KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » KEJUTAN TAK TERDUGA

    KEJUTAN TAK TERDUGA

    BY 18 Jan 2026 Dilihat: 11 kali
    KEJUTAN TAK TERDUGA_alineaku

    Pesawat yang ditumpangi Gala mendarat tanpa hambatan di landasan Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Tak sabar  ingin bertemu kekasih hati yang menjemputnya, walau hanya dua hari berpisah. Rindu terlalu menguasai relung hati dan perasaannya, hingga membuat jantungnya berdebar kala melukis wajah perempuan yang dicintainya di dasar hati yang terdalam.

    Pesawat yang membawanya tadi dari Bandara Changi, Singapura tidak seperti biasanya lebih cepat dari jadwal. Hingga ada waktu cukup lama menunggu Nadya menjemput. Secangkir cafe latte hangat dan cheese croissant menemani Gala di salah satu coffee shop bandara. Duduk tenang menikmati kopi sambil bersantai sejenak membunuh waktu. Akhirnya, Gala beranjak menyusuri sepanjang koridor hingga tak terasa tiba di Terminal 3. 

    Namun, ia tak percaya dengan pemandangan yang tersaji di depan mata. Hanya berjarak  kurang dari tiga ratus meter, seakan tidak percaya dengan penglihatannya. Berkali-kali dikucek matanya untuk memastikan bahwa perempuan yang tengah asyik berpelukan itu bukan kekasihnya, bukan Nadya. Namun sia-sia, Gala sangat mengenali siluet tubuh  kekasihnya. Siapa laki-laki itu??? Kenapa Nadya tidak pernah bercerita??? Siapa laki-laki asing itu??? Berbagai pertanyaan berkecamuk menciptakan sesak di dadanya. Bagaikan sebilah belati menancap dalam bak diputar-putar tepat di ulu hatinya. Dada Gala menggelegak.

    Cepat Gala membalikkan badan sebelum Nadya menyadari kehadirannya. Beruntung siang itu situasi agak ramai. Banyak orang berlalu lalang. Shelter Kelayang atau Skytrain adalah tujuannya menuju stasiun bandara. Dia memutuskan untuk pulang menuju tempat kos-nya menggunakan kereta api. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang teramat sangat. Tak habis pikir kenapa Nadya melakukan itu. Rasa-rasanya sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja. Kalaupun ada kerikil, hanya sebatas miskomunikasi yang selalu terselesaikan saat itu juga. Karena mereka memang berkomitmen jika ada persoalan apa pun itu, untuk diselesaikan segera tanpa berlarut-larut. 

    Gala merasakan kepalanya sakit, sekonyong-konyong bumi berputar tiga ratus enam puluh derajat, tanpa henti. Membuatnya mual ingin muntah.

    ***

    Setelah melepas keberangkatan Kaia, kutuju restoran terdekat, untuk mengisi perut yang sejak tadi bernyanyi meminta haknya. 

    Jarum jam di tangan mungilku menunjukkan pukul dua lewat dua puluh menit. 

    “Kenapa belum ada kabar dari Gala?” Pikirku khawatir. 

    Aku segera menghubungi Gala, namun handphone-nya tidak aktif. Terminal 2 menjadi tujuanku untuk mengecek waktu kedatangan pesawat yang ditumpangi Gala. Di layar tertera pukul satu lewat sepuluh menit pesawat mendarat. 

    “Kamu Dimana Gal? Kenapa tidak bisa dihubungi?” 

    Aku kebingungan. Tak tahu lagi harus mencari kemana. Aku ingat betul, semalam saat menelpon, Gala mengatakan hari ini pulang dengan pesawat pukul dua belas. Untuk beberapa waktu aku terduduk lemas  dengan kepala tertunduk dan kedua telapak tangan menutupi wajah. Hanya Gala yang ada di kepalaku. 

    Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Cepat kubuka, siapa tahu Gala memberi  kabar. Ternyata, chat dari Kaia. 

    “Hello my dear, I just arrived at home,” katanya mengabari. 

    “Alhamdulillah,” balasku singkat. 

    Mood-ku berantakan. Suasana hatiku sedang tidak nyaman. Saat ini di pikiranku hanyalah Gala. 

    “Alhamdulillah,” katanya mengulangi pesanku. Aku tersenyum tipis membacanya.

    “Okay, Kai. Aku masih di jalan. Sudah dulu, ya.” Aku berbohong. Harus segera ku akhiri percakapan ini. 

    “Okay, be careful dear, bye…” Cepat dia membalas.

    “Bye…” 

    Klik, ku matikan handphone

    Ku langkahkan kaki menuju parkiran. Pulang! 

    Waktu menunjukan pukul empat sore. Ku kendarai mobil dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam. Bayang-bayang Gala tak pernah luput dari ingatanku.  

    “Ada apa dengan kamu, Gal? Kenapa kamu menghilang?” Aku terus saja bertanya-tanya dalam hati.

    Baru teringat olehku. Apakah Gala menyaksikan adegan tadi? Adegan perpisahanku dengan Kaia? Aku mengutuk kebodohanku yang begitu mudah terbawa perasaan dan suasana. 

    “Kalau memang benar, oh Tuhan. Bagaimana aku menjelaskannya kepada kekasih tercintaku itu? Calon menantu orang tuaku, mereka sudah begitu sayang kepada, Gala?” Aku berpikir keras. Membuat kepalaku berdenyut, bertambah pening.

    ***

    Sementara itu, Gala yang sudah tiba di kos, segera mandi untuk mendinginkan kepala dan  menenangkan diri. Kemudian mengambil segelas air putih dan meneguknya. Seharian ini dirinya belum makan. Hanya tadi sarapan ringan di hotel. Dengan dua butir telur ceplok, dua buah sosis, dan sepiring kecil salad sayuran. Plus secangkir kopi ketika tiba di terminal dua  tadi. 

    Dia tiba-tiba merasa kehilangan nafsu makan. Namun, menyadari menjaga kesehatan jauh lebih penting, baik kesehatan jiwa maupun raga. Diraihnya handphone dan memesan online nasi goreng kegemarannya.

    Berusaha membuang jauh bayang-bayang Nadya, Gala mengambil laptopnya. Mencoba mengerjakan laporan hasil mengikuti konferensi kemarin untuk diserahkan ke Departemen, dan di disposisi ke Fakultas, tempat dimana dia mengajar.  

    Namun usahanya sia-sia. Bayangan Nadya dengan laki-laki asing yang tengah berpelukan mesra sangat menggores hatinya, menciptakan luka yang menganga. Pedih, perih. Tanpa terasa kedua matanya terasa hangat, air mata mengembang disana. Tanpa bisa ditahan akhirnya merembes, membasahi kedua pipinya. 

    “Tok…tok…tok… Assalamualaikum.” tidak ada jawaban. 

    Cepat dihapus air matanya, demi mendengar suara ketukan pintu.

    ***

    Malam itu, sekitar pukul setengah delapan, aku mengunjungi Gala. Aku merasa sangat bersalah dengan ulah bodohku. Aku harus menceritakan semuanya, dan meminta maaf. 

    “Tok…tok…tok… Assalamualaikum.” 

    Tetap tidak ada jawaban. 

    Terus ku ulangi mengetuk pintu, hingga pintu terkuak sedikit. Wajah Gala menyembul, sembab. Terlihat seperti habis menangis. 

    Sejauh aku mengenalnya, Gala memang sangat mudah tersentuh hatinya.

    “Waalaikumsalam.” 

    Dengan suara pelan nyaris tanpa intonasi, Gala menjawab salamku.

    Untuk beberapa saat, kami terdiam, mematung. Aku yang masih mencoba menebak-nebak apa kesalahanku hingga membuat perubahan pada sikap Gala, diam membeku.

    “Boleh aku masuk, Gal?” 

    Tidak ada jawaban. 

    Ku ulangi pertanyaanku. “Boleh aku masuk, Gal?”

    Tidak ada jawaban juga. Gala hanya membuka pintu lebih lebar sebagai tanda mempersilahkan masuk. Tanpa menunggu, aku segera mengekor di belakangnya menuju kursi di ruang tamu. 

    “Gal, kemarin aku sampai sore di bandara, mencari-cari kamu.” Aku membuka percakapan.

    “Hhmm…” Reaksi Gala tanpa ekspresi.

    “Ada apa, Gal? Please, bicara.” Dengan nada lembut aku memohon. 

    Gala tetap diam dan memalingkan wajah dariku. Selama dua tahun hubungan kami, dia tidak pernah semarah ini padaku. Aku menyadari dia sedang tidak baik-baik saja. Ini serius.    

    “Gal, tolong jawab aku,” pintaku lagi. Sia-sia, dia tetap saja mematung. 

    “Sebegitu besarkah kesalahanku, hingga kamu  membisu seperti ini, Gal?” teriakku dalam hati. Untuk beberapa saat kami saling terdiam. Aku tak tahu lagi dengan cara apa hingga lelaki di hadapanku ini bereaksi.

    “Siapa laki-laki itu, Nad?” Dengan suara parau, akhirnya Gala bergeming. 

    Aku terperanjat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut kekasihnya itu. 

    “Laki-laki yang mana?” Aku mencoba menyembunyikan sosok Kaia dengan nada lembut.

    “Kalian berpelukan mesra di bandara, kemarin.” Lanjut Gala lagi. Terlalu sakit buat dia untuk mengingatnya kembali. 

    Namun bagiku, itu merupakan pertanyaan dan pernyataan yang mengenai sasaran, menghujam tepat di jantungku.

    Oh, ternyata benar dugaanku. Gala menyaksikan semuanya. Aku sangat malu, bagaimana pun aku sangat respek kepada laki-laki ini. Tapi apa yang telah aku lakukan? Perbuatan bodoh dan memalukan. Aku telah menyia-nyiakan kepercayaannya.

    “Siapa dia, Nadya?” Ulangnya lagi demi tidak mendengar sepatah kata pun jawaban yang keluar dari bibirku. Dengan suara berintonasi, tegas. 

    “Dia temanku. Mm… Maaf a… aku belum sempat bercerita kepadamu,” jawabku sedikit gugup. 

    “Belum sempat… atau memang sengaja mau mencurangiku?” Kali ini Gala benar-benar tegas, menunjukkan kharismanya.

    “Kami baru kenal beberapa minggu yang lalu, Gal,” jelasku dengan suara tercekat.

    “Baru beberapa minggu, tapi sudah bisa beradegan seperti itu? Kamu bukan seperti Nadya yang aku kenal. Sungguh membuat aku muak dan shock,” maki Gala panjang lebar.

    “Kamu kenal dia dimana? Jangan bilang kalian kenal di media sosial,” tandas Gala.

    Tapi sayangnya, aku kenal Kaia dari layar monitor handphone. Aku accept pertemanan yang dia minta,” jelasku berterus terang. Tak berani menatap Gala,

    “Ya ampun, Nad… Sejak kapan kamu menyukai dunia medsos? Sepengetahuanku kamu tidak suka berselancar di dunia maya. Medsos yang kita gunakan hanya sebatas Whatsapp dan Google, itu pun untuk kelancaran pekerjaan kita,” papar Gala, tak habis pikir dengan kelakuan bodoh yang dilakukan kekasihnya itu.

    Aku dan Gala bekerja dalam naungan yang sama. Satu fakultas cuma beda departemen. Gala seorang dosen dan juga peneliti, sementara aku seorang peneliti atau researcher.  

    “Maafkan kekhilafanku, mohon… maafkan, Gal.” Pintaku penuh harap. Aku sungguh-sungguh mencintai laki-laki ini. Insya Allah, dia lah rumahku di masa depan. Rumah ternyamanku untuk pulang. Begitupun sebaliknya, aku menjadi rumah yang teduh tempat dia kembali setelah beraktivitas di tengah bising dan berisiknya dunia di luar sana.

    “Kata maaf sangat mudah diucapkan, Nad. Tapi, komitmen yang sulit dijaga. Apakah dengan kata maaf akan menjamin kejadian serupa tidak akan terulang? Yang sangat penting komitmen, Nad… Komitmen!”  Gala berbicara dengan suara bergetar penuh emosi.

    “Sepertinya kita perlu mengambil jeda untuk hubungan ini. Kita sama-sama harus introspeksi.” Akhirnya Gala mengambil solusi untuk kebaikan bersama. Namun, ini sungguh diluar perkiraanku. Tidak pernah terpikirkan dalam benakku akan solusi ini. 

    “Hubungan kita sedang tidak baik-baik saja. Kamu tahu itu? Buatku ini masalah serius, ini masalah kesetiaan yang kamu coba nodai.” Lanjut Gala lagi. 

    Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, Gala adalah seorang muslim yang taat. Dia sangat tidak mentolerir hal-hal yang melanggar syariat. Itu bagus. Dan aku mengakui kesalahanku. 

    Akibat kekhilafanku, nasib hubungan kami berada di ujung tanduk, terjun bebas sampai di titik nadir.

    Oh Tuhan, aku sudah membuatnya kecewa, aku merasa sangat… sangat menyesal.

    Akhirnya kami sepakat, perlu waktu  untuk menjernihkan fikiran dalam menentukan langkah ke depan. 

    “Sampai waktu yang tidak ditentukan.” Sabda Gala. Sebagai pesakitan, aku tak ada kesempatan banding. Aku merasa posisiku seperti terdakwa yang menunggu vonis dari hakim.

     

    ***

    Tiba dirumah aku langsung masuk kamar. Tak kuhiraukan sapaan mama yang tengah menikmati teh di teras, ditemani  Brownie,  kucing kesayangan keluarga.

    Aku langsung menuju kamar. 

    “Brraakk…”  

    Pintu kamar menjadi sasaran kekesalanku. Kubanting tubuh ke kasur dengan kasar. Beruntung kasurku empuk, hingga badan ini tidak teraniaya karenanya.

    Aku sangat membenci kekhilafanku. Kenapa sampai melakukan hal  terbodoh. Mengapa begitu mudah terbuai perasaan. Tapi aku juga tidak menyalahkan Kaia. Kami sama-sama menikmati kebersamaan itu. Yang perlu disalahkan hanyalah… Aku… yang tidak bisa  menjaga diri, yang tidak bisa menahan hawa nafsu, kalau boleh dikatakan demikian. 

    Kutampari wajahku pelan dengan kedua telapak tangan. Kucubiti pahaku… menumpahkan kemarahan pada diri sendiri. Tanpa terasa bulir-bulir bening merembes membasahi pipi.

    Mama menyusulku ke kamar. Beliau kaget melihat keadaanku. Serta merta dia menarik anak gadis kesayangan satu-satunya ini ke dalam pelukannya.

    “Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi? Siapa yang menyakitimu?” Berondong mama tanpa jeda.

    “Maaa…” Aku memeluknya erat, pecah tangisku di pelukannya. Pelukan ternyaman melebihi apa pun di dunia ini.

    “Ada apa, Nak?” Lembut Mama membelai rambutku. Sejuk sekali aku merasakannya.

    “Ma, aku membuat kesalahan besar pada Gala.” Kupeluk Mama lebih erat lagi. Seakan memohon ampun pada Mama.

    “Apa yang telah kamu lakukan, Nak?”  Tenang Mama menanyakan persoalannya seraya  mengangkat daguku, lembut. 

    “Aku sudah membuatnya kecewa, Ma, Entah dia mau memaafkan aku atau tidak.” Terangku, air mata tak berhenti  mengalir. 

    Mama mendekapku lebih erat lagi. Seolah ingin memberikan tempat paling nyaman kepada puteri yang selalu dianggap gadis kecilnya ini. Menenangkanku hingga aku tertidur pulas. 

    ***

    Pagi ini  aku merasa kurang enak badan, kuraba kening, panas, dan kepala terasa sakit. Kuputuskan untuk tidak masuk kantor hari ini. Segera ku whatsapp Mba Nia, atasanku untuk minta ijin.

    Kurebahkan tubuh di kursi rotan panjang, taman belakang rumah. Kupaksakan sarapan, untuk minum obat yang tadi sudah dibelikan Mas Iwan, supir papaku. 

    “Nad, pindah ke kamar tidurnya, Nak.” Mama membangunkanku, lembut. Akibat pengaruh obat, ternyata aku tertidur nyenyak sekali.

    “Iya Ma.” Kubuka mata, meraih handphone memeriksa kalau-kalau ada pesan masuk. 

    Benar saja, ada notifikasi, chat dari Kaia sepuluh menit yang lalu. Cepat aku membukanya, mencoba ingin mencari ketenangan pada diri laki-laki itu. 

    “Tapi ini keliru, Nadya. Jangan lakukan!” Satu sisi batinnya melarang. 

    Namun, sisi lainnya seakan membenarkan. “Peduli apa, saat ini aku membutuhkan sandaran untuk meraih ketenangan.”

    “Hello…how are you?” Ramah sekali dia menyapa. Tak tahu beban berat yang tengah kupikul saat ini. 

    “Thanks God… Kaia… I need you.” Seraya memasang emotikon menangis, kubalas chat Kaia.

    “Hey…ada apa, sayang? Apa yang terjadi?” Tanya Kaia kaget demi membaca pesanku.

    “Gala.” Kataku singkat. 

    “Gala? Siapa?” Tanya Kaia kebingungan. 

    “Tunanganku… dia marah besar, saat ini kami break sementara,” jelas Nadya lagi tanpa tedeng aling-aling.

    “Apa yang menyebabkan kalian break?” Kaia kaget mendengar berita yang barusan aku sampaikan.

    “Dia melihat kita ketika berpelukan di bandara tempo hari.” Dadaku sesak bila mengingat hal itu.

    “Apa… Ooh maafkan aku, Nadya.” Balas Kaia penuh penyesalan. Tak mengira karena permintaannya waktu itu membuat hubungan aku dan Gala menjadi segenting ini.

    “Tak perlu meminta maaf, Kai. Kita hanya sedang terbawa suasana dan perasaan saja saat itu.” Kataku mencoba menghibur laki-laki itu, nun diseberang sana.

    “Ya, tapi aku yang menjadi penyebab retaknya hubungan kalian. Apalagi sebentar lagi kalian akan menikah.” Ucapnya penuh penyesalan.

    “Tidak begitu, Kai. Kamu tidak salah.” Hiburku, mencoba menenangkannya.

    “Apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki hubungan kalian?” Nadanya seperti berat menanggung rasa bersalah. 

    “Situasinya tidak semudah itu. Dia marah besar, Kai. Aku belum pernah melihat dia semarah itu sepanjang dua tahun hubungan kami.” Jelasku. Tak bisa kupungkiri keadaannya pada Kaia.

    “Oh my God. What should I do?” Gumam Kaia di seberang sana.

    “Doakan saja semoga prahara ini dapat selesai dengan cepat. Dan kami dapat melewatinya.” Pintaku penuh harap.

    “Tentu, itu pasti. Doa baikku selalu aku pintakan untuk kebaikan dan kesehatanmu, tanpa kamu minta, sayang.” Cepat Kaia membalas.

    “Terima kasih. Kai” Balasku pendek.

    “Kamu tidak masuk kerja hari ini?” tanyanya mencoba menebak. Sebuah tebakan yang jitu.

    “Aku sedang tidak enak badan. Kepalaku sakit, badan panas.” Kuusahakan menjelaskan dengan nada manja melalui kalimat chat ini. Mencoba menarik  perhatiannya.

    “Owh dear… Rest well, okay. Aku khawatir sekali.” Kata Kaia lagi tanpa bisa menyembunyikan perasaannya.

    “Okay, sudah dulu ya,  bye…” pamitku.

    “Bye… jangan lupa makan siangmu dan minum obat ya.” Kaia mengingatkan penuh perhatian.    

     

    ***

    Satu hari…dua hari…Satu minggu sudah Gala tidak berkabar. Di kantor pun kami tidak pernah bertemu. Gala seperti hilang ditelan bumi. Menghindar, lebih tepatnya. Benar-benar introspeksi diri dia rupanya. Benar-benar mengkaji, menimbang, dan akhirnya memutuskan. Dasar Dosen! 

    Sementara aku pun mencoba terus koreksi diri. Aku akui aku salah. Dan, aku benar-benar menyesal. Menyesal telah mengkhianati kepercayaan yang sudah kekasihku berikan. Namun, nasi sudah menjadi bubur, hanya mukjizat saja yang bisa mengembalikan hubungan kami seperti dulu lagi. Tapi aku tak pernah bosan memanjatkan permohonan maaf kepada Sang Pemberi maaf di semesta ini. Aku selalu berdoa akan kebaikan hubungan kami, di setiap sepertiga malam-malamku. Aku memohon agar hati Gala dilembutkan dan kemudian memaafkan. Hamba-MU yang lemah ini berikhtiar mencoba merayuMu meminta kebaikan hati-Mu ya Allah. 

    Namun, tidak dengan laki-laki seberang di negeri jiran sana. Dia selalu update kabarku. Selalu mencari tahu keadaanku… Duh, membuat hati ini meleleh setiap harinya.

    Hari ini akan ada rapat dengan Mbak Nia dan peneliti-peneliti lainnya terkait penelitian tentang MBG, yang merupakan program prioritas pemerintah, bertujuan untuk mengurangi angka malnutrisi dan stunting yang masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Khususnya pada kelompok rentan meliputi balita, dan anak-anak. Peng-implementasi-annya berupa   pemberian makanan bergizi gratis ke sekolah-sekolah, mulai jenjang TK hingga SMA dengan cakupan wilayah seluruh Indonesia.  Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Nadya dan tim peneliti lembaganya adalah  mencari tahu ke-efektif-an program ini. Apakah benar-benar sudah tepat sasaran dan apakah makanan yang diberikan benar-benar makanan sehat bergizi karena pada implementasinya banyak kasus keracunan terjadi yang dialami siswa hampir se-Indonesia raya.  

    Aku tengah bersiap-siap ke kantor, chat dari Kaia masuk. Tak sabar kubuka ingin segera membacanya. 

    “Hi  dear, how are you?” Pagi-pagi sekali dia sudah berkabar.

    “I am fine, thank you.” Balasku cepat. Senang sekali rasanya, Kaia selalu menanyakan kabarku setiap harinya. Dasar aku-nya yang manja. Kecintaan sekali kalau di chat. Aku nobatkan dia adalah kekasih gelapku. Tanpa mengurangi rasa cintaku pada Gala, tentunya.

    “I am glad to hear about that.” Senang dia mendengar kabarku.

    “What are you doing?” Lanjutnya, penuh perhatian.

    “Getting ready to my office.” Balasku cepat, tak ingin membuat dia menunggu.

    “Oh, I am already at my office,”  Kaia memberitahu.

    “Okay… be careful.” Laki-laki itu tidak pernah bosan mengingatkanku, penuh perhatian.

    “You too… and have a nice job for you,” Klik, aku matikan handphone. Siap berangkat. Ringan rasanya melangkah setelah mendapat recharge berupa chat dari Kaia. Hati senang pikiran pun fresh. Seakan Gala terlupakan.

     “Oh Tuhan, jangan sampai hal itu terjadi!” pekikku dalam hati. Biar bagaimanapun aku masih sangat menyayanginya, mencintainya. Gala adalah rumah tempat aku pulang.

     

     

    Kreator : Inda Yuliani (Ning Inda)

    Bagikan ke

    Comment Closed: KEJUTAN TAK TERDUGA

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021