tapi hari itu ia tetap di sana. Di sebelah Alya.
Guru sedang menulis beberapa kalimat di papan ketika Mira sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Alya.
“Aku nggak suka cara dia lihat kita,” bisiknya.
Alya tetap menatap papan tulis. Pensilnya bergerak pelan di atas buku, pura-pura mencatat. “Siapa?”
Mira menoleh sebentar, memastikan guru masih membelakangi mereka.
“Mr. Hargreeve.”
Ujung pensil Alya berhenti. Hanya sebentar. Lalu bergerak lagi.
“Kemarin di kantin?”
Mira mengangguk pelan. “Dia lihat tasmu.”
Alya tidak menjawab. Ia tidak ingin langsung mengatakan aku juga merasa begitu. Terlalu mudah. Ia sudah cukup sering menjadi anak baru untuk tahu bahwa prasangka bisa tumbuh jauh lebih cepat daripada fakta.
Mira menunggu beberapa saat. “Kamu lihat juga, kan?”
Alya akhirnya mengangguk kecil. Lalu menajwab pendek “Iya.”
Seseorang tidak tersenyum kepadamu, lalu kau menganggapnya sombong. Seseorang berbicara terlalu keras, lalu kau menganggapnya kasar. Seseorang menatap terlalu lama, dan pikiranmu mulai menciptakan cerita sendiri. Alya tidak mau seperti itu.
Tapi peta itu nyata. Tulisan Leo nyata. Dan tatapan Mr. Hargreeve ke arah ranselnya,
itu juga nyata.
——
Saat bel istirahat kedua berbunyi, Alya baru saja memasukkan bukunya ke dalam tas ketika Jonas muncul di samping meja.
“Kita ke perpustakaan,” katanya singkat.
Alya mendongak, menatapnya. Jonas sudah memasukkan kedau tangannya ke saku, seperti keputusan itu tidak perlu dibicarakan lagi.
Mira yangs edang berdiri di belakang Alya mengangkat alis. “Perpustakaan?”
“Iya.”
Mira menunjuk Jonas, lalu ke arah pintu. “Kamu ngajak kita ke perpustakaan?”
Jonas menatapnya datar. “Kenapa? Aku kelihatan seperti anak yang nggak bisa baca?”
Mira menahan tawa. “Bukan begitu.”
Jonas sudah berjalan lebih dulu.
“Di sana lebih sepi.”
Mira dan Alya saling pandang. Lalu mengikutinya.
Perpustakaan Northwood berada di lantai dua gedung lama. Ruangannya panjang dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar yang menghadap ke halaman samping sekolah.
Begitu mereka masuk, suara koridor seperti tertinggal di balik pintu. Udara di dalam terasa lebih dingin. Ada aroma kertas, kayu tua, dan debu yang samar-samar mengambang di antara rak-rak tinggi. Seorang pustakawan duduk di meja depan, membaca sesuatu di layar komputernya.
Jonas terus berjalan sampai ke bagian paling belakang. Di sana terdapat beberapa meja kecil yang tersembunyi di antara rak ensiklopedia dan buku-buku referensi tebal yang tampaknya sudah bertahun-tahun tidak disentuh siapa pun.
Kaito sudah menunggu di bagian belakang perpustakaan. Laptop abu-abunya terbuka di atas meja. Di sebelahnya duduk seorang anak laki-laki yang Alya kenali dari kelas mereka. Kulitnya sawo matang, rambut hitamnya dipotong pendek dan rapi. Sebuah buku masih terbuka di tangannya ketika mereka datang.
“Samir,” kata Kaito tanpa mengangkat kepala dari laptop.
Anak laki-laki itu menutup bukunya.
“Hai.”
“Hai,” Alya membalas sapaan itu sambil duduk.
Ia pernah melihat Samir beberapa kali di kelas. Tidak banyak bicara. Tidak pernah ikut keributan. Tetapi Alya beberapa kali menangkapnya memperhatikan percakapan orang lain dengan tenang, seolah lebih suka mendengar sampai selesai sebelum memutuskan apakah sesuatu layak dikomentari.
Mira menarik sebuah kursi dan duduk bersila di atasnya. Wajahnya kali ini serius.
Jonas duduk berseberangan dengan Alya. “Keluarkan.”
Alya tahu apa yang dimaksudnya. Ia membuka ransel. Tangannya masuk ke bagian terdalam tas sebelum menarik keluar kertas yang sudah terlipat rapi.
Kali ini ia tidak langsung membentangkannya. Alya melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.
Baru kemudian ia membuka peta itu perlahan di atas meja, menahan salah satu sudutnya dengan telapak tangan agar lipatan yang mulai rapuh tidak semakin robek.
Jonas menatapnya lama. Bukan tanda X. Bukan tulisan di sudut. Lipatan kertasnya.
“Leo selalu melipat kertasnya seperti itu.”
Alya mengangkat wajah. “Kamu yakin?”
Jonas mengangguk pelan. “Selalu.”
Alya melihat kembali kertas dihadapannya. “Aku cuma menemukan ini,” katanya. “Aku sumpah.”
Jonas mengangguk pelan. “Aku percaya.”
Jawaban itu begitu cepat sehingga Alya kembali menatapnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi seseorang yang sedang menyusun kemungkinan di kepalanya.
Kaito memiringkan layar laptopnya, lalu memperhatikan peta. “Ada dua kemungkinan.”
Mira menyandarkan siku ke meja. “Silahkan, Profesor.”
Kaito tidak bereaksi. “Seseorang memasukkannya ke tasmu.” Ia menunjuk peta dengan ujung jarinya.
“Atau peta itu memang terselip di suatu tempat dan kamu nggak sadar.”
Mira mengangkat sebelah alis. “Kamu lebih suka pilihan mana?”
Kaito terdiam beberapa detik. “Pilihan pertama lebih masuk akal.”
“Bagaimana bisa itu lebih masuk akal?” Mira berbisik sambil menegakkan punggungnya.
“Karena Alya bilang dia sendiri yang menyiapkan tasnya.” Kaito menatap Alya. “Benar?”
Alya mengangguk. “Dan aku yakin kertas itu nggak ada.”
Jonas menelan ludah. Ia melihat peta, kemudian Alya. “Berarti ada orang yang ingin kamu menemukan ini.” Ia berhenti sebentar. “Entah cuma kamu… atau kita semua.”
Suara pendingin ruangan tiba-tiba terasa lebih jelas. Alya memandang rak-rak tinggi di sekitar mereka. Entah kenapa, sudut perpustakaan yang tadi terasa nyaman mendadak seperti menjadi lebih sempit. Alya merasakan tengkuknya menegang.
“Aku nggak kenal siapa pun di sekolah ini,” katanya pelan.
Jonas menatapnya. Sedikit lebih lama dari biasanya. Bukan curiga. Lebih seperti baru menyadari sesuatu. “Leo juga dulu anak baru.”
Alya mengerutkan dahi. “Maksudmu?”
“Dia pindah pertengahan tahun.”
Alya memperhatikan wajah Jonas. Ada sesuatu dalam cara Ia mengatakan nama Leo. Sesuatu yang belum Alya pahami. “Kamu dekat sama Leo?”
Pertanyaan itu membuat Jonas terdiam. Matanya turun ke meja.
Untuk pertama kalinya sejak Alya mengenalnya, anak laki-laki itu terlihat kesulitan mencari jawaban.
“Tidak.” Ia menarik napas. “Seharusnya aku dekat.”
Mira yang tadi bersandar perlahan menegakkan tubuh. “Maksudmu?”
Jonas mengusap belakang lehernya. “Dia anak baru. Aku seharusnya tahu rasanya jadi anak baru.” Tatapannya terpaku pada meja dihadapannya, “Tapi waktu itu aku terlalu sibuk mikirin hidupku sendiri.”
Tidak ada yang langsung menjawab. Mira mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Jonas sebentar. Hanya sesaat. Tidak ada kata-kata. Namun entah bagaimana, sentuhan kecil itu sudah cukup mengatakan: Aku mendengarmu.
Jonas tidak melihat Mira. Tetapi ia juga tidak menarik lengannya.
Alya memperhatikan mereka. Ada sesuatu yang terasa hangat di dadanya. Beberapa hari lalu, ia bahkan tidak mengenal orang-orang ini. Sekarang mereka duduk mengelilingi sebuah meja yang sama, membicarakan seseorang yang sudah meninggal dan sebuah peta yang seharusnya tidak pernah berada di dalam ranselnya.
Aneh sekali cara sebuah pertemanan bisa dimulai.
——-
Sore itu, Alya pulang dengan kepala penuh. Begitu membuka pintu rumah, suara Ayah langsung terdengar dari ruang tamu.
“Ya, saya mengerti… tapi kita belum bisa memastikan.”
Ketika melepas sepatunya, Alya melihat Ayah sedang duduk di sofa dengan laptop terbuka di atas meja. Dahi lelaki itu berkerut sementara satu tangannya memegang telepon. Beberapa dokumen terbuka di layar, tetapi dari tempat Alya berdiri, tulisan-tulisannya terlalu kecil untuk dibaca.
“Tidak. Jangan lakukan apa pun dulu.” Nada suaranya rendah. Serius.
Nada yang Alya kenal. Urusan pekerjaan. Biasanya itu berarti jangan bertanya.
Ayah menoleh ketika melihat Alya, mengangkat satu tangan sebagai salam kecil, lalu kembali pada percakapannya.
Alya membalas dengan senyum tipis dan berjalan menuju dapur. Aroma bawang yang ditumis, rempah-rempah, dan santan yang sedang mendidih langsung menyambutnya.
Setelah seharian berada di sekolah yang masih terasa asing, aroma itu membuat bahunya mengendur tanpa ia sadari.
Ibu berdiri di depan kompor, mengaduk panci dengan sendok kayu. Lengan bajunya digulung sampai siku, sementara uap tipis naik ke wajahnya.
“Kamu gimana hari ini?” tanya Ibu tanpa menoleh.
“Baik.” Jawaban itu keluar otomatis.
Ibu masih mengaduk. “Teman-temannya?”
Alya membuka kulkas dan mengambil sebotol air. Tangannya berhenti sepersekian detik pada gagang pintu. “Ada.”
Sendok kayu berhenti berputar.Ibu menoleh. Alisnya terangkat sedikit. “Ada?”
Alya menahan senyum. “Ada teman, Bu.”
Wajah ibu langsung berubah “Nah, begitu.”
“Apa?”
“Nggak apa-apa.” Ibu kembali mnegaduk masakannya, tetapi Alya bis amelihat senyum kecil di wajahnya. “Yang baik, ya.”
“Iya.” Alya menuangkan air ke gelas.
“Nanti kalau ada apa-apa, cerita.”
“Iya.” Alya mengangkat gelas ke bibir.
Namun sebelum sempat minum, sebuah pertanyaan keluar begitu saja. “Bu…”
“Hm?”
Alya memutar gelas perlahan di tangannya. “Kalau kita lihat sesuatu yang salah, tapi orang-orang dewasa bilang jangan ikut campur… kita harus gimana?”
Sendok kayu Ibu berhenti. Alya langsung menyesali pertanyaannya.
Ibu tidak langsung menoleh. Dari ruang tamu masih terdengar suara Ayah berbicara pelan di telepon. Beberapa detik kemudian, sendok itu kembali bergerak. Lebih pelan.
“Kenapa tanya begitu?”
Alya mengangkat bahu. “Cuma kepikiran.”
Sekarang Ibu menoleh. Alya tahu tatapan itu. Tatapan yang biasanya bisa mengetahui bahwa jawaban cuma kepikiran tidak sepenuhnya benar. Namun Ibu tidak mendesaknya.
“Kalau sesuatu itu jelas salah dan bisa menyakiti orang,” katanya akhirnya, “kamu boleh takut.”
Alya terdiam.
“Tapi jangan pura-pura nggak lihat.”
Jari Alya mengencang sedikit di sekitar gelas.
“Tapi kalau aku salah sangka?”
“Makanya cari kebenaran dulu.” Suara Ibu lembut, tetapi tegas. “Jangan menuduh. Jangan jadi hakim.” Ia mengetukkan sendok kayu pelan ke sisi panci. “Tapi juga jangan jadi orang yang menutup mata.”
Alya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sambikl memperhatikan air di dalam gelasnya. Namun kalimat itu seperti menemukan tempatnya sendiri di dalam kepalanya.
Cari kebenaran dulu. Bukan menuduh. Bukan menghakimi. Malam itu, Alya shalat dengan perasaan sedikit lebih tenang.
Setelah selesai, ia tetap duduk di atas sajadah. Peta itu berada di dalam laci meja. Ia menundukkan kepala.
Ya Allah, lindungi aku dari keberanian yang sombong. Alya menarik napas perlahan. Beri aku keberanian yang jujur.
Ia masih takut. Namun sekarang, takutnya memiliki arah.
——–
Keesokan harinya, sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat peta itu terasa semakin sulit dianggap sebagai kebetulan.
Bel berbunyi di akhir pelajaran sains. Kursi-kursi langsung bergeser. Buku ditutup. Anak-anak mulai memasukkan alat tulis ke dalam tas. Alya baru saja berdiri ketika suara Mr. Hargreeve terdengar.
“Alya.”
Tangannya berhenti pada ritsleting ransel. “Ya, pak?”
“Bisa tinggal sebentar?”
Mira yang sudah berdiri di samping meja menatap Alya. Matanya sedikit membesar.
Alya tahu apa artinya. Kenapa?
Jonas yang sudah beberapa langkah menuju pintu ikut berhenti. Alya menggeleng kecil. Pergi duluan saja.
Jonas tampak ingin membantah. Namun akhirnya ia berjalan keluar bersama Mira. Kaito menjadi orang terakhir. Saat melewati pintu, ia menoleh sekali ke arah Alya. Wajahnya tetap datar. Tetapi matanya bergerak cepat dari Alya ke Mr. Hargreeve, lalu ke meja guru. Seolah sedang merekam semuanya.
Pintu tertutup. Kelas menjadi sunyi. Alya berdiri di samping mejanya. Mr. Hargreeve berada di depan kelas, menyusun beberapa lembar kertas. Satu tumpukan dipindahkan ke kanan. Kemudian kembali ke kiri. Lalu dirapikan lagi. Ia tidak benar-benar sedang menyusun apa pun.
Alya menunggu.
“Kamu sudah beradaptasi?” tanyanya akhirnya.
Pertanyaan itu bukan yang Alya duga.
“Lumayan, Pak.”
“Bagus. Sudah punya teman?” Mr. Hargreeve mengangguk kecil. Tangannya berhenti di atas kertas. “Sekolah ini…” Ia terdiam. “…punya beberapa aturan.” Nada suaranya brubah sedikit tegas.
Alya menunggu.
“Beberapa aturan dibuat karena alasan yang tidak selalu perlu dipertanyakan.”
Alya tidak menjawab. Tatapannya tetap pada guru itu.
Mr. Hargreeve berjalan satu langkah mendekat. Tidak cukup dekat untuk mengancam. Tetapi cukup untuk membuat Alya menyadari bahwa percakapan ini bukan lagi percakapan biasa antara guru dan murid.
“Aku dengar kamu sering di perpustakaan.”
Alya hampir mengernyit. Sering? Ia baru beberapa hari berada di sekolah ini. Namun wajahnya tetap tenang.
“Saya suka baca.”
Mr. Hargreeve menatapnya. Lama. Lalu ia berkata pelan, “Jangan terlalu banyak menggali. Rasa ingin tahu kadang membuat seseorang masuk terlalu jauh ke urusan yang tidak dia pahami.”
Rasa dingin kecil merambat di lengan Alya. Tapi dia tetap diam.
Mr. Hargreeve menarik napas, kemudian nada suaranya kembali berubah lembut. Kembali menjadi suara seorang guru.
“Kadang anak baru bisa… salah mengerti.”
Alya tidak buru-buru mengangguk. Namun tidak juga membantah. Ia membiarkan beberapa detik berlalu, lalu menjawab “Saya paham, Pak.”
Mr. Hargreeve menatapnya seolah sedang mencoba mencari sesuatu di wajah Alya. Apakah ia benar-benar paham? Atau hanya berpura-pura?
Alya sendiri tidak yakin mana yang ingin ia tunjukkan.
Akhirnya Mr. Hargreeve berjalan ke pintu dan membukanya. “Itu saja.”
Alya mengangguk, lalu memanggul ranselnya ke bahu, “Terima kasih, Pak.” Katanya ketika sampai di pintu. Langkahnya tetap biasa. Tidak terlalu cepat. Tidak juga lambat. Baru setelah berbelok di ujung koridor, Alya mengembuskan napas yang sejak tadi tanpa sadar ditahannya.
Tangannya terasa dingin. Karena sekarang ia tahu, itu bukan nasihat. Itu peringatan.
——
Saat makan siang, Mira langsung menarik kursi di sebelah Alya. “Dia ngomong apa?”
Alya baru saja duduk, bahkan belum sempat meletakkan ranselnya. “Sstt..Pelan-pelan.”
Mira merendahkan suara. “Dia ngomong apa?”
Jonas dan Kaito sudah menunggu. Samir duduk di ujung meja, sebuah apel masih utuh di tangannya.
Alya melihat sekeliling sebentar. Tidak ada guru. Ia sedikit mencondongkan tubuh. “Dia bilang jangan terlalu banyak menggali.”
Mira membeku. Jonas memejamkan mata sebentar. Kaito membuka laptopnya. Jemarinya mengetik sesuatu dengan cepat.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Mira.
“Mencatat”
“Kamu punya catatan tentang ini?”
Kaito berhenti mengetik dan menatapnya. “Sekarang punya”.’ Beberapa detik kemudian ia menutup laptop kembali.
Mira menggeleng pelan. “Kamu sedikit menyeramkan.”
Kaito tidak menjawab.
“Berarti kita benar,” kata Mira.
“Belum.” Alya menjawab lebih cepat daripada yang ia rencanakan.
Mira menatapnya. “Dia memperingatkanmu secara langsung>”
Alya menggeleng. “Belum berarti kita benar.” Ia teringat kata-kata Ibu. Cari kebenaran dulu.
“Tapi berarti…” Alya berhenti sebentar. “Ada sesuatu yang membuat dia khawatir.”
“Takut,” kata Mira.
“Mungkin.”
Jonas menatap buku Alya. Di bawahnya, ujung peta terlihat sedikit menyembul. “Kalau kita mau tahu,” katanya, “kita harus cari bukti yang benar.” Tatapannya berpindah kepada mereka satu per satu. “Bukan cuma perasaan.”
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Lalu Samir meletakkan apelnya. Sejak tadi ia hanya mendengarkan. “Dan satu lagi.”
Mereka semua menoleh.
Samir menyandarkan kedua lengannya di atas meja. “Kalau ini tentang orang yang sudah meninggal, kita harus hati-hati.”
Mira mengerutkan dahi. “Maksudmu?”
Samir mmeutar apel di tangannya “Leo itu orang.” Suara Samir tetap pelan. “Bukan cerita misteri.”
Tidak ada yang menyela. Meja itu mendadak sunyi.
“Dia punya keluarga. Jangan sampai kita lupa itu cuma karena kita penasaran. Kita harus tetap menghormati dan mempertimbangkan perasaan mereka”
Alya menatap Samir. Anak laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengambil apelnya dan menggigitnya, seolah baru saja mengucapkan sesuatu yang sangat biasa. Namun kalimat itu tinggal lebih lama daripada yang mungkin ia sadari.
Ada rasa syukur kecil yang tidak Alya ucapkan. Ia memandang Mira, Jonas, Kaito, lalu Samir. Mereka berbeda.
Mira bergerak dengan perasaan. Kaito dengan logika. Jonas membawa sesuatu dari masa lalu yang belum sepenuhnya ia ceritakan. Dan Samir mengingatkan mereka untuk berhenti ketika semua orang mulai bergerak terlalu cepat.
Alya tersenyum tipis. Mungkin begitulah mereka mulai menjadi teman. Bukan karena mereka sama. Bukan juga hanya karena sebuah peta mempertemukan mereka. Tetapi karena ketika salah satu dari mereka bergerak terlalu jauh, yang lain akan mengingatkannya untuk tetap berada di jalan yang benar.
Lima anak duduk mengelilingi meja kantin yang sama. Di bawah buku Alya, sebuah peta tua menunggu. Dan untuk pertama kalinya, Alya merasa bahwa apa pun yang ada di ujung tanda X itu, ia tidak akan mencarinya sendirian.
Kreator : Vifta Indrawati
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Jejak Musim Panas – Bab 3 Duduk Di Meja Yang Sama
Sorry, comment are closed for this post.