Malam itu meskipun tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja, Jumadi menyempatkan diri untuk menengok ibunya yang sudah dua bulan terbaring sakit di rumahnya. Ibunya selalu menolak setiap kali Jumadi mengajaknya berobat ke rumah sakit. Dia lebih memilih berobat kepada menteri kesehatan yang rumahnya tidak jauh di tempat kediamannya. Keiginanya untuk segera mengetahui keadaan ibunya membuat laju kendaraanya melebihi kecepatan biasanya. Dalam waktu tiga puluh menit dia sudah sampai di rumah ibunya.
“Assalamu alaikum !” Ucapnya setelah berada di depan pintu rumah ibunya.
“Wa alaikum salam !” Terdengar suara seorang gadis kecil menjawab salamnya. Dialah Esti keponakanya, yang selalu setia menemani ibunya, baik ketika sehat maupun ketika sakit. “Eee…, paman…, silahkan masuk, paman !” Ucapnya sambil meraih tangan pamannya untuk bersalaman.
“Bagaimana khabar nenek ?” Tanyanya.
“Alhamdulillah, paman. Nenek sudah baikan.” Jawab Esti.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Mari paman !” Esti mengajak Jumadi menuju kamar ibunya.
“Assalamu alaikum, bu !” Ucap Jumadi setelah sampai di kamar ibunya.
“Waalaikumsalam !” Jawab ibunya yang sedang bersandar ke tempat tidur. Sebuah senyum kegembiraan langsung muncul di raut wajahnya.
Jumadi langsung meraih tangan ibunya, lalu diciumnya bolak balik, lalu memeluk ibunya dengan erat.
“Jumadi…., kau sehat nak ?” Tanya dengan lirih, setelah Jumadi melepaskan pelukannya.
“Alhamdulillah bu, bagaimana keadaan ibu ?” Tanyanya dengan pandangan penuh.
“Sekarang mah, ibu sudah agak baikan.” Jawab ibunya.
“Ibu udah minum obat ?” Tanya Jumadi.
“Sudah ……, baru saja Esti meminumkan obatnya.” Jawab ibunya.
“Obatnya pas untuk hari ini aja, paman. Untuk besok sudah tidak ada lagi.” Lapor Esti.
“Besok pagi, Esti beli lagi, ya ! Di apotik yang biasa saja.” Ucap Jumadi sambil mengeluarkan uang dari sakunya. “Ini untuk membeli obatnya, dan ini untuk sedikit untuk jajan Esti.” Lanjutnya sambil menyodorkan uang kepada keponakanya.
“Terima kasih, paman !” Ucap Esti setelah menerima uang dari pamannya.
“Kamu sudah makan, nak !” Tanya ibunya
“Sudah, bu. Tadi saya sudah makan di warung.” Jawab Jumadi.
“Kenapa harus di warung ? disini juga ada.” Ibunya menyayangkan.
“Iya, paman…., tadi tetangga sebelah mengasih ikan mas. Esti bikin pecak. Paman makan lagi, ya !” Esti menawarkan makan pada pamannya.
“Paman udah kenyang, Esti. Lain kali saja, ya !” Jawab Jumadi sambil memandang keponakanya yang sedang memasuki usia remaja itu.
“Iya, paman.” Jawab Esti dengan sedikit kecewa.
Selanjutnya ketiganya terlibat perbincangan santai mengenai perkembangan sakit ibunya, perkembangan usaha Jumadi, sampai masalah sekolah Esti.
“Ibu…, mohon maaf, Saya ga bisa lama, lama.” Ucap Jumadi setelah kurang lebih setengah jam dia melepas rindu pada ibunya.
“Kamu ga nginep aja, tar subuh subuh pulang ?” Ibunya menawarkan.
“Pengennya sih begitu, bu. Tapi…, ibu tahu sendiri kan sikap istri saya ?” Ucap Jumadi.
“Ya udah…,!” Ucap ibunya, seakan-akan tidak ingin anaknya membicarakan kejelekan Jamilah istri Jumadi. “Terima kasih ya, kamu jauh-jauh sudah nyempatin nengok ibu !” Lanjutnya.
“Ini ada sedikit uang, tolong disimpan ya, buat jaga-jaga kalau ada keperluan” Jumadi menyodorkan amplop kepada ibunya.
“Buat kamu aja, ibu udah cukup kok.” Ibunya mencoba menolak pemberian anaknya.
“Buat jaga-jaga, bu !” Ucap Jumadi sambil tetap menempelkan amplop ke tangan ibunya. “Saya pulang dulu, ya bu ! Assalamu alaikum !”
“Wa’alaikum salam warohmatullah wabarokaatuh. Hati-hati di jalan !” Jawab ibunya.
Jumadi meninggalkan kamar ibunya diikuti oleh Esti. sampai pintu depan. Jumadi mendorong sepeda motornya agak jauh dari pintu, agar suaranya tidak mengganggu ibunya. Baru saja dia menghidupkan motornya tiba-tiba ada sebuah ojol berhenti di sampingnya. Seorang wanita dengan muka sangar turun dari ojol tersebut. Dia tiada lain adalah Jamilah, isteri Jumadi yang tengah mencarinya.
“Oooh, disini rupanya. Ngapain kamu di sini ?”Sebuah pertanyaan langsung meluncur dari mulutnya.
“Nengok ibu.” Jawab Jumadi singkat, dengan posisi duduk di atas motornya.
“Nengok ibu ampe tiap minggu.” Ucap Jamilah dengan mulut monyong.
“Dia kan lagi sakit, Milah.” Jumadi mencoba memberikan alasan.
“Kamu abis ngasih duit, kan ?” Tanya Jamilah dengan wajah kebencian pada Jumadi suaminya.
Jumadi melirik ke daun pintu yang masih terbuka, terlihat olehnya Esti masih berdiri di situ. “Aku ga mau ribut di sini. Ayo, kita pulang saja !” Ajaknya. “Ayo naik …!” Ucap Jumadi dengan nada agak tinggi.
Setelah Jamilah naik Jumadi langsing menjalankan motornya, meninggalkan Esti yang lagi terbengong-bengong di pintu depan. Esti menutup pintu rumah dan bergegas menuju kamar neneknya.
“Nek…, barusan ada bi Jamilah.” Lapornya pada nenek.
“Tidak kamu suruh masuk ?” Tanya nenek
“Tidak sempat, nek. Karena paman Jumadi langsung mengajaknya pulang.” Jawab Esti.
“Kasihan Jumadi.” Ucap nenek dengan nada sedih
“Memangnya kenapa, nek ?” Tanya Esti penasaran.
“Istrinya selalu marah kalau dia memberi sesuatu untuk nenek. Kamu kalau sudah bersuami jangan seperti dia, ya ! Biarkan suamimu mengabdi pada ibunya. Jangan pernah engkau halangi !” Pinta nenek pada Esti.
“Iya, nek. Esti akan melaksanakan nasehat nenek.” Jawab Esti sambil menganggukan kepalanya
Sementara Jumadi dan Jamilah telah sampai di tempat kediamannya. Sepanjang jalan Jumadi lebih memilih diam, dia tia mau mau meladeni istrinya yang mulutnya terus nyeroscos.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, kamu ngasih duit kan, pada ibumu, kan ?” Tanya Jamilah setelah mereka berada di dalam rumah.
“Iya, aku memang ngasih.”
“Sekarang mana jatah aku ?”
Jumadi mengeluarkan amplop dari kantongnya. “Nih….!” Ucapnya sambil menyodorkan amplop tersebut pada istrinya. “Kekuranganya nanti aku cari lagi.” Lanjutnya.
“Enak aja, kalau mau ngasih ibumu, jangan kurangi jatah aku dong !”
“Ibuku lagi sakit Jamilah ….”
“Mau sakit ke, mau apa ke,, yang jelas aku tidak suka kalau kamu sampai ngurangi jatah aku
“Jamilah, kenapa sih kamu selalu ngomel kalau aku ngasih sama ibuku ? Aku tidak pernah marah kalau ngasih pada orang tuamu.?” Emosi Jumadi mulai terpancing.
“Aku ngasih orang tuaku dari sisa-sisa belanja yang sengaja aku kumpulkan. Aku tidak pernah mengurangi jatah kamu dan anak-anak makan.” Jamilah melakukan pembelaan.
“Terus, aku harus ngumpulin dulit dulu sebelum aku ngasih pada ibuku. ? Sementara kurang sedikit aja kamu tanya, mana, kemana, dan digunakan untuk apa uang gajiku ?”
“Setidaknya kamu ngomong dulu sebelum ngasih …!”
“Berapa kali aku tidak jadi ngasih pada ibuku, gara-gara kamu tidak setuju ?”
“Itu karena kamu ngasihnya kebanyakan.”
“Jamilah…, ibu hidup sebatang kara. Kalau bukan aku siapa yang akan memperhatikannya. Kamu tahu sendiri…., kakakku meskipun dekat, hidupnya dibawah garis kemiskinan. Jangankan menjamin makan dan minum ibu, untuk anak-anaknya saja dia sudah sangat kerpotan.”
“Ooh…, jadi selama ini, kamu sudah merasa berkecukupan. Ngaca dong Bang, ngaca ?” Jamilah nunjuk-nunjuk Jumadi.
“Astaghfirullahal adziim…, kamu benar-benar istri yang tidak bersyukur, Milah.” Jumadi menggeleng-gelengkan kepala atas kelakuan istrinya
“Kamu aja yang bersyukur !” Jamilah malah membentak
“Jamilah ….! Kamu benar-benar membuat aku jengkel. Sekarang mau kamu apa ?” Tanya Jumadi dengan nada suara yang tinggi.
“Aku mau, mulai sekarang Abang berhenti memperhatikan ibu !” Jamilah mengajukan syarat.
“Jamilah…. Coba kamu pikir, siapa yang telah melahirkan aku, siapa yang telah merawat aku, siapa yang menyekolahkan aku, sampai aku memiliki pekerjaan dan penghasilan seperti sekarang ini ? Kalau semua penghasilanku ku serahkan semuanya kepadanya, itu tidak akan seimbang dengan jasa yang telah dia berikan kepadaku. Sementara aku ngasih sepuluh persen pun tidak dari penghasilanku, kamu sudah marah-marah seperti ini.” Jumadi mencoba menyadarkan Jamilah.
“Nikahi aja ibumu sekalian !” Ucap Jamilah dengan raut muka sinis dan memuaskan.
“Jamilah …. !” Jumadi teriak saking kesalnya atas kata-kata isterinya. Badanya gemetar menahan amarah
“Kamu lebih peduli sama ibumu kan ? Sana pulang, ceraikan aku sekalian !”
“Jamilah…, aku tidak akan menceraikan kamu, gara-gara hal sepele seperti ini !” Jumadi mencoba melunakan kembali kata-katanya
“Ini bukan hal sepele, Bang. Ini masalah besar buat aku.” Ucap Jamilah sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Jamilah…. ! Kalau memang dimatamu aku salah, maafkan aku ….!” Jumadi mencoba untuk mengakhiri kemelut dengan menyodorkan permohonan maaf.
“Aku akan memaafkan kamu, kalau kamu lebih memilih aku dari ibumu.” Kembali Jamilah menggertak.
“Aku tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan ibuku. Kalau kamu mau cerai, ayo kita cerai saja. Mulai saat ini aku talak kamu. Sekarang…., aku akan kembali ke rumah ibuku. Assalamu alaikum !” Akhirnya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Jumadi. Dia langsung balik kanan, keluar meninggalkan rumahnya.
Jamilah bengong dengan ucapan terakhir suaminya. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan mengucapkan kata-kata itu. Dia menangis, sambil membenturkan kepalanya ke kursi.
Kreator : Baenuri
Comment Closed: Kalimat Terakhir
Sorry, comment are closed for this post.