Malam itu, malam terakhir bagi Rabi’ah. Dia harus memutuskan persoalan yang paling menentukan dalam hidupnya. Keputusannya akan menjadi perubahan besar dalam keluarga Sutrisno, si pemungut barang-barang bekas di pinggir-pinggir pertokoan.
“Bagamana, Bi’ah ?”Sutrisno mengulang pertanyaannya yang beberapa hari yang lalu diajukan pada Rabi’ah.
“Ayah…, bagaimana mungkin saya harus bersuami dengan orang yang tak seiman.” Jawab Rabi’ah dengan kepada tertuduk. Tak berani dia menatap ayahnya yang sudah tidak sabar menunggu keputusannya.
“Dia orang beragama, Bi’ah. Dan …., dia juga patuh terhadap agamanya.”
“Tapi…., agamanya tidak sama dengan agama yang kita anut, ayah.” Robi’ah mencoba mengingatkan bapaknya, dengan kepala masih tertunduk.
“Ah…, kau tidak usah menggurui aku, Bi’ah” Sutrisno mulai jengkel dengan kata-kata anaknya
“Bukan begitu, ayah…. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa seorang wanita haram hukumnya bersuamikan orang yang tidak seiman.”
“Aku tak mau tahu. Yang jelas, kamu harus menerima lamaran itu !” Sutrisno mulai memaksakan kehendaknya
“Ayah…! Apakah ayah rela anak ayah terjerumus ke jurang kehancuran, hanya karena dunia yang tidak seberapa ini ?
“Apa kau bilang ? Kau kira sedikit pemberian Tuan Winson kepada kita ? Lagi pula buat apa kau pikirkan sesuatu yang belum tentu kejadiannya ?
“Ayah… , jangan berkata begitu, yah !” Rabi’ah menangis mendengar kata-kata ayahnya seperti itu. “Istighfar ayah…, istighfar !” pintanya, mengiringi derasnya air mata yang keluar dari ke dua matanya.
“Aku ayahmu, Bi’ah. Aku lebih tahu masalah garam kehidupan dari pada kamu.” Sutrisno mulai menunjukan keakuannya. “ Coba kau pikir, Bi’ah ! Dia telah begitu baik kepada kita, dia telah banyak meringankan hidup kita. Dari dulu hingga sekarang, kita belum bisa atau mungkin tidak akan bisa membalas kebaikan yang telah dia berikan kepada kita. Jalan satu-satunya, kamu harus menerima lamarannya.”
`”Dulu saya telah mengingatkan, agar ayah tidak menerima uluran tangan orang itu.”
“Kalau aku tidak menerimanya, apa ada orang-orang yang memperhatikan kita, dan apa mungkin adik-adikmu bisa bersekolah ?”
“Tapi aqidah terkikis, ayah. Keyakinan ayah terhadap Allah nyaris hilang, bahkan …”
“Diam …! Sutrisno memotong ucapan anaknya. “Atau ku robek mulutmu yang lantang itu ?” ancamnya
“Maafkan saya, ayah !” Ucap Rabi’ah sambil menghapus air matanya dengan ujung bajunya. “Selama ini saya selalu menuruti apa yang ayah perintahkan…”
“Lalu…, sekarang kau coba membantah.” Lagi-lagi Sutrisno memotong pembicaraan anaknya.
“Ini masalah keyakinan, ayah.” Jawab Rabi’ah “Kalau saja ayah meminta saya untuk mendaki gunung malam ini juga, tentulah akan saya lakukan dengan penuh kerelaan. Namun, untuk menerima lamaran orang itu, maaf… ! Sekali lagi maaf, ayah … !”
“Jadi…, kau tetap pada pendirianmu ?”
“Demi keyakinan. Dan demi agama yang saya anut, ayah “
“Baik, tapi kau harus ingat pada ibumu yang sekarang tengah ditunggui oleh adik-adikmu di rumah sakit. Siapa yang akan membiayai pengobatannya, siapa ?” Bentak Sutrisno dengan mata berkaca-kaca, karena menahan marah. “Kalau kita jual rumah ini dengan seluruh isinya, bahkan dengan tanahnya sekalipun, itu tidak akan cukup. Itu tidak akan cukup, Biah.” Lanjutnya dengan nada memelas.
Robi’ah terdiam mendengar kata-kata ayahnya seperti itu.
“Mau meminta bantuan kepada siapa kita, kepada siapa … ? Kamu tahu sendiri, bahwa orang-orang yang seagama dengan kita, mereka hanya bisa ngomong dan ngomong. Mereka menganjurkan untuk shodaqoh, infak, zakat dan jenis-jenis sumbangan lainnya. Apakah telah sampai kepada kita. Apakah mereka mau mengerti akan penderitaan kita yang kadang menangis dan merintih menahan lapar ? Mereka buta terhadap orang-orang seperti kita, mereka …”
“Cukup…., cukup ayah … ! Jangan lanjutkan lagi kata-kata itu !” Potong Rabiah
“Kenapa ? Apakah tidak boleh aku mengungkapkan kenyataan ini ? Aku sudah terlanjur dipandang sebagai ayam, yang tidak ada harganya di mata mereka.”
“Itu hanya perasaan ayah saja, yah. Kita tidak usah mengikuti perasaan seperti itu ?”
“Aku merasakannya sendiri, Biah. Dan kau jangan munafik terhadap kenyataan sebelum tuan Winson mengulurkan tangannya kepada kita.”
Mendengar kata-kata ayahnya seperti itu, Robiah terpaku. Dia diam membisu, seolah-olah pusat argumennya tela tersumbat rapat. Tak ada sedikitpun celah untuk memberikan arah, yang ada hanyalah isak tangis yang tertahan-tahan akibat gejolah perasaan di dadanya.
“Ini kesempatan, Biah. Kesempatan untuk mengubah nasib keluarga ini. Kalau kau tetap bersikeras terhadap sikapmu, berarti kau telah menjerumuskan aku ke dalam tumpukan hutang, karena tuan Winson akan menghentikan uluran tangannya kepada kita. Lalu bagaimana dengan ibumu ? Pikirkan itu , Biah !”
“Kita masih punya iman, ayah. Semuanya kita serahkan pada Tuhan.” Robiah mencoba meyakinkan ayahnya.
“Bi’aaaaah ! Sutrisno berteriak. Amarahnya benar-benar meluap. Tangannya sudah di angkat untuk memukul anaknya. Untunglah di hati kecilnya masih mengalir kasih sayang yang mendalam, sehingga tangannya dia belokan kearah meja di depannya. Meja yang kekuatannya tidak seberapa itu pun hancur berantakan. “Kau masih belum mengerti, Biah…, kau masih belum mengerti.” Lanjutnya sambil menjambret hiasan dinding hasil kerajinan tangan Rabiah di sekolahnya, kemudian dibantingnya hingga hancur berkeping-keping.
“Hentikan, ayah… Hentikan… !” Cegah Robiah sambil menahan tangan kanan ayahnya yang akan membanting radio kesayangan adiknya. “Baik…, baik, ayah. Akan saya pertimbangkan sekali lagi.” Ucapnya, kemudian dia tersungkur tepat di kedua kaki ayahnya.
Air mata yang mengalir di kedua kakinya membuat hati Sutrisno sedikit luluh. Dengan tangan yang masih terlihat gemetar, dia membangunkan anaknya. Di tetapnya raut wajah yang nampak semakin pucat dan masih mengalirkan air mata di kedua pipinya itu. Laki-laki setengah abad itu tak kuasa lagi menahan kesedihan hatinya, dirangkulnya anak pertamanya itu dengan penuh kasih sayang.
“Biah…, sebenarnya ayah tidak bermaksud untuk memaksamu, nak. Tapi…, keadaanlah yang menghendaki itu. Kau mengerti kan, nak ?” ungkapnya sambil membelai rambut anaknya.
“Saya mengerti, ayah. Insya Allah besok pagi saya akan memberikan jawaban yang tidak akan mengecewakan ayah. Sekarang…, sebaiknya ayah pergi ke rumah sakit, untuk menggantikan Lukman dan Hamid.” Robiah mengalihkan pembicaraan.
“Baik, nak. Maafkan atas kekasaran ayah, ya !” Sutrisno melepaskan rangkulannya, kemudian membalikan tubuh lalu keluar meninggalkan anaknya sendirian.
Sepeninggal ayahnya Robiah langsung masuk ke dalam kamar, dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Dia menangis dan terus menangis. Kata-kata terakhir ayahnya masih terngiang-ngiang di kedua telinganya, sehingga tangisannya semakin menjadi jadi. Air matanya mulai membasahi bantal yang dijadikannya sebagai tempat membenamkan muka.
Sadar kalau tangisan tidak akan mampu memberikan jalan keluar, Robiah bangkit sambil membetulkan rambutnya yang kusut. Dengan isak tangis yang masih tersisa, dia keluar lewat pintu belakang. Dibasuhnya muka, tangan, rambut, dan kakinya dengan air yang sejak sore tadi telah dipersiapkan. Dia bermaksud mengadukan mengadukan persoalannya kepada Tuhan Penguasa alam.
Dengan kekhusuan penuh pada sujudnya yang terakhir, hatinya menjerit memohon keringanan Sang Penguasa alam. “Ya Allah…, Rasulmu telah melarang umatnya lari dari kenyataan, putus asa, terlebih-lebih membunuh dirinya sendiri. Ya Allah…, aku hambamu yang dhoif, tengah berada dalam kesusahan dan kesempitan . Aku tengah berada di antara iman dan kafir. Aku dihadapkan pada pilihan yang sangat berat, baik menerima ataupun menolak. Ya Allah, kalau keputusanku menuruti keinginan orang tuaku, hidupku ke depan akan lebih maslahat, lanjutkanlah usiaku ini ya Allah… ! Tapi…, seandainya persoalan ini benar-benar akan menjerumuskan aku ke nerakaMu, wafatkan aku malam ini juga …, wafatkan sekarang juga ya Allah …! “ Demikian do’a Robiah, diiringi dengan derasnya air mata yang keluar dari kedua matanya.
Seusai sholat, rasa kantuk mulai menyelimuti Robi’ah. Dia berbaring dengan tubuh masih terbungkus mukena putih yang dikenakannya. Matanya terpejam, ingatannya menghilang. Rohnya dibawa pergi utusan Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah mengabulkan permohonan hambanya yang dilanda kesulitan. Tinggalah tubuh kaku yang tidak berarti dikerumuni orang-orang yang tiada mengerti. “ Mengapa ini bisa terjadi ?” Ucap mereka di pagi hari.
Sutrisno hanya bisa menjerit memanggil manggil Robi’ah sambil membentur benturkan kepalanya ke dinding. Entah penyesalan, entah kekecewaan, entah rasa berdosa, hanya dia yang tahu dan Tuhan Yang Maha Tahu.
Kreator : Baenuri
Comment Closed: KEPUTUSAN
Sorry, comment are closed for this post.